I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
Wasiat yang di ubah


__ADS_3

Di gedung B, yang berhadapan dengan Gedung A.


Notaris Evans duduk, menatap keluar. Ini sudah kali ke tiga ia berpindah tempat tinggal.


keempat kalinya juga, ia lolos dari Kematian.


Setelah beberapa petunjuk yang di berikan oleh Andre, untuk meletakkan lebih dulu cairan yang ia berikan. Agar dapat merubah warna makanan, apabila mengandung zat yang berbahaya dan mematikan.


Tidak hanya itu, ia pun pernah hampir mengalami kecelakaan akibat mobil truk tronton yang tiba-tiba hendak menubruknya.


Notaris Evans, kau harus lebih berhati-hati dengan menantuku itu.


Kata-kata terakhir yang beliau dengar dari Nyonya komisaris Briana Atala. Sebelum pergi dari rumahnya setelah mengganti semua surat wasiat tentang hak waris Diamond's. Sekaligus pertemuan terakhir sebelum beliau akhirnya menghilang tanpa jejak hingga saat ini.


Malam ke-dua setelah beliau mendengar kematian putranya, serta setelah siang tadi acaara pemakaman itu di adakan. Briana sempat mendatangi seorang Notaris.


Dengan baju yang sedikit basah, akibat hujan diluar.


Kala itu beliau di temani oleh seorang sopir pribadinya. Yang kemudian turut menghilang.


## Flashback is on...


Malam itu, Tuan Evans baru saja pulang dari kantornya. Setelah sempat menghadiri upacara pemakaman Tuan Harison. Sebuah pintu di ketuk dengan kencang, membuatnya sedikit terperanjat.


Bergegas beliau menghampiri pintu dan membukanya.


"Nyonya?"


Wajah sendu itu hanya diam saja, rambutnya yang memutih masih nampak berantakan, tergerai begitu saja, juga busana tidur yang masih melekat. Seperti bukan Nyonya Briana yang biasa ia temui, selalu rapi dalam hal berbusana. Sepertinya Dia terburu-buru, hingga tak sempat untuk berganti pakaian.


"Bolehkan saya masuk?" Ucapnya.


"Silahkan, Nyonya."


"Terimakasih," cepat-cepat nyonya Briana masuk. Sementara Evans yang pada saat itu masih berusia empat puluh tahunan berjalan lebih dulu. Mengajaknya untuk duduk di ruang tengah, dekat perapian.

__ADS_1


"Silahkan duduk nyonya. Saya akan membuatkan Andan minuman hangat."


"Terimakasih, Evans. Maaf, saya mengganggu malam mu."


"Tidak Nyonya, kehadiran Anda sama sekali tidak menggangu. Malah justru, saya bingung, selarut ini, Anda datang kerumah saya. Padahal Anda bisa memanggil saja, tanpa perlu kemari."


Nampak Briana yang hanya diam saja, namun tangannya nampak gemetaran. Sepertinya beliau amatlah gelisah.


"Tunggu sebentar ya, Nyonya." Evans bergegas menuju dapur, membuatkan minuman. Setelah itu kembali. "Silahkan, Nyonya."


Secangkir teh hangat sudah berpindah tangan. Nyonya Briana langsung menyeruputnya sedikit, sebagai cara untuk dirinya lebih tenang.


"Maaf, sebenarnya apa tujuan Nyonya kemari? Apakah ada sesuatu yang perlu saya lakukan?" Masih menatap penuh kebingungan, saat tangan rentan itu kembali gemetaran. Evans mengambil alih cangkir itu, memindahkannya ke atas meja.


"Bantu saya... tolong bantu saya," ucapnya tiba-tiba.


"Baik nyonya, saya akan membantu apapun. Asalkan, anda bisa menenangkan hati lebih dulu."


Air matanya menitik, membasahi pipinya yang putih bersih namun sudah nampak garis-garis penuaan di sana.


"Nyonya?"


"Saya paham, sebentar. Akan saya ambilkan berkasnya lebih dulu."


"Iya– cepatlah." Nyonya Briana menunggu lagi, hingga beberapa menit sang notaris kembali datang dengan tas berisi map khusus keluaga Atala.


