
Di kantor...
Liliana memijat keningnya mendengarkan semua fakta yang di berikan oleh suaminya.
"Dan gadis itu bekerja di salah satu cabang kita, tempat Devano menjabat sebagai personalia," tukas sekertaris Erik kemudian. mengakhiri laporannya.
Wanita paruh baya itu lantas meremas kuat dengan ke-dua tangannya. foto-foto Kunia, rumah Kunia, Ibu dan ayah Kunia dan beberapa foto kedekatan Kuni serta Devan di kantor. lalu menjatuhkannya ke lantai.
"Mungkinkah Devan benar-benar menyukai gadis rendahan itu?"
"Apa harus, aku menyingkirkannya?"
"Tidak– jangan dulu, jangan gegabah. Aku masih cukup stress dengan ibu tua yang belum mau menandatangani surat pengalihan kepemilikan Diamond's, atau paling tidak stempel emasnya."
"maafkan aku istriku. yang belum bisa menemukan, dimana stempel emas milik Nyonya Briana."
"haaaah... apakah aku harus kembali mengalah?"
"Itu benar, karena kau memang harus melakukan pendekatan dengan Devan lebih daripada ini. Kekecewaannya setelah pernikahan kita, membuat dia semakin jauh denganmu."
Nyonya Lili menghembuskan nafasnya lagi, lalu menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi dengan pelan.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Mungkin jalan satu-satunya, membuat Dia merasa dirimu tidak berubah. Ikuti saja apa yang di inginkan anak itu."
Nyonya Lili mendesah, ia mengingat apa yang di katakan sang Notaris pribadi keluarga Atala.
bahwasanya hak waris utama jatuh pada Tuan Harison Atala. Namun apabila beliau meninggal sebelum Nyonya besar Briana Atala meninggal dunia? Maka hak waris tunggal hanya akan jatuh kepada Devano Atala.
akan tetapi entah mengapa, ada perubahan semenjak berpulangnya Tuan Harison yaitu apabila Devano sampai meninggal dunia, sebelum dirinya menikah dan memegang tahta tersebut, maka seluruh harta milik Keluarga Atala akan didonasikan kepada negara, tanpa terkecuali. Dan semuanya sudah tercatat rapi dengan tandatangan beliau serta stempel emas yang entah dimana wanita tua itu menyembunyikannya.
__ADS_1
"Keluar lah... Aku sedang ingin sendirian."
"Apakah kau mau aku membawakan mu sesuatu?"
"Tidak... Keluar saja." Nyonya Lili kembali memijat-mijat keningnya sendiri. Sekertaris Erik mengangguk lalu keluar dari ruangan itu serta menutup pintunya kembali. Meninggalkan sang istri yang tengah memikirkan sesuatu.
Awalnya Dia beranggapan semuanya akan mudah, apabila Devan menikah dengan putri dari keluarga JK itu. Namun rupanya, dia malah memilih gadis lain.
"Mungkin, aku harus pelan-pelan menghadapi persoalan yang bisa dibilang amat sepele. Dia hanya gadis rendahan. Ya, pasti akan mudah untuk mengikuti aturan ku. Dan jika Devan benar-benar mencintai gadis itu? bisa jadi kan? Dia mampu menjadi alat ku, membujuk Devan untuk menandatangani map merah, jadi aku tidak perlu susah payah memelihara wanita yang sudah bau tanah itu." Liliana sedikit mengembangkan senyum.
***
Di salah satu taman makam, milik keluarga Atala. Devan menghentikan laju mobilnya, membuat Kuni mengerutkan keningnya.
"Turunlah–" titah beliau, sembari membuka pintu mobil, keluar, lantas menutupnya lagi.
Gadis yang masih betah di dalam mobil itu hanya menoleh ke kiri dan ke kanan.
