
Di sebuah restoran...
Beberapa hidangan sudah tersaji, sesuai apa yang di pesan Renita, dan Kunia. Berbeda dengan Anwar yang hanya mengikuti. Memakan apa saja yang ada.
Dia sendiri sedang bingung memikirkan nasibnya setelah batal menggasak uang Kunia lagi.
Wanita anggun di sebelah Anwar menyibak rambutnya yang menggantung di depan dadanya. Memindahkan kebelakang lalu menyentuh kalung berlian indah di lehernya itu. Seolah ingin menunjukkan apa yang ia pakai.
"kau melihatnya? ini Hadiah pernikahan dari suamiku, bagus kan?"
menyesal aku menoleh kearahnya... –kuni hanya tersenyum tipis.
"Kuni– aku ingin tanya. Pria itu, benar-benar calon mu?"
"Siapa?"
"Devano." Menjawab dengan tatapan keraguan. Karena ia masih tidak yakin, Kunia bisa bersama Devano. Terlebih gadis itu bekerja di salah satu cabang Diamond's. Sudah pasti kan, itu hanya pura-pura. Dan mereka tidak sengaja berangkat bersama. –ku harap begitu.
"Oh... Iya," jawabnya santai. Lalu memasukan satu suapan mie goreng ke dalam mulutnya.
"Tapi, ngomong-ngomong kenapa penampilan mu masih biasa saja?" Tanya Reni. –kecuali wajah mu yang jauh lebih cerah dan mulus. Kalau dalam berbusana ia masih sama. Menggunakan pakaian murah mu dan norak.
"Memang yang tak biasa itu seperti apa?"
"Pakaian itu." Reni menuju busana Kunia, yang hanya menggunakan setelah blazer wanita berwarna abu-abu. "Pakaian mu masih sama saja. Belum berkelas. Seharusnya kan kau merubahnya, agar pantas bersanding dengan laki-laki seperti Devano."
Kunia terkekeh. "Calon suamiku itu tidak memandang fisik dan penampilan pasangannya. Dia lebih suka aku? yang–apa–adanya!!" jawab Kuni menekan setiap katanya sembari melirik kearah Anwar yang memalingkan wajahnya.
"Aku jadi tidak yakin." Reni menyeruput minumannya dengan anggun.
"Maksudnya?"
"Benar tidak sih kau itu dengannya? Dia mau gitu, dengan mu yang semerawut ini??"
Mulutnya masih sama saja. –runtuk Kunia kesal.
"Aku tidak perlu gembor-gembor juga kan? Lagi pula, apa pentingnya penampilan?"
"Jelas penting lah, kalau kau seperti ini terus? Yang ada pernikahan mu tidak akan bertahan lama."
"Masa sih?" Bertanya dengan santai.
"Iya lah... Di luaran sana wanita cantik itu banyak. Kenapa harus memilih dirimu yang seperti ini. Mungkin dia sakit mata untuk sesaat. Dan setelahnya akan sadar, bahwa kau itu bukan yang terbaik."
Kunia mendesah sinis. "Ren– kenapa kau tunjukkan sisi itu lagi padaku, setelah mendapatkan apa yang kau inginkan."
"Maksudmu?"
"Kau masih saja menunjukkan sikap iri mu itu, pada ku. padahal kau kan sudah mendapatkan tempoyak busuk ini."
"Hei– siapa yang kau sebut tempoyak busuk hah? Lagi pula, siapa juga yang iri?" Reni sedikit tersulut. Namun segera di tahan oleh Anwar. Wanita itu pun menghela nafas lalu membenahi penampilannya. "Sudah lupakan."
semudah itu mengatakan lupakan, dasar. (Kuni)
"Oh iya– lusa aku akan berlibur ke Singapura." Ucap Reni, yang lantas membuat Anwar tersedak.
Mati aku... (Anwar)
"Singapura?" Kuni mengangkat satu alisnya, santai. –aku tidak tanya tuh.
