I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
awalan


__ADS_3

Pagi kembali menyapa...


Embun di luar sudah membasahi dedaunan. Memberi kesejukan di hari baru yang masih temaram ini.


Lampu-lampu di luar pula masih berpendar, menerangi taman-taman, juga seluruh bagian ruangan di rumah yang bak istana itu.


Kunia mengerjapkan mata. Ia tak pernah bangun sepagi ini, jika tanpa seruan alarm yang berdering selama beberapa kali dari ponselnya. Namun tidak untuk pagi ini, ia bisa terjaga tanpa ada suara bising yang biasa membangunkannya.


Padahal ia merasakan tidurnya amat nyaman, dan hangat. Belum lagi hembusan angin yang mengenai keningnya. Ya... itulah yang membuatnya terjaga.


Kunia membuka matanya lebih lebar, lalu menoleh dan sedikit terkejut dengan kedua tangan menutupi mulutnya.


Wanita itu beringsut. Mana kala Devan berada amat dekat di sisinya. Memeluknya erat.


perasaan, semalam kita pakai dua selimut? Jaraknya pun tak sedekat ini.


Kuni menyingkirkan sejenak tangan itu lalu mengintip, dan mendengus setelahnya.


Rupanya Dia membuang selimutnya, lalu masuk ke dalam selimutku. Pantas saja tempat ku jadi sempit, sementara di sisinya amatlah longgar.


Devan masih terlelap ia hanya menggerakkan sedikit tubuhnya, lalu kembali tenang.


Kuni merebahkan kepalanya lagi di atas bantal, menghadap Devano.


Ini hari pertamaku melihat wajahnya yang sedang tertidur di pagi hari. Aaaaa... sungguh, dia cute sekali. Seperti bukan Devano.


Tersenyum tipis. Cukup betah memandangi wajah itu. Hingga ia melihat kening sang suami berkerut.


Apakah Dia sedang bermimpi. Sesuatu yang menyedihkan?


Bibirnya merintis lirih, tapi tidak jelas. Tangan itu bahkan sampai meremas kain seprai kuat. Tatkala keningnya yang juga semakin berkerut. Membuat Kuni menyentuh tangan itu, yang reflek langsung di genggam olehnya.


"Dev– kau bermimpi apa?" Bisik Kunia, saat Devan kembali tenang. Kuni memandangi tangannya yang di genggam pria itu, lantas membiarkannya menunggu beberapa saat saja dulu baru ia lepaskan.


–––


Sudah lewat beberapa menit, wanita itu cukup jenuh di dalam kamar. Lantas memutuskan untuk keluar, melihat-lihat. Karena suaminya masih tidur, jadi biarkan saja.


Aku tidak percaya. Bisa bangun pagi dengan tubuh sesegar ini. Padahal kemarin habis lelah. Menjalani serangkaian acara pernikahan.


Biasanya aku akan menghabiskan waktu sampai siang untuk menemani ranjang tidur ku. Walaupun ibu berkoar tanpa henti.


Gadis itu masih melangkah pelan, menyusuri lantai marmer hingga sampai ke ujung Void bangunan tersebut. Memandangi yang di bawah. Nampak beberapa pelayan yang bekerja tanpa ada yang mengobrol di sana. Semua patuh mengikuti instruksi sang kepala pelayan.


Padahal langit baru saja terang. Namun Rumah ini sudah sangat sibuk.


Dan apakah para pelayan memang bekerja dua puluh empat jam, ya? Atau mungkin aku harus mencoba keluar tengah malam, demi memastikan apakah mereka masih nampak sibuk di rumah ini?


Kunia terkekeh. Namun kembali matanya mengelilingi sekitar rumah.


Rumah ini terdiri dari empat lantai, satu lantai bawah tanah, dengan beberapa ruangan yang cukup luas. Sementara kamar Devan berada di lantai dua, juga beberapa kamar yang lainnya.

