I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
pernikahan Reni dan Anwar.


__ADS_3

Setelah siap mereka berpamitan, pergi lebih dulu menuju salah satu salon.


Seperti sudah hafal, sang penata rias itu. Karena akhir-akhir ini Devano sering membawa gadis itu ke-salon untuk di rias.


Kali ini penampilan Kunia nampak lebih sederhana, namun tetap elegan.


"Rambutnya masih keriting?" Sang penata sedikit terkekeh.


"Ya saya suka, lagian ini bagus."


"Baiklah, saya akan rubah lebih natural mengikuti busana yang akan, nona pakai."


"Baiklah, tapi saya suka rambut panjang ini." Request Kunia, berharap agar rambut sambungnya tidak di lepas. Sang penata rias pun tersenyum.


"Baiklah, tapi saya ganti dulu ya. Karena ini agak kusut."


"Ya–" Kunia mulai nyaman menatap dirinya di depan cermin.


Ayo... Kembali bertransformasi Hehehe... Haruskah aku berterimakasih pada bocah tengil itu? (Kunia.)


Para pegawai salon mulai bekerja. Dari mencuci rambut Kunia setelah di lepas rambut sambungnya, lalu menggantinya dengan yang baru.


Terdengar obrolan sang manajer salon dengan pegawainya, mereka berdiskusi yang entah apa. Kunia sendiri malah justru merasa mengantuk karena pemasangan rambut sambungnya bisa terbilang cukup lama mungkin karena lebih banyak dari yang sebelumnya.


Lalu mereka membuat rambut Kuni menjadi menggelombang.


Setelah itu Devan yang memilih langsung gaunnya. Ia memberikan dua tipe gaun yang menjadi pertimbangan.


"Pakai ini–" titah Devan, menyodorkan salah satu gaun berwarna krem, dengan luaran lengan panjang yang terbuat dari sifon halus.


Setelah masuk ke ruang ganti untuk beberapa saat, Kunia keluar. Devan lantas menggeleng cepat. "Tidak bagus, pakai yang ini sekarang."


Di dorongnya lagi gadis itu hingga masuk ke dalam ruang ganti. Menunggu lagi beberapa menit, hingga Kuni kembali Keluar dengan gaun jenis midi dress pink sebatas lutut. Dengan detail short sleeves yang simpel dan casual.


"Pakai ini, Nona." Sang pegawai salon menyerahkan sepasang heels yang senada dengan gaunya.


Devan tersenyum tipis, belum lagi poni Kunia yang sedikit di kesampingkan. Membuatnya lebih manis.


"Okay–" Devan melirik kearah jam tangannya sudah menujukan pukul dua belas siang lewat. Ia pun meraih tangan Kunia membawanya pergi dari sana, ketempat tujuan mereka.


–––


Di La plaza...


Salah satu gedung pencakar langit yang benar-benar mewah, dan terkenal mahal sekali sewanya.

__ADS_1


Devan sudah menyerahkan kunci mobilnya pada seorang pria dari jasa Valet.


Seorang security mendekati mereka berdua.


"Maaf, bisa tunjukkan surat undangannya?"


Devan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, begitu juga Kunia dari dalam tasnya. Lantas menunjukkan kartu undangan itu kepada sang security. Terlihat beda, karena milik Devan merupakan Royal invitation wedding card. Sementara punya Kunia hanya undangan biasa.


"Anda tamu VVIP, silahkan masuk dengan pelayan yang akan mengantarkan Tuan. Dan nona ini?"


"Dia datang dengan saya." Devan menekuk sikunya, sembari menyenggol lengan wanita di sampingnya. Kuni pun, Sedikit terkejut namun langsung menangkap maksudnya.


Dimana gadis itu langsung mengaitkan tangannya di lengan Devan.


"Baiklah Tuan, Nona. Silahkan ikut dengan pelayan ini."


"Terimakasih–" mereka berdua, kini berjalan bersama.


Jujur saja Kuni sedikit canggung dengan cara Devan ini. Namun?


Ia melirik kearah Devano, seketika senyum dengan maksud tertentu mengembang.


Baiklah, sembari menyelam sekaligus minum air. Ku ikuti permainan ini, lumayan juga aku jadi tidak merasa merana. (Kunia)


Mereka pun melangkah bersama, hingga dua pintu yang lebar dan tinggi itu terbuka.


"Selamat datang, Tuan Devano. Sungguh kehormatan sekali anda mau menghadiri acara ini."


