I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
keinginan Devan


__ADS_3

Keduanya berjalan bersama, membawa pasang kaki mereka melangkah tanpa tujuan.


Sebenarnya, Kuni pun bingung. Apa alasan pria itu tiba-tiba datang, dan ingin bicara apa? Namun ngomong-ngomong prihal kedatangannya. Apakah pria itu kemari jalan kaki? Kuni menoleh dengan kaki masih terus melangkah mengikuti Devan.


"Kau tidak membawa mobil?"


"Bawa," jawabnya cepat. Setelah itu diam lagi.


"Di mana?"


"Di depan gang sana."


Jauhnya. Kuni bergumam dalam hati.


"Kau membohongi ku, kau bilang dari tempat kita berhenti waktu itu sudah dekat. Rupanya masih lumayan jauh, kau lihat kaki ku sampai pegal karena berjalan."


"Maaf. Lagipula, Mana kutahu kalau kau akan datang ke rumah ku."


Devan kembali terdiam, mereka masih melangkah bersama dengan jarak yang tak kurang dari satu meter. Pikirannya yang sedang tak karuan, membuatnya malas untuk beraktifitas sendiri. Walaupun Dia biasa akan mendatangi Bar, namun? Semua sama saja, sama sekali tak merubah suasana hatinya. Sehingga ia sampai di gang tempatnya menurunkan Kunia. Devan menghentikan langkahnya lalu menoleh.


"Kau punya referensi tempat yang bisa kita datangi sekarang?"


"Referensi? Kau bilang tadi ingin mengajakku ke suatu tempat, dan ingin mengatakan sesuatu."


Devan menghela nafas. "Aku berubah pikiran."


"Apa?"


"Ya ... hanya sebuah ide gila yang tidak yakin akan membuatmu setuju. Apalagi kontrak kerjamu sudah mau habis."


Melihat wajah lesu itu membuat Kunia menutup mulutnya, terkekeh.


"Kau tertawa?"


"Tidak, baru kali ini aku melihat mu tidak tengil seperti biasanya, Dik." Kuni mengusap-usap kepala Devan, reflek. Karena baginya Devan terlihat lebih manis saja. Dan Hal itu membuat Devan mematung sejenak lalu tersadar kemudian, ia pun berdeham kencang membuat Kuni terkejut dan secepat itu pula melepaskan tangannya.


"Kau memegang kepala ku?"


Ya ampun... Sejenak aku lupa kalau dia bos ku. (Kunia)


"Ma–maaf..."


"Kurang ajar sekali, kau?" Devan mengangkat tangannya yang terkepal, dimana Kuni langsung menutupi area kepalanya itu, takut saja sebuah jitakan mendarat di sana.


"Maaf... maaf... Sungguh aku lupa kalau kau itu atasan ku. Habis kita berbicara santai sekali sekarang. Lagian ini kan di luar kantor."


"Mau di luar kantor ataupun di kantor kau itu harus menghormati ku, walaupun kau lebih tua dari pada aku, kau mengerti...!"

__ADS_1


Menyebutkan kata Tua-nya kenapa ditekankan sekali sih. (Kuni)


"Iya... Iyaa... Tuan yang masih Muda." Kuni merasa lega saat tangan itu di turunkan.


"Karena kau sudah melakukan kesalahan, jadi kau harus menerima tawaran ku. Aku tidak jadi berubah pikiran."


"Tawaran apa?"


"Ikut aku." Devan melenggang pergi lebih dulu, dan di susul Kunia di belakang.


Dasar bocil, sebenarnya kau mau bicara apa sih? Ribet banget, sepertinya. (Kuni)


Mereka sudah sampai di sebuah gang, namun yang membuatnya heran. Adalah beberapa anak muda yang mengerumuni satu mobil mewah yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Devan menekan tombol remote di kunci mobilnya. Membuka kunci mobil itu, sehingga beberapa anak muda yang masih melihat-lihat dan berfoto ria di sana menjadi pergi.


Namun ada juga yang masih tertahan, menatap takjub pintu mobil yang naik ke atas.


woooaaah... Kunia melongo takjub.


"Cepat masuk."


"Itu mobil mu?"


"Iya–"


Devan menyunggingkan separuh bibirnya. "Kau pikir mobil sport ku hanya ada satu?"


Benar... Dia kan anak sultan. Kuni mendengus sebal, menatap kesombongan pria itu. Ia pun berjalan mendekati mobil lalu masuk.


