
Di tempat lain...
Setelah selesai dengan acara di stasiun televisi. Liliana langsung kembali ke rumah. Tubuh yang lelah membuatnya ingin segera tersentuh kasur yang empuk serta selimutnya yang nyaman.
Dalam perjalan, mereka melewati salah satu rumah sakit. Gedung yang besar itu, membuatnya tercenung. Mengingat masa lalu, yang membuatnya merasa bangga atas semua keberhasilannya ini.
"selangkah lagi..." gumamnya sembari menyandarkan kepalanya. tatapannya masih tertuju pada rumah sakit, tempat dirinya permata kali membuka gerbang keluaga Atala.
Flashback is on.
Malam yang gelap, tepat dimana seorang wanita yang bernama Karlina tengah berjuang antara hidup dan mati, berada di salah satu ruang ICU.
Wajahnya yang pucat, dengan masker oksigen di bibirnya masih berusaha untuk tersenyum. Memandangi kekhawatiran sang suami. Bibir pria itu tak bergumam, tak pula bersuara. Apalagi memperlihatkan ekspresi ketakutan akan kehilangan istri tercintanya. Karena yang ia yakini, Karlina akan selamat.
Namun, air mata serta genggaman tangannya tak bisa bohong. Ia tetap takut kehilangan sang istri yang kondisinya semakin kritis di usia kandungan yang menginjak delapan bulan. Penyakit apa agaknya yang menggerogoti?
Sebelumnya dia sehat-sehat saja. Tak terkonfirmasi riwayat penyakit apapun, namun semakin hari tubuhnya semakin melemah, bahkan dokter pun tak mampu memvonis penyakit apa yang di deritanya. Sebab tak di temukan penyebab tubuh istri dari Presdir Harison itu semakin melemah. Hingga akhirnya dokter menyatakan, kemungkinan adanya Auto imun di tubuh Karlina.
Sekertaris Erik mendekati, "Tuan, operasi Nona Lina harus segera di lakukan. Demi menyelamatkan nyawa sang bayi."
Harison menoleh, lalu mencengkeram baju di bagian dada Sekertarisnya. "hanya demi menyelamatkan sang bayi? Bagaimana dengan Lina? Buat dokter melakukan apa saja. Cepat!!!"
"Maaf Tuan, saya harus kembali menyampaikan ini. Sebab dokter bilang?"
Mata Hari melebar, ia menarik tubuh itu dan mendorongnya sampai keluar tirai. Sedikit membenturkan punggung Sekertaris Erik ke dinding.
"Jangan katakan apapun...!! Dokter bukanlah Tuhan, sehingga bisa menentukan nyawa manusia!!"
Ucapannya yang masih terdengar oleh Lina. Membuat wanita itu mengerjap dan bulir bening pun mengalir begitu saja.
"Tuan, mohon tenangkan diri Anda."
"Tenang? Kau bilang tenang?? Istri ku sekarat...!!! Kau bilang tenang? Aku tidak mungkin tega, membiarkan anakku hidup tanpa ibu!!!"
Tok... Tok... Tok...
Seseorang mengetuk pintu ruangan ICU khusus. Membuat mereka menoleh, Tuan Harison menghela nafas.
"Masuk...!" Titah beliau kemudian. Hingga seorang wanita yang anggun, masuk lalu mengangguk sekali dengan sopan.
"Selamat malam, Tuan." sapanya dengan sopan.
Sekertaris Erik sedikit melebarkan matanya.
Lili, Kenapa Dia di sini? –Mungkin itu yang ada di pikiran beliau.
"Siapa kau?" Tanya Hari.
"Saya Liliana, Tuan."
"Apa tujuan mu, kemari? Dan bagaimana kau bisa tahu tempat ini?"
"Nona Karlina yang meminta ku datang. Via pesan singkat."
__ADS_1
"Lina?" Ia kembali berjalan cepat mendekati ranjang sang istri yang sudah menyambutnya dengan senyuman lemah di bibir.
Rupanya tujuan Lina memanggil sahabat SMAnya itu memiliki maksud. Ia ingin menitipkan putranya, dan meminta Lili untuk menikah dengan suaminya. Walaupun itu berat, namun kondisi yang semakin parah membuat dokter mulai angkat tangan, dan Lina tidak mungkin membiarkan Anaknya hidup sendiri serta meninggalkan kesedihan di hati suaminya.
Jelas permintaan itu di tolak mentah-mentah oleh Tuan Harison. Ia menganggap gila keputusan yang di ambil oleh sang istri.
berbeda dengan Lili yang tanpa berpikir panjang langsung mengiyakan keinginan terakhir temanya. Dimana saat operasi berlangsung, Sekertaris Erik langsung memintanya untuk ke tempat lain demi membicarakan ini. Karena dari raut wajahnya ia amatlah tidak suka dengan keputusan sepihak dari Liliana.
Entah diskusi apa yang mereka lakukan, sehingga akhirnya mereka keluar dengan ekspresi yang berbeda. seperti tak saling mengenal.
Dari situlah awal masuknya Liliana ke rumah utama. Sembari membawa bayi laki-laki yang baru terlahir ke dunia ini setelah menginap beberapa hari di rumah sakit, akibat terlahir prematur.
