
Selang beberapa menit, Dev keluar dari kamar mandi, dengan Rambutnya yang menjadi basah. Hal yang aneh namun tidak ingin di tanyakan, bukankah pria itu tadi sudah mandi, lalu kenapa harus mandi lagi?
Ah sudahlah, tidak ingin memikirkan hal yang tidak perlu-perlu amat untuk di pikiran.
Toh mau di bahas pun tidak akan mempengaruhi perputaran Bumi, jadi biarkan saja. Dia mau mandi seratus kali dalam semalam pun tidak masalah, suka-suka dia.
Justru yang perlu dipikirkan saat ini adalah nasibnya sendiri. Sebab Kuni sedang bingung ingin tidur di mana?
Ya, ya... Dia tahu statusnya sudah sah. Sudah pasti boleh tidur satu ranjang. Tapi kan? apakah harus benar-benar tidur satu ranjang?
Mengingat, pernikahan ini tak lain seperti sebuah aliran sungai yang belum jelas arahnya sampai mana?
Pria itu pun sudah berjanji tidak akan menyentuhnya sebelum benar-benar ada keyakinan diantara keduanya.
Sementara yang ia lihat sejauh ini, pria itu masih sama tengilnya. Dia seperti belum memperlihatkan, hatinya.
Entahlah bingung sendiri, mau sampai mana hubungan ini di bawanya.
Dan masalah tidur? tunggu saja instruksi dari si pemilik kamar ini. Wanita itu mau tidur di mana.
Setelah Dev berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya, ia kembali naik ke atas ranjang. Tanpa bicara apapun, ia langsung merebahkan tubuhnya pada posisi miring.
Kuni menoleh ke belakang sebentar, lalu kembali lurus lagi.
Pria itu tidur membelakangi dengan nyamannya, sementara dirinya masih bingung. Apakah itu tanda jika dirinya boleh tidur di sebelah pria itu?
Tatapannya tertuju pada sofa panjang, di dekat rak buku yang berada di sudut ruangan kamar yang luas ini.
Duh... Apa aku tidur di sofa panjang itu saja, ya? (Kunia)
Di samping Kunia yang masih bingung ingin tidur dimana. Devan memang tengah menutup matanya. Namun dirinya merasakan gugup. Membuat dia sedikit sulit tidur, hingga memutuskan untuk kembali membuka matanya.
Kenapa situasinya menjadi kikuk seperti ini? Gadis itu masih diam saja. Sebenarnya Dia sedang apa? (Devan)
Dev memutar tubuhnya, secara tiba-tiba dan yang ia dapati wanita itu tengah mematung sembari mengangkat bantalnya.
"Mau di bawa kemana bantal itu?"
"Aku– mau tidur di sana."
"Siapa yang menyuruhmu, tidur di sana?" Devan mencengkeram bantal yang di pegang Kunia, lalu menariknya kuat. Hingga wanita itu turut tertarik juga.
"Eh... Eh..." gelagapan, karena tubuhnya terjatuh, tepat di hadapan pria yang sudah bisa di sebut suami.
"Siapa yang menyuruhmu pindah?"
"Aku– aku sendiri. Aku hanya tidak ingin menganggu tidur mu." Nyengir, "makanya lebih baik aku tidur di sofa."
Devan diam saja. Tatapannya sama sekali tak terlepas, berbeda dengan sang istri yang berusaha keras menghindari tatapan Devan yang membuatnya semakin gugup.
__ADS_1
"Tidur di sebelah ku. Aku ingin bercerita, dan kau harus mendengarkan."
"Emmm? Ya..." Kunia beranjak, lalu membenarkan posisinya. Duduk dengan kaki di luruskan. Belum berani berbaring di sebelah suaminya sendiri.
Devan pun menghela nafas, ia merubah posisinya juga. Tidur terlentang, memandangi langit-langit kamar. Mengangkat tangannya, memandangi cincin besar itu kemudian.
"Kau pernah berfikir? Jika ini aneh?"
"Ya sempat."
"Apa yang kau pikirkan tentang cincin ini?"
"Dukun," jawabnya spontan. Devan menoleh kearah Kuni, cepat. "Tapi, itu dulu. Sekarang tidak. Hehehe..."
Devan menghela nafas. Ia beranjak duduk bersila di hadapan Kunia.
"Aku sebenarnya belum paham tentang cincin ini. Masalahnya, aku baru lihat ini di rumah pengasuh ku. Dan Beliau juga lah yang memberikannya."
Kunia penasaran dengan cincin di jari tengah Devan. Matanya seolah tak berkedip, karena batu itu jika di lihat dari dekat amatlah bagus dan berkilau.
