I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
kebersamaan yang hampa


__ADS_3

Malam sebelumnya...


Devan yang baru saja pulang dari kantor memutuskan untuk kembali ke rumah utama.


Memang– sudah sejak kepulangannya tempo hari, Devan yang kini memutuskan untuk kembali tinggal di rumah utama. Tidak ingin lagi dia egois dengan keadaan, walaupun ia amat muak melihat keluarga baru ibunya itu. Namun demi sebuah misi, Devan harus mengesampingkan egonya itu.


Mobil Devan menepi, tepat di belakang mobil milik ibunya dan Sekertaris Erik yang baru saja kembali dari luar.


Sekertaris Erik memandang datar kearah Devano yang kini tengah berjalan menghampiri Mereka berdua. Tatapan mereka saling bertemu, saling menusuk antar satu sama lain.


"Devan?" Nyonya Lili tersenyum, ia sedikit merentangkan kedua tangannya menyambut putranya yang sudah lama tak ia lihat itu, Devan pun semakin mendekati sang ibu, dan memeluk tubuhnya. "Mamih merindukanmu. Kenapa kau tidak pernah menerima panggilan telepon dari mamih?"


"Mamih tahu aku sibuk, kan?"


"Aku tahu, sayang. Mamih dengar kau memenangkan tender besar? Sungguh luar biasa."


Tatapan Devan masih tertuju pada pria di belakang ibunya itu. Ya... Sekertaris Erik yang hanya diam saja.


"Apa Mamih bangga pada, ku?"


"Tentu–"


Devan menarik separuh bibirnya.


"Sekarang aku bisa membuktikan, kan? Bahwa tidak hanya anak tiri mu yang bisa membuat keluarga Atala bangga."


"Kenapa bicara seperti itu?"


"Bukankah benar? Karena Mamih biasanya akan lebih memilih anak tiri mu itu untuk kau banggakan dari pada aku."


"Devan– jangan bahas itu lagi, Mamih minta maaf ya... Sebab mamih pernah mengecewakan, mu."


"Aku sudah melupakan itu– dan saat ini aku ingin membuktikan pada mamih, bahwa aku sudah siap. Menduduki kursi komisaris."


Nyonya Lili terdiam sejenak.


"Mamih diam?"


"Mamih tersenyum kok."

__ADS_1


Devan pun langsung melepaskan pelukannya. Ia mendapati tatapan tak biasa dari ibunya.


"Inikah yang di katakan tersenyum?" Tanya Devan, yang langsung saja membuat nyonya Liliana tersenyum, ia menepuk-nepuk kedua pundak sang anak.


"Marilah masuk. Kau bilang tadi lelah, kan? Kau juga bilang ingin mandi air hangat." Sekertaris Erik memegang pundak sang istri.


"Devan, kita makan malam bersama ya. Mamih bebersih dulu." Nyonya Lili menepuk-nepuk pelan pipi Devano, lalu masuk bersama Sekertaris Erik ke dalam.


Tangan Devano terkepal erat, memandangi tatapan Sekertaris itu, sebelum memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan.


akan kupastikan kebusukanmu itu terbongkar!!


–––


Makan malam di rumah keluarga Atala.


Para pelayan sibuk menyiapkan hidangan mewah yang sudah di pesan anggota keluarga itu sebelumnya, kepada sang kepala Koki.


Di antaranya ada Broiled Lobster Tails with Garlic and Chili Butter, sebuah hidangan baby lobster tanpa kepala yang di belah separuh lalu di panggang dan diolesi dengan minyak bawang serta olesan cabai yang dicampurkan dengan kulit jeruk.


chicken steak saus enoki. Yang terbuat dari dada ayam fillet yang di beri tepung krispi, serta penyiraman saus yang terbuat dari berbagai macam saus dan juga potongan jamur Enoki.


Beef steak, tumis baby buncis serta beberapa hidangan mewah lainnya telah tersaji rapi di atas meja.


