
Kurang dari jam sebelas malam, Devan menepati janjinya kepada Bu Sukaesih. Jika Dia akan mengembalikan Kunia di jam-jam itu.
Mobil pun berhenti di depan rumah. Tatapan Kunia terarah pada rumah Reni. Dan terdengar suara helaan nafas pelan di hembuskan. Kuni merasa lega, manakala mendapati kamar Renita gelap. Sudah pasti gadis itu sudah terlelap dalam tidurnya.
Ya, sejatinya Dia meminta Devan menurunkannya di tempat semula. Namun Devan tak mengindahkan, ia tetap memasuki kawasan gang itu dan berhenti di depan rumah Kunia. Dengan dalih Dia sudah membawa anak gadis orang, bukankah tidak sopan jika tak mengantarkannya sampai rumah dan mengembalikan langsung pada orangtuanya.
Memang benar apa yang di pikirkan Devan. Namun, berbeda dengan Kuni. Devan yang mengantarnya menggunakan mobil super mewah ini, malah justru akan menimbulkan masalah. Entahlah yang jelas ia merasa tidak enak hati saja, apabila ada tetangga yang melihatnya pulang di antar pria keren terlebih kendaraannya sekelas Lamborghini. Ya, semua karena Dia bukanlah Reni yang gemar memamerkan apapun yang menurutnya patut untuk di pamerkan.
"Sudah kau pulanglah." Kuni sudah membuka pintu mobilnya.
"Aku harus berpamitan dengan, Ibu."
"Jam segini ibu itu sudah tidur, jadi sana cepat pergi." Kuni tidak bisa menahannya lebih lama, lebih cepat pria itu dan mobilnya pergi, itu akan lebih baik.
"Tapi?"
"Akan ku sampaikan salam mu pada ibu. Sudah sana." Kuni menutup pintu mobil secara hati-hati. Agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan Renita dari tidurnya. Heningnya malam terkadang membuat suara lirih pun bisa menjadi terdengar keras, itulah kenapa Kuni lebih hati-hati kala menutup pintu mobil tersebut, dengan pandangan sesekali melirik kearah jendela kaca, kamar Reni. Gadis itu berjalan memutar mendekati gerbang rumah.
"Oii–" panggil Devan yang sudah membuka kaca mobilnya. Sementara Kuni menoleh. "Minggu depan. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat."
"Minggu depan? Aku tidak bisa. Aku sibuk."
"Sibuk apa? Kau itu harus mentaati peraturan ku, selama kontrak kerja masih berlangsung."
Iiiisshhh... Kenapa masalah kontrak kerja jadi merambat kemana-mana sih? (Kuni)
"Intinya aku akan menjemputmu." Sambungan dari perkataan Devano tadi.
"Hei– tolonglah jangan memaksa, aku harus menghadiri acara pernikahan orang."
"Pernikahan siapa? Dan di mana?"
"Haruskah aku melaporkan itu juga?"
"Katakan!!" Intonasi yang sedikit di tekan membuat Kunia mendesah sebal.
"La Plaza, pernikahan anak sulung dari Walikota A," jawabnya dengan malas kemudian.
"Jamal Budiman?" Tebak Devan.
"Ya." Jelas Dia tahu, kan Walikota.
"Jam berapa?"
"Mungkin jam satu."
__ADS_1
"Baiklah, kita akan menghadiri acara itu dulu, setelah itu barulah kita ke tempat tujuan ku."
"Untuk apa? Mereka itu tak mengundangmu."
"Aku pun di undang, sebenarnya aku tidak mau datang. Tapi karena ada kau juga datang, sekalian saja."
"Kalau begitu cari teman lain saja, sana."
Jika datang ketempat itu dengan mu, semua pasti akan gempar! (Kuni)
"Aku tidak mau."
"Kenapa?"
"Karena, Aku tidak punya teman..!"
"Eh..." Kuni tergugu.
"Sudahlah intinya aku akan ikut. Sesuai dengan perjanjian, kau itu kekasih bohonganku saat ini. Jadi kita harus menyakinkan orangtuaku. Kalau kau benar-benar kekasihku."
"Bukankah akting kita hanya di depan orang tua mu saja?"
"Mbak Kunti. Aku tidak ingin menjelaskan banyak hal tentang masalah ku. Jadi ikuti saja permainan ini. Kau tidak akan ku rugikan." Devan kembali menutup kaca mobilnya. Mesin pun juga sudah dinyalakan, dan tak lama mobil pun mulai melaju, pergi. Meninggalkan gadis yang masih berdiri dengan busana yang sama dan penampilan yang belum di ubah.
Kuni bergumam dalam hati, sebelum akhirnya masuk kedalam rumahnya.
***
Pagi yang kembali datang...
