
Di dalam kamar yang sudah gelap, gadis itu tidak bisa tidur.
Memikirkan keputusannya yang akhirnya menerima pinangan Devan. Dan kata siapa, dengan ucapannya tadi sudah membuat dia yakin seratus persen.
Tetap, ada ganjalan di hati. Yang tak bisa di sebutkan. Tapi, sepertinya memang pria itu menyimpan satu masalah yang berat. Tapi apa?
Kunia memiringkan tubuhnya, menghadap ke kanan. Tatapannya tertuju pada layar ponsel yang menyala, –siapa yang mengirim pesan malam-malam?
Dengan malas ia meranggainya. Niat hati ingin membuka isi pesan chat. Namun urung, karena di layar sudah nampak nama dan pesan yang masuk itu. Ia pun meletakkan ponselnya lagi, lalu merubah posisi menjadi terlentang.
Memilih untuk memejamkan matanya. Dengan lengan menutupi area mata, berusaha untuk tidur saja. Tidak mau berurusan lagi dengan pria beristri itu.
namun pertahanannya mulai goyah di beberapa detik kemudian, lalu kembali ia menyambar ponselnya dan beranjak duduk.
"Buka tidak ya? Tapi, dia kan sudah punya istri. Nanti kalau aku dapat masalah bagaimana?" Berfikir cukup lama sebelum membuka isi pesan dari pria yang tak lain adalah Anwar.
Ia pun menggeleng lalu meletakkan lagi ponselnya di atas meja dengan posisi tertelungkup. Lalu menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Lagi, Kunia membukanya. "Aku penasaran." Gadis itu menggigit ujung kuku ibu jarinya.
Seolah terdapat dua bisikan di telinga kanan dan kirinya, satunya memerintahkan dia untuk membuka, satunya lagi tidak.
Ia pun kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi nungging, namun kepala miring ke arah ponsel itu di letakkan.
"Tidak usah lah, dari pada punya masalah sama Reni." Ia membenamkan wajahnya ke bantal. Satu, dua, tiga detik kemudian. Bangkit lagi hanya untuk menyambar ponselnya lalu membuka isi pesan dari Anwar.
"Penasaran.... Dia ngirim pesan apa?" Menghela nafas sejenak, lalu terbukalah isi pesan chat itu.
By: Kak Anwari
Kunia, ini aku. Apakah kau sudah tidur, bisakah kau terima panggilan telepon ku? Ku mohon, ini penting.
Kening Kunia berkerut. "Penting? Ada masalah kah?"
Hendaknya dia membalas pesan Anwar namun ia langsung menggeleng.
__ADS_1
"Okay... Hentikan Kunia, jangan kau lanjutkan."
Tiiiing...
"Aaa... Dia mengirim pesan lagi?" Kuni menggaruk kepalanya frustasi.
By: Kak Anwar
Ku mohon Kunia... 🥺
Kunia menggigit ujung kukunya. "Ini tidak benar, masa jam dua belas malam aku telponan dengan suami orang?"
Ia pun mencoba untuk membalas pesan saja.
To: Kak Anwar
Maaf kak Anwar, ini sudah larut. Aku tidak bisa menerima panggilan telepon pria yang suda**h beristri.
Baru mengetik seperti itu, Kunia sudah ragu untuk mengirimnya. Namun akhirnya ia memilih untuk tetap mengirim.
"Sebelum ini, dia sudah memblokir nomor ku kan? Kenapa di buka lagi, ku pikir sudah di hapus."
Satu pesan pun masuk lagi, Kunia masih menunggu beberapa saat. Lalu membukanya.
Anwar: Ku mohon, ini urgent. Aku harus bicara panjang lebar. Tidak mungkin aku ketik semua yang ingin ku utarakan lewat pesan chat.
kuni: Aku tidak mau membuat Reni salah paham. Karena kau menelfon ku tengah malam.
Kuni: dia tidak akan tahu. Lagi pula nasib keluarga ku di pertaruhkan saat ini.
Kuni: katakan saja intinya.
Anwar: kalau aku langsung bicara intinya kau pasti akan salah paham.
Kuni: tidak akan.
__ADS_1
Pesan itu cukup lama di buka Anwar. Kunia pun menunggu, sembari meletakkan ponselnya di kasur. Sementara dirinya masih duduk bersila menunggu. Tulisan mengetik itu pun muncul.
Anwar: nenek ku sakit, dan dia harus di operasi.
Membaca balasan Anwar, mata Kunia sedikit melebar. Ia pun kembali mengetik.
Kuni: Sakit apa?
Anwar: Intinya ada masalah di kepalanya. Gara-gara jatuh tadi.
"Astaga!" Kunia tercengang. Tak lama, Anwar kembali membalas pesan tersebut.
Awar: Apakah kau punya tabungan lebih? Sungguh sebenarnya aku sadar, aku itu tak boleh meminjam uang padamu lagi. Tapi, aku Benar-benar butuh untuk biaya rumah sakit nenek. Kurang lebih sekitar lima puluh juta.
Kunia tertegun melihat balasan itu. Sebenarnya dia ada. Gaji selama ia bekerja memang tinggi, Sehingga tabungannya sudah mencapai angka itu, lebih sedikit. Apabila di pakai Anwar, pasti uangnya langsung habis. Namun nenek Kasih? Terlepas dari masalahnya dengan Anwar, ia amat menyayangi nenek itu. Karena nenek bukanlah orang jahat. Dia amat baik malah.
Satu pesan chat lagi masuk.
Anwar: Ayolah Kuni. Aku benar-benar membutuhkannya, aku tidak bisa menunggu lama lagi. Nenek benar-benar sudah kritis.
Kuni pun mengetik sesuatu.
Kunia: Baiklah, demi nenek mu. Aku akan ke bank besok.
Gadis itu memutuskan untuk mematikan ponselnya, lalu meletakkan lagi ke atas meja. Ia menghela nafas.
"Ini bukan untuk kak Anwar kok, buat Nenek kasih," gumamannya sebelum akhirnya memutuskan untuk tidur.
Di sisi lain...
Anwar yang sedang berada di kamar mandi pun mengulas senyum.
"Rupanya dia masih sama, haha. Akhirnya, aku bisa membuat istri ku tidak marah lagi. Karena aku bisa membawanya bulan madu ke Singapura. Menggunakan uang dari Kunia." Anwar terkekeh, ia pun menghapus semua chatting-nya dengan Kunia lalu keluar dari kamar mandi tersebut.
Bersambung...
__ADS_1