
Tidak ada yang di temukan, semua nihil. Entah kemana lagi ia mencari jejak keberadaan Omah.
Seolah semuanya telah di hapus dengan sempurna oleh sekretaris Erik dan Mamihnya itu.
Devan membawa laju mobilnya sendiri. Menyusuri jalan, menuju kawasan tempat tinggal mertuanya.
Hatinya sudah tidak sabar bertemu Kunia. Setelah lelah memikirkan semua ini. Dia memutuskan untuk menginap di rumah mertuanya saja. Bisa jadi dengan cara menginap, ia mampu mengeluarkan segala penat hatinya. Karena rumah Kunia benar-benar surga yang sesungguhnya. Begitulah pikirnya.
Mobil Devan sudah berhenti di depan rumah Pak Gayus. Seperti biasa sambutan hangat dari sang ibu mertua membuat suasana hatinya sedikit cair.
"Anak laki-laki ku sudah pulang?" Langsung beliau meletakkan gembor air, mencuci tangannya. Setelah itu menyambut sang menantu.
"Selamat siang, Bu?" Sapa-nya, yang tanpa di suruh sudah meraih tangan sang ibu mertua. Menciumnya dengan takzim.
Duh... di awal aku tidak percaya Anak ini orang kaya. Habis sikapnya benar-benar tidak menampakkan kesombongannya.
Bu Sukaesih tersenyum senang.
"Kau pulang cepat, Nak?"
"Iya..." Tersenyum tipis, ia menoleh ke kiri dan kanan. "Kunia mana?"
"Istri mu sedang keluar, entahlah... Dia bilang hendak berkunjung ke rumah teman SMA. Tapi belum juga kembali."
"Keluar? Sudah dari jam berapa?"
"Hanya berselang beberapa menit setelah Dia sampai," jawab Bu Sukaesih. Yang mengira Devan sudah tahu.
Dasar Kunti...! Dia keluar tidak izin dari ku? Benar-benar...
"Duh, sudah menjelang sore... Ibu harus bersiap untuk pergi arisan. Oh, kamu mau ibu buatkan kopi?"
"Tidak usah, Bu. Nanti saja... Menunggu Kunia. Ibu bersiap saja jika hendak pergi."
"Ya sudah kalau begitu," tersenyum, kemudian masuk lebih dulu. Sementara Devan kini tengah mengeluarkan ponselnya. Mencoba untuk menghubungi sang istri. Ia menurunkan ponsel yang menempel di telinganya ketika tak mendapatkan jawaban. Lalu menekan tombol call lagi. "Ck...! Dia benar-benar tak mau menjawabnya. Lihat saja nanti."
***
Sebuah taksi berhenti di depan pintu pagar, tepat di belakang mobil sports milik Devan.
Aiiiih... Dia sudah tiba, lebih dulu. Bagaimana ini?
Kunia sedikit panik, sembari mengusap lengannya yang masih terasa sakit.
"Sudah sampai, mbak." Sang supir taksi menoleh ke belakang.
"I– iya pak," mengeluarkan uang lalu menyerahkannya pada sopir taksi tersebut.
Di depan pagar...
Kunia melihat rumah itu sepi, namun mobil Devan di depan.
Apa ibu tidak di rumah?
__ADS_1
Ragu-ragu, ia mulai membuka kunci pagar itu dan masuk.
Langkahnya amat pelan, hingga sampai ke pintu.
Bukan aku takut Dia marah-marah. Karena Devan sepertinya bukan tipe pria yang suka marah-marah. Tapi ngambeknya itu kadang membuat ku frustasi.
Sudah paham sekali Dia dengan sikap Devan jika tengah merajuk. Setengah mati ia harus membujuknya agar tidak memasang muka masam.
Kunia sudah masuk, berjalan pelan dari ruang tamu hingga ruang tengah.
Lalu mengendus aroma sedap dari dalam dapur.
Ibu sedang masak, ya?
Ia berjalan lebih dulu ke dapur, belum mau menaiki anak tangga menghampiri sang suami yang di duga tengah di dalam kamarnya. Semoga saja, suami manisku sedang tidur. Begitulah pikirnya.
Dan di dapur itu, rupanya bukan tubuh langsing sang ibu yang ia lihat. Melainkan Devan.
rupanya suamiku yang sedang masak. Astaga... Apa tidak ada makanan di rumah?
Devan yang merasakan ada seseorang tengah berdiri di dekat pintu, menoleh sejenak lalu kembali fokus pada olahannya.
"Puas kan, kau? Dapat pergi hari ini?" Dingin, kata-kata itu keluar dari mulut Devan. Tangan kirinya terulur, meranggai piring di dekatnya.
"Maaf... Aku sudah pergi tanpa izin." Kunia masih berdiri di dekat meja makan.
Devan kini sudah selesai, membuat nasi omelette ala jepang. Lalu meletakkan sepiring makanan itu di atas meja.
