
Di jalan Sebelum masuk kedalam rumahnya sendiri. Kuni mengeluarkan ponselnya yang bergetar, lantas menerima panggilan itu dengan suka cita.
"Ha– hallo."
📞 "kau dimana?"
"Aku di rumah. Kak, kau sudah tidak marah lagi?" Mata Kuni berkaca-kaca senang.
📞 "emmm... Hari ini, Aku mau mengajakmu bertemu."
"Benarkah, aku– aku mau."
📞 "kalau begitu bersiaplah. Aku akan datang sebentar lagi menjemput mu."
"Iya– aku akan?" Tut... Tut... Tut... panggilan terputus, namun hal itu tak di permasalahkannya ia tetap tersenyum senang. Lalu berlari masuk untuk mengganti pakaian dan bersiap-siap.
Di depan lemari pakaiannya, ia sedikit tercenung. Padahal ada keinginan untuk menggunakan dress seperti yang sering di gunakan Reni. Namun ia tak memiliki dress satu pun, cukup lama ia mematung hingga akhirnya memutuskan untuk mengambil setelan baju apa saja yang menjadi andalannya saat berkencan dengan pujaan hatinya itu.
.
.
.
Setelah menunggu beberapa menit bahkan hampir satu jam. Kini gadis itu sudah berada di dalam mobil kekasihnya, menikmati perjalanan dengan suasana hening. Karena Anwar sama sekali tak bersuara, Kuni pun menoleh sembari menyentuh lengan pria yang ia cintai itu.
"Kita mau kemana?"
Tatapan tidak suka Anwar tertuju pada lengannya sendiri.
"Ke rumah nenek ku."
"Wah– aku rindu nenek. Senangnya bisa ketemu lagi."
"Tapi kali ini kau ku tinggal." Anwar menggerakkan lengannya agar tangan Kunia bisa terlepas.
"Memangnya kau mau kemana?"
"Ada urusan. Jadi tolong jaga nenek ku sebentar ya? Kau tidak keberatan kan?"
Kuni mengangguk-angguk penuh semangat. "Tidak masalah, aku kan suka nenek Kasih. Apalagi dia punya banyak kucing peliharaan yang lucu-lucu."
Anwar hanya tersenyum tipis, mungkin jika di artikan saat ini ia tengah membodoh-bodohkan Kunia.
Hingga mobil pun sampai di depan rumah, mereka pun langsung masuk ke dalam rumah itu. Menghampiri sang nenek yang tengah terbaring sendirian di kamarnya.
"Nenek– apa kabar?" Kunia meraih tangan rentan yang sedikit lemah itu.
"Ku... Kuni kah itu?"
"Iya Nek."
__ADS_1
"Kuni kenapa lama tidak datang?"
"Hehehe... Iya sudah dua Minggu kita tidak bertemu ya." Tutur gadis itu masih memegangi tangan keriput neneknya Anwar.
"Kuni, aku langsung jalan ya."
"Eh– langsung?"
"Iya, aku buru-buru soalnya. Maaf ya?"
Ada perasaan sedikit sedih, karena seharusnya pria itu juga turut ada di rumah ini kan?
"Nanti pengasuh nenek akan datang sekitar lima jam lagi, kalau Dia sudah datang kau bisa pulang."
"Kau akan menjemput ku kan, Kak?"
"Aku tidak bisa menjemput mu lagi. Aku sibuk Kuni. Kau bisa pakai taksi kan?"
"Emmm... Baiklah."
"Ya sudah aku jalan dulu." Anwar langsung keluar dari kamar itu. Sementara Kuni pun segera menyusul dan menarik lengan Anwar seraya memeluknya. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku Rindu, setidaknya kau kasih kecupan di sini." Kuni menunjuk keningnya.
"Hei– aku sudah terlambat."
"Ayo lah... Apa kau tak rindu aku."
Kuni pun tersenyum, ia sedikit menarik lengan kekasihnya itu lantas membalas kecupan di pipi Anwar.
"Aku mencintaimu."
