I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
teka-teki keluarga Atala


__ADS_3

Masih dalam perjalanan, ia sedikit memijat tengkuknya yang terasa pegal setelah mengemudi dan melakukan aktifitas secara seharian ini.


Sebenarnya, tidak masalah jika harus menggunakan supir pribadi. Bahkan jika Andre di minta untuk menemani aktifitasnya selama seharian ini, pun dengan senang hati pria itu akan mengiyakan.


Namun tidak. Sebab, bagi Devan mengemudikan kendaraannya sendiri, adalah hal yang paling menyenangkan. Melakukan aktivitas semau dia sendiri, membuatnya bebas tanpa beban.


Tidak perlu seapa-apanya mendapatkan pengawalan ketat, seperti beberapa tahun yang lalu. Ketika mendiang ayahnya masih ada, juga nenek.


Ngomong-ngomong soal nenek, ia masih belum dapat kabar dari pesuruhnya.


Kembali ia menghubungi pria tersebut. Menekan tombol di earphone tanpa kabel yang tersemat di telinganya, setelah mencari nama yang ingin ia hubungi.


~nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan~


Devan mematikan sambungan teleponnya.


"Tidak beres. Pria ini sudah tiga bulan semenjak ku perintahkan untuk mencari kabar tentang nenek malah menghilang tanpa jejak. Apa mungkin terjadi sesuatu?" Teka-teki yang semakin rumit untuk ia pecahkan membuatnya merasa gila sendiri. Andai saja kekuasaan Diamond's bisa ia genggam, mungkin akan sangat mudah menggerakkan beberapa orang demi bisa mencari nenek.


"Aku harus sabar, ayolah. Berjuang untuk cepat menikahi gadis itu. Dialah penentu semuanya." Devan semakin mempercepat laju mobilnya menembus gelapnya malam di tengah kota yang sudah lumayan lengang.


***


Pagi yang tenang...


Devan duduk dengan santai, menikmati santapan pagi tanpa bersuara. Walau terdengar ocehan Delia, yang berkata jika sekolahnya akan mengadakan darmawisata ke Paris.


Acara tahunan SMA swasta yang masih berada di bawah naungan Diamond's. Sekolah bertaraf internasional, yang mendapatkan akreditasi terbaik se-Asia. Memang biasa membawa anak-anak tingkat kedua untuk melakukan wisata ke Paris.


"Aku bisa membawa teman dekat ku kan, Mih? Di jet pribadi ku?" Tanyanya.


Liliana tersenyum. "Tentu sayang."


"Yeaaay..." Delia bersemangat. Ia kembali menggigit sandwichnya.

__ADS_1


"Devan? Bagaimana dengan hari mu sayang?"


Devan menoleh. Ia lantas mengusap bibirnya menggunakan celemek makan.


"Hari ku baik, dan aku ingin mengatakan sesuatu."


Liliana menghentikan suapannya. Lalu menautkan kesepuluh jarinya, menopang kedua siku itu di atas meja.


"Apa? Katakan saja."


"pernah aku tidak sengaja dengar. Notaris Evans berkata? Aku bisa menduduki kursi Komisaris jika aku sudah dewasa, dan sudah menikah. Apakah itu benar?" Tanya Devan, seolah membuat semua aktivitas di meja makan itu terhenti.


Senyum Liliana pun meredup. "Kapan kau mendengar itu?"


"Sudah lama, sebelum aku keluar dari rumah ini. Dan tinggal bersama Bu Asmia."


Asmia? (Liliana)


"Adakah lagi yang kau dengar?"


Devan terdiam sejenak. Mendapati tatapan tak biasa sekertaris Erik.


Tentang Omah yang merubah surat wasiat itu, sesaat setelah mendengar kematian Papih. –gumamnya dalam hati, melanjutkan.


"Ada lagi?" Tanya Liliana, lagi. karena Devan mendadak diam.


Devan berfikir, sebaiknya Dia tidak perlu mengatakan ini di depan sekertaris Erik yang masih menatapnya datar. Devan pun menggeleng. Dimana hal itu membuat Liliana tersenyum tipis.


"bagaimana? jadi apakah benar, apa yang dikatakan oleh notaris Evans?"


"Itu benar, namun harus dengan berbagai persyaratan."


"Apalagi? Kenapa semua seolah di persulit?" Tatapan Devan tertuju pada tangan Sekertaris Erik yang tiba-tiba menggenggamnya, manakala Liliana hendak menjawabnya lagi. Dan wanita itu pun menghela nafas.

__ADS_1


"Sayang, menduduki kursi komisaris itu tidak mudah. Ada syarat dan ketentuannya."


Lagi-lagi Mamih menjawab seperti itu, dengan tenang? Apakah dia mendapatkan tekanan dari Sekertaris Erik? –Devan masih fokus pada tangan pria tua itu di hadapannya. Devan pun beranjak.


"Aku sudah selesai," tuturnya sebelum melenggang pergi. Meninggalkan keheningan di meja makan itu.


Liliana yang masih diam hanya bisa memandangi punggung yang terbalut jas rapi itu melenggang pergi dan menghilang dari pandangan.


"Lanjutkan makan kalian," titahnya kemudian pada Zaeni dan Delia di meja makan. Dia pun beranjak bersama Sekertaris Erik yang sigap memasangkan jas di bahunya lalu keluar bersama.


Delia menoleh kearah Zaeni.


"Kak? Kenapa sih, Kak Devan sangat ingin sekali memegang kursi komisaris. Padahal kan sudah enak hidupnya itu, yang bisa pulang dan pergi sesuka hati. Tidak seperti aku." Gerutu Delia.


Zaeni pun tersenyum, ia hanya mengusap lembut kepala adiknya. Tidak mungkin ia menceritakan semua masalah di rumah ini, yang tidak ia ketahui. Karena ia tak ingin Delia turut pusing memikirkan permasalahan di rumah itu.


"Ayo lanjutkan makan mu, nanti ku antar ke sekolah."


"Hah!! Serius, kau yang mau mengantar ku?"


"Iya– Aku ada kunjungan di dekat sana soalnya."


"yeaaay–" Delia sedikit bersorak.


"kau nampak senang sekali, sih?" Zaeni terkekeh.


"tentu lah... Tapi kau harus keluar ya, biar aku bisa menunjukkan kalau aku punya kakak laki-laki yang tampan dan perhatian."


"Hahaha... Iya. Sudah cepat habiskan makan mu," jawab Zaeni kemudian.


"Aku sudah selesai kok, kita berangkat sekarang saja."


"Okay." Pria itu beranjak, lalu meranggai jas dokternya yang tergantung di sandaran kursi, sebelum pergi. Yang kemudian di susul Delia di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2