
Di dalam Area cinema itu, Kunia dan Devan mengantri tiket bersama. Memilih posisi duduk yang pas lalu menunggu di kursi tunggu.
Ruangan yang luas penuh dengan hiruk pikuk muda-mudi yang sedang menonton film tak membuat Devan merasa jenuh.
"Sayang– Aku akan membeli popcorn di sana. kau tunggu saja di sini ya?"
Dia konsisten juga memanggil ku itu. –devan menyeringai.
Ia pun mengarahkan pandangan pada tempat yang di tunjuk Kunia lalu menahan gadis itu untuk pergi.
"Duduk, biar aku saja."
"Tidak usah biar aku saja. Lagi pula aku khawatir kau aku memborongnya lagi."
"Tidak akan– aku hanya akan beli popcorn satu saja."
"Ya– ingat ya, satu saja. Jangan banyak-banyak. Dan minumannya dua."
"Hemmmm..." Devan melenggang pergi. Ia membeli popcorn tersebut, karena bingung ukuran yang mana? Ia mengambil yang paling besar. Setelah semuanya pembayaran telah di lakukan ia kembali.
Syukurlah dia tidak memborongnya lagi. Ya walaupun ukurannya terlalu besar untuk di makan berdua Tapi itu lebih baik.
"Ayo masuk, pintu teater 2 sudah di buka." Ajak Kunia.
"Ini bagaimana?" Yang di maksud popcorn dan minuman yang ada di tangannya.
"Kau bawa lah–"
"Aku?"
"Iya– ini bisa di sebut kencan perdana, kan?"
"Kencan?"
"Ya betul." Kuni nyengir, ia lantas melepaskan tasnya. "Sekalian ini, sayang."
Mengalungkan tas itu di leher Devan. Pria itu lantas mendelik. "Kau!!"
"Kau tidak boleh marah loh, ini kencan namanya."
"Haaah..." Pria itu melenggang lebih dulu, sementara Kunia hanya terkekeh di belakang tanpa suara.
Hanya balasan kecil, atas ketengilan mu selama ini. Hehehe.
–––
Keduanya pun masuk dan duduk di kursinya. Berada di tengah, tidak terlalu belakang.
"Kapan filmnya di putar?" tanya Devan.
"Sebentar lagi juga akan di putar. Tidak sabaran sekali sih."
"Awas saja jika tidak seram."
__ADS_1
"Cih...! Belagu." Umpat Kunia lirih.
Hingga film mulai di putar. Devan mengernyitkan dahinya, memejamkan sejenak matanya saat si karakter utama tengah berjalan pelan memeriksa sesuatu.
"Hiiiisssshh... Bodohnya, untuk apa di periksa coba!" Seru Devan tiba. Membuat para pengunjung menegurnya. Kunia pun menoleh kebelakang meminta maaf setelah itu memandang kearah Devan lagi.
"Kau ini sedang apa? Nonton film itu tidak boleh berisik!"
"Memang kenapa? Lagi pula aku berkata yang sebenarnya."
"Apa?"
"Pemeran di film itu bodoh!"
Kunia mendelik, lalu menghela nafas. Saat Devan mengalihkan itu dengan popcorn di tangannya.
"Kau mau?" Memakan itu, lalu menunjuk ke arah layar besar di hadapannya. Meminta gadis itu untuk menonton lagi filmnya.
Yang ada kau yang ku anggap bodoh!!! Dasar! (Kuni)
Beberapa menit kemudian, saat kembali pada adegan yang seram Devan menutup wajahnya dengan wadah popcorn. Kunia pun menoleh, memandanginya sembari bertopang dagu.
"A–apa?" Devan yang menyadari tatapan Kuni.
"Kau takut? Emmm, maksudnya sudah mulai takut?" Bisiknya.
"Apa?" Devan menjauhkan wadah popcorn tersebut. "Tidak tuh."
"Lalu kenapa kau menutupi wajah mu?"
"Masa? Ini kan baru Awal, loh. Sudah jelas, belum terlihat seramnya."
Siiiiiiiiinggghhhh... Suara sound di film tersebut.