Anwar yang sedikit terkejut hanya terkekeh aneh lalu melepaskan pegangan tangan Kuni setelahnya melenggang pergi sembari mengusap-usap pipinya yang di cium Kuni tadi tanpa sepengetahuan gadis yang tengah tersenyum girang di belakangnya.
Kuni pun kembali masuk ke dalam kamar sang nenek ketika mendengar benda terjatuh.
Ya– sebuah piring stainless steel terjatuh di lantai, bubur sisa makanannya tadi pun mengotori lantai.
"Nenek mau makan?"
"Nenek hanya mau minum."
"Kalau begitu biar ku ambilkan ya." Kuni meraih gelas di atas meja yang berisi air mineral, membatu nenek Kasih untuk menengguknya sejenak baru setelah selesai ia akan membersihkan bubur yang tercecer di lantai.
Dengan membawa beberapa alat bersih-bersih Kuni mencoba untuk membersihkan ruangan yang kotor itu.
"Kuni–"
"Iya Nek?"
"Nenek mau pipis, tapi tidak mau di dalam popok."
__ADS_1
"Baiklah, Kuni ambil pispotnya ya." Kuni meletakkan sejenak alat pel-nya lantas berjalan ke kamar mandi. Setelah itu membatu nenek Kasih untuk buang air kecil.
Di rumah itu, Kuni amat sibuk menuruti segala keinginan nenek dari Anwar itu. Dengan membersihkan beberapa bagian tubuhnya yang kotor. Setelah itu membacakan surat kabar untuk neneknya. Bercerita kesana kemari sembari tertawa, dan nenek pun mengusap wajah Kuni lembut saking senangnya dengan anak itu.
Andai saja anak mantunya sebaik Kunia, mungkin dia akan merasa bahagia. Tidak seperti saat ini, yang hanya tinggal dengan seorang perawat. Karena ibunda Anwar tidak ingin ibu mertuanya itu turut tinggal satu rumah dengan mereka semenjak mengalami stroke.
Sementara itu di tempat lain, Anwar dengan Reni sedang pergi bersama. Menikmati acara siang mereka untuk menonton film, berbelanja baju dan sebagainya.
Bahkan ponsel Anwar pun sengaja di matikan, agar Kunia tidak terus-menerus mengganggunya. Menelfon dia tanpa henti.
***
Malam harinya...
Kuni tengah memijat-mijat kedua lengannya sendiri yang pegal. Ia tidak serajin itu saat di rumah, namun saat di rumah nenek kasih? Seolah semua pekerjaan ia pegang tanpa pamrih.
Gentar yang berada di sebelahnya menoleh. "Kau jadi melamar pekerjaan, Kak?"
"Emmmm..." Jawab Kuni lirih.
"Di mana?"
"Entahlah, aku sendiri belum ada gambaran."
"Bagaimana sih kau ini?"
"Mau bagaimana lagi. Aku kan belum ada pengalaman."
"Tadi kalau tidak salah dengar, di perusahaan tempat saudara dari ayah ku itu bekerja sedang ada lowongan."
"Perusahaan apa?"
"Emmm... Sepertinya masih masuk Diamond's corporation. Milik keluarga Atala."
"Apa, Diamond's?"
"Aku tidak yakin bisa masuk sih."
"Coba saja, buat CV mu. Setelah itu aku akan mencoba untuk bicara pada sepupu ku itu."
"Ah... Baiklah. Coba-coba saja, kali saja beruntung."
"Nah, entah mengapa aku melihat mu lebih waras saat ini Kak."
"Sialan. Aku memang waras tahu."
"Ya tapi kali ini lebih waras. Kau sudah punya pikiran untuk bekerja."
"Iya ku akui, ada banyak hal yang membuat ku sadar." Jawab Kuni yang mulai memasang kabel konsol game ke perangkatnya. "Ayo kita tanding."
"Siap!" Gentar bersiap. Dan mereka pun memulai pertandingan bola itu dengan semangat membara.
__ADS_1
Bersambung...