I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
tamu tak terduga (2)


__ADS_3

Devano menarik sedikit dasinya lantas menutup laptopnya, menata sedikit berkas-berkas kedalam tas sebelum beranjak. Sama halnya dengan Kuni yang telah selesai dengan pekerjaan sorenya. Ia pun menepuk-nepuk tangannya lalu menghampiri sofa guna meraih tasnya.


"Aku sudah selesai, Tuan." Kuni memakai tasnya, lalu berjalan tanpa menunggu si bos menjawabnya.


"Baguslah– kita jalan sekarang."


"Eh? Ja–jalan? Jalan kemana?"


"Ada satu tempat yang ingin ku kunjungi." Devan meraih lengan Kunia.


"Maaf saya tidak bisa."


"Kenapa?"


"Ya ini sudah bukan jam kerja ku." jangan lagi kau memaksaku untuk lembur seenak jidat mu ya...!


"Aku sudah bilang kan? Setiap kali kau lembur itu akan mendapatkan tambahan gaji."


"Maaf saya tetap tidak bisa, Tuan. Semua sebab di rumah ada masalah urgent dan aku harus segera pulang."


"Masalah apa? Cepat katakan."


"Tidak perlu ku katakan, karena itu tidak penting bagi mu. Jadi sudah pergilah saja dengan Sekertaris Hilda." Kuni masih berusaha untuk melepaskan pegangan Devan di lengannya. Namun tangan itu amat kuat mencengkram membuatnya kesulitan. "Ku mohon Tuan, ibu ku sakit. Aku harus pulang."


"Sakit apa? Katakan dengan jelas."


Duh... Sakit apa, ya? (Kunia)


"Ambeien.... Ya itu. Ini saja beliau sudah telfon terus. Kami harus kerumah sakit. Jadi maaf– saya harus pergi." Kunia melepaskan tangan Devan yang sudah merenggang itu. "Selamat sore."


Secepatnya Kunia kabur dari tempat itu sebelum bos muda Devan bertanya lebih banyak lagi.


.


.


.


Kembali kerumah Kunia beberapa jam kemudian. Dimana gadis itu masih ketar-ketir, setengah tak menyangka. Dia tidak pernah sekalipun memberi tahu alamat pastinya. Tapi kenapa sudah ada Devan di luar?


Aku tidak salah lihat, kan? Yang diluar adalah Si sinting itu?


untuk apa dia kemari?


"siapa yang datang?" Ibu sudah berdiri di belakang Kuni dengan wajah yang sudah bersih. Membuat Kuni sedikit terperanjat.


"Anu– orang nyasar," jawabnya asal, hingga suara ketukan itu kembali terdengar. Kunia pun nyengir saat tatapan ibu terarah kepada.


"Dia masih di luar?"


"I–iya."


"Lalu kenapa di tutup." Bu Sukaesih mendorong pelan tubuh Kuni, lantas membuka pintunya. Seolah tersihir penampilan pria di hadapannya, Bu Sukaesih sedikit ternganga. "An–anda siapa?"


"Perkenalkan nama saya Devano."


"Devano?"


"Iya... saya rekan kerja Kunia Rahayu."


"Oo..." Bibir Bu Sukaesih membulat sembari melirik dari atas ke bawah. Walaupun terdapat cincin tindik di atas daun telinganya, namun jika dilihat dari busana yang di pakai pria ini, sepertinya dia bukanlah seorang berandalan.

__ADS_1


"Bolehkah saya masuk?"


"Si– silahkan." Bu Sukaesih membuka pintu lebih lebar lagi tanpa permisi hingga Kunia yang masih di belakang pintu sedikit terbentur di bagian keningnya, ia pun mengaduh. "Menyingkirlah kau jangan menghalangi pintu ini."


"Aku sudah dari tadi di sini. Ibu ini, sengaja sekali sih?" Kunia mengusap-usap keningnya yang sedikit terasa sakit karena benturan tadi.


"Aku harus manggil apa? Tuan atau Nak?"


"Apa saja."


"Nak saja bagaimana?"


Nak? —Kunia mendelik kearah sang ibu.


"Boleh, tidak masalah, saya suka panggilan itu." jawab Devan. Sementara Bu Sukaesih nampak sumringah.


A–apanya yang tidak masalah? Kenapa kau setuju dipanggil itu?


"Kalau begitu masuk dan duduk lah, ibu akan membuatkan mu minuman." Ucapan Bu Sukaesih membuat Kunia mendesah, konyol.


"Ibu? Apa tidak apa-apa aku memanggil anda dengan sebutan, ibu?"


"Tentu, agar lebih dekat saja."


"Baiklah, Ibu."


"Hahaha... Kau manis sekali. Tampan lagi."


"Ibu–" protes Kunia, yang tidak suka dengan sikap ibunya yang sok manis itu.


"Kuni, ajaklah calon yang mengaku teman mu ini duduk."


"Ibu ini bicara apa sih?"


"Untuk apa? Dia itu orang sibuk, pasti tidak akan lama." Kuni mencoba menahan sang ibu yang hendak ke dapur.


Bu Sukaesih menoleh. "Benarkah kau tidak akan lama, Nak?" Bu Sukaesih bertanya dengan logat lembut sangat keibuan.


Nadanya itu sangat tidak sesuai dengan karakter aslinya. Benar-benar ibuku ini jago akting.


"Saya tidak kemana-mana kok setelah ini, jadi Saya bisa membuang waktu saya cukup lama disini."


"Hei–" Kuni menoleh cepat, karena dia tidak ingin ada Devan di rumahnya yang sudah penuh dengan hal mencekam.