Sembari membubuhkan saus tomat, ia mengangkat manik hitam itu dengan sinis ke arah Kuni, lalu buang muka saat sang istri tersenyum manis padanya. kembali ke meja wastafel.
Kuni mendekati, "hemmmm... Kenapa kau masak? Apa tidak ada makanan di rumah?"
Devan tak menjawab, ia hanya diam saja. Mencuci alat masaknya tadi.
Baiklah... aku harus bersabar untuk merayunya. Dia memang seperti itu. Agak sedikit alot saat di bujuk.
Kunia memeluknya dari belakang, membuat Devan menoleh.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu itu– jangan sentuh aku."
"Tidak mau... Kau kan suamiku. Jadi aku bebas melakukan apapun." Kunia menyandarkan kepalanya. Memeluk semakin erat. Seringai dingin tersungging di bibir Devan.
"Kau bilang apa, suamimu? Memangnya kau masih menganggapku suami? Setelah seenaknya pergi tanpa izin?" Menggerakkan tubuhnya kasar, agar Kunia melepaskan pelukannya.
Kuni tak peduli, ia malah kini menciumi punggung lebar itu. "Maafkan aku... Maafkan istrimu ini ya."
"Tidak akan ku maafkan, jadi lepaskan aku sekarang. Dan pergilah lagi saja, saja–" Devan mencuci tangannya hingga bersih, setelah itu mengeringkannya dengan lap bersih.
"Sungguh aku minta maaf, aku tidak akan lagi-lagi. Aku janji..."
"Tidak perlu janji, karena aku tahu kau akan mengingkarinya." Devan memegangi kedua pergelangan tangan Kuni, yang masih melingkar erat di pinggangnya. Mencoba untuk melepaskan tangan itu. Namun semakin kuat Kunia memeluknya. "Ku bilang lepas! Menyingkir sana–"
"Tidak mau... Tidak akan!!! Aku akan seperti ini terus." Keukeuh.
__ADS_1
"Terserah kau lah–" Devan membawa tubuhnya, menuju meja makan walaupun agak kesulitan. Sebab sang istri yang masih memeluknya erat.
Itu pula yang membuatnya tidak bisa duduk, dan memilih tetap berdiri.
Kuni memiringkan kepalanya, sedikit mendongak. Menatap wajah Devan yang dingin itu mulai mengambil sendok makanya.
"Sepertinya enak? Kau hanya masak satu porsi saja, untukku mana?"
Devan tak menjawab, selain memotong telur omelette yang lembut dan masih nampak lumer di bagian dalamnya.
"Menggoda sekali, porsinya juga banyak. Aku boleh minta, 'kan?"
Devan menoleh dingin, lalu memasukkan suapan itu ke dalam mulutnya sendiri. Masih tak mengeluarkan suaranya.
"Aku mau– mau makan, aaaa...." Membuka mulutnya.
Namun Devan masih tak menjawab, selain mengunyah makanannya.
"Iiiisshhh... Aku... Aku mau. Masakanmu enak soalnya."
Kembali, Devan sama sekali tak menjawab. Ia membiarkan mulut Kunia terbuka, meminta satu suapan sembari memejamkan matanya.
Devan tersenyum tipis, ia kembali memasukkan satu suapan itu kedalam mulutnya sendiri.
"Iiiih... Aku mau. Kau ini pelit sekali sih."
Menelan makanan yang sudah ia kunyah itu. "Aku masak untukku, bukan untuk mu."
"Ya tapikan aku juga mau..."
Devan mengangkat satu suapan lagi, lalu memasukkan kedalam mulutnya sendiri.
"Kau ini keterlaluan, ya...!"
"Kau juga keterlaluan, pergi tidak bilang-bilang."
"Aku sudah minta maaf kan."
Tak mendengarkan. Ia meraih satu sendok nasi goreng dengan omelette lagi. Namun kali ini Kunia melepaskan pelukannya, lalu meraih tangan kekar Devan. Memasukan satu suapan itu ke mulutnya.
"Hei–"
"Eeeemmmmm... Enyaaaaaakkk." Berbicara dengan mulut penuh.
Sumpah... aku suka sekali, masakan Devano benar-benar enak. Tak salah jika Dia bilang pernah tinggal bersama Bu Asmia...
Devan geleng-geleng kepala, lalu menjauhkan piring itu di saat Kunia hendak mengambilnya lagi.
"Aku masih mau makan." Kunia tak mau kalah, ia berusaha untuk meraih piring Devan yang malah justru semakin di jauhkan.
Setelah itu meraih tubuh Kuni, memanggulnya di pundak. Sontak Kunia menjatuhkan sendok yang tengah ia pegang akibat terkejut. Lantas menjerit.
"Devaaaaaan!!! Apa yang kau lakukan?" Memukul-mukul bahu sang suami.
__ADS_1
Devan tak peduli jeritan Kunia. Dia hanya membawanya keluar, menaiki anak tangga lalu masuk ke dalam kamar sang istri, yang sudah menjadi kamarnya juga.