
Dugaan Devan benar.
Pagi ini, wartawan ramai mendatangi rumah utama juga gedung pusat milik Diamond's. Menanyakan tentang kebenaran adanya penangkapan Nyonya komisaris Liliana dan sekertarisnya. Di tambah lagi issue yang semakin membumbung tinggi tentang kejahatan yang di lakukan mereka berdua, membunuh Tuan Harison dan menyandra Nyonya besar Brianna.
Langit pekat menutupi kota itu, tidak ada sinar mentari yang yang lolos sedikitpun dari awan. Mengepung kawasan yang tengah gempar dengan berita luar biasa. Hingga semua media cetak, ataupun penyiaran ramai memberitakan hal tersebut.
Delia mematung, saat mendengar banyaknya wartawan lain di luar gerbang utama rumah yang bak istana itu.
Berbondong-bondong mencari informasi valid. Namun semua membisu, beberapa aparat kepolisian pun di terjunkan untuk memberikan keamanan.
Dengan kursi roda elektriknya, ia membawa laju pelan setelah termenung cukup lama. Menampar dinding kaca dikamarnya seraya mendengarkan wartawan yang tengah membawakan berita.
PIK... sendu, wajah itu memandangi layar datar yang sudah berubah hitam setelah ia matikan.
Gadis remaja itu menunduk, dengan mata yang sedikit berair. Ia bahkan mengabaikan telfon Zaeni, kakak laki-lakinya.
Mamih? Ayah ... seharusnya aku bertanya, kenapa panggilan itu nampak tak serasi. Belum lagi Mamih yang melarang ku mengakui, bahwa kau adalah ibuku.
Bulir-bulir bening mulai menghambur. Namun cepat dihapusnya. Ia benar-benar ingin bertemu dengan ayahnya dan bertanya: Jika semua itu adalah kabar bohong.
Tok... tok...
"AKU SUDAH BILANG... TIDAK ADA YANG BOLEH MENGGANGGU KU....!!!" Delia melempar remote di tangannya kearah pintu, tepat saat pintu itu terbuka.
Kunia yang baru masuk sempat terkejut, namun masih bisa menyembunyikan dengan tatapan datarnya.
Memaksa tetap masuk, walau sudah di larang oleh dua pelayan di depan pintu.
"Aku datang, mengunjungimu. Adikku–"
Delia memalingkan wajahnya, membawa laju kursi rodanya sendiri hingga ke balkon kamar.
__ADS_1
Wanita itu menghela nafas, wajah pasi gadis itu sudah menandakan Dia tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Langkahnya pelan memasuki kamar yang cukup luas, dengan mendominasi warna putih dan corak emas.
Memberikan kesan elegan di kamar itu. Hingga sampai ke bibir pintu kaca.
Gadis remaja yang biasanya arogan itu membisu. Ia tidak ingin menatap Kunia, namun ia juga tidak bisa mengusirnya.
Kunia kembali berjalan mendekatinya, lantas berdiri di ujung pagar pembatas balkon.
"Di sini sejuk ya? Lebih bisa melihat pemandangan di luar. Karena lebih menghadap ke taman. Bikin betah–" Kuni mencoba mencairkan suasana. Ia bisa memposisikan, seperti apa langkah awal yang perlu ia ambil. Sebelum berusaha mendekati Delia.
Wanita berkulit putih langsat itu berusaha keras bersikap wajar. Tidak ingin terburu-buru untuk membahas sesuatu, yang mungkin bisa salah di artikan oleh remaja di sebelahnya.
Sementara Delia hanya diam saja. Tercenung dalam lamunannya, memandangi taman yang di penuhi tanaman bunga Asoka berwarna merah dan kuning. Serta beberapa yang lainnya juga, namun yang lebih menarik perhatiannya adalah bunga yang menumpuk banyak itu.
Kunia kembali memutar otak sebelum memulai percakapan, jangan sampai upaya menjadi sia-sia ketika gadis itu tak sama sekali bersuara.
"Emmm ... kau tahu tidak, kemarin aku membelikan sesuatu untukmu." Kunia menunjukkan paper bag besar yang ada di tangannya. "Lihat ini jaket yang ku pesan khusus untukmu. Kau suka memakai barang dari brand ini kan?"
Delia sama sekali tak melirik. Sepertinya ia tak tertarik dengan apapun yang akan di bawakan oleh wanita di sebelahnya. Walaupun berupa benda-benda mewah yang selalu ia inginkan sekalipun.
