
Paginya, di dalam kamar mandi.
Kunia menarik sedikit pakaian di bagian lehernya, kebawah. Ada banyak stempel merah di sana. Sisa pertempuran cintanya dengan Devan.
Bibirnya mengulas senyum. Apa yang di lakukan mereka berdua dalam satu selimut, masih saja terbayang-bayang. Kecupan manis di bibirnya bahkan masih terasa hingga detik ini.
Sebab, ada sedikit lecet di ujung bibirnya, membuat dia tersenyum lagi.
"Apa sih, kenapa aku jadi membayangkan terus." Merasa malu sendiri, ia lantas menyalakan keran air di wastafel.
Cklaaak...
Kunia terkejut, reflek menoleh. Saat pintu itu terbuka.
Ya ampun, aku lupa tidak mengunci pintunya. (Kuni)
Ia bernafas lega, untung saja pakaian di tubuhnya masih melekat. Jika tidak?
Devan memeluk dari belakang, menjatuhkan kepalanya di bahu sang isteri.
"Kenapa tidak membangunkan ku?"
"Aku juga baru bangun." Kunia mengusap-usap ujung kepalanya, sembari memandangi sikap manja suaminya di cermin. Setelah itu menyentuh lagi bibirnya yang terasa perih, walau hanya menjawab pertanyaan Devan saja.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Tidak ada, hanya ingin membasuh muka," jawabnya. Devan melirik, ia melihat Kunia menyentuh bibirnya sendiri, sembari meringis tipis.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Hemmm?"
"Itu, kau menyentuhnya sembari meringis?"
"Ini bibirku, sampai terasa perih. Kau benar-benar menggigitnya semalam. Jahat sekali."
Devan tersenyum. Kembali usel-usel di bahu itu, menciumnya terus-menerus.
"Maaf– sebab aku terlalu gemas. Jadi tidak sadar. Tapi punggungku juga sakit," jawabnya kemudian.
"Sakit?" Tanya Kunia, bingung.
"Emmm... Kau mau lihat?" Devan menunjukkan punggungnya itu, karena pria itu masih tak menggunakan atasannya. Mata Kunia melebar
"Ya Tuhan..."
"Ada bekas cakaran mu di mana-mana, 'kan? Ckckck, kau benar-benar seperti Richie ya?"
"Ma– maafkan aku." Kuni melihat garis-garis merah itu turut meringis.
"Maaf saja tidak cukup, saat aku mandi? Pasti ini terasa pedih."
"Aku benar-benar tidak sengaja..." Ia menggigit ujung jarinya telunjuknya. Tidak bisa di pungkiri, permainan panas yang benar-benar membuatnya lupa diri sampai mencengkeram kuat punggung Devan. Rupanya meninggalkan bekas di sana.
"Nanti ku obati ya?"
"Tidak perlu, toh nanti aku akan dapat lagi."
__ADS_1
"Na– nanti?"
Devan tersenyum seringai, melangkah menuju pintu hanya untuk menguncinya saja.
"Hei kau mau apa?"
"Bermain hujan, sebentar."
"A– apa?"
Dev, menarik tangan sang isteri langsung.
Sigap tangan satunya milik Kunia segera berpegangan kuat pada ujung wastafel.
Menggeleng. "Aku tidak mau..."
"Ku bilang hanya bermain hujan."
"Tidak ada bermain hujan di kamar mandi... Kita tunggu saja hujan, di luar."
Aku tidak percaya dengan omonganya yang hanya mengajakku bermain hujan. Jangan lagi, aku masih sakit... Hiks. (Kunia)
"Untuk apa menunggu hujan jika sudah ada hujan buatan." Devan berpindah, melepaskan tangan yang masih mencengkeram kuat, ujung wastafel tersebut.
"Tidak... Tidak mau. Aaaaa... Lepaskan tidak."
"Aku tidak akan melepaskan mu."
"Dev–" Kunia semakin jejeritan mempertahankan diri. Ketika hanya tinggal tiga jari yang bertahan.
"Lepas!!"
menahan diri dari tarikan Nyonya Sukaesih yang lebih bar-bar dari pada dirimu!! Karena dia punya jurus menggelitik perut....