__ADS_1


Hunian yang dibuat dengan spesifikasi bangunan terbaik, berada di lingkungan yang elite, serta diisi dengan perabotan yang mewah. Membuat Kunia berfikir, entah ia harus memeras keringat sampai berapa puluh tahun untuk membangun rumah besar seperti ini? Yang pastinya tanpa makan, tanpa jajan, tanpa belanja selama proses menabung itu.


Beberapa pelayan melewatinya, mereka menyapa Kunia dengan sopan lalu kembali berlalu setelah Kunia menjawabnya.


Berapa ya, keluarga ini membayar gaji mereka? Karyawan di sini patuh semua seperti bukan manusia. Apa mereka melakukan pelatihan khusus juga, seperti ujian masuk militer?


Kunia ingin menertawakan, namun segera ia tutup mulutnya. Saat mendengar pintu kamar lain seperti terbuka.


Seorang pria dengan busana rapih sudah keluar.


Oh... Mas Zaeni. Tinggal di sini juga?


Pria itu berjalan menghampiri sembari menebar senyum.


"Selamat pagi–"


"Pa– pagi mas. Eh... maksudku? Dokter."


Zaeni terkekeh. "Panggil saja dengan Mas tidak masalah. Di buat santai saja, kita sudah keluaga kok. Selamat ya sekali lagi." Mengulurkan tangannya. Kunia tersenyum, ia lantas menjabat tangan pria itu.


"Terimakasih," jawabnya senang. Belum juga tangan itu terlepas, Dev sudah membuka pintu kamarnya sendiri. Dan apa yang ia lihat membuatnya tidak suka.


"Apa yang kau lakukan, lepaskan tangan itu!"


Kuni segera melepaskannya. Namun di tahan Zaeni.


"Kenapa melarangnya? Kita hanya berjabat tangan, tanda ucapan selamat. Tidak salah kan?"


Devan tak menjawab selain tatapan yang benar-benar tajam. Pria yang masih memakai piyama tidur itu melangkah mendekati. Lalu melepaskan paksa tangan sang istri, menariknya kemudian.


"Aku tahu, tapi apa salahnya. Menyapa dan mengucapkan selamat untuk adik ipar?"


"Dia bukan adik ipar mu. Kau pun bukan kakak ku. Jadi tidak perlu sok akrab dengan kami. Urus saja hidupmu sendiri–"


"Dev–" Kunia mencoba melerai. Karena dari tatapan bengis Devan, menggambarkan kalau pria itu amat tidak menyukai dokter di hadapannya.


Sementara Zaeni hanya tersenyum, ia pun mengangguk sopan pada Kuni. Lalu melenggang pergi setelahnya.


"Jangan lagi berinteraksi dengannya. Aku tidak suka!"


"Apa salahnya, aku hanya mengobrol sedikit."


"Ku bilang aku tidak suka!!" Gusar, pria itu lantas menghela nafas ketika melihat Kuni sedikit tersentak. "Masuk kamar, sekarang!" Sambungnya sembari melangkah lebih dulu.


Meninggalkan wanita itu dengan kebingungannya. Sehingga tidak ada pilihan lain selain menurutinya, berjalan di belakang.


***


perasaan yang masih sedikit menyimpan kekesalan itu terpaksa harus di redamnya.


Ia sendiri pun bingung, kenapa harus mengalami turunnya suasana hati hanya karena melihat wanita itu mengobrol dengan Zaeni.

__ADS_1


sudah pasti aku kesal. Seperti kesal ku, ketika teman yang masih mau berhubungan baik dengan musuhku.


Devan menggigit roti lapisnya, sementara tatapannya terus terarah pada Kunia. sementara yang di tatap biasa saja, sibuk menikmati makanan lezat yang belum pernah ia makan sekali pun seumur hidupnya.


cih! enak sekali Dia bisa makan dengan tenang tanpa rasa bersalah. –gerutunya dalam hati, yang menginginkan Kunia meminta maaf sesuai dengan apa yang ia inginkan. ya... benar-benar bocah yang belum bisa dewasa.


selang beberapa menit, Delia masuk ke ruang makan. ia menggunakan sweater berlogo Channel. membuat Kunia nampak takjub dengan penampilan berkelasnya itu.


sungguh Dia amatlah manis, dan cantik. aku saja yang seorang wanita takjub melihat kecantikannya. (Kunia)


"menyingkir kau, itu kan kursi ku." sergah gadis remaja tersebut, secara kasar.