Gadis itu baru saja keluar dari dalam kamar mandinya dengan tubuh yang bugar. Ia menatap bayangan dirinya di depan cermin dengan rambut yang masih panjang, terikat.
Ya, semenjak menggunakan krim wajah, ia jadi lebih gemar cuci muka di pagi hari. Lalu menatap wajah yang semakin cerah itu dengan penuh rasa bahagia.
"Senangnya, berkat hair extension rambutku jadi panjang secara instan." Terkekeh, ia masih mempertahankan bentuk Curly-nya itu. Yang kembali ia gerai. "Sungguh kecantikanku seolah naik level, hihihi."
Braaaak... Braaaak... Braaaak...
Suara ketukan pintu itu membuat Kunia menutup telinganya sejenak.
"KUNIIIII....! Keluarlah, dan belanja sana. Di depan sudah ada tukang sayur." Seru Bu Sukaesih dari luar, membuat Kuni menghentakkan kakinya kesal.
"Ck...! Kenapa tidak ibu saja sih–"
"Ibu sedang tanggung, apa kau saja sana yang menguras bak mandi di lantai bawah. Cepatlah keluar sebelum ku hancurkan pintu kamarmu ini, dasar pemalas!!"
__ADS_1
"Haaaah... Ya... Iya." Kuni lantas mengikat rambutnya lagi. Ia kembali bercermin, lalu kembali mengulas senyum. "Skincare yang disarankan Bu Sarah benar-benar bagus. Kulit wajah ku jadi lebih cerah dan halus, serta glowing."
Braaaak.... Braaaak...
"KUNIIIII....!!"
"AKU BILANG IYAAAAAA....!" Teriak Kunia, yang lantas menghela nafas kemudian. "Aku ingin anggun, namun wanita tua itu selalu mengajak adu vokal di pagi hari... Haaaah, sabar-sabar."
–––
Akhir pekan ini adalah momen yang pas untuk para ibu-ibu dan asisten rumah tangga berbelanja bersama nimbrung di grobak sayur Kang Usup.
Beberapa orang sudah mulai melakukan tawar-menawar, sebelum memilih lauk apa yang akan di masak dan mereka sajikan untuk keluarga.
"Weeeh... Neng– belanja? Mangga-mangga." sambut Kang Usup pada Kunia yang baru saja keluar, sembari menyeka keringat di bagian tengkuk dan wajahnya menggunakan handuk.
"Ambil pesanan ibu, Kang?"
"Oh ... Ini. Daging setengah kilo. Sama kentang." Kang Ucup mengeluarkan daging dari dalam styrofoam box lalu menyerahkannya pada Kuni.
"Terimakasih, Kang."
"Sama-sama. Ngomong-ngomong, neng Kuni tambah bening saja." Puji Kang Usup. Membuat Kuni terkekeh.
"Bisa ajaaaa. Kan jadi tersanjung... Tanpa season. Hahaha" Kuni terkekeh sama halnya kang Usup.
"Tapi beneran, Kau itu tambah cantik loh. Bikin pangling." Puji ibu satunya.
"Makasih loh Bu, jadi seneng Kita." Kuni tertawa lagi, bersamaan dengan ibu-ibu yang lain.
Obrolan tak penting itu membuat Kunia menjadi betah, bercengkrama dengan para wanita pecinta daster. Ibu-ibu komplek yang gemar bergosip kesana kemari menanyakan perawatan apa yang di lakukan Kuni, dan gadis itu tanpa ragu mau berbagi merek skincare yang ia pakai. Ada ibu-ibu yang memang memiliki penghasilan lebih, tertarik. Namun ada pula ibu-ibu yang hanya mendengarkan saja. Jangankan untuk beli skincare, untuk belanja kebutuhan sehari-hari saja terkadang harus benar-benar Putar otak.
Hingga tak lama, sebuah mobil datang. Kuni yang mengenali mobil itu pun putar badan. Ia malas melihat Anwar yang pastinya hendak menjemput Reni.
Kembali Kunia pura-pura memilih, saat Anwar sudah keluar dari mobilnya.
Pria yang hendak menjemput Reni itu pun langsung melambaikan tangannya, saat melihat sang pujaan hati keluar dari dalam rumah.
"Kita langsung jalan saja ya."
"Iya," jawab Reni ceria. Gadis itu pun langsung masuk kedalam mobil begitu pula dengan Anwar. Tanpa menyadari wanita dengan rambut panjang itu adalah Kunia, hingga mobil pun melaju, bersama dengan itu Kunia menoleh mengikuti laju mobil tersebut, lalu menghela nafas setelahnya.
Hati... kumohon, ayolah sembuh. Dia itu memang bukan yang terbaik. Batin Kunia menyemangati diri.
Ia membayar belanjaan, lalu masuk kedalam setelah berpamitan dengan si penjual dan ibu-ibu yang masih di sana.
__ADS_1