I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
Kelamnya kehidupan Devano


__ADS_3

Di rumah lain...


Devan menghentikan mobilnya, di sebuah pelataran yang amat luas. Terdapat seorang kepala pelayan serta salah seorang pria yang membantu membukakan pintu mobil.


"Aku masih punya tangan, sudah ku bilang aku tidak mau di bantu!!" Braaakkk... Devan menutup pintu mobilnya. Sementara sang pelayan hanya menundukkan kepalanya. Pria itu lantas berjalan masuk sembari memegangi pipi yang masih panas terasa.


"Tuan muda. Saya amat senang melihat Anda datang ke rumah ini." Pria paruh baya bernama Fendy mendekati, namun segera ia menghentikan langkahnya saat tatapan tajam Devan mengarah padanya. "Anda baik-baik saja Tuan? Sepertinya terjadi sesuatu?"


"Tidak usah pedulikan saya...!" Devan menghentak, kemudian memalingkan wajahnya kembali melangkah masuk. memang Dia paling tidak suka di perhatikan oleh siapapun di rumah itu. Semenjak sang ayah meninggal dunia. Lebih-lebih saat sang ibu menikah lagi dengan Sekertaris Erik. Seolah tidak ada lagi yang bisa mengerti perasaannya, ia bahkan membenci semua yang ada di rumah itu, terutama sekertaris Erik yang baginya sudah berkhianat pada sang ayah.


Devan terus berjalan, dan mulai memasuki ruangan yang cukup luas. Dari sana ia mendengar suara tawa dari seorang laki-laki yang paling ia benci setelah Sekertaris Erik.


Seperti biasa, Devan hanya diam saja pura-pura tidak melihat saat melewati dua orang yang tengah berbincang di ruang tengah.


"Dev?" Panggil seorang pria yang bernama Zaeni, sang saudara tiri, saat melihat kedatangannya.


"Oh– Kak Devan?" Gadis berambut panjang itu menoleh saat mendengar nama Dev disebutkan.


Devano hanya diam saja, ia mengeluarkan sesuatu kotak kecil dari dalam sakunya. Lalu melemparkannya pada Delia.


"Woah– apa ini?" Sigap gadis itu menangkap dan buru-buru membuka kotak mungil di tangannya.


Ketika kemasan itu sedikit terbuka ia sudah tersenyum lebar, tatkala melihat logo yang ia kenal milik sang perancang berlian ternama dari Negara Rusia.


Kembali gadis itu menoleh kearah Devano yang sudah kembali melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga.


"Terimakasih kakakku sayang–" seru Delia pada pria yang sama sekali tak merespon.


Gadis itu sudah paham sikap dingin kakaknya yang satu itu, memang berbanding terbalik dengan Zaeni yang ada di sampingnya. Namun biarpun Devan amatlah dingin, dia tetap perhatian dengan cara mengingat semua momen spesialnya. Tak lupa pula membelikan apapun walaupun cara memberikannya tidak pernah semanis kakaknya yang satu, Dokter Zaeni.

__ADS_1


Zaeni hanya tersenyum, mengusap kepala adiknya itu. Yang nampak lebih menyukai pemberian Devano, padahal kado darinya sama sekali belum di buka, ia sudah fokus dengan kotak kecil yang isinya adalah kalung yang amat cantik.


–––


Di depan sebuah pintu kamar yang sudah lama tidak di pakai, Devan berdiri cukup lama.


Hari ini, bertepatan dengan tanggal lahirnya Delia yang berbeda satu tahun dari hari kepergian ayah Devano, belasan tahun yang lalu. Ia menyempatkan diri untuk datang kerumah utama.


Devan menatap sendu, tangannya sedikit gemetar untuk membukanya. Karena sudah cukup lama ia tidak pernah memasuki kamar, yang dulunya di pakai oleh mendiang Ayahnya bersama sang ibu. Devan menghela nafas sesak, ia menggeleng cepat lalu membuka dua daun pintu itu.


Krieeet...


Dia masih terdiam, saat pintu sudah terbuka lebar. Ruangan yang gelap, namun tetap terawat, menariknya untuk masuk.


Ia berjalan beberapa langkah, lalu meraih remote control di dekat pintu menekan satu tombol. Dimana semua lampu di ruangan itu langsung menyala satu persatu.


