
Sekertaris Erik termenung di depan pintu yang tertutup. Mengintip dari celah kaca yang menyatu dengan daun pintu.
Mengamati tanpa ekspresi jelas, seorang wanita yang dengan telaten menyisir rambut panjang sepunggung milik Delia di atas ranjangnya.
Sedikit terheran, mungkin. Wanita itu bukan siapa-siapa. Tak pernah pula dirinya apalagi Delia berlaku manis demi menyambut kedatangannya di rumah besar itu.
Celaan serta hinaan juga sering terlontar dari mulut putrinya. Sementara dirinya hanya diam saja tidak pernah mau perduli, hal apa saja yang akan menimpa wanita itu ketika memutuskan untuk menjadi istri Devano.
Namun saat ini?
Saat tangan indahnya terulur dengan sukarela. Tulus memberikan sesuatu yang paling di butuhkan untuk kelangsungan hidup Delia. Tidak ada kesan buruk yang ditampakkannya, apa lagi dendam, karena perbuatan putrinya itu.
Dari situlah ia mulai berpikir ribuan kali lagi ketika hendak melakukan sesuatu.
Padahal ada berbagai rencana kejam yang sudah ia susun untuk menyingkirkannya dari kehidupan Devano. Lantas membuat anak itu depresi karena perpisahannya dengan Kunia.
Dan sekarang, ia melihat semua ketulusan itu hingga memadamkan api ambisinya.
Erik tidak jadi masuk, setelah sedikit berlari karena mendengar keributan yang terjadi dari dua orang perawat. Ia memilih diam saja sembari mendengarkan ucapan dua wanita beda usia di dalam.
Lalu memutuskan untuk menjauh dari pintu itu membiarkan Kunia di dalam.
Sepertinya gadis kecilnya mulai merasakan kenyamanan, walaupun dengan ucapan ketusnya saat berbicara. Menanggapi setiap kata-kata dari Kunia.
***
Hari-hari berganti. Sudah lebih dari dua minggu, Kunia selalu mendatangi rumah sakit dengan waktu yang sama. Pukul sembilan pagi sampai pukul satu siang.
Padahal dia tidak pernah menyuruhnya, bahkan tidak satu dua kali ia meminta wanita itu agar Tidak datang lagi.
Namun seperti yang ia lihat?
Wanita itu tetap menunjukan batang hidungnya di hadapan Erik.
Erik berdiri, ketika pintu ruangan bangsal VVIP itu diketuknya.
Kunia mengangguk sekali, menyapa Erik dengan sopan.
"Kau datang lagi?"
"Iya Tuan– saya datang lagi." Tanpa di suruh gadis itu masuk saja, dan melirik ke arah Delia yang sedang tertidur lalu tersenyum.
"Besok, kau tidak perlu datang lagi. Karena sore nanti– Delia sudah boleh pulang," kata beliau, dingin seperti biasa. Kunia menoleh, dengan bibir masih tersungging, ceria. Ia juga menebar aura bahagia saat tahu bahwa Delia akan pulang hari ini.
"Oh ya? Syukurlah... berarti Dia sudah baik-baik saja."
Erik tak menjawab lagi, selain ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Menoleh sejenak di bibir pintu. Saat mendengar kursi lipat itu di majukan Kunia dan ia pun duduk disana.
Kunia meraih tangan Delia.
"Kuku mu cantik namun panjang-panjang," pungkasnya lirih sembari mengamati tangan cantik itu. Ia mendapati luka di ujung kuku manisnya, yang sempat di keluhkannya kemarin. Sebab terasa sakit akibat adanya sedikit robekan di salah satu ibu jarinya. kembali menoleh ke arah wajah Delia. "Apa aku boleh memotongnya?"
__ADS_1
Hening sejenak, seperti tengah menunggu jawaban. Erik yang masih di sana tersenyum samar. Karena itu konyol, ia bertanya amat lirih pada seseorang yang tengah tertidur pulas.
"Aaah... karena kau hanya diam saja, ku anggap kau setuju," sambung Kunia sembari terkekeh.
Erik pun geleng-geleng kepala, dan memutuskan untuk melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan itu.
Kunia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Alat yang sengaja ia bawa hari ini, untuk memotong kuku-kuku cantik milik Delia.
"Naaaah ini dia... kau lihat ini, aku akan memotong kuku mu, tidak peduli kau akan berkoar atau tidak setelah ini." .
Dengan sangat hati-hati kuni mulai memotongi kuku di jari-jari tangan Delia, sampai rapi.
Sudah lima kuku jarinya terpangkas. Kunia tersenyum.
"Lihat ini gadis bermulut pedas, aku memotong kuku mu loh... Aku yakin setelah kau bangun nanti, kau pasti akan memaki ku seperti biasa. Namun aku tidak peduli." Kunia dengan suara yang amat lirih, sembari cengengesan.
Ia pun kembali meraih tangan yang satunya lalu memangkas nya juga.