"Iya... Suami ku ini bahkan hendak mengajak ibu ku juga. Katanya, ada salah satu bisnisnya yang goal. Bukan begitu suamiku."
__ADS_1
"Ah... Itu? Iya, tapi?"
"Apa?" Tanya Reni lirih, dengan tatapan menusuk.
"Sepertinya belum jadi luuusss... Aaaa." Anwar mengaduh saat Reni mencubit paha Anwar keras. "Iya– iya lusa, kita akan jalan. Hahaha... Kau tahu kan? Aku sudah janji untuk membelikan mu berlian."
Reni tersenyum lebar. "Sayaaaaaang.... Kau sweet sekali, kau memang baik hati." Reni mencium pipi sang suami di depan Kunia yang hanya melengos risih.
"I–iya dong."
Kunia mendesah sinis, sembari geleng-geleng kepala.
"Ngomong-ngomong, apartemen kalian di mana?"
"Eh?" Keduanya noleh.
"Apartemen?" Tanya Reni, kemudian.
"Iya. Kau bilang, kalian akan langsung tinggal di apartemen kan?"
"I–itu?" Anwar hendak menjawab, namun seketika di sikut oleh sang istri.
"Ada– di daerah Jakarta Selatan. Kau tahu daerah elite di sana kan? Apartemen mewah yang mahal harganya. Kami tinggal disana. Itu kenapa hingga saat ini kami belum juga pulang kerumah ibu ku. Maklum, masih menikmati hunian mewah kami. Iya kan sayang?"
"Iya." Jawab Anwar sembari mengusap perutnya yang sedikit sakit.
Kalian berdua aneh sekali. Tapi, terserah lah. Aku tidak peduli. (Kuni)
"Sudah hampir habis waktu izin ku. Maaf aku harus kembali." Kunia beranjak.
"Buru-buru sekali. Itu kan kantor milik calon suami mu," ucap Reni.
"Biar begitu aku tetap harus kerja kan?" jawab Kunia, yang sudah meraih tasnya. –dari pada aku disini melihat kemesraan kalian.
Reni yang di sebelah Anwar pun mengangkat kepalanya, dan seketika menjatuhkan dagunya. sama juga dengan Kunia, yang tak percaya dengan penglihatannya itu.
Dia disini, Untuk apa? –kunia membeku. Melihat pria berjas rapi tengah melangkah menghampirinya. Devano?
Kunia menampar dirinya sendiri.
Tidak mungkin dia tiba-tiba disini. Tau dari mana pria itu?
"Gadisku, aku mencari mu di kantor, rupanya kau disini?"
Gadisku? –kunia menoleh kearah Reni. Wanita itu sudah nampak jengkel kepadanya.
"Hei–" Devan menyentuh pucuk kepalanya. Mengusap lembut. Dan semakin tidak sukalah Reni saat melihatnya. Kunia kembali menoleh.
"Dari mana kau tahu, aku di sini?"
Devan pun menyentuh dadanya. "GPS cinta, yang memberitahukan ku, kalau kau disini."
"Uhukk... Uhukkk..." Reni tersedak minumannya. – GPS cinta? apa-apaan itu, geli sekali aku mendengarnya.
"Hahahaha... kau bisa saja." Kunia merasa geli juga saat mendengar itu. Ia menepuk dada bidang di hadapannya. Devan yang masih mengembangkan senyumnya pun mendekati telinga Kunia.
"Kau kabur dari kantor tanpa izinku? Mau mati ya?" Bisik Devan dengan bibir masih tersenyum. ucapannya itu membuat Kunia menghentikan tawanya. Matanya melebar, lalu mendongak melihat Devan masih tersenyum, ia pun terkekeh ngeri.
"Aku sudah izin Bu Sarah, kan?" Ucapnya lagi dengan suara tertahan. Sambil haha hihi. Sama halnya dengan Devan yang kembali mendekati telinganya.
"Dia memang atasanmu, tapi aku yang lebih berwenang. Kau lupa siapa aku hah!! Aku tahu alasan mu kesini, karena cecunguk miskin itu kan...? Kau tidak bisa berkelit lagi Sekarang."
