
Dengan langkah pelan, Kuni berjalan mendekati ruangan yang sedikit gelap. Hanya tersisa lampu dari sorotan televisi serta suara riuh pertandingan bola di sana. Tempat favorit Pak Gayus di tengah malam, yaitu ruangan televisi.
Sesaat sebelum ia memberanikan diri untuk menghampiri sang ayah, gadis itu sudah memeriksa sejenak ke sebuah kamar. Memastikan lebih dulu sang ibu yang berada di dalam, apakah sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Dan seketika hatinya merasa lega saat ibu paruh baya bertubuh langsing itu tengah nyaman dengan bantal dan kain selimutnya yang tebal.
Kunia nyengir, sepertinya rencana Dia untuk menjadi gembel malang di hadapan sang ayah akan berjalan lancar.
Kembali ia berjalan menjauh dari kamar orang tuanya guna menghampiri pak Gayus di luar.
Di lihat ruangan itu kosong, namun tv masih menyala. Sementara di kamar hanya ada ibu, lalu di mana, ayah?
Kunia tidak membutuhkan waktu lama untuk berfikir, dia tahu kebiasaan sang ayah jika belum tidur di jam-jam tengah malam.
Benar... Dapur itu menyala terang, terdengar pula suara piring serta aroma bumbu yang tak asing. Gadis itu lantas berdiri di depan pintu dapur.
"Waaaah... Ada yang curi-curi kesempatan nih."
Pria paruh baya bertubuh tambun yang hendak memasukan mie instan ke dalam pancinya itu, sedikit terkesiap.
"Kuni?" Mengelus dada.
"Hehehe... Ayah kan nggak boleh makan mie malam-malam lagi sama ibu?"
"Ssssttt... Malam ini saja ya. Jangan bilang-bilang sama ibu." Pak Gayus yang kepergok memohon.
"Baiklah... Karena Kunia baik hati? Sini mie rebus-nya Kuni saja yang masak."
Pak Gayus memandang penuh curiga, pada anak gadisnya yang tengah mendekat dan mengambil alih mie di tangannya, memasukkan mie kering ke dalam panci perebusan, yang mengepul.
"Ada apa nih?"
"Emmm? Nggak ada apa-apa."
"Ayo katakan saja, ayah tahu kamu itu kalau berbuat sesuatu harus ada Imbalannya."
"Ya ampun ayah, tidak baik berburuk sangka. Aku kan baik hati dan selalu sayang ayah." Cengengesan. Sementara pak Gayus hanya menghela nafas membiarkan Kunia memasukkan potongan cabai dan daun bawang ke dalam rebusan mie. "Yah?"
"Emmm?"
"Jatah bulanan Kuni masih lama ya di kasihnya?" Melirik sebentar, dengan hati-hati.
"Sudah ayah duga, pasti kamu ada maunya."
"Iya... Tapi aku butuh guna membeli kebutuhan untuk melamar pekerjaan," jawab Kuni berbohong.
Pak Gayus memilih untuk diam saja, menunggu sampai Kunia selesai memasak mie.
Setelah beberapa saat kemudian, mie telah tersaji di dalam mangkuk.
"Pakai saus, tidak?"
"Biar ayah saja." Pak Gayus meraih botol saus dan membubuhi sedikit. "Kamu butuh berapa lagi? Tadi ibu bilang, katanya pekan depan mau ada acara. Jadi, membutuhkan uang tambahan."
__ADS_1
Kunia menunduk lesu sembari duduk. Di mana tangan sang ayah langsung mengusap kepalanya.
"Lima ratus cukup?" Tanya beliau, yang lantas membuat kepala Kuni terangkat. Ia memandang wajah ayahnya yang tengah tersenyum, khas seorang Ayah yang amat menyayangi putrinya. Namun sejenak rasa tidak tega timbul.
"Tidak jadi deh."
"Kenapa?"
"Tidak apa, Kunia sadar selama ini aku terus-menerus merepotkan ayah."
"Tidak Kuni, kenapa kau bisa memiliki pemikiran seperti itu?"
"Ibu selalu bilang seperti itu. Karena Kuni masih menganggur, hingga saat ini."
Ayah menyentuh kepala Kuni, membelai rambut pendeknya itu dengan penuh kasih sayang. "ibu bilang seperti itu agar kau mau bekerja dan memiliki pengalaman selagi masih gadis, bukan karena merepotkan."
Kuni menghela nafas, ia meraih gelas yang tertelungkup di atas nampan. Menuangkan air ke dalam gelas kosong yang tengah ia pegang, lantas menyerahkannya pada sang ayah.
"Kuni akan benar-benar mencari pekerjaan setelah ini."
"Ini bukan karena ucapan ibu mu kan?"
Gadis itu menggeleng pelan. "Memang sudah seharusnya aku mulai berusaha untuk berubah,Yah. Malu juga sama orang-orang, karena selama lulus aku belum pernah mencoba untuk bekerja."
"Ayah senang jika kau mulai bisa merubah diri mu, asal benar-benar kau mau berubah karena kemauan mu sendiri. Bekerja lah dengan baik, dan kalau bisa jangan terlalu boros."
borosku bukan karena aku suka jajan, Yah. Tapi karena banyak yang di pakai kak Anwar. Batin Kunia dengan tatapan masih mengarah ke sang ayah.
Kalau di pikir-pikir kasihan juga ayahnya itu, seharusnya di usianya yang sekarang Kuni sudah bisa membalas segala kebaikan orangtuanya, lantas berusaha untuk membahagiakan mereka. Sekarang apa? Di umurnya yang sudah hampir menginjak kepala tiga, justru masih menyusahkan.
