
Menjelang siang...
Pak Gayus baru saja pulang sehabis lari pagi di taman komplek. Beliau rehat dan duduk sejenak di teras rumah sembari melihat sang istri menyirami tanaman menggunakan selang.
Tak lama sebuah taksi online berhenti di depan rumah Reni. Bu Pujiastuti pun keluar dengan anggunnya, membawa beberapa kantong keresek berisi belanjaan. Sementara sang sopir membantu menurunkan yang lainnya, ada beberapa kaleng cat dan lain sebagainya.
"Turunin semua ya pak, jangan sampai ada yang ketinggalan, belanjaannya banyak soalnya." Titah Bu Puji, sembari sesekali melirik kearah Bu Sukaesih.
Sementara yang sedang menyiram tanaman sedikit memajukan bibir bagian bawahnya, mencibir sang janda yang sengaja berbicara keras saat tahu ada beliau di sana.
"Maaf ya Bu Kaesih? Saya agak membawa hawa panas disini. Habis belanjaannya banyak jadi agak lama menurunkannya." tutur Bu Puji.
"Nggak papa santai saja, saya kan pegang selang air. Gampang, kalau semburan hawa panasnya semakin menjadi tinggal di siram. Haha..." Bu Sukaesih tertawa singkat lalu menatap sinis lagi, karena ibu dari Reni itu kembali berceloteh. Dan dia malah semakin berjalan mendekati pagar rumah Kunia.
"Iya, mau bagaimana lagi? Namanya juga mau punya besan walikota, jadi mau renovasi sedikit rumah. Beli cat dan sebagainya. Biar pantas ya Bu..."
"Hahahaha... Saya sangat setuju dengan itu." Bu Sukaesih terkekeh.
Bangganya... yang mau punya besan walikota. Belum tahu saja siapa si Benalu itu, cih...! (Bu Sukaesih)
Sementara itu mata Bu Puji beralih pada pria tambun yang masih nampak gagah dengan posturnya yang tinggi, tengah mengipasi diri dengan handuk kecilnya.
"Eh... Siang Pak Gayus– habis olah raga ya?" sapa Bu Puji pada beliau.
"Si–siang juga Bu Puji." Pak Gayus melirik kearah sang istri yang sudah menatap sinis kearahnya saat mendapati sapaan dari ibunda Reni itu tertuju pada beliau.
"Kalau melihat pak Gayus habis olahraga itu, berasa ikut fresh deh jadinya."
"Ah... Hahaha..." Pak Gayus garuk-garuk kepala terkekeh konyol, saat mendapati Bu Sukaesih mengganti pegangannya menjadi gunting rumput. Terlebih tatapan tajam itu masih menusuk kearahnya. Seolah hawa pagi yang cerah itu berubah mencekam, akibat awan hitam dan kilatan petir yang menyambar dari tubuh Bu Sukaesih.
"Memang usia seperti kita harus sering-sering olahraga. Biar lebih bugar. Bukan begitu pak Gayus?"
"Emmm... Mung–mungkin. Hehehe."
"Ayah? Mandi sana, pasti gerah kan?" Titah Bu Sukaesih.
"I–iya." Pak Gayus hendak beranjak.
"Pak Gayus, bisa minta tolong benerin listrik di kamar mandi saya? Ada yang konslet sepertinya, soalnya lampunya mati."
"Emmm?"
"Suami saya itu bukan tukang listrik, Bu. Jadi untuk apa kau minta bantuan Dia?"
"Ya, sebagian besar laki-laki pasti bisa benerin listrik. Kemarin saja pak Gayus mau benerin listrik di rumah, Bu Uci."
__ADS_1
"Itu lain, ya–" Bu Sukaesih menoleh lagi kearah pak Gayus. "Masih di situ?"
"I–ini mau jalan. Ayah, lepas sepatu dulu sama kaos kaki." Setelah mengucapkan itu beliau bergegas melepaskan sepatunya dan berjalan masuk kedalam.
Sementara itu Bu Pujiastuti terkekeh. Membuat Bu Sukaesih menoleh lagi kearah wanita yang masih berdiri di luar pagar rumahnya.
"Ada yang lucu kah?"
"Tidak... Tidak... Hanya kasihan dengan pak Gayus. Kalau terus di galakin, beliau bisa terkekang, loh."
Bu Sukaesih mendesah sinis, ia pun meletakkan gunting rumputnya kembali meraih selang air.
"Aaah.... Bahagianya, kalau punya menantu pengusaha, besan pejabat. Bu Sukaesih tahu? Setelah ini Reni akan tinggal di apartemen. Pasti hidupnya akan di buat seperti Ratu." Oceh-oceh tanpa henti.
