I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
cerita masa lalu 2


__ADS_3

Saat pintu itu terbuka, ia mendapati sang kepala pelayan mengangguk.


"Maaf mengganggu waktu malam Anda."


"Ada apa, pak? Pekerjaan saya sudah selesai malam ini."


"Iya, saya hanya ingin meminta anda ke ruangan kerja saya."


"Emmm? Tiba-tiba anda mengajak saya ke ruangan Anda? Apakah saya melakukan kesalahan?"


"Itu bisa kita bahas nanti." Beliau langsung melenggang pergi.


perasaanku tidak enak. Ku harap ini tidak berkaitan dengan apa yang ku lakukan tadi. –Bu Asmia mengunci sejenak kamarnya. Karena ia tidak mungkin sempat menyembunyikan sesuatu yang ada di bawah bantal itu. Ia pun bergegas mengikuti langkah pak Fendy yang sudah mulai jauh.


Di ruangan kerja sang kepala pelayan. Menyerahkan amplop tebal kepada wanita di hadapannya.


"Ini gaji terakhir anda."


"Ga– gaji terakhir?" Tanya Bu Asmia terbata.


"Ya... Anda sudah di berhentikan. Dan ini hari terakhir Anda di sini. Karena Nyonya Lili sudah mengganti kepala koki yang lama dengan yang baru."


"Tapi, bukankah saya sudah di kerjakan secara permanen di sini. Sesuai dengan apa yang tertulis di kontrak kerja saya?"

__ADS_1


"Untuk itu saya tidak tahu menahu, apa yang saya lakukan hanya mengikuti perintah Nyonya Liliana."


Aku diberhentikan? Tapi, bagaimana nasib Nyonya besar dan Tuan muda?


Bu Asmia masih tak bergeming.


"Ambillah, dan anda boleh keluar dari sini. Segera berkemas, karena besok pagi anda sudah harus meninggalkan rumah utama."


Bu Asmia menitikkan air matanya. Perlahan tangannya mendekati untuk meraih amplop coklat tersebut. Setelahnya mengangguk pelan sebelum putar haluan. Dengan amplop yang ia pegang dengan kedua tangannya di depan dada. Bu Asmia berjalan pelan, menjauh dari pintu Pak Fendy.


Kemana aku harus pergi. Membawa semua amanah Nyonya besar? Aku hanya wanita lemah yang tidak bisa apa-apa. Lalu bagaimana aku harus melindungi Tuan muda jika aku saja tidak tahu, apa yang harus aku lakukan sekarang.


Sesekali tangannya menyeka air mata. Ia menoleh ke dinding tempat di mana biasanya foto Tuan Harison bertengger atau mungkin foto keluarga Atala di ruang tengah, semua sudah di turunkan. Mungkinkah seperti ini nasib menjadi orang kaya?


***


Paginya, setelah drama rengekan Tuan Devan. Bu Asmia membawa anak itu ketempat lain, bukan rumah yang di berikan oleh Nyonya Briana.


Melainkan rumah lain, karena beberapa penjaga yang siap menjadi mata dan telinga untuk nyonya Lili benar-benar berjaga di rumah itu.


Tidak mungkin dia memboyong Devan remaja ke rumah yang ia sendiri saja belum tahu seperti apa kondisinya.


Dengan perasaan sedih, ia mengamati anak itu. Tengah makan hidangan makan siangnya di meja makan sederhana.

__ADS_1


"Apakah Tuan muda nyaman disini? Maaf, rumah ibu seperti ini kondisinya."


Devan tersenyum dengan mulut yang penuh terisi nasi. "Aku lebih suka di sini."


Bu Asmia menyeka air matanya. "Syukurlah, kalau begitu makan yang banyak. Cepatlah dewasa dan jadilah orang hebat. Seperti Papih mu."


Devan mengangguk penuh semangat, lalu melanjutkan makannya.


"Selalu suka masakan Bu Asmia."


"Hahaha..." Bu Asmia merasa senang. Devan memang bukan anak bengal seperti yang ia lihat di rumah utama. Melainkan anak manis yang benar-benar mampu memahami situasi.


Flashback is off.


Setelah lamunan panjangnya beliau pun menghela nafas. Semua cerita masa lalu itu amatlah panjang untuk ia lamunkan. Bu Asmia pun hanya berharap, Dia bisa benar-benar bertemu empat mata. Karena itulah tujuannya jualan di dekat anak perusahaan Diamond's tempat Devan menjabat sebagai personalia.


"Pasti, kita akan di temukan. Dengan takdir, dan kau bisa merebut semua hak mu. Karena kau memang berhak menduduki kursi Komisaris." Gumam Bu Asmia, kembali menutup brangkas tersebut. Lalu menutupnya lagi dengan buku-buku yang tertata.


Dia sendiri masih tidak bisa mencerna hingga saat ini, tentang pikiran-pikiran orang-orang yang gelap hati nuraninya.


rupanya Istilah hukum rimba didunia ini memang berlaku. Siapa yang lebih kuat, maka ia lah yang berhak berkuasa. siapa yang mampu bertahan, maka ia lah yang pantas menduduki singgah sananya.


karena itulah dunia, banyak manusia yang rela menutup hatinya, demi sebuah nafsu yang telah memperbudaknya. Benar-benar kehidupan dunia yang mengerikan.

__ADS_1


__ADS_2