"Tapi, tadi katanya ibu habis minta uang tambahan."
Pak Gayus pun meletakkan jari telunjuknya ke bibir. "Hari ini, ayah dapat bonus. Ayah sengaja simpan satu juta, niatnya buat tabungan. Tapi tidak apa jika kau mau pakai."
"Tapi kan?"
"Tidak apa... Apapun demi kebutuhan mu, asal itu baik. Ayah pasti akan mendukung."
Mata Kuni berbinar, ia tidak bisa berucap apapun selain berterimakasih pada ayahnya itu, walau dalam hati ia terus memotivasi diri jika setelah ini dia akan berusaha menjadi anak yang lebih berguna lagi untuk ayah dan ibu.
***
Di tempat lain...
Malam yang sudah semakin lewat bahkan hampir pagi. Seorang pria yang tengah duduk di sebuah club' malam. Menikmati sebuah minuman yang di sajikan di gelas kecil oleh seorang bartender.
Kepalanya menoleh ke arah ponselnya yang menyala.
Penyihir is calling...
Pria yang memiliki tiga cincin tindik di bagian atas daun telinganya hanya mendesah, membalik ponsel tersebut lalu kembali meraih gelas dan menenggak langsung minuman tersebut. Hingga datang seorang wanita yang tanpa permisi duduk di sebelahnya.
"Hai– aku mengamati mu sedari tadi. Aku pikir salah lihat, rupanya benar. Kau Devano Atala?"
__ADS_1
Devan mengangkat kepalanya sedikit karena tertutup bagian depan topinya, ia pun tersenyum tipis.
"Wah... Jika di lihat dari dekat kau itu tampan sekali, bahkan lebih tampan dari pada yang ku lihat di Akun stagram mu. Bolehkah, kalau aku mengajak mu berkenalan?"
Devan membenarkan posisi duduknya setelah menenggak satu gelas minumannya lagi. Menghadap gadis itu dengan senyum yang entah apa maksudnya, tapi sedikit membuat gadis itu ciut hati. Karena tatapannya itu mengerikan.
"Bo... Boleh kan?"
"Tentu," jawabnya singkat. Sehingga membuat gadis itu tersenyum manis, senang.
"Aku Gamalia, Kau kenal aku juga kan?" Gadis itu seketika mematung saat Devan tiba-tiba bersin dengan tangan menutupi mulutnya di saat tangan gadis itu terulur kepadanya. Dan belum sempat Devan membersihkan, dia sudah mengulurkannya kepada gadis itu hendak menjabatnya. Yang reflek di tarik cepat oleh gadis tersebut.
"Kenapa, tidak jadi?"
"Emmm... Kau tidak berniat membersihkan tangan mu itu lebih dulu?"
"Untuk apa? Langsung saja. Aku tidak suka membersihkan tangan ku, kecuali karena satu hal yang perlu melakukan prosedur mencuci tangan."
"Ta... Tapi? Kau kan habis bersin, itu akan menularkan penyakit mu kepadaku?"
Devan terkekeh, ia menatap dari atas sampai bawah.
"Jadi kau jijik rupanya?"
"Bukan seperti itu, hanya saja?"
"Seharusnya aku yang jijik di dekati wanita seperti mu."
"Eh?"
"Kau tidak malu dengan penampilan mu itu, untuk mendekati ku?"
"Ma– maksudmu?"
"Gamalia, seorang Selebgram wanita yang di puja-puji para penggemar pria mu, tanpa tahu bahwa Dia rupanya sudah habis-habisan melakukan operasi plastik di bagian hidung, kantung mata, dan Dada. Aku tidak bisa membayangkan sebarapa jeleknya diri mu dulu ya." Devan tersenyum tipis.
Gadis seksi di hadapannya terkejut, darimana dia tahu? Namun ia kembali berusaha untuk mengulas senyum. Menurutnya, pria kaya yang memiliki Mega bisnis peninggalan orang tuanya itu tidak baik untuk di sia-siakan.
"Anda mungkin salah orang, aku tidak pernah melakukan tindakan operasi."
Devan hanya tersenyum sinis, tidak mau lagi meladeni wanita tidak penting di dekatnya.
Ia pun beranjak, di mana si wanita kini mencoba untuk memegangi lengannya. Mata Devan pun menoleh tajam.
"Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud menghina mu, hanya karena tadi kau tidak mau membersihkan tangan mu lebih dulu selepas bersin."
"Lepas!"
"A... Ayolah duduk lagi, kita mengobrol sebentar." Gadis itu semakin memberanikan diri melingkari lengan Devan. Terlebih saat mendengar bisikan-bisikan para pengunjung lain, bahkan tatapan mereka yang mulai berfokus kepadanya.
Dan sebagai Selebgram yang tengah naik pamor, Dia akan malu jika sampai di tolak seorang pria di depan umum.
"Ku bilang, lepas!!" Nada menekannya di akhir, membuat gadis itu reflek melepaskannya. Devan pun mengibas kasar lengannya dengan tatapan masih menghunus tajam. "Beli lah kaca yang besar, dan bercerminlah... Agar kau sadar, betapa buruknya diri mu itu. Dasar wajah oplas!!"
__ADS_1
Tangan gadis itu mengepal namun dengan bibir tersenyum, membiarkan pria itu melenggang pergi.
"Pria sombong itu– bisa-bisanya dia menghinaku hanya karena hal sepele. Kau lihat saja, setelalh ini kau tidak akan pernah menolak diri ku." Gumamnya geram.