
Setelah menunggu cukup lama, wanita yang berjaga di meja kasir pun menghela nafas.
"permisi, bisa tolong selesaikan pembayarannya, dengan cepat? Di belakang sudah ada yang menunggu," ujar sang kasir. Dimana Reni kembali menoleh.
"Sebentar ya. Aku sedang berbicara? Dengan–" Reni menginjak kaki suaminya, hingga Anwar mengaduh. "Suamiku dulu. Hehehe."
"Tapi kami tidak bisa menunggu lama, kami harus melayani customer yang lain."
"Cepat... Bayar. Aku tidak mau tahu!!" Bisik Reni, dengan senyum masih mengembang.
"Mau bayar pakai apa, Ren? Aku tidak ada uang. Uang ku sudah habis," jawab Anwar yang semakin Frustasi.
"Iiiisssss... Kau benar-benar menyebalkan... Sungguh aku benci padamu, Aku benci padamu!!!" Reni memukul bahu sang suami dengan brutal, dan dari keributan itu mengundang perhatian para pengunjung yang lain, juga mereka yang sedang menunggu giliran untuk membayar.
"Maaf, bisakah kalian tidak membuat keributan disini?" Seorang security mendekati dan melerai mereka berdua. Di mana wanita itu bahkan sampai menarik rambut Anwar dengan kasar.
"Silahkan selesaikan pembayaran atau keluar dari sini," sambung sang scurity.
Reni menoleh ke kiri dan ke kanan, beberapa orang sudah curi-curi pandang dan saling berbisik.
"Iiisssh...!!! Dasar tidak berguna." Kembali Reni menarik rambut Anwar sekali lagi. "Aku tidak mau tahu ya, bayar!!! Bayar bajunya."
"He–hentikan, hentikan aksimu itu. Aaaaaaaaaa, RENIIII....!" Seru Anwar.
Kunia dan Devan yang hendak Keluar, pun menoleh kearah mereka. Menyaksikan drama rumah tangga paling menyedihkan, ketika sang suami harus mendapatkan pukulan berkali-kali. Yang berujung pengusiran, saat keduanya di seret keluar dari pihak keamanan. Kunia menghela nafas, menanggapi dengan perasaan konyol.
Mereka berdua benar-benar ya...! (Kuni)
"Apa yang terjadi?" Tanya Devan pada sang manajer toko.
"Yang saya dengar, mereka tidak bisa membayar belanjaan mereka. Dan membuat keributan, Tuan." jawabnya.
Devan pun membulatkan bibirnya, berkacak pinggang sembari geleng-geleng kepala.
"Kelakuan mantan kekasih serta sahabat mu itu." Sindir Devan. Kunia pun melengos, tidak peduli. Jujur saja dia kasian melihat Anwar yang di perlukan seperti itu. Tapi biarlah, menjadi hukuman untuknya juga.
Setelah apa yang ia lakukan, walaupun tidak pernah sekalipun meminta karma untuk pria pengeretan itu. Namun hukum Alam memang nyata adanya. Buktinya Anwar bisa merasakan karma secepat itu. Ya...ya...ya... Semoga saja dengan ini dia jera.
***
__ADS_1
Malam harinya...
Di tempat yang berbeda, Bu Asmia tengah menata barang-barang. Bersiap untuk pulang manakala waktu yang semakin larut.
Ia memunguti tempat sendok yang berada di atas meja. Lantas membersihkan kotoran yang berada di bawahnya. Sesaat matanya terarah pada meja lain. Ada satu majalah yang tergeletak entah kepunyaan siapa. Ia geleng-geleng kepala pelan, menyayangkan orang-orang yang ceroboh karena meninggalkan barang bawaan mereka.
Beliau berjalan menuju meja tersebut dan meraihnya.
Cover pertama adalah seorang pria berjas yang ia kenal. Bu Asmia tercenung, perlahan bokongnya mendarat di salah satu bangku plastik.
Bu Asmia mau kemana? Apa Mamih memecat Bu Asmia juga?
Suara serak, Devano remaja tiba-tiba terngiang, menahan tubuh tambunnya yang merasa berat ketika melangkahkan kaki keluar dari rumah Utama. membuatnya merindukan anak itu.
"Tuan Muda, Anda terlihat hebat sekarang. Dan terlihat baik-baik saja. Walaupun ibu khawatir denganmu. Tentang keselamatan mu." Terdiam lagi, Bu Asmia pun teringat seseorang yang pernah ia rawat.