Liliana menatap wajah mungil bayi yang di beri nama Devano Atala. Di mana malam itu adalah tepat tiga hari setelah prosesi pemakaman Karlina, yang sempat koma beberapa jam paska melahirkan secara sesar dan akhirnya meninggal dunia.
akulah mamih mu mulai sekarang, dan kau akan menjadi alat untuk ku. mendapati apa yang ku inginkan disini. paling utama adalah hati Tuan Harison.
senyum seringai mengembang sempurna. Liliana benar-benar bermain apik, dengan Sekertaris Erik sesuai dengan apa yang mereka rencanakan.
walaupun nampak kesal, setiap kali melihat Liliana menggelayut manja di lengan Tuannya. Erik tetap diam saja.
namun rasa kesal yang mulai memuncak, Ketika Liliana tidak pernah mendapatkan apa yang ia inginkan. hati Tuan Harison, tetap tidak di berikan untuknya. semua perhatian hanya beliau perlihatkan di depan Devan yang amat menyayangi Liliana. hingga suatu masa, ia benar-benar tidak bisa menahannya. Erik meminta Liliana untuk mengakhiri ambisinya menguasai Harta Hari, dan kembali kepadanya.
"aku tidak bisa kembali, masih banyak hal yang harus ku lakukan. aku sudah melangkah sejauh ini." ucap Liliana.
Walaupun aku harus terluka, pria itu masih memikirkan seorang wanita yang sudah menjadi tulang belulang.
Liliana membatin, ia tidak bisa memberitahu jika sebenarnya ia sudah mencintai Harison.
"Erik?" tatapannya melembut, ia mengusap pelan pipi pria itu. "aku tahu kau pasti terluka karena menahan ini?"
"kembalilah padaku. itu yang ku harapkan."
Liliana termenung. ia memang tidak akan bisa merebut hati Harison. bahkan hingga saat ini saja pria itu sama sekali belum menyentuhnya. walaupun pernikahan mereka yang secara diam-diam itu sudah berjalan lebih dari belasan tahun.
"perintahkan aku, ayo perintahkan aku!!"
Lili mengulas senyum. "baiklah, tapi setelah ini. Pastikan aku menduduki kursi komisaris."
Erik menatap dengan serius. "demi engkau, itu akan ku lakukan."
–––
tibalah malam naas itu, Sekertaris Erik merubah isi dari vitamin yang biasa Tuannya konsumsi, dengan obat lain.
hingga saat jam pulang, dari salah satu tempat meetingnya di area bogor pria itu merasakan ada yang aneh.
tengkuk yang terasa berat, serta dada yang terasa nyeri.
Sekertaris Erik yang melangkah di belakangnya hanya diam saja. ia tahu, obat itu mulai mengeluarkan efeknya.
"aaarrggghhh–" Tuan Harison membungkukkan badannya.
"tuan, apa yang terjadi?"
__ADS_1
"dadaku sakit." pandangannya perlahan mulai kabur.
bruuuukkk.... tubuh itu lantas tergeletak di aspal. Sekertaris Erik sempat berjongkok untuk memeriksa, ia merasakan nafas itu masih ada. Tuannya masih hidup. Lalu menghubungi orang-orang suruhannya.
"kerjakan tugas kalian." titahnya setelah mereka tiba.
"baik Tuan."
mereka pun mulai mengangkat tubuh Hari memasukkannya kedalam mobil. setelah itu mobil pun melaju pergi.
di tengah jalan, tepatnya di jurang pepohonan Pinus. para pekerja itu merubah posisi Tuanya ke bagian kemudi. mengusap sejenak bagian yang tersentuh tangan dengan kain demi menghampus sisa sidik jari. setelah itu mesin mobil kembali dinyalakan. mereka pun mendorongnya kearah jurang. dan pergi dari sana dengan mobil yang lain.
beberapa jam berlalu...
Sang kepala pelayan yang lama, menghampiri Liliana. dengan raut wajah sedih. mengabarkan kabar buruk tentang kecelakaan yang di alami Tuan Harison Atala.
"dokter bilang, beliau sempat mengalami serangan jantung Nyonya. dan polisi pun menetapkan ini sebagai kecelakaan tunggal."
"tidak, tidak mungkin suamiku...? suamiku telah tiada?" gumamnya sebelum Tangis itu pecah, ia meraung-raung di kamarnya. seolah semua merasakan kesedihan itu. dimana langit terasa mendung menutupi rumah Utama Keluarga Atala.
Flashback is off...
Aku sudah melangkah sejauh ini. Tubuh ku sudah basah seluruhnya. Aku tidak akan membiarkan segala apapun menghalangi jalanku. Stempel emas, harus segera di dapatkan. Agar sebelum Devan menikah? Aku sudah bisa mendepaknya lebih dulu. –Liliana sempat mengingat sesuatu.
"Erik–"
"Ya, istri ku?"
"Kau tahu siapa Host tadi?"
"Tahu, sayang. Dia adalah Beni Arsena lulusan universitas X dengan predikat baik. Seorang jurnalis yang cukup tersohor. Dia sering membawa acara berita di stasiun X."
"Bagus, cari host itu serta tim kreatif yang kembali membahas tentang kehidupan pribadi ku. Lalu lenyapkan mereka."
"Baik istriku." Erik yang masih fokus membuatnya semakin mempercepat laju mobil itu. Sementara Liliana kembali menyandarkan kepala, lalu memejamkan matanya.
Hidupku harus berjalan sesuai dengan apa yang ku inginkan. Tidak ada yang boleh menghalangi ku.
.
.
Epilog...
Pagi harinya, sebuah berita baru naik ke publik.
~ Seorang pembawa berita Beni Arsena, di temukan meninggal dunia di apartemennya. Polisi menduga korban tewas akibat overdosis obat tidur. ~
Liliana tersenyum. Ia menengguk teh hangat dalam gelas.
"Seharusnya semalam kau mengatakan selamat tinggal pada dunia ini," gumamnya sebelum menyeruput kembali minuman di tangannya. Ia pun menghela nafas, dengan semua yang ia miliki sekarang. Ia benar-benar puas.
bersambung...
__ADS_1