Di meja itu mereka mulai berdiskusi. Merubah semuanya yang ada di surat tersebut. Evans awalnya bingung, namun melihat dari kegelisahan yang di tampakkan oleh seorang komisaris utama, Briana Atala. Membuatnya merasa bahwa keluarga itu sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Sebuah stempel emas pun di tempelkan di dalam kolom tanda tangannya, setelah itu beliau pun mengguratkan tanda tangan di sana. Lalu menyerahkan map itu pada Evans.


"Saya ingin, melindungi Devano dari sini. Dia tidak boleh mengalami nasib yang sama seperti papihnya. Atau mungkin saya setelah ini."


"Maksud Nyonya?"


"Kau akan tahu sendiri, setelahnya. Yang jelas, saya hanya ingin seluruh kekayaan keluarga Atala, jatuh pada ahli waris yang sebenarnya yaitu Devano Atala, putra tunggal Harison dan Karlina. Kalaupun ada apa-apa dengan Devano, apalagi sampai nyawanya terenggut?" Briana kembali menitikkan air matanya, ia terdiam sejenak. Bibirnya gemetaran tanda ia benar-benar merasa ketakutan.

__ADS_1


"Nyonya?" Evans menghentikan ucapannya, setelah tangan Briana terangkat.


"Aku lebih memilih, Negara ini yang mendapatkan semuanya." Beliau mengusap air matanya sendiri. Lalu menelungkupkan kedua telapak tangannya di depan dada. "Ku mohon, usahakan agar Devano bisa mendapatkan haknya. Ku mohon Notaris Evans, Ku mohon."


Nyonya Briana terisak, ia bahkan sampai menundukkan kepalanya. Tergambar jelas di sini, hatinya masih terluka karena kepergian sang putera. Namun saat ini, beliau pasti menemukan fakta yang membuatnya harus mengurus ini semua dengan cepat.


"Saya akan mengusahakan, Tuan muda Devano Atala untuk mendapatkan haknya. Sebagai seorang pewaris tunggal Diamond's."


Nyonya Briana mengangkat kepalanya, lalu mengulas senyum. "Terimakasih, terimakasih banyak."


Kembali beliau beranjak. Sigap, notaris Evans membantunya berdiri.


"Saya harus pergi, karena urusan saya sudah selesai."


"Baik Nyonya."


"Satu hal, aku ingin kau? Berhati-hati dengan menantuku juga Sekertaris Erik."


"Berhati-hati? Maksud Nyonya?"


"Kau akan tahu, setelahnya. Intinya, mereka berdua? Terutama wanita itu– Dia itu siluman rubah berdarah dingin." Beliau lantas berjalan, meninggalkan kode yang entah apa maksudnya.


Namun ia paham, dan akan mengikuti semuanya yang di ucapkan Nyonya komisaris tersebut.


Evans mengantarnya hingga ke mobil, sebelum mobil itu pergi Nyonya Briana kembali memberi peringatan, yang di iyakan oleh Evans sebelum akhirnya mobil itu melaju pergi.


Dalam kebingungannya, pria paruh itu kembali masuk.


Hingga esok harinya ia kembali mendengar kabar, menghilangkannya Nyonya besar Briana Atala. Yang di duga mengidap dimensia. Beberapa acara televisi memuat berita kehilangan, selama berhari-hari tanpa henti. Bahkan nampak Nyonya Liliana menangis saat tengah di wawancarai.


~ Ibu, dimanapun Anda berada, saat ini? Lili mohon, kembalilah. ~


Itu lah ucapan yang membawanya mendapatkan julukan wanita super tegar, akibat dua ujian luar biasa dalam hidupnya.


Belum lama mendapati suaminya berpulang, kini sang ibu mertua pun menghilang. Yang menurut penuturannya beliau mengalami depresi berat akibat kematian sang anak.

__ADS_1


Walaupun notaris Evans tidak percaya dengan semua berita yang terangkat ke media.


Karena ia melihat kondisi terakhir Nyonya Briana sebelum menghilang, beliau benar-benar sehat. Namun ia tak berani beropini di depan publik, karena seperti apa yang di katakan oleh Nyonya besar, untuk berhati-hati.


__ADS_2