"Aaah... Senangnya. Kalau menunggu ayah dan kita makan malam bersama apakah bisa juga?"


"Ayah?"


"Iya, suamiku."


"Tidak masalah, aku akan menunggu."


cih...! Sebenarnya apa rencana mu. Kenapa tiba-tiba datang kemari, hah!! –kuni merinding ngeri, saat melihat lirikan mata Devan yang sembari tersenyum itu.


–––


Hingga beberapa saat kemudian, saat pria itu sudah duduk di Sofanya tanpa mengeluarkan suara apapun. Karena dirinya masih asik bermain dengan ponselnya.


Hingga Bu Sukaesih kembali keluar dengan minuman dan beberapa potong brownies. Kunia melirik piring itu.


Ku pikir browniesnya sudah habis, ternyata masih. Ibu memang sangat pintar menyembunyikan makanan, ya?

__ADS_1


"Silahkan di cicipi, Nak. Hanya ini yang ibu punya."


"Terimakasih atas perhatian ibu." Ucap Devan sopan.


Hahaha... Sepertinya predikat best aktris and aktor harusnya dinobatkan untuk mereka berdua. (Kunia.)


"saya dengar ibu sakit Ambeien, apa sudah di periksakan?" Tanya Devan. Kuni pun bergumam aduh tanpa suara.


"Apa, sejak kapan aku punya Ambeien?" Bu Sukaesih menoleh ke arah Kuni yang langsung memalingkan wajahnya sembari menggaruk keningnya.


sepertinya anak itu sudah memakai namaku untuk melakukan sebuah kebohongan. —tatapan Bu Sukaesih terbaca seperti itu.


"Lupakan tentang penyakit ibu. Saya kemari hanya untuk mengajak Kunia pergi."


Kuni menoleh cepat. "aku tidak bisa pergi, lagi pula ibu ku tidak akan mengizinkan ku pergi malam-malam. Bukan begitu Bu?"


"Itu benar nak... Karena setelah ini akan ada drama antara majikan dan sang pembantu. Jadi dia tidak bisa pergi." Menatap sinis ke arah Kuni, gadis itu pun menelan ludah.


"Oh..." Devan mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya, dengan santai. "Kemarin aku mendapatkan ini, tapi karena aku tidak suka belanja jadi ku berikan saja pada ibu." Meletakkannya di atas meja lalu mendorong kertas bertuliskan voucher belanja senilai lima ratus ribu, lebih mendekat kearah wanita berusia enam puluh tahunan itu. Mata Bu Sukaesih pun terarah pada voucher tersebut.


"I–ini sampai kapan masa berlakunya?"


"Pekan depan," jawab Devan.


"Oh... kalau begitu bawalah Dia pergi, selama dia pulang kerja hingga saat ini sudah membuat mataku sakit." Langsung saja ia menyambar voucher belanja itu dan beranjak pergi dari sana. Namun sejenak ia menoleh. "Tapi, Nak? Walau ibu mengizinkan dia tetap tidak boleh pulang lewat dari jam sebelas malam."


"Akan Dev usahakan, Bu. Terimakasih banyak."


"Okay." Bu Sukaesih kembali melenggang pergi. Sementara Kuni langsung ternganga tidak percaya, ternyata pertahanan ibunya hanya sebatas itu, padahal dia baru kenal Devan hari ini. Gadis itu pun menoleh sebal. Dimana Devan kini tengah menyunggingkan separuh bibirnya, ia pun menyandarkan bahunya di sandaran sofa.


"Rupanya kau hanya senilai voucher belanja lima ratus ribu, ya? Ckckckck."


"Tutup mulut mu...!"


"mungkinkah aku harus membawa voucher lagi untuk membawa mu pergi?"


"kau senang, hah?"


"sangat...!" jawab Devan yang semakin membuat Kunia mendengus, sebal.


"Sekarang katakan, apa tujuan mu datang kemari."


"Aku sudah bilang kan aku akan mengajak mu pergi."


"Pergi kemana? Kau itu selalu saja membuat ku khawatir. Apakah kau sedendam itu dengan ku? Sampai-sampai kau mengusik ketenanganku hingga ke rumah?" Kunia sudah geram.


"Aku hanya ingin refreshing. Jadi sekarang ayo kita cari tempat lain."


"Kenapa tidak bisa di sini? Sama saja saja kan?" Kuni masih bertahan, tidak mau beranjak. Sementara Devan hanya menghela nafas.


"ada hal yang ingin ku katakan juga." Ujar Devan Devan.


"Lebih baik kau katakan di sini. Aku takut jika tiba-tiba kau membawaku ku tempat yang mengerikan lalu meninggalkan ku di sana."


"Dasar otak mu itu ya." Devan mencondongkan tubuhnya, lalu memberikan sebuah jitakan di kening gadis itu.


"aaaaarrrhhh, kau memukul kepala ku?"


"agar otak mu lebih jernih sedikit saat berfikir."


"iiisssh..." gadis itu masih mengusap-usap kepalanya yang sedikit panas. setelahnya menoleh ke salah satu objek, melihat bayangan ibu masih berada di pintu ruang tengah. Membuatnya segera beranjak dan meraih tangan Devan.

__ADS_1


"Kau benar sebaiknya kita bicarakan ini di tempat lain." Kuni menarik Devan keluar dari rumahnya menuju tempat lain, sebenarnya ia juga penasaran apa yang ingin dia katakan sehingga bisa sampai ke rumah ini.


bersambung...


__ADS_2