I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
menuju titik terang


__ADS_3

Devan mengusap lembut bibir Kunia. Ia tersenyum tipis.


"Kau curang sekali."


"Apanya yang curang?"


"Mencium ku tanpa aba-aba."


"Aku tak perlu aba-aba untuk mendapatkan apapun yang aku mau."


"Kau pasti sedang merendahkanku saat ini."


"Tidak." Devano mengusap lembut pipi sang isteri. "Aku melakukannya dengan sadar."


"Sadar, benarkah?"


Devan mengangguk.


"Tidak mungkin sih. Kau pasti melakukan itu ke banyak wanita."


"Pikiran mu buruk sekali terhadap ku, ckckckck."


"Ya habis?"


"Apa? Kau harus tahu, ini ciuman pertama ku."


"Eh... Masa?" Kunia tidak percaya, dengan pengakuan itu.


Tampilannya berandalan tajir, masa iya ini ciuman pertamanya? sudah pasti sebelum ini dia memiliki banyak wanita. (Kunia)


"Kau tidak percaya?"


Reflek Kunia menggeleng.


"Ck...! Terserahlah." Devan beranjak, wajahnya nampak memerah. Melenggang pergi menuju toilet.


Setelah pintu toilet tertutup, bersamaan dengan Devan yang sudah menghilang masuk. Kunia menepuk-nepuk dadanya pelan.


"Ya ampun... Benarkah itu ciuman pertamanya, serius?" Kunia menyentuh bibirnya sendiri. Lembutnya sentuhan Devan di bibirnya tadi membuat jantungnya berdebar-debar hingga saat ini. "Ya Tuhan... Ciuman pertamanya?"


Tersenyum senang, rasa bahagia yang bahkan mengalahkan ciuman pertamanya di pipi yang di berikan oleh Anwar dulu. Tidak bisa ia gambarkan dengan ribuan kata-kata indah di dunia ini.


Di dalam kamar mandi...


Devan menempelkan punggungnya kepintu, nafasnya sedikit tersengal. Saking cepatnya jantung itu memompa. Bibirnya kini sudah mengembang sempurna.


"Tidak salah lagi, ini bukan hanya sekedar nyaman. Tapi aku mencintainya."


Menyandarkan kepalanya kemudian sembari menghela nafas, menikmati irama jantungnya itu.


***

__ADS_1


Pagi sudah kembali.


Kunia sudah di perbolehkan pulang, setelah melakukan observasi. Dokter bilang; apabila tidak ada gejala seperti semalam? Pagi ini sudah boleh pulang.


Sembari menunggu seseorang, Devan menyodorkan potongan apel kemulut Kuni.


"Buka mulutmu."


"Aku bisa sendiri," katanya hendak merebut garpu di tangan pria yang sudah menjauhkannya.


"aku menyuruhmu membuka mulut, bukan untuk merebut garpu ini."


"Hissshh..." kuni membuka mulutnya, dan masuklah sepotong apel itu sekaligus. Mengunyah hingga ada sedikit tetesan jus di ujung bibirnya.


Devan geleng-geleng kepala, ia meraih secarik tissue. Hendak menghapus jus buah di bibir sang isteri. Namun terhenti, ketika matanya tertuju pada bibir berwarna merah muda di depannya.


Gleeeekkk... ia menelan ludah, kembali tergiur dengan bibir manis Kunia. Devan menggeleng cepat, lalu menempelkan tissue itu dengan sedikit tekanan.


"Hei... Sakit tahu."


"Lap mulut mu itu sendiri, dan makanlah sendiri." Devan meletakkan piring buah itu ke tangan Kunia.


"Ckckck... Memang kau suami yang tak pengertian ya?" Kuni menusuk potongan buah itu sembari menatap sinis.


"Kau memang tidak pantas di manja... nanti ngelunjak." Devan masih duduk di ranjang Kunia, berbalik badan.


"Cih...!" Memasukkan buah itu kedalam mulutnya sendiri. "Aku akan tetap ngelunjak, bahkan saat kau tidak memanjakanku sekalipun."