Ckckck tak jadi ku puji, kau cantik. Tabiat mu sungguh tak secantik penampilan mu. –kunia menarik kembali senyumnya, juga memilih untuk diam saja di kursi itu.


"apa kau tuli? ku bilang menyingkir!!" sergahnya lagi. Namun Kunia tetap tidak beranjak dari tempatnya duduk. "hei...!"


"Delia! kursi banyak kan, duduklah di kursi yang lain." Devan hanya menegur sedikit tanpa melirik ke arahnya.


"hisssshhh..." gadis itu berjalan memutar, dan duduk di hadapan Kunia. tentu saja Kuni tidak peduli dengan sikap jeleknya itu. karena ia sudah paham, Delia memang sejak awal tidak menyukainya jadi biarkan saja lah.


kembali suasana meja menjadi hening. mereka fokus menyantap sarapan pagi masing-masing. Walaupun meja tersebut hanya di isi tiga orang saja. Karena banyak anggota rumah yang absen hari itu. Tak mengurangi kehangatan di sana. itu bagi Kunia, entah bagi gadis di hadapannya.


Sejenak Kuni kembali menyadari, jika ada sepasang mata cantik yang menjurus kearahnya. Pastinya itu bukanlah tatapan kekaguman, apa lagi rasa ingin mengakrabi.


Ya... jelas sudah pasti sebuah tatapan tajam yang seolah siap untuk mengiris-iris dirinya.


"Adik ipar, yang cantik. Kau butuh sesuatu?" Tanya Kuni yang sudah tidak tahan dengan pandangan itu.


"Tidak usah bicara pada ku, kau pikir aku mau akrab dengan wanita miskin, dan udik seperti,mu!"


"Delia!" Seru Devan. Delia pun sedikit terperanjat mendengar suara bernada tinggi, dari kakaknya itu. Sebab sebelum ini dia tidak pernah sekalipun membentak. "Sekali lagi aku dengar kau menghinanya? Maka aku tidak akan tinggal Diam."


Ucap Devan membuat Delia semakin tidak menyukai wanita berambut pendek di hadapannya itu.


Sementara seulas senyum ramah masih terarah padanya. Tanpa berucap lagi, kakinya menghentak kesal lalu beranjak sembari mendorong kursi itu kasar ke belakang.


"Ayo jalan!!" Kasar, Delia menyuruh sang sopir untuk segera menyusul langkahnya.


Sungguh kau benar-benar, seorang adik yang tidak manis (Kuni)


Ia sempat menoleh ke arah Devano, namun pria itu sepertinya tak memperdulikan kekesalan adiknya tadi. terlihat dari cara dia memintanya untuk melanjutkan makannya.


.


.


.


## maaf teman-teman, aku updatenya lama.


mohon di maklumi ketika aku tidak update berarti aku sedang ada kesibukan. Dan memang kemarin acara setiap hari ada aja, yang nggak perlu saya kasih tahu.

__ADS_1


kadang juga ada kendala, buntu ide. jadi harus menjernihkan pikiran dulu sampai beberapa hari, kadang dua hari sih untuk menumbuhkan sambungan ceritanya.


belum lagi aku harus jeda satu hari lagi buat nambah bab. biar paling tidak dapat bab yang lebih banyak. jadi nggak mengecewakan kalian yang sudah menunggu lama, karena cuma baca dua bab😅😅 intinya nulis ku hanya sampingan, kalau luang aku pasti tulis lanjutannya, walaupun kadang mengecewakan karena terlalu lama. maaf ya sekali lagi teman-teman. 😘😘 dan terimakasih sudah menunggu dan memaklumi ❤️🙏


__ADS_2