
Saat Devan dan Kunia hendak keluar, wanita itu memegang tangan Devan menahannya agar tidak keluar lebih dulu.
"Aku melihat jari tengah mu sedikit lecet."
Devan mengangkat sedikit. "Mana?"
"Itu–" menunjuk kemerahan di jari tengahnya.
"Ya ampun, aku tidak menyadarinya."
"Lepas saja dulu cincinnya. Nanti malah jadi infeksi," Kuni menarik lengan itu, membawa Devan untuk duduk di atas ranjang. "Sebentar, biar ku lepas ya."
Devan memandangi wanita yang kini berjongkok di hadapannya, melepaskan cincin itu secara pelan-pelan.
"Ssssssshhh..."
"Eh... Sakit kah?" Reflek melepaskannya.
"Tidak–"
"Lalu kenapa kau meringis tadi."
"Hanya ngetes saja." Devan tersenyum jail. "Sudah lanjutkan."
"Iiisssssh, dasar!" Lagi, Kunia melepaskannya pelan-pelan. "Yuupp... Terlepas. Cincin ini lumayan berat juga rupanya."
Devan hanya tersenyum saja, tidak menjawab. Ia lebih fokus memandangi Kunia yang kembali beranjak, meletakkan cincin miliknya ke atas meja lalu berjalan ke arah kotak obat.
Aku tahunya Dia itu kasar, rupanya tidak juga. (Devan)
Kuni mengambil beberapa yang di perlukan, seperti cairan pembersih luka, dan kapas.
"Aku tak menemukan salep di sini."
"Biar nanti aku menyuruh orang untuk membelinya. Sekarang kemari lah, bersihkan luka ku."
"Iya–" menutup lagi kotak obatnya setelah itu kembali mendekati sang suami.
Hendak berjongkok, namun di tahan.
"Duduk saja di sebelah ku," katanya sembari menarik pelan tubuh itu untuk duduk di sisinya. Devan pun duduk miring. Dengan satu kaki ia silangkan, sementara satunya lurus ke bawah ranjang.
Ctaaakk... Ctaaakk... Kunia membuka segel pembersih luka tersebut.
"Bisa tidak? Sini aku bukakan."
"Tidak usah, aku itu bisa– Kau pikir aku wanita manja yang tidak bisa membuka tutup beginian, apa?"
"Kau ini terlalu mandiri sekali sih?"
"Karena aku tidak suka merepotkan orang lain." Kraaakk... Segel itu terbuka. "Tuh, bisa kan. Mudah ini untuk ku."
"Terserahlah." Devan menghela nafas. Setelah itu Kunia menuangkan sedikit ke atas kapas yang ia pegang, dan mengoles pelan.
"Ssssssshhh..."
"Eh... Perih, ya?"
"Tidak. Aku hanya suka melihat mu panik." Terkekeh.
__ADS_1
"Kau ini menyebalkan." Menekan kencang.
"Aaaa... Ini beneran sakit."
"Ckckck... Tadi katanya tidak sakit, padahal aku mau meremasnya dengan kuat."
"Hei– benaran sakit, jika di tekan seperti tadi. Kau ini ya?"
Kunia terkekeh, kembali ia usap lecet di sela-sela jari tengah itu.
"Sementara, jangan di pakai dulu cincinnya ya."
"Emmm, okay."
"Nah gitu dong, nurut. Senang rasanya." Kunia tersenyum, sembari menggenggam botol antiseptik di tangannya. Devan sedikit tertegun, setelah itu mendaratkan kecupan di pipi Kunia.
cuupp...
Mata Kunia melebar. Ia membeku.
"Terimakasih..." Lirih, ia mengucapkan itu.
"Kau?" Menunjuk kearah Devan, membuat yang di tunjuk terkekeh. Beranjak, dan menarik tangan Kuni kemudian.
"Sudah ayo keluar, kita sudah di tunggu di meja makan." Memegangi pergelangan tangan sang istri sembari senyum-senyum di depan.
Merasa gemas dengan ekspresi kaku Kunia saat tengah digandengnya.
***
Di ruangan makan...
Sudah ku duga, Mamihnya Devan tidak suka aku? Ah... Tidak Kunia. Jangan berfikir buruk dulu. (Kuni)
"Akhirnya, Mamih bisa pulang dengan cepat. Senang rasanya, bisa melihat mu." Liliana menebar senyum yang nampak lebih ceria, terarah pada putranya.
"Mamih katanya mau lama." Ucap Devan, pria itu menggaruk keningnya. Membuat pandangan Liliana fokus ke sana.
Anak itu tak memakai cincinnya? (Liliana)
"Ya, kau tahu? Mamih tidak tenang terlalu lama di sana. Sebab rasa bersalah karena tidak bisa mendampingi putra kesayangan Mamih ini, di hari pernikahannya."
Devan tersenyum kecut. Dia bilang putra kesayangan. Sepertinya salah, sebutan itu bukankah sudah berpindah ke Zaeni?
