
Dua bulan setelahnya...
Devan menyadarkan kepala di atas pangkuan Kunia. Semenjak kepulangan Omah dari rumah sakit mereka lebih sering tinggal di rumah utama.
Sudah menjadi kesepakatan, rumah mereka hanya akan menjadi rumah ke-dua. Apabila sedang ingin berdua saja, mencari ketenangan maka mereka akan pulang kerumah itu.
Devan termenung, matanya terbuka memandang kosong. Mendengarkan senandung yang sejatinya tidak merdu-merdu amat dari Kunia.
Tanpa menyela sedikitpun, ia menikmati saja. Belaian lembut dari tangan sang istri. Memikirkan segala pertanyaan tumpang tindih yang membuatnya berputar-putar selama ini.
"Sayang, kau memikirkan apa?" Pertanyaan lembut Kunia membuat lamunan itu terpecah.
"Tidak ada." Devan memutar sedikit, memeluk lingkar pinggang Kuni. Dia memang paling suka melakukan itu.
"Lalu kenapa diam saja?"
"Memang tidak boleh jika aku diam?"
Kuni tersenyum. Ia merasa geli sendiri dengan gerakan bibir Devan di perutnya yang rata itu.
"Besok, Bu Asmia akan kemari. Aku sudah memintanya untuk kembali kerumah ini sebagai teman Omah."
"Oh, ya?" Wajah sumringah Kunia menanggapi.
Yes ... aku bisa makan rice bowl-nya setiap hari.
Terbayang-bayang cita rasa itu, yang selalu membuatnya merasa tak rela ketika harus berhenti bekerja.
"Iya! sebab aku tidak mau kau terlalu lelah. Termasuk Delia, pun aku akan mencarikannya suster pribadi."
"Tapi aku suka kok merawatnya."
"istriku, aku ingin kau mulai fokus pada program kehamilan."
Eh ... tiba-tiba Dia bahas itu?
"Promil?"
"Ya, sudah saatnya kita fokus dengan itu." Devan beranjak duduk. Sepertinya Dia serius saat mengatakan tentang program kehamilan.
"Bu–bukannya itu terlalu cepat ya? Kita baru beberapa bulan menikah. Aku masih mau?"
"Apa kau tidak mau punya anak dari ku?"
"Bukan begitu sayang. Aku masih mau kita berdua dulu."
Devan mencium bibir Kunia, sembari mengusap lembut pipinya. Setelah itu melepaskan dengan pelan. Mata mereka kembali terbuka.
"Kau tidak menundanya tanpa sepengetahuanku, kan?" Tebak Devan, membuat Kuni menggeleng cepat.
"Tidak mungkin lah, aku berani melakukan itu."
"Sungguh?" Mendekati lagi wajah itu.
"Iya, mmmppp..."
Kembali Devan mendaratkan ciuman lembut di bibir istrinya. Sembari merebahkan tubuh Kunia. Bermain untuk beberapa saat, sebelum akhirnya tangan itu meremas kain seprai. Ketika Devan mulai membawanya pada keindahan cinta mereka malam itu.
***
Hari yang baru.
ia mendapatkan sepucuk surat dari seorang pelayan di rumah itu. Surat yang berisikan tentang teka-teki, dan ia pun harus menjawabnya.
"Apa sih ini, maksudnya? Orang berjalan, pohon Cemara, air mancur." Kunia berpikir keras, sebab surat itu hanya berisikan gambar.
__ADS_1
"Apa itu, Kak?"
"Entahlah Devan iseng mengirim ini." Kunia menunjukan kertas itu pada Delia. Sigap ia meraihnya, mencoba untuk mencernanya.
"Oh, mungkin semacam teka-teki. Orang berjalan? Bisa jadi kakak harus mendatangi satu tempat," terdiam sejenak, untuk berpikir. "Oh ... taman di bawah, ada air mancur dan mini pohon cemara. Coba saja Kakak ipar kesana."
"Masa iya, seperti itu maksudnya."
"Bisa jadi. Begini-begini aku memang cerdas soal teka-teki. Memangnya kakak ipar, yang lemot."
Kuni mendengus. Namun ia berpikir ada benarnya. Lebih baik ia mengikuti saja.
"Kalau begitu aku keluar dulu."
"Okay..." Delia membulatkan jari telunjuk dan ibu jarinya yang menempel.
–––
Setelah sampai di luar, Kunia mencoba mencari pohon cemara. Lumayan susah karena ada enam pohon di sana, namun ia mengingat ada air mancur. Berarti yang paling dekat.
Bergegas mendekati pohon tersebut, benar saja ada satu lagi surat dengan amplop yang sama.
"Apa lagi ini..." Kunia membukanya, yang ia dapatkan sama seperti tadi. Gambar pakaian, topi, tas, dan pesawat. "Hei– apa sih ini maksudnya?"
"Permisi Nona." Seorang pelayan menghampiri. Kunia membalik badan, menghadap wanita di belakangnya. Pelayan itu mengangguk singkat.
"Koper Nona sudah masuk mobil, saatnya mengganti busana Anda. Karena mobil sudah siap untuk mengantar Anda ke suatu tempat."
"Mengantar saya, kemana?" Kunia nampak bingung.
