
Setelah berganti pakaian, mereka langsung kembali ke rumah utama.
Ini kali ke tiga, gadis itu memasuki rumah yang luasnya tak bisa ia kira-kira. Beberapa barang mewah terpajang di setiap sudutnya. Lantai marmer yang bersih dan mengkilap, rasanya sayang untuk ia injak dengan sepatu.
Ini benar-benar luar biasa, mungkin itu yang tengah di pikirkan Kunia. Yang masih saja terasa takjub dengan apa yang ia lihat di rumah itu.
Devan masih melingkari pinggangnya, melangkah bersama menaiki anak tangga.
Beberapa orang yang ia lalui mengangguk sopan sekali pada mereka berdua. Sebelum tiba di salah satu pintu yang tinggi dan besar.
Sang kepala pelayan membuka dua daun pintu tersebut, untuk mereka berdua. Lalu mempersilahkan Devan dan Kunia masuk lebih dulu.
Kamar yang nyaman, dengan interior luar biasa. Ada beberapa pintu lain di kamar itu, entah apa saja yang ada di dalamnya.
Namun salah satunya ia tahu, jika itu adalah ruangan gym. Terlihat jelas karena hanya di sekat dengan dinding kaca.
ckckck... luasnya kamar ini.
"Apakah ada yang Anda butuhkan lagi, Tuan?"
"Tidak ada, keluarlah." Titah Devan. Fendy pun mengangguk lalu memerintahkan dua pelayan wanita yang tadi menyiapkan baju tidur untuk Kunia dan Devan, keluar.
"Kalau begitu saya permisi, selamat beristirahat Tuan, Nona."
Kunia tersenyum ramah, sesaat sebelum Fendy keluar dari kamar itu. Kamar menjadi senyap. Ia sendiri bingung, dan memilih untuk berdiri saja.
"Ambil ini, dan ganti baju sana." Devan melemparkan baju tidur milik Kunia. Sebenarnya gadis itu agak khawatir, ketika menerima baju tidurnya.
Ku harap bukan sebuah lingerie seksi.
Ia membawanya ke kamar mandi, lalu bernafas lega saat yang ia dapatkan hanya piyama biasa. Berlengan pendek serta celananya yang panjang. Ia pun mengganti bajunya dengan senang.
.
.
.
Beberapa saat kemudian...
Kuni duduk di ujung kanan Ranjang, sedangkan Devan berada di ujung sebelah kiri. Keduanya saling memunggungi antar satu sama lain, diam tanpa suara.
"Mbak Kunti?"
"Ck!" Gadis itu sudah lelah protes ketika di panggil Kunti lagi oleh pria di belakangnya. "Kenapa panggilan itu terus, memang tidak bisa apa menyebutku dengan nama yang normal?"
"Tidak. Aku akan memanggil dengan nama sapaan lain. Tapi tidak sekarang."
Terserah lah. (Kunia)
"Begini. Biasanya, kalau malam aku akan mengalami insomnia, dan untuk menanggulanginya? Aku harus melakukan sebuah aktivitas fisik, lebih dulu."
Kunia menoleh cepat. "Apa maksudnya?"
"Emmmmm, aktifitas fisik seperti bermain adu panco dulu dengan salah seorang pelayan di sini."
__ADS_1
Kunia mendengus tidak peduli.
*bodo amat!
Sana keluar dan main saja dengan pelayan mu, di luar. Dengan begitu aku jadi bisa tidur dengan tenang*. gumam kuni dalam hati.
"Tapi karena aku sudah ada kau, Sepertinya lebih enak jika adu panconya dengan mu."
"Apa?"
"Iya– dengan mu." Devan menggulung lengan pendeknya. Meraih bantal lalu menjadikan itu tumpuan sikunya. "Ayo–"
Kunia merasa konyol. "Aku tidak mau... Aku lelah," menolak mentah-mentah.
"Kau menolak?"
"Iya," jawabnya langsung.
"Baiklah, kau mungkin akan menerima hadiah dari ibu mu."
"Hei... Hei... Apa hubungannya dengan ibu ku?"
"Karena ibumu bilang, aku bisa melaporkan mu kapan saja jika putrinya tidak bisa melayani ku dengan baik."
Apa? Dasar ibu ini ya– (Kunia)
"Ayo adu panco dengan ku." Devan sudah mengambil posisinya lagi.
"Kau itu ya. Apakah tidak bisa keluar saja dan main adu panco dengan pelayan di luar?"
"Ya tapi itu tidak seimbang."
