
Hari semakin siang...
Delia tengah menujuk-nujuk beberapa tas dengan harga mahal di layar tabletnya.
"Bagus yang mana?"
"Uuummmm....?" Kunia berpikir. "Semuanya bagus. Aku jadi bingung, mungkin yang ini." Menunjuk motif macan.
Delia tersenyum remeh. "Ckckck... Kakak ipar, selera mu sungguh sangat buruk ya. Masa yang seperti ini bagus."
"Kalau begitu yang ini..." Menunjuk yang lain, dengan motif lebih mencolok.
"Astaga... Astaga... Selera Kakak itu benar-benar layaknya tante-tante, ya? Jelek sekali... tidak salah jika penampilan mu sebelum ini amatlah buruk. Beruntunglah kau di nikahi Kak Devan, yang pasti sudah mengajarkan banyak hal. Salah satunya memberi pemahaman agar kau tahu caranya berpenampilan," cibirnya sembari tertawa.
Kunia tersenyum sembari menyiapkan tangannya.
Pletaaak...
"Aaaaaa... kenapa Kakak memukul ku lagi?" mengusap kepalanya yang dijitak Kunia.
"Itu juga yang di ajarkan Devano pada ku dan ku salurkan kepadamu. Aku baik kan? Kau bisa mempraktekkannya lagi pada suamimu nanti, di malam pertamamu." Kunia menyunggingkan separuh bibirnya, sinis.
"Tidak waras–"
"Ya... Tidak warasnya aku juga berkat kakak mu."
Delia geleng-geleng kepala, masih mengusap kepalanya.
–––
Hari semakin siang, sudah saatnya Dia pulang. Sebentar lagi, Devan pasti menghubunginya.
Kuni mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Dan baru sadar jika sedari tadi ia tidak menyalakan ponselnya.
Duh... Devan menelfon ku tidak ya dari tadi?
menekan tombol power cukup lama. Dan saat ponsel itu menyala ia terkejut, foto di layar depan itu adalah foto Devan dengan posenya yang sangat tampan. Kunia terkekeh.
"Dasar narsis. Kenapa aku baru lihat foto ini," gumamnya.
Tiiiiiiing. Sebuah pesan singkat masuk dari seseorang dengan nama my perfect husband.
Kembali Dia tersenyum, "sejak kapan aku merubah namanya? Dasar, Dia pasti membajak ponsel ku semalam."
__ADS_1
Devano: "Apakah kau menemukan ada yang baru? aku sengaja mengubah dan memasang foto ku di layar utama. Agar kau selalu mengingat ku, dan tidak akan berani menghubungi pria lain dengan ponsel mu itu."
Memang siapa juga yang mau menghubungi ku? Selain Kau? –Kunia geleng-geleng kepala.
Tiiiiiiiing. Satu pesan lagi masuk. Menyusul rentetan pesan chat lainnya. Juga beberapa panggilan tak terjawab dari Devano.
"Pendingnya lama sekali... aku harus menghubungi suami secepatnya." Buru-buru menekan tombol call, namun belum sempat ibu jari itu menempel. Devano sudah menghubunginya lebih dulu.
📞 "Apakah harus aku membanting telfonmu lebih dulu?"
"Hei– apa sih. Kau berlebihan... Aku itu tidak sengaja mematikan ponselku tadi. Maaf sayang."
Terdengar helaan kasar di seberang membuat Kunia beranjak dari sofa tersebut. Terlebih saat mendengar suara pintu di buka.
"Tunggu aku keluar sebentar, agar lebih jelas." Kunia menurunkan ponselnya sampai ke dada. Menyapa Sekertaris Erik yang sudah berdiri di depan pintu, karena ia paham ini jamnya Kunia akan pulang.
lalu melangkah sopan melewati Sekertaris Erik dan melanjutkan obrolannya dengan sang suami via telepon seluler.
Erik melihat Delia sudah tertidur lagi. Makanan di atas meja pun sudah habis. Bersamaan dengan obatnya.
Kunia membuat Delia makan dan minum obat secara teratur. Ia pun mengakui kondisi Delia yang sudah baik-baik saja. Semua sebab aura positif yang di bawa Kunia untuk putrinya.
