
Kereta kembali berhenti di salah satu stasiun. Masuklah seorang pria yang mengenakan tas ransel di belakangnya. Lalu duduk di kursi yang berada di hadapan Kunia.
Pria itu awalnya tidak memperhatikan, karena ia langsung membaca buku yang ia tenteng sedari tadi.
Suara roda-roda kereta mulai terdengar saat melintas di rel yang cukup panjang. Menemani keheningan di gerbong tersebut.
"Hiks..."
Suara Isak tangis pelan terdengar. Walau sudah berusaha di tahan, namun entah mengapa tetap keluar juga. Hingga ia pun mengangkat kepalanya, sedikit menatap aneh wanita yang sedang tertunduk dengan tubuh dan rambut yang basah.
Ia pun menutup bukunya, meletakkan di sebelah, sejenak. Lalu membuka tas ranselnya guna mengambil sesuatu. Namun seketika urung, ia pun menggeleng cepat dan kembali menutup resleting tasnya.
Aku tidak kenal wanita itu... Lebih baik biarkan saja, tidak sopan juga tiba-tiba memberikan handuk kecil kepadanya, walaupun sepertinya dia kedinginan .
Pria yang tak lain adalah Zaeni itu pun memilih untuk kembali membaca bukunya.
Hingga beberapa menit kemudian, gadis itu beranjak dan berjalan lunglai keluar dari gerbong kereta.
Sementara Zaeni melirik lagi, kearah pintu yang masih terbuka. Ia pun berdeham pelan, niat hati ingin kembali membaca buku di Tangannya. Namun kemudian melihat paper bag tergelak di kursi gerbong, tepat di kursi yang di duduki wanita tadi.
"Eh... Itu kan?" Zaeni mendengar alarm pintu yang hendak tertutup. Kemudian secepatnya ia beranjak sembari meraih paper bag tersebut. Lalu berlari keluar di saat pintu sudah bergerak hendak menutup.
Taaaaakkk.... Pintu tertutup sempurna saat Zaeni memilih untuk melompat keluar.
"Nyaris–" Dia mengelus dada, merasa lega karena hampir terhimpit pintu. Segera ia tersadar, niatannya keluar dari kereta yang sudah jalan itu adalah untuk mengerahkan tas belanja si wanita yang tertinggal di gerbong.
Dimana wanita itu?
Zaeni melirik ke segala arah. Mencari sosok gadis berambut pendek, dengan celana panjang serta jaket klub sepakbola berwarna merah. Ia pun memutuskan untuk berjalan cepat ke sisi kanan, menuju pintu keluar.
Sementara itu, Kunia yang saat ini tengah masuk ke sebuah kafe yang berada di dekat pintu keluar stasiun, tepat di saat Zaeni keluar.
Hingga pria itu tak bisa menemukan sosoknya.
Dia kembali menoleh ke kiri dan ke kanan. Lalu menghela nafas, sedikit mengangkat paper bag di tangannya.
"Pemilik mu tidak di temukan, bagaimana ini?" Zaeni mencoba untuk mengintip sejenak, "Tablet? Benar-benar ceroboh wanita ini."
__ADS_1
Ia pun kembali melangkah, mencari gadis itu. Melewati kafe dimana Kunia tengah berdiri di stand kasir untuk memesan kopinya, dengan posisi membelakangi pintu masuk.
–––
Di dalam...
Kuni membayarnya, dan meraih kopi dalam cup. Ia kini berjalan menuju bangku kosong tempatnya untuk duduk. Dengan mengabaikan beberapa pasang mata yang menatapnya. Karena pakaian yang sedikit basah itu, hingga sampai pada bangku yang terletak di sudut belakang.
Gadis itu menghela nafas panjang, menatap dinding kaca. Suasana yang semakin sore, membuat jalan itu mulai banyak di lalui orang-orang.
sebentar lagi Anniversary... Dan sebelum tiba hari itu, Hubunganku dan Kak Anwar sudah berakhir. Rasanya masih tidak percaya...