Posisi duduk Devan saat ini tengah berhadapan dengan Zaeni. Sementara Delia duduk di sebelah Devan.


Gadis itu nampak bersemangat. Karena malam ini, meja makan di isi dengan keluarganya yang lengkap. Hal yang amat jarang ia rasakan, lebih-lebih kesibukan ibu dan ayahnya.


"Ini untuk mu." Zaeni meletakkan satu baby lobster.


"Hei– kak Zaen mau aku gemuk ya?"


"Kau akan lebih terlihat sehat jika berisi."


"Tidak mau."


"Ya sudah kalau begitu ku ambil lagi."


"Jangan–" rengek Delia manja, dimana Zaen langsung terkekeh. Ia pun menoleh kearah Devan yang hanya diam saja menyantap hidangan makan malam itu tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan apalagi bersuara.

__ADS_1


"Dev– kemarin aku bertemu dengan seorang selebgram bernama Gamalia. Dia menitipkan salam untuk mu. Katanya Kau dan Dia saling kenal?" Ucap Zaeni hati-hati pada pria yang sama sekali tak merespon di hadapannya.


"Gamalia? Wah– dia kan wanita berkelas, dari JK group. Yang memiliki brand skincare ternama. Kok bisa Kau dikirimi salam, jangan-jangan kalian ada apa-apa ini?" Delia menggoda, sembari terkekeh namun hal itu sama sekali tak membuat Devan bergeming.


"Oh ya? Kau dengan pewaris tunggal JK group itu saling kenal?" Tanya Nyonya Liliana nampak sumringah.


Devan mengangkat kepalanya. "Aku tidak kenal Dia, dan tidak akan mau kenal wanita yang kecantikannya hasil operasi plastik."


"Masa sih?" Tanya Delia. "Setahu ku, Dia hanya melakukan operasi kelopak mata. Itu saja. Menurut ku tidak masalah."


"Benar– pantas saja, istri komisaris di JK menanyakan apakah putra ku sudah memiliki pasangan? Mamih jawab saja–"


"Sudah...!" Potong Devan.


"Eh?" Delia menoleh cepat.


"Aku sudah punya pasangan, pasangan pilihan ku sendiri." Pria itu meraih celemek di pangkuannya, membersihkan bibir dan tangannya setelah itu beranjak. "Aku sudah selesai." Devan membungkuk pada sang ibu lalu berjalan meninggalkan ruangan makan itu.


Nyonya Lili menghela nafas, ia memahami sikap anak keduanya itu.


"Kak Devan punya pasangan? Woaaah... Pasti wanita itu sempurna sekali, sampai Gamalia saja dia tolak." Delia senyum-senyum, merasa sedikit penasaran.


"Lanjutkan makan, Mu Delia." Titah Sekertaris Erik. Delia pun langsung mengiyakan, dan suasana makan kembali hening.


💮


💮


💮


Kembali ke pagi hari...


Di ruangan kantornya Devan yang tengah mengetik sesuatu Sesekali curi-curi pandang, gadis itu sudah tidak sesedih sebelum-sebelumnya. Mungkinkah masalahnya sudah selesai?


Ya mudah-mudahan saja begitu, jadi Dia bisa memulai lagi aksinya untuk mengerjai gadis itu. Devan senyum-senyum sendiri di belakang.


Drrrrttt.... Drrrrttt...


Sebuah pesan chat masuk. Segera Devan membuka lanta membacanya.

__ADS_1


(malam ini, Mami mengundang Keluarga dari perusahaan JK. kau mau datang untuk makan malam kan?) —sebuah pesan chat dari ibunya.


Devan meletakkan ponselnya asal, tanpa membalas. Lalu kembali fokus pada pekerjaannya. karena baginya, bekerja, bekerja, dan bekerja, sampai ia bisa memberikan bukti pada para kolega dan mereka bisa membantu promosinya untuk mengambil alih Diamond's corporation.


__ADS_2