Ia bahkan tidak lagi mempertanyakan Mamihnya, atau mengeluhkan kelumpuhan kakinya. Sekertaris Erik tersenyum penuh syukur, melihat semua hal baik itu.
Pandangan Erik lantas bergeser pada sofa di sudut ruangan. ia mendapati tas Kunia yang tertinggal disana.
Maaf Lili, aku sudah lelah mengikuti permainan ini. Aku ingin berakhir, biarkanlah putera Hari mendapatkan haknya.
Erik membuka tas tersebut, berpikir lagi sesaat lalu memasukkan cincin tersebut kedalamnya, dan menutupnya lagi.
Ku harap langkah yang ku ambil sudah benar.
Aku sudah siap dengan segala konsekwensinya.
Erik menghela nafas, memandangi tubuh Delia. Ia merasa, mungkin jika ia menghentikan semua ini hidupnya akan jauh lebih tenang.
Sementara untuk urusannya dengan Lili biar menjadi hal belakangan. Toh, dia sedikit melupakan cincin untuk saat ini. Akibat pekerjaannya yang menumpuk.
***
Malam yang membalut kehangatan setelah seharian beraktivitas membuat sepasang suami-isteri itu berbaring sembari bertukar cerita.
Membahas hal apa saja yang mereka lakukan hari ini di rumah yang hanya di huni Kunia dan Devano...
__ADS_1
rumah yang tenang dan nyaman. sebab tidak ada siapapun selain mereka yang mendiami rumah tersebut di malam hari. sementara para asisten rumah tangga jika malam menempati rumah khusus di belakang rumah utama ini.
Nampak kelegaan di wajah Devan, saat mendengar Delia sudah di perbolehkan pulang hari ini.
"Dia pasti senang sudah di rumah."
"Tadi dia sempat kesal karena tahu kita sudah tidak tinggal di rumah utama. Dan dia bilang ingin berkunjung ke rumah kita besok."
Devan tersenyum. Ia mengecup kening Kunia.
"Kau pasti lelah, ya. Seharian mengurus Delia. Belum lagi menghadapi perangainya."
"Tidak juga, Dia sudah jinak sekarang." Kunia terkekeh.
Devan hanya tertawa tipis lalu terdiam lagi.
"Sayang, kenapa akhir-akhir ini kau nampak muram? Apa aku melakukan kesalahan?"
"Tidak sayang... Besok mamih pulang kan, Dia bilang ingin bertemu denganku dan menyampaikan sesuatu."
Kunia terdiam. Berpikir juga, hal apa agaknya yang ingin disampaikan wanita itu.
Kunia menyentuh pipi sang suami. "Datang saja–"
"Aku tidak bisa menatap wajahnya. Terlebih setelah tahu dia bukan ibu ku."
"Kau pasti bisa menghadapinya. Sebentar aku punya sesuatu."
Kuni menyingkirkan sejenak tangan yang berada di pinggangnya. Lalu beranjak dari ranjang tersebut. Meraih tasnya, dan kembali mendekati Devan yang sudah berada pada posisi duduknya.
"Aku tadi beli sesuatu untuk mu." Kunia bersemangat merogoh Kantong Tasnya. "Duh, mana ya?"
Mencari-cari, ia sama sekali tak menemukannya. "Jangan-jangan tertinggal?"
"Memang kau membeli apa?"
"Jam tangan... sebentar, tidak mungkin ketinggalan." Kunia membalikkan tas itu mengeluarkan semua isinya, dan salah satunya sedikit mental mengenai tangan Devan.
Mata Dev melebar. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat. sebuah benda yang kini sudah berada dekat tangannya itu adalah benda yang ia cari-cari keberadaannya selama ini. Tiba-tiba saja sudah ada di depan mata.
Gemetaran, ia meraih Cincin tersebut, mengangkatnya pelan hingga sebatas matanya.
"I– ini Cincin mu kan? Kenapa tiba-tiba?" Kunia yang melihat itu bingung sendiri, terlebih saat ini Devan pelan-pelan membuka permata itu.
__ADS_1
Lantas mematung dengan ekspresi wajah yang sama sekali tidak bisa ia tebak isi pikirannya.
Netranya sudah mulai menganak sungai, nanar memandangi stempel emas itu.