"Terimakasih." Devan menjabat tangan-tangan yang terulur kepadanya. Acara pun berlanjut. Saat kedua mempelai melewati karpet merah menuju kursi pelaminan.


Kunia menatap sendu kearah mereka berdua yang amat bahagia. Terlebih Renita. Gadis itu nampak anggun dan cantik dengan gaun berwarna putihnya. Sanggul kecil dengan mahkota mungil di kepalanya benar-benar bak putri Disney.


Aku pernah bermimpi ada di posisi itu, tapi nyatanya? Dia malah bersanding dengan yang lain. Semoga kalian bahagia. –Kunia tersenyum, dengan mata yang berkaca-kaca.


Dan sepertinya Devan menangkap itu, ia hanya menoleh sebentar lalu kembali fokus menatap kedepan.


Serangkaian acara demi acara di lalui, hingga tiba pada sesi mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


"Baik, sebagai tamu spesial di sini. Kami mempersilahkan Tuan Devano Atala, sebagai perwakilan dari Diamond's corporation untuk memberikan ucapan selamat lebih dulu pada kedua mempelai." Ucap sang MC.


Devan pun beranjak. Ia mengulurkan tangannya pada Kunia.


"Ayo–"


"Kau yang di suruh maju kan?"

__ADS_1


"Aku datang dengan mu, Bodoh. Jadi ayo."


"Aku nanti saja..."


"Ck..." Devan menarik tangan itu membuat Kunia mau tak mau jadi berdiri. "Lakukan dengan benar, mari kita tunjukkan pada dunia. Bahwa kita sepasang kekasih."


Devan menekuk lengannya lagi, membuat Kuni dengan ragu mulai mengaitkan tangannya di lengan. Mereka pun berjalan bersama menuju pelaminan.


Dari kejauhan, Reni yang tadinya tersenyum lebar. Kini meredupkan senyumnya saat melihat gadis yang bersama laki-laki hebat dari keluarga Atala itu, adalah gadis yang ia kenal.


"Ti–tidak mungkin. A–aku salah lihat kan?" Gumam Reni. Anwar yang masih belum menyadari kalau itu Kunia hanya bisa mengagumi gadis yang tengah berjalan mendekati.


Gila– siapa itu, cantiknya gadis yang di sebelah Tuan Devano. (Anwar)


Senyum yang mengandung hasrat itu kian lama makin meredup, saat Kunia dan Devan semakin mendekat. Anwar pun sama-sama mematung di hadapan mereka. Tidak jauh berbeda dengan Bu Pujiastuti yang malah justru terperangah.


"Selamat, untuk mu," ucap Devan, menjabat tangan Anwar yang masih membeku menatap Kuni yang malah tertunduk.


"Ku– Kuni? Ka– kau Kunia kan?" Fokus Anwar tertuju pada gadis cantik di belakang Devano.


Kuni pun tersenyum tipis. "Selamat untukmu kak Anwar."


"Kau...? Kau berubah jadi?" Anwar mengulas senyum, hendak menjabat tangan Kunia.


Merasa tidak senang, Reni menarik lengan pria yang baru saja sah jadi suaminya.


"Kunia? Kau– kenapa bisa dengan Tuan i–ini?" Tanya Reni tergagap.


Devano pun melingkari pinggang Kunia. "Dia calon istri saya, Nona."


"A–apa?" Shock tubuh Reni pun sedikit oleng. "Tidak... Tidak mungkin,"


"kau tidak apa-apa, sayang?" Anwar memegangi bahu istrinya. sementara Devan kembali menoleh pada sang walikota.


"Maaf Pak Jamal, saya tidak bisa lama di sini." Ucap Devano.


"Tidak masalah Tuan, saya paham kesibukan Anda. Dengan hadirnya anda saja, sudah membuat saya sangat berterimakasih."


Devan mengulas senyum. Ia pun menoleh kearah Kunia.


"Ayo, sayang Kita pulang." Sadar ada beberapa wartawan, ia pun mengecup kepala Kunia. membuat Reni seolah semakin lemas saat melihat itu.


Dimana kilat dari kamera para wartawan seolah langsung menyorot kearah mereka berdua, menangkap momen tersebut. Devan meraih tangan Kunia dan menautkan-nya lalu mengajak wanita itu pergi dari sana.


"Tidak mungkin– itu tidak mungkin." Reni masih bergumam lemas, mendapati suatu kenyataan yang membuat dadanya semakin sempit. Ia tidak percaya bahwa yang Kunia dapatkan malah justru jauh di atas pria yang menikahinya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2