"Waaaah, kereeeen. Aku harap sih kau jangan marah... tapi lebih ke?" Mengetuk-ketuk dagunya seperti tengah berpikir. "Oh... ucapan terimakasih. Ya.... karena kebaikan ku, kuku mu yang cantik ini telah terpangkas habis."
Berdudu-dudu ria, sembari memainkan lidahnya bertingkah iseng memotong seluruhnya.
"Eeeeng..." Serak terdengar suara gadis yang tengah terbaring di atas ranjang.
Kini Kunia telah selesai, setelah kuku terakhir ia potong. Senyumnya mengulas sempurna. Menyapa sepasang mata dengan bulu mata lentik itu terbuka.
"Kau, sedang apa?" Tanya Delia, serak.
Delia membuka matanya selebar mungkin.
"Apa yang kau lakukan pada ku, hah?" Mata Delia tertuju pada alat pemotong kuku di tangan Kunia. "Kau, mau apa dengan alat itu."
"Memang kau pikir ini apa? Jelas saja aku habis melakukan treatment untuk kesepuluh kuku tangan mu."
"Apa?" Delia mengangkat kedua tangannya, sontak matanya melebar. Ia melihat kuku panjang yang manis itu di potong hingga sampai pada ujungnya. "Astaga!! Hei wanita jelek, apakah kau yang memotongnya?"
"Iya– pekerjaan ku rapih kan? Lagi pula hanya kuku."
"Hanya kuku kata mu, dasar udik!! Asal Kau tahu, ya?aku memasang kutek tiga dimensi ini di Paris. Dengan harga yang mahal, dan kau memotongnya begitu saja?" Gusar.
"Kuku panjang itu tidak baik. Apalagi kau sedang sakit."
"Tapi kau jangan asal memotongnya!!!" Delia memekik lalu setelah itu merengek. "Hiks... Kuku ku yang cantik."
Kunia meraih tangan gadis itu, lalu menunjukan salah satunya.
"Kau lihat ini, kau mengeluh sakit kan? Karena peradangan akibat robekan di kuku inilah yang menyebabkan ibu jari mu sakit dan sedikit membengkak."
"Ya tapi tidak semuanya juga kau potong, kau ini jahat sekali sih!" Masih merengek.
"Sudahlah tidak usah bersedih. Sebentar lagi kan kuku ini panjang. Aku lah yang akan memasangkan kuteknya."
"Tidak mau! Aku tidak percaya padamu." Masih merengek.
__ADS_1
"Kau harus percaya aku itu ahli. Sekarang tinggal kakinya, ya?" Kunia beranjak sementara
Delia sendiri langsung merubah posisinya, duduk.
Ia menahan Kunia agar tidak menyentuh kuku Kakinya juga. "Jangan kau sentuh, kuku kaki ku juga."
"Tidak bisa... tangan ku akan gatal saat melakukan pekerjaan yang tidak tuntas."
"Dasar udik–" menarik pakaian Kunia di bagian pinggang. "Ku bilang jangan, ya jangan!!"
"Tapi aku mau melakukannya... kecuali jika kau mau menuruti kemauan ku."
"Tidak usah aneh-aneh ya? Aku tidak pernah melakukan sesuatu demi orang lain, apalagi gembel sepertimu."
"Oh... Ya sudah, aku akan memotong semuanya. Termasuk rambutmu yang panjang itu."
"A– apa?" Delia semakin panik, ia memegangi kepalanya. Sementara tangan Kunia terangkat, melakukan gerakan seperti meremas sesuatu.
"Aku sudah gatal ingin memangkas rambutmu seperti aku memangkas habis rambut boneka Barbie ku." Tersenyum jahat.
Delia menggeleng. "Kau jangan macam-macam, ya?"
"Makanya turuti kemauan ku."
"OKAY!!!" Hentaknya kesal. "Apa mau mu? Aku akan menuruti."
"Janji?"
"Aku bukan tipe orang yang tak pernah menepati janji."
"Baiklah, simpel kok. Cukup panggil aku dengan kakak ipar yang cantik."
Delia melotot. "Kau jangan berharap aku akan memanggil mu dengan sebutan itu ya!"
"Ya sudah jika tidak mau, kau pikir aku tidak membawa guntingnya?" Kunia mengeluarkan gunting dari dalam tasnya.
Sialan! Dia benar-benar membawanya. (Delia)
"Hei–"
"Ssssssttt.... Panggil aku kakak ipar."
"Aku tidak mau."
Ctaaak... Ctaaakk... Kunia memainkan gunting di tangannya.
"Hiiissshhh, baiklah. Kakak ipar!!"
Kunia tersenyum. "Kakak ipar apa?"
"Kakak ipar yang cantik! Puas kau!!!" Hentaknya di belakang.
"bagus... bagus... pertahankan ya." Kunia tertawa puas, sementara Delia hanya menghela nafas, melirik lagi tangannya lalu merengek-rengek pelan meratapi kuku cantiknya sudah terpotong.
__ADS_1