"Dia bukan kakakku." Dingin, ucapan itu keluar dari bibir cantiknya.
"Siapa bilang, kau bukan adiknya?"
"Kenyataan yang mengatakan itu." Bulir beningnya menetes pelan. "Jadi lebih baik kau keluar saja, tidak usah berikan apapun untuk anak yang terlahir dari pasangan yang sudah menghancurkan keluarga Kak Devano."
Getir yang di rasakan oleh gadis itu, mampu dirasakan juga oleh Kunia. Terlebih saat tangannya menyeka pelan sembari memalingkan wajahnya.
Menggigit ujung bibirnya, menahan tangis yang sudah sangat ingin pecah saat itu juga.
Wanita itu menyingkirkan paper bagnya. Membawa kursi roda itu hingga menghadapnya yang sedang berjongkok di hadapan Delia.
__ADS_1
"Delia– apakah kau pernah berpikir, jika Devano sangat menyayangimu?"
"Tidak, tidak ada yang lebih menyayangiku selain Ayah dan Kak Zaeni."
Kunia menggeleng, ia mengusap lembut air mata gadis di depannya.
"Kau salah– hal yang paling ia khawatirkan saat ini adalah kondisi mu."
"Bohong– Dia membenci Ayah dan Mamih ku, sudah jelas Dia membenciku juga." pertahanan Delia sudah hampir pecah. Air matanya sudah semakin deras membasahi pipinya. Kunia lantas sedikit mengangkat tubuhnya, mencium kedua pipi adik iparnya itu.
"Devan bilang, bahwasanya? Ia tak pernah benar-benar membenci Mamih, hanya membenci perbuatannya. Begitu pula pada Sekertaris Erik. Sementara padamu. Ia menitipkan cinta tulusnya sebagai seorang kakak. Dia tetap menganggap mu, adiknya. Bahkan mewajibkan mu untuk tetap tinggal disini, serta membolehkan nama Atala tersemat di belakang namamu."
"Hiks–" runtuh sudah, bersamaan dengan pecahnya air mata Delia. Ia sesenggukan, dimana saat itu pula Kunia merengkuh tubuhnya. Memberikan kesan perlindungan, bahwa ia tak sendiri ... semua masih memberikan cinta untuknya.
"Aku malu ... aku sedih ... aku takut ... Aku ... aku tidak tahu harus bagaimana setelah ini, Kak–" rancaunya tak karuan, di sela-sela Isak tangisnya.
Tangan Kunia menepuk-nepuk pelan punggung itu lembut.
"Sementara aku cacat sekarang ... aku tak berguna. Aku pula ingin bertemu Mamih, ingin bertemu Ayah juga. Aku ingin tahu kondisi mereka, ingin melihat mereka, ingin memeluknya. Tolong bawa aku menemui Ayah dan Mamih ku, tolong Kak. Aku ingin bertemu dengan mereka."
"Kita akan kesana, tapi tidak sekarang ya. Di luar penuh dengan wartawan. Aku saja agak kesulitan saat hendak masuk. Sekarang, tenangkan dirimu ... aku akan menemanimu, selama seharian ini."
"Hiks– terimakasih, Kak." Delia masih sesenggukan dalam pelukan Kunia, hingga beberapa saat.
–––
Kemudian mereka pun mencoba menghabiskan hari, walaupun tak melakukan apapun. Hanya banyak Kunia yang berbicara, sembari membacakan buku-buku novel remaja di ranjang yang luas milik gadis remaja yang tengah berbaring di sebelahnya.
Setelah itu Delia yang lelah pun mulai memejamkan matanya, hatinya sedikit tenang. Tak se-kacau pagi tadi, dengan mata yang masih sedikit sembab dan berair, gadis itu tertidur.
Kunia pun menutup bukunya, ia tersenyum. Lalu menarik selimut itu hingga menutupi dadanya.
__ADS_1
Kau sebenarnya gadis yang baik ... malangnya nasibmu. Aku berjanji, akan menjadi teman baikmu setelah ini. Delia...
Kunia mengecup keningnya lembut, lalu turut merebahkan tubuhnya. Rasa lelah karena semalam lumayan kurang tidur, membuatnya menjadi mengantuk pula. Ia pun masuk kedalam selimut yang sama, memeluk tubuh Delia, menepuk-nepuk pelan tangan Delia yang berada di atas perutnya sendiri sembari memejamkan matanya.