#Flashback is on.
Devan yang nampak marah itu, seketika menghentikan langkahnya saat berpapasan dengan seorang wanita paruh baya, yang di tugaskan menjadi koki utama untuk neneknya sebelum menghilang dua bulan yang lalu.
"Tuan Muda," ia membungkuk sopan, dengan tangan kanan memegangi koper.
"Bu Asmia? Kau mau kemana?"
Devan pun menoleh kebelakang semakin geram ia di buatnya. Tatapannya tertuju pada wanita yang hendak masuk kedalam rumah.
"Apakah kau, memberhentikan Bu Asmia juga?" Devan menuju kearah wanita paruh baya di dekatnya.
"Mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa beliau kerjakan lagi di sini. Karena Omah sudah tidak ada."
"Omah hanya menghilang... Bukan mati. Jadi untuk apa Bu Asmia di berhentikan?!"
Liliana menatap tajam kearah Bu Asmia, membuat wanita paruh baya itu tertunduk.
"Sa– saya yang ingin keluar dari sini, Tuan muda. Bukan karena di pecat oleh nyonya Lili." tutur Bu Asmia, sedikit terbata-bata. Devan pun menoleh.
"Kenapa? Bukankah Bu Asmia juga merangkap pekerjaan sebagai pengurus ku?" Devan menepuk dadanya sendiri.
Beliau kembali mengangkat kepalanya melirik kearah Nyonya Lili, dimana bulir bening kembali menetes.
__ADS_1
"Saya... Saya sudah ingin pensiun Tuan muda. Saya sudah lelah bekerja, jadi maafkan saya. Saya harus permisi."
"Bu Asmia–" Devan berusaha untuk menahannya, sementara sang ibu masih diam saja. Ia pun kembali menoleh kearah Mamihnya.
"Baiklah– jika Bu Asmia pergi, maka aku akan ikut dengan beliau...!"
Ucapan Devan itu, lantas membuat kaki Bu Asmia terhenti. Lututnya gemetaran, ia bahkan tidak berani menoleh lagi kebelakang.
"Sayang, apa yang kau katakan?" Liliana masih berbicara dengan suaranya yang lembut.
"Aku akan ikut, dan tinggal bersama Bu Asmia."
"Kau sadar dengan apa yang kau ucap itu?"
"Ya...! Sangat sadar. Aku akan tinggal bersama Bu Asmia."
Bu Asmia kala itu masih tidak berani memutar tubuhnya, kakinya masih kaku tidak bisa bergerak sama sekali. Terlebih saat tangan Tuan mudanya yang masih remaja itu sudah memegangi bahu wanita paruh baya di sampingnya.
"Tu– Tuan muda, kembalilah. Ibu mohon, jangan ikut ibu."
"Aku tetap akan ikut ibu, karena di rumah ini. Selain Bu Asmia, siapa lagi yang bisa memahami ku. Ayo kita pergi." Devan pun mulai melangkahkan kakinya.
"Baiklah, jika itu yang di inginkan oleh mu. Mamih akan mengirim orang untuk mengantarkan pakai, serta kebutuhan mu. Tetaplah sekolah dengan baik nak, dan kembalilah ke rumah. Karena ibu pasti akan merindukan mu."
Devan yang mendengar itu hanya bisa tertunduk. Tangannya yang terkepal kuat membuktikan tentang kekecewaannya terhadap sang ibu, yang hanya membiarkan dia pergi begitu saja.
#Flashback is off
Bu Asmia menatap kearah langit yang penuh dengan taburan bintang.
Nyonya, Bagaimana kondisi nyonya besar sekarang? Apa beliau masih di sana?
pikirannya mulai berkelana lagi... Ke suatu masa ketika ia tidak sengaja mendengar ucapan Liliana dan Sekertaris Erik. Tentang segala konspirasi yang mereka kerjakan.
Sehari sebelum Liliana memberhentikannya.
Aku bersyukur, aku bisa selamat setelah mendengar semua kejahatan mereka, berkat pertolongan Tuan muda Zaeni, dan pergi dari tempat itu tanpa lecet sedikitpun.
Bu Asmia menurunkan kepalanya memandangi potret gagah Devano di buku majalah.
__ADS_1
"Ibu berharap, bisa bertemu dengan mu lagi. Dan memberitahukan semuanya," gumam Bu As, sembari mengusap wajah tersebut.
bersambung...