"Makanya kalahkan aku. Kau harus berusaha."
"Mau berusaha seperti apapun tetap aku akan kalah, jadi lebih baik kau cari lawan yang seimbang!"
"Cepat!! Ku telfon ibu nih, ya?"
Dasar, bisanya hanya mengancam dan mengancam!
Kuni pun duduk bersila. Lalu bersiap. Memijat sebentar lengannya. Devan tersenyum sinis saat melihat itu.
"Hukuman bagi yang kalah, yaitu sebuah jitakan di kepala."
"Apa? Kenapa tiba-tiba ada peraturan, yang kalah harus mendapatkan hukumannya?"
"Tentu saja harus ada lah. Biar seru. Sudah cepat ayo lakukan."
"Ya tapi kan, enak di dirimu lah. Tenagaku tidak akan sebanding."
"Ku bilang tadi apa? Kalahkan aku, cepat."
"Hiiissshhh... awas, Kau jangan curang ya."
"Iya."
__ADS_1
Keduanya sudah pada posisi saling menyilangkan tangan mereka. Dan hitungan dari satu sampai tiga, adu panco di mulai.
"Aaaaaa..... Aku harus menang darinya." Kuni amat berusaha keras. Berbeda dengan Devan yang hanya menatapnya dengan tatapan tengil. Ia seperti hanya menahan saja, sementara satu tangannya bertopang dagu.
Sudah ku duga, dia tidak akan mengalah. Tenaganya kuat sekali. (Kuni)
"Kenapa tidak bergerak."
"A–ku se–dang mencobanya." Kunia amat berusaha keras untuk menjatuhkan lengan Devan.
"Lemah."
"Tu–tup, mulut mu..."
"Ck..." Braaaak....! Devan langsung menjatuhkan lengan Kuni hanya dengan sekali gerakan. Hingga membuat mulut Kuni terbuka.
Ia melirik ke arah Devan, pria itu sudah menyunggingkan separuh bibirnya tersenyum sinis lalu mengepalkan tangannya.
"Bersiaplah..." meniup kepalan tangan itu lebih dulu, sebelum mendaratkan pukulan di kening sang istri.
"Hei... hei... Apa kau sungguh-sungguh akan memukul kepala istri mu sendiri?" Kunia memegangi tangan yang sudah terkepal kuat di depan matanya itu.
"Memang pernah ya, aku berbicara bohong pada mu." Devan melepaskan tangan Kuni, sebelum akhirnya mendaratkan satu pukulan ringan di bagian kening Kuni.
"Aaaaaaaaa...." Teriaknya seketika. "Sakit....! Hiks dasar pria tak punya hati..!"
"Apa kau baru sadar, kalau aku memang tidak punya hati?"
Kunia menatap sebal, masih dalam posisi mengusap keningnya yang terasa panas.
"Ayo lagi."
"Aku tidak mau, ini itu sama saja tidak sah. Kau bertarung dengan lawan yang tak seimbang."
"Sudah ku bilang beberapa kali kan? Ayo berusaha kalahkan aku. Kau kan bukan wanita lemah, mbak Kunti."
"Aku tetap tidak mau. Aku mau tidur saja... Hiks." Elus-elus keningnya.
"Tidak usah manja. Cepat bersiaplah. Kita lakukan lagi."
"Tidak mauuuu–" merengek.
*sakit bodoh! kau ini benar-benar ya?
Huhuhu ibu aku mau pulang saja kerumahmu. Biarkan aku mencuci piring seharian dari pada harus tinggal serumah dengan manusia tidak punya akhlak ini*.
"Ayo cepat... Jangan jadi istri yang tidak patuh."
"Kau ini menyebalkan ya. Apakah patuh yang kau maksud seperti ini? Aku rasa ibu ku tidak akan terima anaknya di pukul seperti ini."
"Berlebihan sekali sih? Cepat ayo–" Devan sudah bersiap lagi, sementara Kuni yang pasrah sudah kembali mengambil posisi.
Dan adu panco ronde kedua di mulai, sekali lagi nampak raut wajah songong di hadapan Kunia. Pria yang hanya menahan kekuatan Kuni yang sedang berusaha merubuhkan lengan Kekar Devano.
Bahkan satu tangannya lagi turut membantu, namun? tetap saja, ia tidak mampu menjatuhkannya.
__ADS_1
Dan braaaaakkk.... Tangan Kunia lah justru yang kembali terjatuh. Sementara Devan sudah bersiap dengan kepalan tangannya itu.