I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
kenangan masa lalu


__ADS_3

Setelah cukup puas, menghabiskan waktu yang tersisa di rumah keluarga Kunia, Devan pun pulang.


Ia tersenyum tipis sembari memandangi jalan yang masih nampak ramai. Mengingat banyak hal menyenangkan yang bisa dikerjakan di rumah sederhana itu.


Ya, perasaannya menjadi jauh lebih baik ketika masuk dalam kehangatan keluarga pak Gayus. Itu yang ia pikirkan, setelah mengenal gadis yang awalnya di anggap buruk baginya, dan berniat untuk menjadikannya ladang hiburan selama di kantor.


tapi kemudian, pemikiran konyol itu berubah. Mungkin karena ini pertama kalinya, bisa merasakan kehidupan normalnya sebuah keluarga, yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.


Karena sejak kecil ia hanya mengenal satu aturan dalam hidup. Untuk menjadi anak laki-laki baik, serta menuruti semua yang sudah digariskan oleh keluarga Atala. Dan hal itu selalu membuatnya merasa jenuh, Ibu yang amat perhatian menjadikannya dewi satu-satunya di rumah itu. Walaupun tak jarang ia akan cuek manakala hanya berdua. Namun ketika Devan merengek-rengek wanita yang di sebut Mamih itu akan tersenyum hangat lalu menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di tafsirkan oleh pikiran Devano kecil, karena yang ia tahu? Itulah gambaran kasih sayang seorang ibu. Memberikan kecupan hangat, lalu meminta pengasuh untuk membawanya keluar dari ruangan tempatnya duduk.


"Ah... Kenapa pikiran ku jadi kembali ke-masa lalu? Tapi jika di ingat-ingat, Mamih tak pernah mengatakan ia mencintaiku." Devan menggaruk keningnya yang sedikit berkerut.


Karena selama ini, hanya ada senyum dan senyuman. Ia bahkan tak pernah sekalipun marah padanya, sekeras apapun Dia menentang keinginan wanita itu agar tidak menikah dengan Sekertaris Erik. Yang ia ingat hanya tatapan sedih lalu ucapannya yang lembut.


Maafkan ibu, Devan. Ibu butuh pendamping yang mampu membantu ibu mengelola semua bisnis serta perusahaan-perusahaan peninggalan Papih.


Ucapan itu keluar, tanpa ada setitik pun air mata yang menetes. Bahkan ketika ia mengancam, akan meninggalkan rumah. Sang ibu hanya diam saja, tidak ada reaksi untuk mengejarnya yang keluar dari ruangan kerja di rumah utama.


Devan remaja yang menghentikan langkahnya itu kembali menoleh lalu melihat adegan tak pantas ibunya yang sedang berpelukan dengan Sekertaris Erik. Geram tangan itu kembali terkepal.


"Apa sebenarnya Dia itu tidak peduli pada ku? Apakah memang seorang ibu yang sibuk selalu seperti itu?" Ia pun menggeleng, sekeras apapun Bu Sukaesih pada putrinya, ia tetap memberikan daging yang besar untuk Kuni, walaupun sudah berada di atas nasinya. lalu ketika Gentar menjahilinya, Bu Sukaesih pun masih membela putrinya sendiri, dengan memberikan Gentar hukuman berupa sebuah jeweran.


Devan kembali mengingat kejadian masa remaja, ketika Zaeni tidak sengaja menabrak mati kucing kesayangannya di pelataran rumah dengan mobil yang ia kendarai.


# Flashback is on...


Seorang anak remaja seketika melebarkan matanya, tangannya yang sedang menggenggam bungkusan berisi makanan untuk kucingnya itu terjatuh.


Manakala melihat si putih yang berjenis persia terkapar, dan terlindas ban depan mobil milik saudara tirinya.

__ADS_1


Braaaak...


Zaeni menutup pintu mobil itu kembali setelah keluar. ia pun langsung berlari kedepan, melongok yang berada di bawah ban-nya.


"Astaga..." Zaeni nampak pias, tatkala mendapati kucing kesayangan Devan mati terlindas ban mobil yang ia kendarai.


"Kau–" bibir Devan bergetar, air matanya pula menetes. Dengan nanar, penuh amarah ia masih membekuk menatap bangkai kucing, yang menjadi hadiah terakhir ulang tahunnya sebelum sang ayah meninggal dunia.


