
Bergegas Devan kembali ke rumahnya. Mengantongi beberapa fakta pedih tentang kisah hidup yang sesungguhnya.
Bayangan indah sang Mamih yang tak disangkanya mampu melakukan serangkaian kejahatan. Bahkan amat mulus tak terendus aparat kepolisian, sama sekali.
Pun sampai detik ini tak bisa ia percaya dengan akal sehatnya.
Aku masih tidak percaya itu. Mamih?
Devan menutup mulutnya, menahan tangis yang menderai-derai di kursi belakang.
Ia banyak mengingat, wanita itu tak sekalipun pernah memarahinya. Tak pernah pula menatapnya tanpa senyuman hangat, pelukan yang selalu membuatnya merasa bahagia memiliki seorang ibu seperti Liliana. Tak bisa membuatnya menampik bahwa Liliana adalah ibu yang baik, namun itu dulu...
Ya... Di saat papihnya masih ada, Omah pun masih tinggal di rumah itu. Kebahagiaan yang paling lengkap menurutnya. Ayah yang baik, Mamih yang selalu ada mengisi hari-harinya. Juga Omah yang amat menyayanginya.
Seperti sebuah langit yang cerah, tak berawan. Ia amat bahagia pada masa-masa itu.
Sampai tiba di hari naas sang Ayah. Seolah, awan pekat turut menutupi kawasannya.
Kepergian Papih, di susul menghilangkan Omah, lalu terakhir... Fakta menjijikkan yang ia lihat di malam selepas ayahnya di kebumikan, yang berujung pada pernikahan Sekertaris Erik dengan sang Mamih secara diam-diam.
Membawa perubahan banyak dalam kehidupnya.
Mamihnya yang mulai berubah, layaknya orang lain. Walaupun beliau tetap memanggil dengan sebutan yang tak pernah berubah... Sayang.
Devan menunduk, membiarkan bulir-bulir bening itu terjatuh dengan derasnya, menghujani amplop coklat berisi foto-foto tadi di pangkuannya. Bahunya berguncang hebat, merasa tidak percaya.
Benarkah? kau bukan Mamih kandungku? lantas benarkah, mendiang Ibu Karlinalah ibu kandungku yang sesungguhnya?
Devan meremas ujung amplop coklat tersebut. Dadanya benar-benar sesak, ia bahkan tidak mampu mengeluarkan suaranya, selain Isak tangisnya.
Kalau iya... kenapa semua membohongiku? Apa salahnya, jika aku mengetahui... Wanita yang selalu Papih kunjungi makamnya, di hari ulang tahunku adalah... Wanita yang telah melahirkanku.
Menangis sesenggukan, membuat Andre nampak semakin iba. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa selain membiarkannya.
Fakta yang ia turut dengar tadi membuatnya paham. Kenapa banyak mata-mata yang membuntuti setiap gerak-gerik Devano, ataupun dirinya.
Rupanya, semua ini sudah diatur sedemikian rupa. Mobil masih melaju, menyusuri jalan yang sedikit padat merayap.
Devan di belakang menghela nafas, ia berusaha menormalkan dirinya.
__ADS_1
Aku harus benar-benar mencari, bukti lain.
Devan meneguhkan hatinya. Untuk semakin mencari tahu. Tak peduli jika kebenaranlah yang akan merejam-rejam hatinya setelah ini.
"Andre– kita temui notaris Evans, sekarang."
"Baik Tuan," jawab Andre setelahnya.
***
Di rumahnya.
Devan berjalan pelan menaiki anak tangga. Setelah urusannya dengan notaris Evans selesai ia semakin di buat murung.
Kata beliau; Apa yang di katakan ibu Asmia itu benar. Namun saya terlalu takut untuk berbicara.
Evans lantas menceritakan semua kejadian malam itu, malam di mana Nyonya Briana mendatanginya.
Notaris Evans: Saya hanya tidak ingin, Tuan Muda salah faham. terlebih saya tidak punya bukti. Karena hanya disitu batas yang saya ketahui. Perihal keberadaan Nyonya Briana, saya benar-benar tidak mengetahuinya.
