
Kini hanya tinggal sekretaris Erik. Dengan tangan yang terborgol di depan. Ia menatap Devan dengan senyum hangatnya. Berjalan beberapa langkah, lebih mendekat.
"Maafkan saya, Tuan muda Devano."
Deg...!
Devan terpaku, baru kali ini pria di hadapannya memanggil dirinya dengan Tuan Muda. Padahal selama ini, Dia tak pernah sekalipun berbicara dengan menyebutkan nama.
Hanya sekilas-sekilas saja.
"Saya pantas mendapatkan ini. Setidaknya, ketika bertemu lagi dengan Tuan Hari, dialam yang baru. Saya tidak begitu merasa malu." Erik menghela nafas. kembali menenangkan hatinya. "Terimakasih, Tuan masih mau menerima Delia. Saya hanya bisa mengucapkan itu, dan berharap Tuan muda mendapatkan balasan yang lebih baik. Dari Tuhan."
Erik mundur satu langkah, lalu berlutut serta menunduk.
"Sekali lagi saya meminta maaf atas kesalahan saya Tuan. Mohon maafkan saya..."
Zaeni yang melihat itu nampak tak kuasa. Ia menutup rapat mulutnya dengan satu tangan. Sementara tangisnya sudah benar-benar pecah.
Ayah ... ayah maafkan aku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa, ketika melihatmu seperti ini. Aku benar-benar anak yang tidak berguna. Sangat tidak berguna.
Tubuh Zaeni seolah lemas, ia pun membalik badan. Bertumpu tangan kekursi di depannya. Bahunya berguncang hebat. Meratapi nasib Ayahnya.
__ADS_1
kembali pada Devan yang terdiam, mendengarkan semua ucapan penyesalan Erik, lantas menyentuh pundaknya pelan.
"Saya mempersilahkan Zaeni mengajukan banding untuk anda sekali lagi," jawab Devan. Membuat Erik mengangkat kepalanya. Beliau lantas menggeleng.
"Tidak Tuan, jangan lagi. Tidak apa-apa, saya mendapatkan vonis hukuman mati ini."
Devan mengembangkan senyumnya, ia menyentuh pundak yang satunya. Meminta pria paruh baya itu untuk berdiri.
"Anda sudah banyak membantu, walaupun di akhir. Terimakasih sekretaris Erik."
Erik mengusap air matanya dengan kedua tangan yang menyatu karena di borgol.
Erik tak lagi menjawab, sebenarnya ia tidak tega dengan Liliana. Namun mau bagaimana lagi. Beliau lantas mengangguk, lalu berjalan meninggalkan ruangan persidangan untuk kembali ke selnya.
Devan menoleh kebelakang, ia melihat Zaeni masih membelakangi. Menangis sesenggukan di sana. Langkahnya pun mulai beranjak. Ia mendekati Zaeni. Mengulurkan tangannya pada pria itu.
Kepala Zaeni terangkat. Memandangi wajah ramah Devano padanya. Yang tanpa menunggu lagi, Devan langsung menjabat tangan itu dan menarik tubuhnya.
merengkuh tubuh Zaeni. Memberikannya pelukan persaudaraan.
"Tetaplah menjadi kakak, Ku." Devan berbicara tulus. "Aku minta maaf, pernah bersikap tak bersahabat denganmu."
__ADS_1
Dalam pelukan Devano, Zaeni mengulas senyum. Ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Hanya merasa sedikit lebih baik saja.
"Kita tetap saudara ... ku harap kita bisa saling bekerja sama, menjaga Delia."
"Terimakasih, Dev– terimakasih banyak ... dan tolong, maafkan keluargaku. Maafkan ayah dan ibuku, Dev."
"Aku sudah memaafkan mereka. Maafkan aku juga, telah memenjarakan mereka. Hingga harus mendapatkan hukuman ini."
Zaeni mengangguk-angguk.
Sebab, apa yang Devan lakukan tidaklah salah. Semua mutlak kesalahan ke-dua orangtuanya. Zaeni melepaskan pelukannya. Tangan Devan lantas menepuk pelan, dua kali di bahu Zaeni. Setelah itu tertawa pelan bersama.
Keduanya menoleh kearah Kunia dan juga Delia. Dimana Kuni langsung mendorong kursi itu mendekati dua pria berjas rapi yang sudah menyambut mereka.
"Kita harus hidup lebih baik setelah ini, kau jangan sedih. Kau tetap adikku yang manis." Devan mencoba menghibur Delia, yang tak henti-hentinya menangis disana.
Gadis itu mencoba untuk tersenyum, lalu mengangguk pelan. Devan yang masih merangkul akrab Zaeni, dengan tangan kirinya. Lantas mengusap lembut kepala Delia dengan tangan kanannya.
Kunia nampak senang, ia bisa melihat kehangatan ini. Mereka sama-sama korban. Tidak ada yang bersalah di sini, termaksud Nyonya Liliana yang telah di perbudak nafsunya demi mendapatkan semua harta keluarga Atala, sementara Erik. Dia sendiri tak sadar terlah terjebak cinta palsu Liliana.
Ya ... semoga setelah ini, kebahagiaanlah yang menyertai kalian semua. (Kunia)
__ADS_1