
Beberapa jam sebelumnya...
Di saat Liliana tengah mengadakan jamuan penting di salah satu kawasan elite di Lass Vegas.
Wanita itu tersenyum, dengan beberapa kolega penting lainnya yang berada satu meja dengannya. Mengangkat segelas anggur di tangan mereka.
"cheers–" seru mereka semua, bersamaan. Sebelum menenggaknya, lalu tertawa bersama lagi.
Sementara Sekertaris Erik hanya duduk di meja yang lain, tepat di belakang Liliana.
"Hari yang benar-benar indah." Tutur sang Tuan acara. Membuat mereka terkekeh bersama, kembali menyantap hidangan yang tersaji.
"Permisi, Tuan. Ini hanya tinggal menempelkan stempel saja." Seorang sekretaris pribadi menyodorkan sebuah map berisi beberapa lembar tanda kerja sama mereka.
"Oh, baiklah..." Pria bertubuh gemuk itu melepaskan cincinnya sejenak. Membuat Liliana menurunkan gelas di tangannya, memandangi si pria gempal di hadapannya. Merasa tertarik untuk memandangi, sebab cincin itu seperti milik Devan.
Deg!!
Lili menyadari satu hal, saat laki-laki di hadapannya membuka batu permata yang merupakan sebuah stempel berbentuk cincin. Lalu menempelkan di beberapa kolom tanda tangan.
Itu bukanlah cincin biasa? Melainkan sebuah stempel?
Liliana tertegun, mencoba untuk mengingat lagi. Semakin ia mengingatnya, semakin jelas tergambar cincin itu dalam benaknya. Mata Liliana sedikit melebar.
Jangan-jangan yang di gunakan Devano adalah? Stampel emas milik si wanita Tua itu, tapi masa iya?
Berusaha mengingat lebih keras lagi. Dulu jika tidak salah, Dia pernah melihat sekali seumur hidupnya, cincin permata yang amat jarang di pakai Komisaris Briana. Batunya sama persis dengan yang di pakai Devano. Hanya berubah, lingkaran cincinnya saja.
Aaah... Akhirnya? Aku menemukannya. (Liliana.)
__ADS_1
Ia pun tersenyum tipis. Beliau mengusap bibirnya dengan serbet makan, pelan.
"Maaf Tuan dan Nyonya sekalian. Saya harus permisi, pulang." Lili berbicara menggunakan bahasa Inggris.
"Buru-buru sekali, Nyonya? Acara puncaknya saja belum di mulai."
"Mohon maaf, Mr. Jhonny. Secepatnya saya harus kembali ke Indonesia."
"Loh, bukankah proyek kita belum selesai."
Tersenyum tipis. "Saya hanya kembali untuk dua hari. Karena, kalian pasti tahu? Putraku baru saja menikah, selama beberapa hari ini hati ku tidak tenang. Sebab teringat dengan anak dan menantuku itu."
Mereka semua memaklumi. Nampak dari cara mereka manggut-manggut.
"Anda benar-benar luar biasa, Nyonya. Tanpa memandang garis keturunannya, rela menikahkan anak dengan wanita dari kalangan biasa."
"Anda bisa saja memujinya. Bukankah di bawah langit ini. Kita semua sama?"
"Kalau begitu, sampaikan salam kami untuk anak dan menantu Anda. Selamat sekali untuk Anda dan keluarga Anda, Nyonya. Kado kami pasti sudah sampai," tutur yang lainnya.
Liliana menutup mulutnya, terkekeh anggun. "Ya Tuhan. Sungguh saya amat tersanjung, kalian semua baik sekali. Terimakasih banyak atas hadiahnya."
"Hanya hadiah kecil." Tertawa lagi. Sementara Liliana hanya menanggapi sedikit. Sekertaris Erik sudah berdiri di belakang, memasangkan jas di bahunya.
"Kalau begitu saya jalan dulu. Maaf ya, sekali lagi." Liliana membungkuk sopan. Setelah itu melenggang pergi meninggalkan ruangan VVIP di gedung tersebut.
Di dalam lift...
"Istri ku? Kenapa buru-buru sekali?"
__ADS_1
"Aku sudah menemukannya," jawab Liliana menghadap pintu lift yang tertutup itu. Kening sekertaris Erik berkerut. "Cincin yang di pakai Devan, adalah stempel emas yang kita cari-cari selama ini." Senyumnya seketika merekah.
Sekertaris Erik pun diam saja, seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Aku yakin, anak itu tidak menyadari. Benda apa yang ia pakai. Aku hanya akan membujuknya sedikit, mengambil stempel itu lalu membalik nama."
Sekretaris Erik masih terdiam, hanya sesekali membenahi kacamatanya. Liliana sendiri kini tengah mengangkat tangannya yang terkepal hingga sebatas wajahnya.
"Selangkah lagi, tinggal selangkah lagi. Setelah ini? Hancurkan semuanya, bibit-bibit liar keluarga Atala yang masih tersisa." Seringai licik, tersungging sempurna di bibirnya yang tipis . Hingga lift itu terbuka, sekertaris Erik sama sekali tak menanggapi, selain diam saja.
"Segera siapkan jet pribadi ku. Kita kembali ke Indonesia," melangkah keluar kemudian, meninggalkan Sekertaris Erik yang masih berdiri memandangi wanita di hadapannya, ia berfikir sejenak lalu menggeleng cepat setelah itu mengikuti langkah Liliana di belakang, sebelum pintu lift kembali tertutup.
***
Di Rumah Utama, setelah Lili pulang. Ia meminta tolong pada Fendi untuk memberitahukan kepada seluruh anak-anaknya. Bahwa malam ini Dia pulang.
Namun Fendi menjawab bahwa hanya ada Devano dan istrinya di rumah itu.
Sebab Delia tengah pergi bersama teman-temannya, sementara Zaeni belum pulang karena ada acara di Negara tetangga.
Liliana pun hanya tersenyum. Tak mempermasalahkan itu, yang pasti tetap ada Devan di rumah. ia lantas meminta Fendi untuk menginstruksikan kepada kepala koki, agar membuatkan hidangan makan malam yang sedikit spesial malam ini.
Juga meminta Devano untuk turun setelah hidangan tersaji. Fendi pun membungkuk beliau kembali ke dapur setelah Liliana masuk bersama Sekertaris Erik.
Lili melangkah dengan suasana hati senang, dan tidak sabar. Ia benar-benar sudah gatal ingin merebut stempel emas itu dari tangan Devan.
Anak itu pasti akan mudah untuk di bujuk. Ketika aku bilang ingin meminjam cincinnya.
Lili senyum-senyum sendiri, sebelum akhirnya masuk ke dalam lift tersebut.
__ADS_1
Ya... di rumah itu, tidak hanya ada tangga. Namun ada Lift juga.