Devan membuka pintu kamarnya dengan lesu. Nampak Kunia tengah duduk di atas ranjangnya.
Pria itu tak menjawabnya. Tatapannya yang kosong, membawanya terus berjalan melewati Kunia yang nampak bingung.
Devan terus memasuki area kamarnya, semua ucapan sang ibu di masalalu terngiang-ngiang di telinganya. Membuat ia meremas kepalanya, merasa frustasi.
Devan: Mamih, aku mau ke Manchester, ya? Melanjutkan studi ku. Atau mungkin ke Harvard... Papih bilang aku boleh sekolah di manapun yang aku mau.
Liliana: sayang, tidak perlu ke Harvard ataupun Manchester university. Yayasan kita bukankah punya universitas ataupun sekolah tinggi yang bagus. Itu bisa di jadikan contoh yang baik. Jika anak hebat seperti mu bersekolah juga di sana.
Devan mengepalkan kedua tangannya, kuat. Memandangi bayangannya di depan cermin.
"Dia bilang menjadikan contoh? Bahkan dengan bahagianya aku menerima usulan itu. walaupun, hanya di berikan pendidikan S1, sementara diam-diam? Zaeni di berikan pendidikan spesialis di Manchester. B*NGS*T...!!! JADI INI JAWABANNYA...!!!"
Devan berteriak kencang, membuat Kunia yang berdiri di balik pintu kamar mandi menjadi khawatir.
Ada apa dengannya? (Kunia)
di dalam masih terdengar isak tangis... manakala teringat ketika di apartemen Evans, mereka mencoba mencari tahu data diri Liliana, termaksud Zaeni juga sekertaris Erik.
__ADS_1
Tubuh Devan lemas seketika.
ya... semua fakta itu benar. Terlihat di catatan sipil, pernikahan Liliana sebelumnya.
Serta akta kelahiran Zaeni, termasuk CV pria itu.
"Rupanya... Sekertaris brengsek itu memang suaminya, sebelum menikah dengan Papih? Dan Zaeni anak mereka?! BEDEBAAAAAHHH!!!"
praaaaang... Devan menghajar kaca cermin hingga pecah dan hancur berserakan.
Lalu berteriak, memaki, mengumpat mereka semua. Kunia yang semakin khawatir lantas membuka pintu kamar mandi itu.
Nampak Devan sudah duduk terkulai di bawah wastafel, dengan tangan berdarah-darah setelah menghancurkan cermin tersebut.
Segera ia menghampirinya, mendekap sang suami, erat.
"Apa yang terjadi? Tenanglah... Tenanglah, Dev."
Pria itu tak menjawabnya, masih sesenggukan di pelukan Kunia.
"Devan, kau menghancurkan semuanya? kenapa?"
"Sakit–" gumamnya. "Hatiku sakit Kunia... mereka membohongiku, mereka menghancurkan keluargaku."
"Si... Siapa?"
"Iblis-iblis itu... Mereka semua membinasakan keluargaku, tanpa sisa."
Kunia tidak paham, namun mendengar tangisannya yang benar-benar menyayat hati membuat Kunia turut menitikkan air matanya.
"Aku sendirian Kunia... Aku sendirian menghadapi mereka." Terisak-isak.
"Tenanglah... Tenangkan dulu dirimu. Aku di sini, aku bersamamu, Dev..." Kunia memegangi wajahnya, mengangkat hingga terarah kepadanya. "Dev?"
Devan hendak menunduk lagi, namun di tahan oleh Kunia.
"Kau bukan pria lemah... Kau bukan pria yang mudah untuk di hancurkan. Aku percaya itu."
Devan tak menjawab, hanya memandangi wajah sang istri di depannya. Pikirannya masih kalut. Emosinya benar-benar terkuras habis, membuat dia benar-benar lemas.
__ADS_1
Kunia bergegas meraih handuk kecil, membungkus luka di tangan sang suami. sebelum membantunya bangun, lantas keluar dari kamar mandi yang sudah nampak kacau di sana.