
Hari yang baru kembali datang, atau mungkin hari terakhir dia bekerja di perusahaan Diamond's.
Kunia menghirup udara segar sebelum masuk ke dalam gedung kantor tersebut.
Seperti ini kah, pagi hari menuju kemerdekaan seorang budak?
Kunia tersenyum sendiri tanpa peduli beberapa kang Ojek yang melewatinya memandanginya dengan aneh. Bahkan ada pula yang membalas senyum Kunia yang tak sengaja terarah kepada salah satu dari mereka yang baru berhenti setelah mengantar penumpang. Lalu hendak mencari penumpang baru.
Mungkin ia mengira jika Kuni tengah menggodanya. Membuat Dia menyisir pelan
rambutnya yang lepek itu dengan telapak tangan. Lantas mengedipkan matanya.
Idiiiihhh....
kunia langsung meredupkan senyumnya. Seolah keindahan pagi hari ini berubah, setelah melihat kedipan dari Abang ojol tersebut. Belum lagi dengan senyum yang menunjukkan giginya, serta hiasan merah yang nyempil di salah satu sudutnya.
Mimpi apa aku semalam, di kedipin kang ojol.... sudah begitu giginya? Astaga, semoga aku tidak sawan habis ini.
Kunia bergidik, ia pun langsung masuk dengan cepat ke gerbang utama gedung tersebut.
Tiiiing...
Baru saja ia menempelkan ID card ke mesin absensi, sebuah pesan chat sudah masuk.
Gadis itu mendesah malas, ia mengeluarkan cepat sembari mendekati lift.
Devano : keruanganku sekarang!!!
Hei... Apa-apaan ini, aku baru saja tiba sudah disuruh keruangannya.
Ia menilik jam tangan. Lalu menghela nafas. Apakah pria itu tidak ada kegiatan pagi di rumahnya, kenapa akhir-akhir ini sering berangkat lebih awal.
Kuni tidak peduli dengan apa yang akan ia kerjakan. Yang jelas sekarang ini adalah hari terakhirnya berangkat bekerja, merasakan kemerdekaan untuk beberapa hari sampai tiba masa penjara yang selanjutnya.
Ah... Iya, dia menjanjikan aku tidak akan kesusahan setelah menikah dengannya. Tapi? Biar begitu, dia tetap bertingkah semaunya sendiri. Tidak menutup kemungkinan, setelah menikah dia akan lebih seenaknya melakukan apapun.
Kunia menggeleng, Dia harus segera menghampiri Devano keruangan kerjanya sebelum menikmati nasi uduk yang sudah ia beli untuk sarapan pagi.
Karena seperti hari-hari sebelumnya. Ia tidak pernah sempat makan pagi di rumahnya sebab pria itu selalu memintanya berangkat lebih bagi dari para karyawan lain.
Tok... Tok...
"Masuk–" seru Devan dari dalam. Kunia pun mendorong pintu tersebut hingga terbuka dan masuk.
Eh... Apa ini?
Pemandangan awal yang membuatnya mematung saat Devan tengah memakai kemejanya. Di mana semua kancing di bagian dada belum terpasang ia tangah fokus memasang bagian lengannya.
"Apa yang kau lihat?" Hunus Devan pada wanita yang terus memandanginya tanpa berkedip.
Kunia menggeleng ia langsung memutar tubuhnya.
Apa-apaan itu, roti sobek?
menelan ludah, setelah tak sengaja melihat dada bidang pria itu. Perut kecil dan sixpacknya. Benar-benar membuatnya sempat terperangah.
Sempurna sekali tubuhnya itu. Wajah cute, kulit putih bersih, tamvan... Tubuh binaragawan.
Plaaaaaakkkkkkk... Kunia menampar pipinya sendiri. Setelah pikiran mesum mulai menguasai otaknya.
__ADS_1
"Hei– apa yang sedang kau lakukan. Kemari, bantu aku pasangankan kancing di lengan ku ini."
Kunia menggeleng.
"Apa itu tanda kau menolak?"
"A–pa harus aku?" Rasa gerah tiba-tiba menggerayangi tubuhnya.
"Kau yang ada di sini kan? Jadi siapa lagi jika bukan kau?" Devan menyeringai di belakang.
"Tapi kau bisa memanggil wakil personalia, Tuan Andre."
"Dia belum datang."
"Security?" Masih berusaha menolak, setelah menoleh sedikit.
Tolonglah, roti sobekmu belum di tutup itu. Mataku yang suci memang menolak, tapi otaku yang lucknut mengajak maksiat. Dasar tidak berguna!!! Bisa-bisanya membayangkan yang tidak-tidak. –kunia masih berusaha membelakangi.
"Yang calon ku itu kau atau security? Untuk apa aku meminta mu kemari, kalau bukan karena aku membutuhkan bantuan mu."
"Ta–tapi?"
"Apa?"
Roti sobek mu...!!! Hiks. –jawabnya masih membatin, tangannya pun mulai mengipasi diri.
"Sini...!!!"
"Tidak mau."
