I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
tamu tak terduga


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, sebelum habis masa kontraknya. Kuni benar-benar sudah bekerja dengan baik. Walaupun harus menghadapi kegilaan bosnya yang di luar batas kewajaran, namun ya... Mungkin dia harus mengucapkan sedikit terimakasih, karena kelakuan Devan yang membuatnya geram, sedikit membuatnya mampu menghilangkan rasa remuk redamnya jiwa akibat perbuatan Reni dan Anwar.


Hari ini, ia baru saja pulang kerja...


Taksi online sudah berhenti dengan sempurna di depan rumahnya, ia melihat mobil Anwar baru saja pergi. Hal yang sudah mulai membuatnya terbiasa, walaupun rasa sakit dan cemburu masih kerap muncul, namun biarlah– biar hati ini menjadi keras sehingga tidak ada lagi celah untuk membuatnya kembali pada lelaki yang sudah menggantikan pohon cinta itu dengan tombak tajam di dadanya.


"Kuni–" panggil Reni, di saat Kuni sedang membuka pintu pagar rumahnya. Kuni pun menoleh, sementara gadis itu melangkah mendekati Kunia. "Ini untuk mu."


Sebuah surat undangan terarah kepadanya.


"I– ini?"


"Ya... Pekan depan aku dan kak Anwar menikah, di La plaza. Dateng ya–"


Perlahan tangan Kunia meraihnya. Lalu tersenyum tipis. "Ya, akan ku usahakan."


"Senangnya–" Reni meraih tangan Kunia, menggenggamnya. Sementara Kunia merasa ingin melepaskannya. Dalam hatinya terus mengecam, kenapa ada wanita seperti Reni? Yang terang-terangan merebut kekasih temanya lantas mengundangnya secara langsung, dia bahkan tidak ada perasaan malu apalagi rasa bersalah saat di dekatnya. "Aku sebenarnya ingin, kau menjadi salah satu bridesmaids ku."


"Maaf, tapi aku tidak bisa. Aku ingin jadi tamu biasa saja."


"Kau pasti sibuk sekali ya? Makanya aku memahami itu."


"Baiklah Ren– aku mau masuk. Aku lelah."


"Okay– Sampai bertemu pekan depan. Jangan sampai kau tidak datang ya, acaranya akan sangat meriah loh, karena kak Anwar mengundang beberapa artis, pejabat serata para petinggi perusahaan." Ucap Reni, sementara Kuni hanya tersenyum tipis lalu membuka pagar rumahnya dan masuk.


.

__ADS_1


.


.


Di dalam rumah, setelah berjam-jam menahan agar tidak menangis, akhirnya tangis itu kembali pecah.


Dengan mata berderai-derai Kuni menghabiskan beberapa tissue untuk membersihkan cairan di hidung, mengambil secarik tissue baru yang ia gulung-gulung lalu menyumpal salah satu lubang hidungnya.


Ya...


Sudah sejak sepulang kerja ia mengurung diri di kamar, menangis sesenggukan. Meratapi nasibnya yang harus menjadi jomblo di tinggal nikah pula.


"Hiks.... Hiks... aku tidak ingin menangis, tapi kenapa harus nangis lagi semua sebab undangan lucknut ini." Kunia mengeluarkan lagi cairan hidungnya. Meremas tissue itu lalu membuangnya sembarangan.


"Kau tahu kan Reni? Aku pacaran sama Anwar sudah lama. kau pun tahu aku punya mimpi indah di masa depan bersamanya. Walaupun setiap kencan aku terus yang keluar uang... Tapi kan?" Kuni mengeluarkan cairan hidungnya lagi. "Tapi aku cinta sama dia huwaaaaa... Jahatnya kalian. Jahat..."


"KUNIIIII..! Keranjang buah mana?!" seru Bu Sukaesih di luar, membuat Kuni menjeda tangisnya, menoleh ke arah pintu.


Braaaakkkk...


"Astaga...!" Suara pintu yang di buka tanpa manusiawi membuat Kuni terperanjat, ia menoleh ke belakang sembari mengelus dadanya.


"Kuni, ada tamu di luar, sana buka pintunya. Ibu sedang pakai masker wajah." Bu Sukaesih melongok masuk. Kuni pun menjeda lagi tangisnya hanya untuk menoleh.


"Ibu saja, aku sedang nangis." Ia pun kembali dengan posisi yang sama di sebelah ranjang sembari memeluk lututnya, terisak lagi.


"Hiks... Hiks... Kau juga tahu, aku masih mencintaimu? Terus kenapa kau malah sama Reni sekarang? Kan nggak?"

__ADS_1


"Kuni...!!" Bu Sukaesih masih di sana. Gadis itu pun mendesah...


"Apa sih Bu? Nangis ku ke jeda terus ini, aaahhh elaaaahhh..." Geram.


"Hei... ku perintahkan kau untuk buka pintu, jadi cepat buka pintunya, sana...!"


"Kenapa tidak ibu sendiri saja sih?"


"Ibu kan sudah bilang, ibu sedang menggunakan masker jadi cepatlah keluar sana....!!"


"Ck...!" Bangun lagi dengan malas, lalu berjalan mendekati sang ibu. "Ibu sama sekali tidak iba pada ku? Aku kan tengah sedih."


"Jika sedih mu karena kau putus dengan si pengeretan itu, untuk apa ibu iba? Yang ada ibu bersyukur, kau bisa terlepas dari benalu tidak tahu diri itu." Tukasnya jujur.


"Ibu..."


"Apa? Sudah lah, lebih baik kau simpan tenaga mu. Jangan kau buang-buang waktu untuk menangisi pria seperti dia. sudah sana keluar dan buka pintunya." Titah Bu Sukaesih sembari mendorong pelan, sementara Kunia pun mulai melangkahkan kakinya dengan malas.


...


Di depan pintu ia pun mengusap kedua matanya sejenak, lalu membukanya.


"Cari siap...pa?" Mata Kuni melebar saat melihat Devano sudah berdiri sembari melipat kedua tangannya di depan dada.


Braaaak...


Kunia kembali menutup pintu rumahnya dengan cepat.

__ADS_1


"Si sinting itu? Dia di sini? Tidak... Tidak mungkin. Bagaimana bisa?" Sedikit panik ia pun mondar-mandir di depan pintu belum lagi suara ketukan pintu yang kembali terdengar membuatnya semakin ketar-ketir.


Bersambung...


__ADS_2