I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
pagi hari yang hangat


__ADS_3

Langit pagi di kota, mulai menyemburkan hawa panas dari matahari yang baru muncul.


Seharusnya udara pagi lebih segar. Namun, namanya juga di kota. Yang katanya, tidak ada waktu pasti untuk menghirup udara segar. Sebab dari pagi hingga pagi lagi udara tetap tertutupi polusi.


Terkecuali ketika turun hujan. Udara akan jauh lebih terasa sejuk. Setidaknya, orang-orang masih bisa merasakan udara baik yang tersaring secara alami oleh air hujan.


Di dalam kamar...


Wanita berambut pendek yang sudah mulai sedikit panjang melebihi bahunya terjaga, dengan tangan ia rentangkan.


Kunia melakukan peregangan, ia pun menoleh kearah jam weker. Lalu menguap dengan gaya sok manisnya. Bak wanita cantik yang berada di dalam drama Korea. Lantas kembali menjatuhkan kepalanya di atas bantal dengan posisi sedikit nungging.


"Aku bangun pagi? Padahal ini hari pertamaku merdeka dari kekejaman VOC Devano." Ia menyebutkan pukul sembilan pagi itu belum terlalu siang.


Karena selama ini ia seperti bekerja dengan tentara zionis yang menginginkannya berangkat tepat waktu.


Belum lagi dengan jam-jam yang semau sendiri, menginginkan Dia untuk datang. ya karena itu bisa menjadi alasan untuk menghukum Kunia. Ketika gadis itu telat.


Kipas di rumahnya masih menyala dengan baik. Gadis itu kembali menarik selimutnya, berguling-guling hingga seluruh dari selimut itu membalut tubuhnya.


"Masih mau bobo–" gumamnya dengan suara manja, dan kembali memejamkan mata. Serasa damai yang ia rasakan. Yuuuppp, tidak ada tempat ternyaman selain ranjang tidur. Itu yang ia pikirkan.


Namun kedamaian tersebut rupanya tak bertahan lama. Ketika Bu Sukaesih sudah membuka pintu kamar yang tak terkunci, lalu menjatuhkan panci kecil dengan sengaja.


Blaaaaaaaaaaaarrrrrr...


Suara menggelar, menggema di ruangan kamar tersebut, lalu mendengung kemudian sebelum akhirnya tenang lagi.


Kunia pun hanya menoleh sebentar, melihat wanita paruh baya itu berdiri sembari berkacak pinggang. Lalu kembali melengos.


Sejenak aku lupa ... kalau aku, hanya merdeka di kantor namun tidak di rumahku.


gadis itu menutupi kepalanya dengan bantal. Tidak peduli dengan apa yang akan di lakukan ibunya. Intinya di hari pertamanya menjadi pengangguran. Ia hanya ingin tidur sampai puas. Sebagai apresiasi diri setelah selama ini sibuk bekerja.


Ya, seharusnya Kuni sadar bahwa dia hanya bekerja selama tiga bulan dalam hidupnya. Dan lebih banyak meluangkan waktu untuk bermalas-malasan.


"Ckckckck... Kau masih mau tidur?"


"Eeemmm... Aku masih mengantuk." Menjawab dengan malas-malasan. Memejamkan mata, sembari menggesek Pipinya sendiri kebantal.


"Wah, wah... Ratu kita ini benar-benar nyaman sekali sepertinya, ya? apakah mau ibu pijat? Kali saja kau lelah setelah menjadi anak baik beberapa bulan belakangan ini." Cibir Bu Sukaesih sembari menyingsingkan kedua lengannya.


Kuni menyunggingkan separuh bibirnya. "Ibu memang memahami isi kepalaku."


"Astaga... Sini biar ibu berikan pijat refleksi ternyaman." Wanita paruh baya itu mulai mengambil langkah cepat, mendekati anak gadisnya lalu memberikan pukulan di bokong gadis itu beberapa kali.


"Aaaa... Aaaa... Ibu... Ibu sakit–" Kunia hendak menghindari namun tubuhnya yang terbungkus selimut membuatnya susah bergerak.


"Bangunlah... Bangun ku bilang. Ayo bangun pemalas."

__ADS_1


"Iiisssss.... Aku tidak mau bangun. Aku mau tidur saja– jadi jangan ganggu aku." Tubuh itu bergerak-gerak seperti ulat, dan semakin membenamkan kepalanya kedalam selimut.


"Apa kata mu? Hei– apakah penyakit malas mu itu kembali setelah kontrak kerja mu habis?! Cepat bangun, Bangun ibu bilang!!! Sebelum ibu melakukan kekerasan lebih dari pada ini."


"Aaa ... aku bilang tidak mau ya tidak mau– aku tidak mau bangun, terserah ibu mau melakukan apa? Aku tetap mau bermalas-malasan hari ini–" Kuni tahu apa yang akan di lakukan ibunya namun ia tidak peduli. Ia merasa kulitnya sudah cukup tebal akibat sering di pukuli.


Bu Sukaesih yang lelah pun menghela nafas. Setelah cukup banyak tenaga yang ia kerahkan, akhirnya menyerah juga.


"Dasar, tidak tahu diri. Ibu akan benar-benar memukuli mu lebih dari pada ini, akan ku hitung sampai tiga ya?"


"Hitung saja. Atau bila perlu, tidak usah menghitung langsung saja pukuli aku. Aku tidak akan bergerak sedikitpun."


"Anak ini...!" Bu Sukaesih mengambil nafas panjang, sebelum kembali mengangkat kedua tangannya.