Aaaaapaaaa itu tadi?
Devan memejamkan matanya langsung. Membuat Kunia terkekeh tanpa suara.
"Jika takut bilang saja terus terang."
"Apanya yang takut? Aku memejamkan mata karena mengantuk."
Kuni tersenyum sinis. –masih saja kau pura-pura tidak takut? Padahal jelas-jelas kau takut.
Hingga akhirnya, mereka masuk di pertengahan film. Dimana Devan mulai meraih tangan Kunia dan meremasnya kuat.
Kuni sedikit meringis, karena tangannya yang di remas Devan itu terasa sakit. Ia menoleh ke arah pria di sebelahnya, wajahnya yang tegang itu masih berusaha cool, menatap lurus ke depan.
"Dev, tangan ku sakit," ucap Kunia. Namun sepertinya Devan terlalu fokus hingga membuatnya tidak bisa mendengar suara berbisiknya Kuni, bukan fokus sih mungkin lebih ke tegang.
Hal itu pula yang membuat Kunia tersenyum jail, lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Devan. Kuni berbisik dengan suara layaknya wanita hantu seperti di film.
"Deeeevaaaanoooooo–"
__ADS_1
"Aaaaaaarrrrhhhhhhhh!!!!" Devan seketika berteriak kencang, akibat terkejut. Sementara Kunia yang di sebelahnya langsung membungkam mulutnya, tertawa.
Beberapa orang di sana kembali memaki mereka berdua. Kunia pun meminta maaf lagi. Lalu kembali membungkam mulutnya, untuk meredam tawanya yang sangat ingin keluar saat ini.
"Apa yang kau lakukan, sih?" Bisik Devan, ia memegangi dadanya yang masih berdebar kencang akibat terkejut.
"Hehehe, kau sepertinya ketakutan sekali melihat Film ini?" ledek Kunia.
"Tidak usah mengarang, siapa yang takut menangnya?"
"Itu tadi. Ku panggil saja kau sampai berteriak." ucap Kunia masih menahan sekali tawanya.
"Itu semua karena kau memanggil ku dengan suara mengerikan tahu. Dasar kau ini."
"Iya, tapi kalau sampai kau teriak seperti tadi itu sudah menunjukkan kalau kau itu takut."
"Ck, sudah lah, filmnya jelek, kita keluar saja." ucapnya sembari menarik tangan Kunia.
"Tunggu sebentar, filmnya masih belum habis."
"Aku sudah bosan, ayo kita keluar saja."
"Tapi?"
"Hei kau mau menentang ku? Jangan kau pikir, saat aku menikahimu lalu aku akan berlaku baik. Asal kau tahu aku itu bukan pria biasa jadi ayo cepat keluar sebelum melihat kemarahan ku yang sesungguhnya." ucap Devan yang masih berusaha mengajaknya untuk keluar.
"Penakut–" cibir Kunia.
"Aku bukan penakut, memang film ini tidak seru."
"Bagiku seru tuh. Film ini terkenal di beberapa negara tahu."
"Kau mau bangun tidak? Jangan sampai aku menggendong mu keluar ya."
"Kau jangan macam-macam, ya? Ini tempat umum!" Kunia beringsut.
"Maka dari itu cepat bangun!"
"Tapi filmnya baru masuk pertengahan, lagi seru-serunya." Kunia masih berusaha bertahan.
"Ku hitung sampai tiga, jika kau tidak mau bangun akan ku gendong kau keluar."
"Dev–"
"Dua!"
"Kok sudah dua?"
"Untuk panggilan salah mu itu. Cepat, kau protes lagi tidak ada hitungan ke tiga ya."
"Aiiiihhh... Menyebalkan sekali sih."
"Sudah ayo bangun. Aku mau kita keluar dari ruangan teater ini," titah Devan yang lantas beranjak lalu melenggang lebih dulu.
__ADS_1
Kunia mengulum bibirnya yang kembali ingin tertawa. Lalu menutup mulutnya menahan agar tawa itu tidak lepas. Ketika mengingat Devan yang ketakutan sampai berteriak seperti tadi.