
Di kantor...
Devan melihat gadis itu telah selesai dengan pekerjaannya. Lalu berjalan keluar, sepertinya ada yang aneh. Karena dia tak banyak mengeluarkan suara dan hanya melakukan apapun tanpa protes seperti biasa, selama mengerjakan apa saja yang ia suruh.
"Mbak Kunti–" panggilannya sebelum gadis itu membuka pintu. Kunia pun menoleh, tanpa menyaut. "Kau? Baik-baik saja?"
Kuni tak bergeming, lalu tersenyum amat tipis sejenak. "Saya baik-baik saja. Apa ada yang perlu saya kerjakan lagi?"
"Tidak. Sudah cukup, kembalilah bekerja."
Kuni mengangguk sekali, lalu keluar. Dan pintupun tertutup dari luar. Devan menghela nafas.
"Ada apa dengan boneka chucky itu? Tidak biasanya dia seperti ini. Apa aku terlalu berlebih mengerjainya, selama ini?" Devan menggeleng pelan. Ia pun kembali fokus pada pekerjaannya. Sebab Mega proyek ini harus goal di tangannya, hal itu bisa sebagai pembuktian kepada sang ibu dan Sekertaris Erik, kalau ginerjanya di perusahaan ini bisa di perhitungkan agar posisinya bisa segera naik sampai ke kursi komisaris.
Ya... Semua demi misinya, menguak misteri di balik kecelakaan yang di alami ayahnya, serta membongkar permainan apa di belakang, antara Sekertaris Erik dan ibunya itu.
–––
Di food truck Bu Asmia...
Kuni tengah duduk bertiga bersama Bu As dan juga Sarah. Entah sejak kapan mereka jadi lebih dekat, mungkin karena hampir setiap hari Kunia datang ke food truck tersebut seolah membukakan pintu keakraban antara Sarah dan Kuni. Namun walau begitu Kuni tatap menghormatinya selama di kantor, dan Sarah pun tetap profesional dengan pekerjaan sebagai atasan.
"Lalu kau diam saja? Kau tidak menghajar pria itu?" Tanya Sarah. Kuni pun hanya tersenyum tipis, la menggeleng pelan.
"Aku memang bodoh, sebelum Bu Sarah bicara seperti itu aku akan mengakuinya lebih dulu."
"Lagian, kenapa bisa kau mau diporotin seperti itu? Makanya aku tidak mau merasakan cinta. Cinta membuat ku menjadi buta. Apalagi kasus mu ini, iiih– aku jadi penasaran dengan pria itu, setampan apa sih dia?"
"Mbak Sarah– mbak itu harus tahu, bahwa di dunia ini. Banyak pria yang tipe biasa-biasa saja tapi bisa memikat banyak lawan jenis," kata Bu Asmia, yang sedang mengusap-usap lengan Kunia. Bu As memang amat keibuan, dan lemah lembut. Sesuai dengan yang di ucapkan Sarah, itu kenapa Kuni lebih merasa nyaman bercerita dengan Bu As tentang kegalauannya.
__ADS_1
"Ya tapi kan, tetap saja. Dia tidak tahu diri. Seharusnya dia bersyukur punya kekasih royal seperti Kunia."
"Aku hanya kalah dalam hal penampilan, Bu." jawab Kuni.
"Penampilan mu tidak buruk. Mungkin hanya kurang merawat diri saja."
"Itu benar. Karena wanita yang sekarang bersama mantan ku itu cantik. Jauh dari pada aku."
"Hei kau juga bisa cantik, jika kau memakai skincare."
"Skincare?" Kuni sedikit tertarik. Sarah pun mengangguk.
"Kau mau ku tunjukkan, skincare aman yang bisa kau gunakan?"
"Boleh... Aku mau."
Kuni mengangguk-angguk semangat.
"Dan lagi–" Sarah menyentuh pakaian Kunia. "Cobalah pakai rok mini, jangan celana panjang terus."
"Aku tidak punya banyak rok mini, hanya ada satu."
"Beli lah, baju juga. Duh... Ckckck."
"Aku akan beli juga." Bersemangat.
"Okay, kita berangkat?" Ajak Sarah turut bersemangat.
"Hei– habiskan dulu ini kuenya." Bu Asmia tersenyum mendekatkan dua piring kecil kue itu kepada mereka. "Barulah kalian bisa pergi dari sini."
__ADS_1
"Hehehe... Siap Bu. Ayo habiskan." Bu Sarah menepuk-nepuk lengan Kunia.
Dan setelah itu mereka pun berjalan bersama menuju salah satu departemen store. Membeli beberapa kebutuhan demi mempercantik diri.
Sarah membantu memilihkan krim yang cocok untuk Kunia, seperti paket skincare yang cukup terkenal. Harganya memang mahal mencapai nominal satu juta, namun itu sudah termasuk konsultasi agar jenis kulit Kunia bisa cocok memakainya.
Tak lupa mereka memasuki toko kosmetik. Beberapa jenis lipstik, lip krim menjadi pilihan yang sulit bagi Kunia. Namun Sarah dengan cepat meraih dua jenis.
"Kau bisa memakai ini untuk membuat ombre di bibirmu, karena warna bibir mu sudah pink alami. Pakai ini kau pasti akan lebih terlihat fresh." Sarah mengambil tester lalu mencoba mengaplikasikannya pada bibir Kunia. Setelah itu menatap ke cermin. "Bagaimana?"
"Waaaah...." Kuni mengacungkan satu ibu jarinya. "Terbaik–"
"Hehehe... Sini. Kita lihat bedaknya. Karena setelah di cek jenis kulit mu itu kombinasi. Jadi aku akan memilihkan bedak yang cocok. Sebaiknya kau memakai jenis loose powder, lalu pakailah brush untuk mengaplikasikannya. Seperti ini." Sarah mengambil tester lagi. Sekali lagi Kunia di buat takjub. "Tidak terlalu tebal kan? Tetap terlihat natural?"
"Iya, hihi."
"Tapi kau harus pakai alas bedak yang pas juga. Ayo ke sebelah sini." Sarah kembali menarik tangan Kunia menuju rak berbagai jenis alas bedak, memilih yang cocok lalu setelah mendapatkan semuanya mereka pun melakukan pembayaran.
***
Malam harinya, Kunia sudah siap untuk mencuci muka. Ia bercermin menatap wajahnya, sendiri.
Rambutnya kini sudah di ikat dengan bandana di kepala agar bagian poninya tidak basah.
"Aku akan memulai hari ku, merubah diri menjadi lebih baik. Lantas menggaet pria yang labih segala-galanya dari pada Anwar. Akan ku tunjukkan pada mereka bahwa aku bisa." Kuni menyemangati diri sendiri, ia pun mulai membasuh wajahnya dengan air lalu membersihkannya dengan sabun.
Tak lupa juga ia memakai serum wajah, menunggunya hingga kering baru setelah itu menggunakan krim malam yang teksturnya amat ringan di wajah.
Ya... Di mulai dari malam ini, Kunia mulai rutin merawat diri. Dari wajah hingga tubuh, semua rutin ia lakukan, demi sebuah penampilan yang lebih segar dan terawat.
__ADS_1