__ADS_1
Huwaaaa... apa aku akan mendapat masalah lagi? Kau itu belum jadi siapa-siapa ku. Tapi kenapa sudah mendoktrin ku seperti ini. Dasar bocah sialan. (Kunia)
Reni menggigit ujung sedotannya, dengan sebal. Kakinya pun sudah sedari tadi menghentak, gusar. –Tidak suka melihat Kunia diperlukan seperti itu olehnya. kalau mau bermesraan sana kek... Pamer sekali sih, membuat ku ingin muntah saja.
"hahaha... aku tidak percaya loh, kau datang." Kunia masih mengusap-usap dada bidang Devan, tanpa sadar.
"iya, ini kejutan untuk mu. karena setelah ini, Aku mau mengajak mu pergi."
"Hemmm? Ke–kemana?"
Devan tersenyum lebar. "Shopping."
angin apa ini? kenapa tiba-tiba dia mau mengajakku shopping? (Kunia)
"A–apa?" Reni beranjak. Membuat yang di sana menatapnya.
"sayang, ada apa?" tanya Anwar.
Ia pun berdeham, lalu menggandeng lengan Anwar.
"tidak kok, Kita kan juga mau shopping. Iya kan sayang?"
Duh... Dia sudah menghabiskan banyak uang tadi. Kenapa sekarang malah mau shopping lagi sih? –Anwar nampak pias.
"Iya kan?" Reni menghentak pelan.
"Iya... Iya sayang. Kita juga akan shopping." Jawabnya pucat.
Renita tersenyum, lalu mendekati Kunia. Menggandeng tangannya.
"Aku itu kawan dekatnya Kunia, kita memang selalu sehati?"
Cih... kawan dekat yang gemar menusukku dari belakang!!! –kunia hanya diam saja.
"Jadi ayo kita belanja bersama. Huhu, berasa double date deh. Senangnya." sambungnya kemudian, memasang tampang imut.
"apa? double date...?"
"iya, Anda tidak keberatan kan Tuan?" tanya Reni, Devan pun menoleh kearah Andre yang sedari tadi berdiri di belakangnya. pria itu tersenyum sembari mengacungkan jempolnya, pertanda tidak masalah jika Tuannya itu mau pergi.
"okay, tidak masalah," jawab Devan setelah kembali menoleh kedepan. ia pun meraih tas di tangan Kunia.
"eh?" terkejut.
"biar aku yang bawakan."
"ti–tidak usah. aku bisa bawa sendiri." terkekeh.
"hei, kau tahu aku mencintaimu kan? aku tidak mau bahu mu pegal karena membawa tas ini. jadi biar aku yang membawanya." Devan merebut tas kecil yang hanya isi dompet dan handphone Kunia saja. dengan sedikit tarikan, karena pertahanan Kunia. tentu saja ucapannya itu membuat Reni semakin kegerahan.
"kalian bawa mobil sendiri kan?" Devan menoleh kearah mereka.
"iya Tuan," jawab Anwar.
"kalau begitu kami duluan. ya–" Devan melingkari area atas pundak lumayan kencang, dengan satu tangannya. Membuat Kunia sedikit tercekik. namun gadis itu tetap mengikuti langkahnya tanpa protes.
di belakang, Reni langsung menoleh kearah Anwar. lalu memukuli sang suami menggunakan tasnya berkali-kali, setelah Kunia keluar dari kafe itu.
"sa– sayang... apa yang kau lakukan." menangkis pukulan itu, menahan sakit.
Reni yang nampak frustasi pun melemparkan tas belanjaan, dengan kasar.
__ADS_1
"aku benci pada, Mu!!!" menghentak kencang, sebelum melenggang pergi dengan gusar. Anwar pun hanya bisa menghela nafas. sudah biasa dia di jadikan samsak kekesalannya, tapi mau bagaimana lagi, dia sudah menjadi istrinya sekarang.
bersambung...