Langkahnya berjalan lunglai, menyusuri ruangan yang amat luas. Hingga sampai pada sebuah ranjang yang besar, namun tetap tertata, Ia pun duduk di sana.


Atas permintaan Sekertaris Erik, pigura itu di turunkan. Dan entah di simpan dimana?


Sampai sekarang Devano tidak pernah menemukannya lagi. Hanya tersisa satu foto berukuran sedang, berisi potret sang ayah yang gagah dengan jasnya. Foto tersebut pernah ia pasang dulu sebagai penggantinya.


Sekilas pikirannya berkelana. Ke masa lalu.


##Flashback is on...


Hari dimana Tuan Harison Atala meninggal dunia, karena sebuah kecelakaan tunggal. Dimana mobil yang di kemudikan beliau masuk ke dalam jurang sedalam sepuluh meter di daerah Bogor.


Sampai sekarangpun Devan masih bertanya-tanya. Pasalnya sang ayah tidak pernah mengemudi sendiri tanpa sopir, namun malam itu ia mendengar kabar sang ayah yang sudah masuk ruang jenazah karena tewas di tempat.

__ADS_1


Di situlah kali pertama Devan remaja menangis di dalam kamarnya. karena meratapi kepergian sang ayah yang baru saja di kebumikan pagi tadi, dan di tengah-tengah kesedihannya, ia terjaga. Niat hati ia hanya ingin berjalan keluar, mencari pelayan untuk meminta air minum. Karena air di kamarnya habis.


Di luar tengah hujan deras serta petir yang menyambar. Memancarkan kilatan cahaya dari dinding kaca yang tertutup gorden besar di sekitar lantai tiga itu.


Tidak tau-tau, lorong itu amat gelap. Sekilas Devan melihat bayangan seorang pria dan wanita berada di dalam kamar orang tuanya.


"Papih?" Suara serak itu terdengar lirih, Devan terseyum, pikiran polosnya masih berharap bawa bayangan pria itu adalah ayahnya yang kembali hidup. Ia pun bergegas menuju kamar orang tuanya dan mengintip sedikit.


Saat itu juga mata Devan membulat, ia melihat Ibunya tengah berciuman dengan sekertaris ayahnya. Devan langsung memalingkan tubuhnya dan berdiri di balik pintu. Dengan satu tangan menutup mulut sementara satu tangannya lagi terkepal.


"Aku sudah melakukannya, sekarang saatnya kau memenuhi janji mu, menikahlah dengan ku." tuturnya. Sesaat setelah ciuman itu di lepasnya.


"Tentu sayang, kita akan segera menikah," ucapnya. Membuat Devan menoleh lagi.


Nampak sebuah senyum tersungging di bibir keduanya, mereka pun kembali berciuman bahkan sekertaris Erik kini merebahkan tubuh Nyonya Liliana ke atas ranjang, mulai bercumbu dengan sangat panas.


Devan kembali memalingkan wajahnya, entah apa yang akan di lakukan mereka berdua di kamar itu, ia tidak peduli.


Yang pasti Dia langsung menjauh dari kamar orang tuanya. Pikirannya masih bertanya-tanya, bagaimana bisa ibu dan sekertaris ayahnya itu berada dalam ruangan yang sama, dan berlaku mesra di malam pertama sang ayah baru saja di makamkan.


Benar saja tak membutuhkan waktu lama, hanya selang beberapa hari dari kematian Tuan Harison. Kini ibunya sudah menikahi duda beranak satu yang tak lain adalah sekertaris Erik, Ia bahkan sudah tinggal di rumah utama, dengan satu orang anak laki-laki bernama Zaeni, yang pada saat itu sudah masuk bangku kuliah.


## Flashback is off.


Kedua tangan Devan meremas kencang kain seprai yang membalut ranjang itu.


Sepertinya aku benar-benar harus mengikuti alurnya. Aku akan memegang kendali Diamond's corporation, lalu mencari tahu... Dalang di balik kematian Papih.


Geram, ia benar-benar selalu mengingat tatapan Sekertaris Erik yang tanpa ekspresi. Memandang peti jenazah Tuannya di hari berkabung itu.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2