"Cincin ini, katanya dari Omah. Namu, pengasuh ku bilang aku harus tutup mulut tentang ini, serta hanya membolehkan ku memakainya saja. Sampai waktunya pas, aku akan tahu fungsinya."
Kuni menyentuh, bagian permatanya.
"Bagusnya?" Gumam Kunia.
"Kau mau lihat?" Devan melepaskan cincin itu. Lalu menyerahkannya pada Kunia, yang langsung di terimanya.
"Menurut mu?"
"Sudah pasti asli sih. Tidak mungkin juga jika ini palsu," jawab Kunia yang masih memandang takjub cincin di tangannya.
Devano tersenyum tanpa suara, matanya terus tertuju pada wanita yang menjadikannya betah untuk di pandang.
Sihir kah ini? Apapun itu, yang jelas ia tengah menikmati kehangatan lain di rumah ini. Dialah Kunia, gadis yang baru ia nikahi tadi pagi.
"Mbak Kunti?"
Kunia mengangkat kepalanya, dengan senyum masih tersungging. Tidak peduli dengan julukan yang belum juga di ubahnya.
"Mau berjanji sesuatu?"
"Apa?"
Devan tak mendapati sikap ketusnya seperti biasa. Membuatnya yakin, jika ini akan berjalan baik di kedepannya.
"Tumbuhkan perasa lain untukku, di sana." Devan menunjuk dada Kunia. "Kau bisa?"
Kunia tersenyum, "bisakah kau berjanji juga? Akan melakukan hal yang sama, jika aku menurutinya?"
__ADS_1
"Ya–"
"Yakin?"
"Yakin!"
Kuni tersenyum lagi, lebih merekah dari sebelumnya. Ia lantas meraih tangan Devan, lalu melakukan gerakan seperti meraih sesuatu dari dadanya. Lalu menaburkan di atas telapak tangan Devan.
"Apa yang kau lakukan?"
"Menanam benih-benih, harapan." Kunia menjawab dengan ceria lalu menempelkannya telapak tangan itu di dada Devan kemudian. Tanpa menunggu lama, jantung Devan pun berdebar kencang.
Setelah itu Kunia menelungkupkan kedua telapak tangannya, sembari memejamkan matanya.
Tuhan... aku ingin Dia. Aku ingin Dia menjadikan ku yang terakhir untuknya. Buatlah Dia mencintaiku, buatlah aku bahagia bersamanya, begitu pula sebaliknya.
"Aamiin," ucap Kunia mengakhiri.
Devan tersenyum melihat tingkah wanita di hadapannya.
"Doa apa yang kau panjatkan?"
Kunia mendekati telinganya, "rahasia–"
"Curang sekali. Aku akan melakukan hal yang sama kalau begitu."
"Boleh. Lakukan saja–" Kunia menengadahkan telapak tangannya. Lantas di pegang oleh Devan lebih mendekat. Ia melakukan hal yang sama, seperti meraih sesuatu lalu menaburkannya di atas telapak tangan itu.
Kunia sedikit terkekeh. "Kenapa kau menaburnya hanya sedikit?"
"Ini banyak, bahkan lebih banyak dari yang kau berikan. Kau saja yang tidak melihatnya."
"Idih–" Kunia hanya tersenyum sinis. Devan segera meletakkan telapak tangannya Kunia di dadanya sendiri. Setelah itu memanjatkan doa, sama seperti Kunia tadi.
Tuhan... aku sangat menginginkan Dia. Aku ingin menjadikan Dia yang terakhir untuk ku. Buatlah Dia mencintaiku, buatlah aku mampu membahagiakannya. begitu pula sebaliknya.
"Aamiin."
"Apa yang kau panjatkan?" Tanya Kunia penasaran, setelah suaminya membuka lagi matanya.
Devan tersenyum. Lalu menyentuh kening Kunia dengan jari telunjuknya.
"Rahasia–" ditoyor kemudian kening itu pelan oleh Devan yang lantas tertawa.
"Cih– tidak kreatif."
"Aku tidak peduli. Sekarang Ayo tidur. Biarkan doa kita naik ke langit. Agar lekas terkabul." Devan menarik tangan Kunia. Mengajak cepat gadis itu untuk merebahkan tubuhnya, di atas ranjang.
Walaupun tanpa saling memeluk. Keduanya tetap tidur dalam posisi miring saling berhadapan.
__ADS_1
Satu sama lain masih belum bisa terlelap, namun tidak berani juga untuk membuka matanya.
Hingga lima puluh menit kemudian, mereka pun akhirnya tertidur.