"Sini ku bilang...!"
"Ck..!"
"Iiisssssh... Kenapa kau tidak berhenti memanggilku itu sih?" Kunia menghentakkan satu kakinya sembari menoleh kebelakang, namun matanya kembali melebar saat melihat Devan tengah duduk di atas meja dengan dadanya yang masih terbuka.
Mata suci ku, ternodai... Astaga!!
"Ck..." Devan turun guna mendekati gadis itu lalu menariknya membuat tubuh Kunia membalik secara paksa. Seolah hendak keluar bola mata itu, kaki Kunia mendadak gemetaran.
Deg... Deg...
Jantung pun mulai memompa dengan cepat ketika wajahnya amat dekat berhadapan dengan apa yang sangat tak ingin ia lihat.
Gleeeekkk....
"Pasangkan ini, aku bilang kan aku kesulitan," titah Devan sembari mengangkat tangannya. Menunjuk pergelangan tangan yang masih sedikit terbuka.
Kunia pun mendongak sedikit, menangkap sepasang mata tajam yang terarah kepadanya. Lalu memegangi lengannya, menurunkan pelan, dan mulai memasangkan kancing di lengan tersebut setelah meletakkan bungkusan nasi uduk di atas meja.
Devan tersenyum tipis, tanpa sepengetahuan Kuni yang menunduk.
"Aku yang kau bawa?" Tanya Devan menangkap bungkusan yang tergeletak di atas meja.
"Roti sobekmu," jawabnya tidak sadar
"Apa? Roti sobekku?"
Mata Kunia melebar saat menyadari jawaban ngelanturnya. Lalu menggeleng cepat.
__ADS_1
"Roti sobek? Anu... Bukan, itu nasi uduk. Ya," jawabnya kemudian. –Dasar bodoh, bisa-bisanya menjawab sesuai apa yang ada di otakmu.
"Nasi uduk? Punya siapa?"
"Aku membelinya."
"Kenapa beli, Apakah kau tidak sarapan di rumah?"
"Jelas aku tidak akan sempat sarapan di rumah," jawab Kunia yang sudah selesai memasang satu kancing di lengan itu. Akibat gemetaran membuat pekerjaannya menjadi lamban. Lalu meraih tangan satunya.
"Kenapa tidak sempat sarapan?"
Kunia mendongak. "Kau pikir, siapa yang menyebabkan aku susah sarapan setiap pagi di rumah. Hah!!!" Kembali menunduk kemudian.
"Maksudmu, aku penyebabnya?"
"Pakai tanya, sudah jelas-jelas hanya aku satu-satunya karyawan yang datang di pagi buta lalu pulang saat petang tiba." Kunia sudah selesai dengan satunya. Lalu entah mengapa tangannya tanpa sadar memegangi kancing yang lain. Ia mulai mengancingkan yang di dada juga. Di mana bibir Devan tersungging separuh.
"Jadi kau mengeluh?" Devan membiarkan, walaupun dia sadar saat ini bagian dadanya tengah di tutup Kunia.
"Iya lah, kau pikir tidak lelah apa?" Satu persatu kancing itu di pasangnya dengan cepat.
"Mau ku naikan gaji mu?"
Kunia menepuk pelan dada itu dengan kedua tangannya setelah selesai. Lalu mendongak lagi.
Deg...! Devan sedikit tersentak, melirik kebawah. Kearah dua tangan Kunia.
"Ckckck... Apakah yang kau bisa lakukan hanya menaikan gaji?"
"Lalu kau maunya apa?" Devan menatap lagi wajah Kunia.
"Berilah aku apresiasi... Seperti penghargaan."
"Oh... Ya? Berupa hadiah kah?"
"Bisa jadi. Tapi, aku tidak mau yang berupa uang ataupun barang mahal."
"Emmm, aku paham. Berati kau mau hadiah lain ya?"
"Yuuppp..." Jawab Kunia, dengan tangan yang kini mengusap-usap dada itu. –Berilah aku kemerdekaan di hari terakhir ku bekerja. Tuan muda tengil. Hehehe.
"Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Hadiah lain, bukan uang atau benda mahal. Melainkan tubuhku."
"Eeh..." Kunia mematung, belum paham dengan maksudnya. –Pria ini tengah berpikir mesum kah saat ini?
"Kau suka menyentuhnya, kan?"
"A–apa?" Menatap bingung.
"Dadaku," Devan menyeringai. "Kau suka menyentuhnya kan?"
Jawaban Devan membuat usapan kedua tangan Kunia terhenti.
Gleeeekkk... Apa yang ku pegang? Apa ini?
Seketika wajah itu berubah pias. Ia menurunkan pandangan matanya, menuju benda kekar yang sedang ia sentuh.
"Astaga...! Roti sobek!! Ummmppp" Kunia membungkam mulutnya sendiri.
__ADS_1
Ya ampun, mulut rombeng ini...!!!
Kunia semakin pucat pasi, belum lagi dengan senyum seringai Devan yang lantas geleng-geleng kepala.