"Pfffttt...."
"Ada apa? Ada yang salah?"
"Tidak... Sepertinya, situ bahagia sekali ya. Mau punya mantu si pria benalu?"
"Maksudnya?"
"Eh... Tidak kok. Maaf-maaf... Kemarin saya habis nonton FTV azab tetangga zholim yang punya menantu pengeretan. Hahaha."
Seperti tak terima Bu Pujiastuti pun mengangkat sedikit dagunya sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Apa? Hahahaha... Bukan begitu Bu Puji. Justru saya turut bahagia saat si siapa namanya? Emmmm... Anwar, sama si Reni. Mereka cocok kok, satunya tampan satunya cantik. Hihihi." Bu Sukaesih cekikikan lagi.
"Sudah lah saya permisi dulu, masih banyak kerjaan soalnya. Tidak mau juga meladeni orang yang IRI dan Dengkiii..." Bu Puji melenggang pergi meninggalkan sisa tawa pada Bu Sukaesih.
"Silahkan... Huuussshh... Husssh... Dasar janda tua centil. Bersenang-senanglah dengan mantu pengeretan mu itu." Gumam Bu Sukaesih yang merasa puas karena telah menang adu argumen dengan ibunya Reni.
***
Hari H pernikahan Reni dan Anwar.
mobil Devano sudah tiba tepat pukul sepuluh pagi.
Mobil berjenis Lamborghini itu benar-benar menjadi pusat perhatian para warga yang melihatnya. Karena baru kali ini, mereka melihat mobil sport mahal yang hanya bisa di lihat di TV.
Kunia menjatuhkan dagunya saat melihat pria itu datang dengan penampilan semi formal. Benar-benar keren.
Di luar pagar Devan sudah mulai berjalan masuk dari pintu pagar. Seperti ada cahaya serta beberapa merpati yang berterbangan di belakang tubuh yang tinggi dan gagah itu.
Sama halnya dengan Bu Sukaesih, beliau yang tengah membawa secangkir kopi untuk suaminya mendadak terperangah melihat kesempurnaan dari diri pria yang sedang berjalan mendekati, mereka.
__ADS_1
"Apakah benar dia Manusia?"
"Ibu pikir?" jawab Kuni.
"Jelmaan malaikat, mungkin."
"Cih... Berlebihan." Kunia mencibir. Sementara sang ibu menyerahkan cangkir itu pada sang Suami.
"Lihat yah...? Yang seperti itu yang cocok untuk di jadikan menantu."
"Ibu, ini–" Kunia menyela.
Bu Sukaesih terkekeh, sementara ayah hanya geleng-geleng kepala. Beliau masih menunggu pria itu semakin mendekat.
"Selamat pagi, Ayah, ibu."
"Ooh... Manisnya. Selamat pagi juga Nak." Tutur Bu Sukaesih, lemah lembut. Kalian bisa membayangkan bagaimana sikap Kuni melihat sang ibu yang sok manis di depan pria yang sama-sama sok manis juga. Ingin rasanya ia memukul kepala pria tengil itu di depan ibunya.
"Saya datang untuk menjemput Kuni, karena hari ini kami akan ke gedung La Plaza."
"Apa?" Senyum Bu Sukaesih merekah. Ia menoleh cepat pada anak gadisnya. "Kau memang pintar Kuni. Membawa calon mu ke pernikahan mantan dan sahabat mu itu hahahaha..."
"Ibu, diamlah. Jangan bicara seperti itu."
"Mantan?" Tanya Devan.
"Iya, mantan yang tidak tahu diri. Yang di rebut pula oleh sahabat tidak tahu diri."
"Ibu, berhentilah bicara."
"Ooo..." Devan menangkap maksudnya.
"Hei– kenapa kau datang secepat ini? Sekarang masih jam sepuluh. Masih lama."
"Kita kan harus ke salon dan ke butik dulu."
"Tidak perlu... Aku sudah punya baju yang ku siapkan."
"Hei Kunia? Calon mu ini benar, kau harus berpenampilan lebih sempurna di hari pernikahan si benalu itu, jika perlu kau harus lebih cantik dari pada si mempelai wanita."
"Ibu tidak usah ikut campur deh." Kunia semakin merasa tidak enak hati.
"Ayo kita jalan sekarang?" Devan meraih lengan Kunia.
"Tunggu dulu, aku ganti baju sebentar."
__ADS_1
"Baiklah, ku tunggu," jawab Devan yang langsung di gandeng oleh Bu Sukaesih, di ajaknya agar duduk di kursi satunya di sebelah pak Gayus.