"Dev?"


"Kau membunuhnya?"


"Demi Tuhan. Aku tidak sengaja."


"KAU MEMBUNUHNYA...!!!" Devan yang berlari dan langsung menghajar pria itu secara membabi-buta. Lalu mencengkeram pakaian di bagian kerah milik Zaeni. Pria itu sudah berdarah-darah di bagian, hidung dan bibirnya. Karena Zaeni hanya diam saja tidak ada niatan menghindari pukulan Devan apalagi membalasnya.


"Maafkan aku, sungguh maafkan aku. Aku janji akan menggantinya dengan yang baru."


Setelah sekertaris Erik membuka pintu untuk LilIliana, wanita itu langsung keluar dan terdiam menatap kearah mereka berdua, tanpa ekspresi.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya kemudian.


"Dia membunuh, kucing pemberian Papih. Aku tidak bisa terima ini, ku mohon padamu Mih? Usir sikeparat ini. Usir dari rumah kita!!!" Hentak Devan, yang masih berderai air mata.


Nyonya Liliana pun mendekati mereka. Melihat kondisi Zaeni sejenak, dan ia pun mengulurkan tangannya pada pria yang masih terkulai di bawah mengajaknya untuk bangun.


"Dev, Mamih tahu kau sedih karena ini. Tapi tidak seharusnya kau menghajar saudara tirimu sampai seperti ini." tuturnya lembut, seperti biasa.


"Mamih membelanya?" Tanya Devan tak percaya. Karena dari ucapan itu, sudah menggambarkan jika sang ibu memberikan pembelaan pada pria yang kini sudah berdiri sembari memegangi perutnya yang sakit.

__ADS_1


Liliana pun hanya diam saja, ia menoleh kearah pelayan yang sudah berlari menghampiri lantas memapah Zaeni masuk. Setelah itu menoleh kearah Devan lagi.


"Dev– Mamih sudah memikirkan semua." Tatapannya berubah sendu. "Mungkin? Kau tidaklah betah disini. Karena adanya orang-orang baru. Jadi, setelah ini kau akan ikut seorang dokter khusus, dan tinggal bersama beliau untuk beberapa waktu."


"A–apa? Apa kata Mamih, tadi?"


Liliana semakin menampilkan tatapan sendu, penuh kesedihan di wajahnya.


"Maaf, dengan berat hati. Mungkin kau memang harus meninggalkan rumah utama. Demi bisa menyembuhkan luka hatimu. Ini demi kebaikan mu juga Devan."


Devan menggeleng, sembari melangkah mundur.


"Apakah kau akan membuang ku?"


"Tidak ... tidak seperti itu, sayang." Tangan Liliana sedikit terulur kepadanya.


"Tidak ... Kau ingin membuang ku. Dan mengganti dengan keluarga baru. Seperti engkau memecat semua pelayan, serta staf yang lain di rumah ini, lantas menggantinya dengan yang baru...!!"


"Kau salah paham, sayang. Mamih hanya tidak mau, kau menjadi anak laki-laki yang kasar seperti saat ini, Mamih sedih dengan perubahan sikapmu. Itulah kenapa Mamih merasa kalau kau butuh penanganan."


"Aku tidak mau...!!! Aku tidak mau...!!" Devan melenggang pergi, ia menyempatkan diri untuk menatap bengis si pria paruh baya yang masih berdiri di dekat mobil mereka.


"Dasar kau bedebah, tua yang licik!!" Umpat Devan pada sekertaris Erik, lalu melanjutkan langkahnya sembari menabrakkan bahu sebelum melewatinya.


## Flashback is off...


Devan menginjak pedal rem, karena lampu merah didepan.


Ia menghela nafas. Tidak seharusnya ia mengingat kejadian masa lalu. Sekilas terlintas sesuatu. Seorang wanita paruh baya, yang pernah mengasuhnya serta menampungnya di sebuah apartemen. Ya, seorang koki wanita khusus yang bekerja untuk neneknya.

__ADS_1


"Bu Asmia– sekarang beliau tinggal dimana ya?" Gumamnya, masih terus melamun. Sebelum akhirnya kembali tersadar karena klakson di mobil belakang berbunyi, menyadarkan dia bahwa lampu sudah kembali hijau.


__ADS_2