Kuni kembali menyeka air matanya, ia masih tidak menyangka. Kenapa harus Reni? Kenapa gadis itu.
Dinding kaca memantulkan bayangannya sendiri. Membuat Kuni tersadar akan satu hal.
Jelek... jelek... jelek...
"Hiks–" Kunia menjatuhkan kepalanya di atas meja. "kenapa harus Reni? Aku tidak akan bisa menandingi kecantikannya."
sebentar saja, aku tidak peduli orang-orang memandangiku. Aku hanya ingin menangis saat ini. Aku hanya ingin meluapkan kesedihan ku...
Kuni masih terisak, namun dengan suara yang ia tahan. Hingga beberapa menit berlalu. Dirinya sudah mulai tenang, matanya sudah sembab dan basah karena air mata. Membuatnya segera mengusapnya dengan tissue.
Tab itu sudah tidak ada gunanya lagi. Apa aku jual saja ya?
Kuni masih menatap ke luar, sembari mengusap air matanya. Lantas ia pun menoleh, ke samping kanan lalu belok ke kiri kemudian.
"Tunggu? Di mana tabletnya?" Kuni mengintip ke bawah meja, memutar lagi tubuhnya ke kiri dan kanan. "Aduh– dimana? Dimana ya tabletku?"
Sesaat ia mengingat sesuatu, yang membuat matanya lantas terbelalak.
"Ya Tuhan–" tak menunggu lama ia langsung saja berlari keluar dari kafe itu. Masuk lagi kedalam stasiun MRT. "Aaaa... Ya Tuhan, Tab ku." Kalang kabut gadis itu mencari paper bagnya. Hingga ia pun terduduk lemas, sembari menatap rel kereta di hadapannya.
"Hiks... Lengkap sudah, lengkap penderita ku." Ia tertunduk lesu, kembali menangis di kursi panjang, meratapi gadgetnya terbawa kereta.
Hingga ia merasakan ada seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Ini punya Anda?" tuturnya. Kuni pun mengangkat kepala, dan mendapati seorang pria postur nyaris sempurna dengan tinggi dan wajah tampannya itu. "Kau pasti mencari ini?"
Sebuah paper bag yang ia cari-cari, sudah menggelantung di hadapannya. Perlahan Kuni menerimanya.
"Da–dari mana Anda dapatkan ini?"
"Di dalam gerbong. Saat keluar, Anda tak membawanya." Zaeni menyerahkannya.
"Ya ampun– terimakasih banyak."
"Sama-sama–" Zaeni menoleh kebelakang saat kereta selanjutnya sudah tiba. "Lain kali, lebih perhatikan lagi barang bawaan Anda. Jangan sampai tertinggal lagi."
"Iya... Iya mas. Sekali lagi terimakasih banyak."
Zaeni tersenyum ramah. Ia pun mengangguk sekali berpamitan, lantas berjalan memasuki pintu kereta.
Tatapan Kuni tertuju pada pria itu, ia pun tersenyum tipis.
"Orang yang baik..." Gumamnya sembari memeluk tablet di dadanya. Menunggu beberapa saat, sampai kereta itu berjalan dan menghilang dari pandangan.
bersambung...
.
.
.
# sapaan author.
hai teman-teman, kalau hanya dua bab itu kurang puas nggak sih bacanya hehehe. tapi maaf kemampuan ku segitu. kalaupun dapat tiga bab dalam sehari kadang tuh sayang kalau harus di up semua. jadi ku sisihkan untuk besok saja 😅
oh iya, maaf ya besok kemungkinan aku tidak update, karena hari ini Minggu jadi nggak bisa leluasa nulisnya, harus memprioritaskan yang sedang libur di rumah hehehe paham lah ya siapa?
inshaAllah Selasa aku update lagi.
okay segitu saja, mohon maaf jika kadang ada chapter membosankan. tapi aku akan selalu berusaha untuk memperbaiki tulisan, dan mencari ide yang menarik di setiap babnya. –terimakasih teman-teman, yang sudah setia membaca🥰
__ADS_1