Otakku ini benar-benar tak bisa bekerja dengan baik... Kenapa di saat seperti ini aku mau lagi. Menciumnya seperti semalam? (Devan)


Devan menggaruk kasar kepalanya, setelah itu menghembuskan nafas. Membuat Kunia menoleh kearah pria di sebelahnya.


Dasar aneh...! (Kunia)


Beberapa waktu kemudian...


Kunia masih mengamati Devan yang sibuk dengan ponselnya.


Hingga tak lama sebuah ketukan membuat mereka menoleh kearah pintu.


"Masuk..." Seru Devan. Membolehkan siapapun yang di balik pintu itu untuk masuk.


Cklaaak...


"Permisi, Tuan." Andre membungkuk sopan.


"Oh... Andre. Masuklah."


Kembali pria itu menutup pintunya, lalu menghampiri Tuannya yang sudah turun dari ranjang Kunia. Berpindah ke sofa.


Kunia sendiri tidak bermaksud ingin tahu, namun ia nampak sedikit penasaran ketika mengamati dua orang itu berbincang lirih. Tak begitu jelas karena kalah dengan suara televisi yang menyala.

__ADS_1


Hingga mereka beranjak, Kunia kembali memalingkan wajahnya menghadap ke televisi, ketika Devan mendekatinya.


"Kita pulang sekarang. Tapi maaf, kau pulang dengan supir, ya."


"Kenapa, kenapa tidak dengan mu saja?"


Devan menyentuh pucuk kepalanya, mengusap pelan. "Aku ada urusan, kau pulang dengan supir yang membawa mobil Andre. Sementara aku harus pergi dengan Andre, sebentar."


Kunia mengangguk, mau bagaimana lagi. Semalam pria itu memang bilang mau pergi sekitar pukul sepuluh ini. Tapi masa iya masih tetap mau pergi saat dirinya sedang sakit. Dimana rasa simpatiknya itu.


"Maaf–"


Kunia mengangkat kepalanya, "untuk apa minta maaf?"


"Aku pikir pasti kau marah."


Bahuslah dia peka untuk, ini. (Kuni)


"Sedikit, tapi tidak apalah. Aku tetap akan kerumah orang tua ku."


"Hei– kau kan sedang sakit kenapa harus jadi kesana?"


"Kau pun sama, tetap pergi kan?"


Devan menggaruk keningnya pelan. "Aku hanya sebentar, tidak sampai dua jam aku akan kembali. Aku janji... Jadi tetaplah pulang ke rumah utama dan istirahatlah di sana."


"Hemmmm..." jawabnya masih sedikit jengkel.


"Kunia?"


Eh... Dia memanggil namaku?


"Mengertilah... Aku benar-benar harus menyelesaikan urusan ku ini."


"Iya." Kunia turun dari ranjangnya, dengan lesu.


"Akan ku jelaskan nanti. Setelah semuanya selesai," berkata dengan mimik wajah tulus. Kunia pun mengangguk, ia melanjutkan langkahnya.


"Sini mana tanganmu." Devano meraihnya, menautkan tangan itu. "Begini baru benar... ayo jalan."


Menahan senyum, Kunia mulai melangkahkan kakinya berjalan bersama Devan.


Sudahlah... Aku tidak bisa mengelak lagi. Sepertinya aku bahagia dengan perlakuan bocah ini. Oh tidak, maksudnya suamiku. (Kunia)


Mereka keluar dari rumah sakit itu. Memastikan Kunia masuk ke dalam mobilnya, dan mobil itu pergi.


Setelah itu Devan menoleh ke arah Andre.


"Sekarang, Tuan?" Andre sudah membuka pintu mobil untuknya. Devan pun mengangguk.


Baiklah... Wahai rahasia besar. Semoga kau benar-benar membuka tabirmu.

__ADS_1


Devan melangkah masuk kedalam mobilnya. Sigap, Andre menutup lagi setelah Devan sudah duduk di dalamnya, ia pun turut masuk ke bagian kemudi. Mobil pun melaju.


__ADS_2