"Saya tidak tahu, Nona. Tuan hanya bilang Nona harus segera bersiap."
mau apa sih Dia?
Kunia menuruti mereka berjalan dengan Kunia yang berada di depan mendahului pelayan yang baru bekerja sekitar dua bulan.
Ya, semua pelayan kembali di rubah dengan yang baru. Bahkan kepala pelayan yang dulu pun sudah kembali. Seorang pria yang bekerja untuk ayahnya di masa lalu. Sebelum di rubah oleh Liliana.
Mobil telah sampai di sebuah landasan pribadi milik keluarga Atala.
Sepanjang jalan landasan itu, penuh dengan kelopak bunga mawar di sisi kiri dan kanannya.
Kunia sendiri nampak bingung, kenapa tiba-tiba ada ini semua.
Sebenarnya aku mau di bawa kemana?
Masih fokus, melihat kelopak bunga yang amat cantik.
Hingga sampailah di titik landasan.
Ada pesawat jet pribadi yang terbuka, sementara Devan sudah berdiri di sana dengan buket bunga yang besar.
Devan?
Kunia bergumam dalam hati, bahkan sampai mobil itu berhenti dengan sempurna. Setelah itu pintu mobil di buka oleh sang Driver.
Mematung sejenak di depan pintu mobil itu setelah keluar.
Fokusnya pada Devan, yang berdiri di hadapan tumpukan kelopak bunga mawar berbentuk tulisan I love you, Mbak Kunti.
Ia menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. Kejutan apa ini, perasaan tidak ada momen spesial apapun hari ini. Mencoba mengingat-ingat.
Devan yang tersenyum lantas menggerakkan tangannya meminta toa pada Andre yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
bergegas Andre mendekati lalu menyerahkannya pada Devan.
__ADS_1
~ Hei ... Kunti yang rambutnya sudah mulai panjang. Kau mau membuatku kering karena berdiri terlalu lama di sini? ~
Kunia terkekeh. Karena Devan juga tertawa sembari menyerahkan lagi toa itu pada Andre.
cepat-cepat melangkah mendekati sang suami yang kini tengah merentangkan kedua tangannya. Menyambut dirinya.
Kunia segera menghambur ke pelukan sang suami.
"Apa yang kau lakukan? Aku tidak ulang tahun loh sekarang? Anniversary kita pun masih beberapa bulan lagi." Suara Kunia serak, karena menangis haru.
Devan mengecup kepalanya lembut. "Kan, aku sudah pernah janji, akan mengajakmu bulan madu."
Kunia mengangkat kepalanya. "Kemana?"
"Keliling Eropa, selama tiga Minggu."
"Serius?" Kunia berbinar.
Devan memberikan kecupan kilat di bibir Kunia. "Aku serius, istriku."
"Ya ampun, sayang." Kunia semakin memeluk erat.
"Pelukannya nanti saja di dalam. Kau bisa memelukku sepuasnya. Bunga ini berat, tanganku pegal. Jadi terima dulu yang di tanganku ini."
"Hahaha ... siapa suruh membeli bunga sebesar ini." Kunia menerimanya dengan dua tangan, merasa bahagia.
"itu saja masih sangat kecil untuk menggambarkan isi hatiku."
"berlebihan–" gumamnya manja, sembari menghirup aroma bunga itu.
Devan tersenyum tipis. "Kau senang?"
wanita itu melirik, lalu mengangguk. Bibirnya masih tersungging senang.
Devan pun mengusap-usap kepalanya, setelah itu mengangkat tubuh Kunia tiba-tiba.
"Kyaaaa, Devaaaaaan." Bunga di tangan Kunia reflek terjatuh.
"Kau terlalu lamban. Sementara aku sudah tidak sabar untuk melakukan perjalanan bulan madu kita."
Kunia tertawa. "Bunganya jatuh."
"Nanti biar di bawa masuk oleh pelayan cabin. Kita masuk berdua lebih dulu. Okay?"
"Okay, sayang. Tapi kuat, ya?"
"Kuat lah, kan aku sudah di ospek habis-habisan oleh mu dulu." Sembari berjalan, mereka mengoceh.
"Jangan bahas itu lagi. Kan aku sudah insyaf."
"Ya-ya... Tapi nanti aku yang akan meng-ospek mu."
"Hah!!! Ospek apa?" Merinding.
"Rahasia– liat saja nanti." Tertawa angkuh. Kaki Devan sudah mulai menaiki tangga pesawat. Dan menghilang masuk kedalam.
Andre yang melihat itu sembari memeluk Toa-nya hanya bisa tersenyum senang. Akhirnya, Tuan-nya sudah bisa merasakan kenikmatan pernikahan mereka. Walaupun terjeda cukup lama. Namun ia bersyukur, sekarang mereka bisa lebih bahagia.
Andre mengeluarkan ponselnya, ia melihat tanggal digital.
"Waw, saatnya kasih kejutan untuk Sarah. Di ulang bulan jadian kita yang ke tiga bulan." Andre cengengesan, lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Ia melambaikan tangannya penuh semangat ke arah pesawat yang di tunggangi Devan dan Kunia.
.
.
__ADS_1
.
# wah-wah ... sudah tinggal beberapa bab lagi nih, ending. 🥰