Tempat apa ini, sepi sekali? (Kunia)
"Keluar–" titahnya walaupun tak terdengar dari dalam mobil. Namun dari gumamannya ia paham bahwa Devan mengatakan itu. Kuni pun membuka pintu mobilnya, dimana Devan langsung mengambil langkah mundur sejenak.
"Ini tempat apa? Sepi sekali seperti kuburan."
"Memang iya?"
"Eh...? Masa? Tapi ko, seperti taman?"
"Ini pemakaman khusus Keluar Atala. Jadi hanya ada sepulu makam disini. Jika kau mau di makamkan disini juga, jadilah anggota keluargaku dulu."
"Hei– kau benar-benar menawarkan kematian ya untuk ku?"
__ADS_1
Devan tersenyum tipis, ia pun mulai melangkah pergi. Berjalan menyusuri paving stone yang tertata rapi. Dengan rumput Jepang serta beberapa bunga di sisi kanan dan kirinya. Area yang luasnya lebih dari tiga hektar ini terdiri dari satu rumah duka, yang dinding-dindingnya terbuat dari kaca yang kokoh.
Ada pula tempat beristirahat serta sepuluh blok makam yang telah di isi anggota keluar Atala yang sudah meninggal di bagian utama tanah yang terhampar luas itu.
Benar-benar area pemakaman yang tak seperti pada umumnya?
Kuni masih nampak mengagumi tempat tersebut. Walaupun di bilang tempat pemakaman, namun lebih seperti taman yang cantik dan indah serta luas. Karena sebelum masuk ke tanam makamnya ia di suguhkan suasana asri nan sejuk, semua sebab pepohonan dan juga tanaman-tanaman hias yang di bentuk indah juga tertata amat rapi.
Devan menoleh kearah belakang, gadis itu sudah lumayan tertinggal jauh.
"Hei– mbak Kunti, nanti saja kau bertegur sapa dengan sebaya mu di sini. Nanti kau kehilangan jejak ku."
Cih... Sebaya katanya? Dasar! –Kuni bersungut, karena ia tahu. Siapa yang di maksud Devan teman sebayanya.
Kini mereka telah sampai pada makam-makam yang jaraknya lumayan jauh antar satu sama lain. Pria itu lantas meletakkan satu karangan bunga di dekat nisan marmer yang bertuliskan Harison Atala.
Setelahnya langsung mengenakan kacamata hitam yang tergantung di bagian dadanya sedari tadi. Memandang tanpa ekspresi, dan terdiam cukup lama.
Ini makam siapa? Kakek, atau ayah dia? Tapi kalau ini Ayahnya, lantas siapa pria yang bersama ibunya malam itu? –kuni bertanya-tanya, sembari memandangi pria yang masih berdiri memandangi makam mewah yang tertutup marmer di atasnya.
"Beliau ayah ku." Tutur Devano. Membuat Kuni membulatkan bibirnya, namun ia tidak berani menjawab apapun. Karena sepertinya pria itu sedang sedih saat ini, terlihat sih dari ekspresi wajahnya. Walaupun kedua mata tertutup kacamata hitam.
Pria itu mengusap cincin yang berada di jari tengahnya. Dengan batu permata cukup besar, Awalnya Kunia menganggap dia seperti dukun yang memakai cincin besar saat kuliah dulu. Namun sepertinya cincin itu memiliki makna yang amat berarti. Karena hingga saat ini, pria itu masih memakainya.
Dia pun menoleh kearah Kunia. Membuat gadis itu sedikit terkejut, karena dia melakukannya secara tiba-tiba.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Mbak Kunti."
"A– apa?"
Devan terdiam sejenak, tengah memikirkan sesuatu. Karena kata-kata itu seperti tertahan di ujung lidahnya.
__ADS_1
"Ayo kita menikah," ucapnya Kemudian. Yang langsung membuat Kunia melebarkan bola matanya, membeku. Hingga angin pun bertiup. Menyibak rambut ke-duanya di tengah keheningan.
Bersambung...