"Lama sekali sih." Devan menekan kepala Kuni, memasukannya secara paksa, agar tidak membuang-buang waktunya. Dan pintu pun di tutup, sementara Devan berjalan memutar menuju kursi kemudi.


Setelah mobil itu melaju, ia sama sekali tidak bersuara. Selain fokus menyetir, memecah gelapnya malam yang terbilang masih sore.


Mobil pun berhenti ke salon yang sama seperti saat Kunia di dandani. Kali ini, penampilan Kuni nampak lebih sempurna dari saat menemaninya ke acara kolega.


Ia di berikan dress sebatas lutut berwarna hitam. Gaun Manis, tanpa lengan yang di balut Gaun Sifon transparan berlengan pendek, berwarna hitam di luarnya, pola Mesh Bordir Tiga Dimensi berbentuk Kelopak Bunga Kecil putih menjadi pemanis di gaun tersebut.


Karena waktu masih menunjukkan pukul tujuh malam sementara makan malam di rumah akan di mulai pukul sembilan.


Membuatnya merasa sedikit santai dengan waktu yang lumayan longgar.


Sang penata rias pun sempat menyambung rambut Kunia yang pendek itu. Sentuhan akhir yaitu dengan di Curly, membuat wajah Kunia jauh lebih imut.


"Kami sudah selesai Tuan." Kunia keluar, dimana Devan yang menatapnya mengulas senyum.


"Sempurna." gumamnya, setelah itu beranjak, dan menggandeng tangan gadis itu pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada sang penata rias.

__ADS_1


Selama perjalanan Kuni yang masih di buat bingung hanya bisa mengikuti saja. Berdiam diri di dalam mobil mewah milik Devano, sesekali tatapannya terarah pada kaca spion. Ia sedikit mengangkat dagunya lalu senyum-senyum.


Tak ku sangka aku bisa secantik ini, hihi.


Gadis itu merasa senang melihat bayangan sendiri di depan kaca spion. Bahkan seolah tidak ada puasnya memandangi diri, matanya masih sesekali melirik kearah spion lalu tersenyum lagi.


"Kau jangan banyak tersenyum...! Jangan membuat orang di luar takut karena melihat Kunti di dalam mobil sedang bercermin." Ujar Devan dengan tatapan masih fokus kedepan.


"Cih...! Bisakah kau berhenti memanggilku Kunti. Apa filosofi mu memanggil ku dengan sebutan itu sih, sebenarnya?"


"Kau tidak ingat dulu rambut mu panjang, banyak berkoar, jika tertawa sangatlah bising sudah begitu tukang buli. Kurangnya cuma satu, kau tidak tinggal di atas pohon..." Devan menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara bahunya berguncang.


"Tertawa lah sepuas mu sana!!!"


"Tidak perlu kau memberi ku izin aku akan terus-menerus menertawakan Wajak chucky jelek mu itu."


"Iiisssh..." Kunia membuang muka, membuat Devan menoleh lalu tersenyum, dan kembali menatap lurus kedepan.


–––


Di depan kompleks perumahan elite...


Mobil Devan berhenti sejenak. Ia pun menoleh kearah Kunia.


"Hei Mbak Kunti. Dengarkan aku baik-baik, kau ku ajak kesini dengan penampilan seperti ini bukan tanpa alasan ya."


"Emmmm..." Kuni masih mendengarkan dengan malas.


"Kau harus berakting selayaknya kekasihku."


"Emmm..." Kunia masih belum fokus, setelah itu melebarkan matanya dan menoleh cepat. "Eh... Tunggu-tunggu. Kau bilang apa tadi yang terakhir."


"Iya, kau akan ku bawa ke rumahku. Dan bertingkahlah seolah kau adalah kekasihku."


"Hei– kau Gila ya?"


"Ya aku gila, kau tahu aku memang gila? Jadi lakukanlah seperti apa yang aku perintahkan."


"Devano!! Aku tidak mau–"


"Kau harus mau, ada dalam surat kontrak kan? Bahwa kau harus mengikuti segala aturan ku."


"Tapi kan itu di dalam kantor? Apa di luar juga."


"Haruskah aku memperlihatkan lagi surat kontrak kerjanya? Hal itu berlaku, di kantor ataupun di luar kantor."


Bedebah....! (Kunia)

__ADS_1


"Okay... Jangan lakukan kesalahan jika kau masih mau hidup tenang." Devan kembali menginjak pedal gas. Dan mobil pun mulai memasuki kawasan perumahan elite yang mungkin hanya ada tiga rumah saja.


__ADS_2