"Bu– sudah hentikan." Seru ayah yang mendadak masuk ke dalam kamar Kunia. Lantas memegangi tangan sang istri.


"Jangan tahan aku, anak ini memang sepatutnya di hajar."


"Ibu... Sudahlah, biarkan saja dia istirahat."


"Selalu saja ayah membelanya? ayah tidak tahu, kalau sedari matahari belum muncul. Aku sudah siap di dapur?"


"Bukan membelanya, lagi pula ayah kan sudah membatu. Biarkanlah Dia– biarkan saja."


"Tidak akan, Dia itu akan menjadi seorang istri. Anak ini harus belajar."


"Terus saja– terus saja ayah memanjakan anak ini."


"Bukan begitu, Ayah hanya tidak ingin ada keributan di rumah ini. Lebih-lebih Kunia sebentar lagi akan pergi meninggalkan kita, dan tinggal bersama suaminya. Bukankah nantinya rumah ini akan menjadi sepi?" ujar Pak Gayus.


Mendengar itu, Bu Sukaesih menghentikan aksinya. Ia pun memutar tubuhnya sedikit, dan tercenung kemudian.


Sementara Kunia langsung beranjak duduk. Perasaannya yang ingin malas-malasan menjadi hilang akibat ada perasaan sedikit sedih yang tiba-tiba menghampiri.


"Ayah kenapa bicara seperti itu, sih?" Protes Bu Sukaesih pada Pak Gayus yang kemudian tersenyum.


"Benar, kan? Yang ayah katakan?" tanya beliau, sementara Bu Sukaesih hanya diam saja. "Ayah hanya ingin, ada kesan baik sebelum anak kita keluar dari rumah ini."


"Ayaaah–" rengek Kunia, sudut matanya mulai mengembun. Gadis itu langsung menghambur ke tubuh ayahnya. "Ayah selama ini diam saja, tidak pernah menjawab setuju atau tidaknya? Lalu tiba-tiba bicara seperti ini."


Pak Gayus terkekeh, ia mengusap pipi Kunia yang sedang memeluknya dari samping.


"Diam bukan berarti Ayah tidak setujui. Memang saat kau bersama Anwar, ayah tidak bersikap seperti ini? Ayah itu hanya berharap, kau bahagia. Itu saja–"


Bu Sukaesih, mengusap matanya. Ia tidak jadi marah, malah justru menyentuh pundak Kunia. Memukul pelan pundak itu.


"Kemana bayi perempuan, ku?" Gumamnya. Kunia pun menoleh. "Kenapa cepat sekali kau menjelma menjadi seorang gadis cantik."


"Huwaaa... Aku tak salah dengar kan? Ibu bilang aku cantik? Padahal selama ini ibu selalu menyebut ku, Anak yang jelek."

__ADS_1


"Itu hanya mulut ibu yang bicara. Aslinya kau itu cantik."


"Dengan Reni cantik siapa?" Tanya Kunia bernada manja.


"Hei– pertanyaan macam apa itu? Bagaimana bisa anak ku ini di sandingkan dengan wanita sekelas Reni? Jelas putri ku ini jauh lebih baik dari pada perempuan itu."


"Hiks– ibu... Ibu berkata jujur kan?"


"Memangnya mulut ini selalu berbohong apa?" Bu Sukaesih kembali mengusap air matanya.


Kunia tersenyum ia pun lantas memeluk sang ibu.


"Jadilah wanita paling bahagia setelah ini ya? Bukan karena harta Devano, melainkan cinta darinya."


Kunia mendongak, ia tidak percaya ucapan itu keluar dari bibir sang ibu.


"Apa?" Tanya Bu Sukaesih.


"Ibu bilang jangan bahagia karena harta Devano, bukankah itu yang ibu harapkan? Makanya ibu senang sekali saat tahu bocah itu meminang ku?"


Plaaaaaakkkkkkk....


"Aaarrggghhh... Ibu lagi-lagi memukul bahu ku." Runtuknya sembari mengusap bahu yang terasa pedih.


"Kau pikir ibu seperti tetangga depan rumah, apa? Yang haus akan harta?"


"Ya...? Ya mungkin," jawab Kunia. Namun ia malah justru mendapat pukulan di bahu lagi.


"Aaaaaa... Sakit."


"Benar-benar ya, jadi seperti itu penilaian mu terhadap ibu?"


"Tidak juga."


"Jika saja Devan tidak lebih kaya dari pada Si benalu itu. Ibu tetap akan menerimanya. Karena yang ibu inginkan, kau tidak menikah dengan pria pengeretan. Yang suka memanfaatkan wanita. Kau mengerti...!"


"I–iya aku mengerti. Maaf Bu." Kunia memeluk lagi tubuh ibunya.


"Haaaaa... Bisa-bisanya kau mengacaukan perasaan yang sudah mulai membaik ini."


"Huhu maaf, aku mencintaimu ibu."


"Tidak ku terima. Jadi lah batu permata saja sana seperti Malin Kundang." Ucapnya dengan kesal, namun bibirnya mengecup kepala sang anak dengan lembut. Membuat Kunia terkekeh. "Sana jangan peluk ibu. Peluk saja ayah mu itu."


""Aaaaa... Tidak mau. Kunia sayang Ibu, hehehe."


"Terserah apa katamu. Bangun, mandi dan sarapan cepat."


"Okay, siap–" Kunia bersemangat. Sementara pak Gayus pun tersenyum sembari mengusap kepala anak itu lalu beranjak lebih dulu keluar kamar.

__ADS_1


__ADS_2