"Duduklah, kita makan malam bersama." Liliana menarik kursinya untuk Devano, dan membiarkan wanita di sebelahnya diam saja. Devan tak langsung duduk, ia malah justru memegangi kedua bahu istrinya mendekati kursi itu dan mendorongnya kebawah agar duduk.
Liliana menatap dingin kearah Kunia. Sorot matanya semakin menunjukkan ketidaksukaannya.
"Lebih dekat lah dengan istriku. Biar Dev duduk di kursi lain." Tersenyum, setelah itu menarik kursinya sendiri di sebelah Kunia.
"Okay, silahkan makan." Titahnya lirih, sembari duduk di kursinya.
Kunia sudah tak peduli dengan Nyonya di sini, namun pria di hadapannya. Ya Sekertaris Erik, Dia itu siapa? Suami atau apa? Kenapa sama sekali tak bersuara, wajahnya kaku bak kanebo yang di keringkan.
Namun sigap meraih piring di hadapan Liliana, meletakkan nasi untuknya serta beberapa lauk yang lain. Dev menyikut tangan Kunia membuatnya terkesiap.
"Makan–"
"Iya." Lirih, Kuni membuka piringnya yang tertelungkup.
__ADS_1
Acara makan malam yang amatlah kaku, malah justru membuatnya rindu sosok ibu dan ayahnya. Lebih-lebih menu kali ini ada gurame saus Padang.
Biasanya, Ibu akan memotongkan daging itu untuk ku. (Kuni)
Nampak Devan memotong daging gurame itu, memilih yang paling banyak dagingnya setelah itu meletakkan di atas piring Kunia.
Wanita itu menoleh, Devan kembali menyendokkan nasi.
"Makan saja yang banyak. Ini rumah mu juga, jadi tidak perlu Jaim." Devan meletakkan lumayan banyak nasi di atas piring Kuni. Gadis itu pun tersenyum, senang.
Tak perduli dengan ibu mertuaku. Yang terpenting, Devan benar-benar menepati janjinya. Ia memperlakukanku dengan baik. (Kuni yang merasa tersanjung.)
Beberapa menit, setelahnya...
Mereka sudah selesai makan. Liliana pun mengusap bibir, menghapus sisa-sisa makanan juga air, setelah minum air mineral dari gelasnya.
Ia berdeham sejenak, memulai obrolan basa-basi.
"Dev– kau tidak berbulan madu?"
"Tidak, aku ingin menghabiskan waktu dirumah. Lagi pula lusa aku sudah mulai bekerja."
"Begitu ya?" Diam lagi, lalu melirik kearah buah yang ada di hadapan Devano. "Sayang, mamih mau apel itu. Bisa kau ambilkan?"
Tanpa menunggu Dev meraihnya. Walaupun dia tahu, ini tumben. karena biasanya, Mamih meminta pelayan untuk mengambilkan.
"Terimakasih," Lili meraihnya. "Loh... cincinmu mana?"
"Cincin?"
"Iya? Mamih hanya merasa itu mencolok. Jadi pas tak nampak seperti ada yang hilang." Terkekeh.
"Jari tengah ini lecet... jadi harus di lepas lebih dulu."
"Begitu ya? Mungkinkah, sebab bahan baku cincinnya yang tak cocok. Sehingga menyebabkan iritasi. sebaiknya diserahkan saja pada Mamih, nanti biar mamih ubah yang baru."
"Sepertinya tidak perlu, Mih. Dev suka modelnya. Lagi pula itu pemberian?" Dev terdiam, ia melirik ke arah Sekertaris Erik.
"Pemberian siapa?"
"Pemberian tukang pahat khusus," jawabnya asal.
Sial...! Aku hampir keceplosan. Karena Bu Asmia pernah bilang, jangan sekali-kali aku menyerahkan cincin itu, atau memberitahukan siapa yang memberikannya. Bahkan pada mamih sekalipun. (Devan)
Liliana tersenyum. "Mamih hanya ingin mengganti bahan cincinnya saja. Jika kau suka permatanya tidak apa, tetap akan ada."
"Tidak Mih, tidak perlu..." Devan beranjak, sembari menggandeng tangan Kunia. "Kami sudah selesai makan, kami permisi dulu." Keduanya langsung melenggang pergi dari ruangan makan itu. meninggalkan wanita yang masih menatap lurus kedepan.
"Fendi?"
"Saya, Nyonya?" Mendekati.
"Kau sudah kerjakan apa yang ku perintahkan?" Tanyanya lirih, sembari menatap tajam kedepan mengarah pada Kuni dan Devan.
"Iya, Nyonya. Sesuai yang Anda suruh," jawaban itu membuat Liliana tersenyum.
"Erik– usahakan kau dapatkan cincin itu, malam ini. Saat sebuah keributan kecil terjadi," titahnya.
"Ya– istriku," jawab Erik. Liliana mengulas senyum liciknya, sembari mengangkat gelas berisi air mineral setelah itu menengguknya.
__ADS_1
bersambung...