"Begitu, ya?" Devan pun memberinya sebuah gigitan lembut di area ceruk leher. membuat Kunia terkejut.
"Aaaaaa.... Jangan lakukan itu."
"Lepas makanya." Semakin brutal menciumi leher Kunia. Wanita itu tertawa.
"Tidaaaakkk... Tidak akan. Hentikan, ku bilang hentikan."
Patsss ... tangan itu terlepas, akibat tidak mampu lagi menahan geli.
"Yuuppp... Akhirnya."
sigap meraih kedua tangan Kunia, menariknya, serta membawanya menuju bilik shower.
Sembari tertawa, Sebab teriakan Kuni yang sudah pasrah saja. Bilik shower yang terbuat dari Kaca itu pun di tutup oleh Devan.
Dan entah apa yang mereka lakukan, sudah jadi urusan mereka berdua.
Kita semua hanya penonton, di larang ngintip okay!! Hahaha...
.
.
__ADS_1
.
Hampir dua jam berselang... Di meja makan.
Nampak suasana yang lain di pancarkan oleh keduanya.
wajah merona di kedua pipi Kunia, saat tengah menikmati sarapan pagi. Devan pun tak kalah, mereka seperti banyak diam namun sesekali saling curi-curi pandang. Dan ketika kepergok, hanya tersenyum, lalu melengos lagi.
Dasar! Kenapa jadi seperti ABG?
Kunia menunduk, mengulum senyum sembari mengoleskan selai kacang ke rotinya.
Bayangan bercintanya semalam, dan sambungnya tadi pagi benar-benar membuat dia malu.
Itulah sebab utamanya, mereka baru keluar kamar setelah pukul sepuluh pagi.
Devan sudah menggigit ujung rotiya, sembari kakinya yang jenjang itu terangkat sedikit menyentuh kaki Kuni.
Wanita yang duduk di sebelahnya sedikit terkejut, melirik kearah Devan yang sudah mengedipkan matanya.
Segera Kunia menahan rok yang ia gunakan saat kaki nakal Devan mengangkatnya sedikit.
"Dev–" Kunia memukulnya, membuat Devan tergelak. Ia menarik kursi Kunia lebih dekat. Membuat sang isteri gelagapan, berpegangan kuat pada meja. "Hei kau mau aku terjatuh, ya?"
Protesnya Kunia tak membuat Devan menghentikan apa yang ia lakukan.
"Aku mau roti, mu."
"Apa? Itu sama saja, dengan milikmu."
"Aku mau yang di pegang oleh mu." Meraih tangan Kunia, mendekatkan, lalu menggigit tepat di bekas gigitan Kunia.
Ya ampun, dia itu semakin semaunya sendiri ya? –kunia membiarkannya. Pria itu memakan roti, sembari memegangi pergelangan tangannya hingga habis.
"Lebih nikmat," gumamnya.
"Terserahlah." Kuni bertopang dagu, membiarkan Devan memakan roti dari tangan kanannya.
"Kau juga makan..." Dev menyodorkan balik ke dekat bibir, Kuni.
Ia menuruti. Menggigit rotinya, setelah itu Devan yang memakan di bekasnya. Begitu terus hingga roti itu habis.
Kunia menurunkan gelasnya, setelah menengguk air di dalamnya hingga habis.
"Dev– semalam, rumah ini nampak sepi. Aku saja hanya makan malam sendirian."
"Sepi?" Devan mengulurkan satu siung jeruk ke arahnya, Kuni membuka mulutnya memakan jeruk itu dari tangan Devan.
"Iya," jawabnya, sembari menguyah.
"Apa Dua orang itu sudah berangkat ke luar negeri lagi?" Gumam Devan. "Delia juga tidak ada?"
Kunia menggeleng.
Devan pun hanya diam saja. Pikirannya kembali pada Cincin tersebut.
"Sudah biarkan saja. Hari ini, kau ku antar ke rumah Ibu dan ayah, ya..."
__ADS_1
"Hemmmm? Memang kau mau pergi lagi?"
"Iya, ada banyak urusan." Hanya menjawab itu Kunia manggut-manggut. Dia paham, dan tidak ingin banyak bertanya lagi.