I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
akhiri dari pertandingan di atas ranjang


__ADS_3

Segeralah ia meraih bantal di sebelahnya lalu meringkuk menutupi area kepala.


"Hei– apa yang kau lakukan? buka...! Kau harus menerima hukuman mu." Titah Devan.


"Aku tidak mau!!"


"Mbak Kunti...!" Devan menoel area pinggang membuat Kunia terkesiap, namun ia tetap mempertahankan kepalanya itu agar tidak kena pukulan. "Ku hitung sampai tiga ya?"


"Silahkan, jika kau mau menghitung sampai seratus sekali pun aku tidak akan mau membuka bantal ini."


Devan menghela nafas lalu berusaha merebut bantal itu. Sama halnya Kunia, yang tak mau kalah mempertahankannya, sebelum mendapatkan pukulan kedua. Ia harus menyelamatkan keningnya yang masih sedikit terasa sakit itu, sembari mengibaskan tangannya, ke sembarang arah.


"Aaaaarrrhhh..." Devan yang terkena sabetan tangan Kunia di bagian mata sedikit mengerang.


Gadis itu beranjak, ia sudah mendapati Devan tengah menutupi satu matanya, dengan tangan.


"Kau tidak apa-apa? Ma– maaf aku tidak sengaja."


"Tidak apa-apa– hanya sedikit perih." Devan mengusapnya.


"jangan di usap seperti itu! Mana coba ku lihat." Kunia membuka tangan Devan, dimana ia mendapati mata itu berair dan sedikit merah. Devan mematung, karena wajahnya amat dekat dengannya.


"Aku tidak apa-apa, sebentar lagi pasti sembuh. Hanya terkena tangan mu sedikit," tuturnya kemudian.


"Tapi, jadi merah." Kunia masih memandangi bagian matanya. Berbeda dengan Devan yang berfokus pada yang lainnya.


Ya... Bibir ranum Kunia, yang terlihat dari jarak yang amat dekat. Seolah membuatnya tertarik untuk menyentuhnya.


Membuatnya tanpa sadar menurunkan tangan Kunia, lalu mendekati wajah itu perlahan.


Apa– apa yang hendak Dia lakukan? Jangan ... jangan mendekat! Hei– sadarlah.


Pria itu sudah semakin mendekatinya, membuat Kuni kelabakan sendiri. Karena hanya tinggal sedikit lagi, bibir mereka akan menyatu.


Tidak, ini salah. Dia tidak menepati janjinya. Aku– harus menyadarkannya. Harus!

__ADS_1


Kunia mulai mengambil ancang-ancang, dalam hati ia berhitung dari satu sampai tiga. Sebelum akhirnya memutuskan untuk mengorbankan kepalanya, menghantam kening Devan dengan keras.


Ayolah, menjadi keras seperti batu!


DUAAAAKKKK...!!


"AAAAARRRGGGHHHH....!!!" Devan mengerang. Sama halnya dengan Kunia yang langsung membalikkan badannya. Sembari mengusap keningnya yang terasa panas. "Apa ini...!! Aaaaarrrhhh, sakit sekali."


"Aaa... aku pun sakit." gumamnya lirih, matanya bahkan sampai terpejam menahan sakit, mengusap-usap sekuatnya.


"Siapa yang menyuruhmu, untuk melakukan ini, hah!! Ya Tuhan."


Kuni menunjuk kebelakang, ragu-ragu.


"Aku?"


"Kau, yang akhirnya membuat ku melakukan ini."


"Memang apa salahku? Aaaaa... Kepala mu keras sekali sih?" Masih mengusap keningnya sendiri.


"Siapa suruh tak menepati janji mu."


Kuni memutar tubuhnya. "Kau mau mencium ku tadi." Hentaknya.


"A–apa?" Pria itu terkejut. "Siapa yang mau mencium mu? Si boneka chucky ini benar-benar ya?!"


"Tadi... Tuh." Menunjuk kearah Devan. "Kau mendekati wajah ku. Untuk apa?"


Pria itu pun tertohok. Memang benar sebenarnya dia sempat tergoda untuk mencium bibir istrinya. Ia pun berdeham dan langsung menepis telunjuk Kunia yang masih mengarah kepadanya.


"Ka– kau itu salah sangka. Tadi itu aku melihat ada kotoran di matamu." Devan menoleh ke samping, lalu membuka laci meja, meraih sesuatu. Sebuah cermin. "Bercermin lah...!! Ada apa di sudut mata mu."


Dengan ragu Kunia meraihnya, lalu mengangkatnya hati-hati ,menghadap kearahnya. Dan belum sempat terlihat, Devan sudah merebut lagi cermin itu.


"Aku belum melihatnya."

__ADS_1


"Intinya ada di sana. Dasar otak mesum. Konfirmasi dulu sebelum melakukan aksi brutal seperti tadi...!"


"Ma–maaf... Maafkan aku, aku kan hanya jaga-jaga."


"Ck..."


"Sini ku lihat, kepala mu." Hati-hati Kunia menyibak rambut yang menutupi keningnya. Sedikit biru di sana.


Ya ampun... Rupanya kuat juga kepalaku?


Kuni menutup mulutnya.


"Tidak usah tertawa. Puas kau, setelah melakukan ini?"


"Tidak juga. Tapi sungguh aku tadi khawatir."


Devan, menepis tangan Kunia. Lalu beranjak dari ranjangnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Braaaakkkk...!


Kunia sedikit terperanjat, lalu mengelus dada.


"Aku tidak salah kan? Siapa yang tidak mengira dia akan mencium coba. Matanya saja sampai mau terpejam seperti tadi." Garuk-garuk kepala.


.


.


.


Epilog...


Devan yang berada di dalam kamar mandi, mencuci wajahnya.


Bayangan bibir Kunia kembali melintas, membuatnya merasa penasaran dan sangat ingin menyentuhnya. segera Devan tersadar, ia menggeleng cepat.

__ADS_1


"Aiiiissshhh... Otak jahanam. Mati saja kau, mesum." Kembali ia membasuh wajahnya, bahkan sampai kepalanya pun tak luput dari siraman air.


Bersambung...


__ADS_2