I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
cinta yang berselindung


__ADS_3

Masih dalam situasi kepanikan...


Devan mengusap pelan pipi Kunia. Kembali mencoba membangunkan sang istri yang tengah merebahkan kepalanya di pangkuannya.


"Cepat nyetirnya!!! Kau mau membunuh istriku?" Memaki.


"Maaf Tuan, saya sedang berusaha cepat. Kita sudah hampir sampai rumah sakit." Mobil terus melaju dengan kecepatan tinggi, bahkan sampai menerobos lampu lalulintas yang baru saja berubah merah.


Suasana malam yang masih ramai, namun untungnya tak menjumpai kemacetan. Membuat Devan merasa lega, ketika mereka tiba lebih cepat di rumah sakit.


Sang sopir bergegas turun, di lobby depan UGD. membukakan pintu samping. Sementara beberapa petugas medis sigap menghampiri mereka. Memindahkan tubuh Kunia ke atas brankar pasien yang sudah di siapkan.


Setelah itu mendorongnya masuk kedalam ruangan UGD.


Di sana Devan turut masuk, melihat para petugas medis melakukan pertolongan pertama mereka untuk Kunia. Bersamaan dengan dokter juga, yang mulai memeriksa kondisi pasien.


kumohon, jangan terjadi apapun padanya. Ku mohon... Ayo bangunlah Kunia. Ku mohon bangunlah.


Devan semakin panik, menatap sang istri tengah di tangani dengan serius.


Hingga beberapa menit kemudian, sang dokter mengajaknya berbicara.


"Apa yang terjadi?" Tanyanya langsung.


"Tenanglah, Tuan. Ini hanya kasus keracunan makanan."


"Keracunan makanan? Maksudnya, apakah makanan yang di konsumsi istri saya itu mengandung racun?"


Sang dokter menenangkan. "Bukan, Tuan. Sepertinya ini adalah sebuah keracunan secara alamiah. Karena dalam sayur ataupun buah yang biasa kita konsumsi, memang ada beberapa yang memiliki kandungan racun jika salah pengolahannya atau mungkin tercampur dengan makanan yang mengandung senyawa lain, sebagai penyebab terjadinya reaksi buruk untuk tubuh istri, Anda."


"Lalu, apakah ini sangat berbahaya? Tolong jawab, istriku akan baik-baik saja kan?"


"Untungnya, cepat di bawa kesini. Karena reaksinya benar-benar membuat pasien mengalami sesak nafas. Namun sekarang sudah mulai normal."


Devan mulai bernafas lega. Ia mengusap wajahnya sendiri, mengucap syukur.


"Anda tenang saja, Tuan. Kondisi istri Anda sudah stabil. Setelah ini kami akan memindahkan ke bangsal rawat inap, pasien pasti akan segera siuman."


Devan tak menjawab, matanya masih berfokus pada wanita yang terbaring belum sadarkan diri di atas bed UGD.


"Kau boleh keluar," ucap Devan. Sang dokter pun mengangguk sekali, dan melenggang pergi. Sementara Devan langsung menutup tirainya, melangkah pelan mendekati sang istri.

__ADS_1


Ia berdiri memandangi wanita yang masih memejamkan matanya, dengan masker oksigen di mulutnya.


Berusaha mengingat-ingat apa saja yang di makan sang istri tadi?


Hanya ikan, dan *zhucchini? Mungkinkah itu menjadi penyebabnya? Tapi aku pun makan tidak terjadi apa-apa. *(sejenis timun.)


Devan duduk di kursinya, mengusap pelan wajah Kunia dengan punggung jari telunjuknya.


"Kuni, aku amat takut saat melihat mu seperti ini. Apakah kau punya alergi terhadap makanan tertentu?" Devan masih mengusap-usap lembut. "Setelah ini, kau harus mengatakannya padaku. Agar tak ada makanan buruk yang masuk kedalam tubuhmu."


termenung kemudian.


Aku belum bisa mengatakannya, karena aku belum benar-benar yakin. Namun kalau boleh jujur, tadi itu aku benar-benar takut kehilanganmu, Kunia. Entah mengapa.


Devan beranjak, mencondongkan tubuhnya, hanya untuk mengecup kening Kunia, lembut.


"Permisi Tuan, kami izin masuk."


Devan melepaskan kecupannya. Lalu duduk dengan normal.


"Masuklah."


"Mohon maaf, Pasien akan kami pindahkan ke bangsal VVIP."


"Emmmm..." Devan menjauh sejenak keluar dari tirai itu.


Lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Andre agar membatalkan sejenak kunjungannya ke Taman makam khusus keluarga Atala.


.


.


.


Kembali ke beberapa saat sebelumnya...


Sekertaris Erik sudah mulai menyentuh gagang pintu di ruangan kerja khusus yang sering di pakai Nyonya Briana ataupun mendiang Harison dulu. Namun kembali ucapan Zaeni tempo hari, sebelum kepergiannya ke luar negeri. Terngiang di telinganya membuat Dia mematung sejenak.


# flashback is on...


"Ayah mau sampai kapan menuruti ambisi ibu?? Mau sampai berapa kali lagi, mengotori tangan ayah demi ibu! Aku memang mencintai ibu, sama seperti Ayah... Namun tak pernah sedikitpun, ingin membenarkan apalagi menerima semua yang dilakukannya."

__ADS_1


Dalam situasi itu Erik hanya diam saja, tak menjawabnya.


"Ayolah ayah, kumohon. Sudahi semua ini. Ku mohon, yah..." Suara Zaeni yang serak. meminta ayahnya untuk berhenti menjadi kaki tangan ibunya itu.


kala itu, dirinya memergoki sang ayah tengah menata, sekotak impuls siap kirim. Berisi cairan obat khusus injeksi yang dapat melumpuhkan syaraf manusia. Sudah pasti itu untuk neneknya Devano.


Yang tanpa sepengetahuan sang ibu, juga Sekertaris Erik. Kalau selama ini dirinya sudah beberapa kali mengganti obat itu dengan obat yang lain. Yang memberikan efek baik, untuk tubuhnya. Berharap dengan obatnya itu, membuat Nyonya Briana tak semakin lumpuh.


## flashback is off


Sekertaris Erik, menggeleng cepat. Ia pun menekan gagang pintu tersebut hingga pintu terbuka. Lalu menghampiri sang istri yang tengah duduk di kursinya. menghadap sebuah dinding kaca.


Liliana memutar kursinya, senyumnya mengembang sempurna. Ia pun berdiri menyambut pria paruh baya yang menurutnya amatlah jauh dibawah Harison.


Berjalan mendekati pria itu, menyentuh kedua bahunya pelan. Perlahan-lahan bergerak melingkari leher sang suami, menghadiahi kecupan sekali di bibir. Sebagai hadiah yang biasa ia berikan ketika dirinya berhasil melakukan apapun yang ia suruh.


"Kau bekerja dengan baik, kan? Kau juga pasti datang, membawa apa yang aku mau, kan?"


Sekertaris Erik tak menjawab, ia masih menatap datar sang istri. Seumur pernikahan keduanya ini... Hanya dua kali dia mencampuri sang istri, dia selalu banyak alasan ketika hendak di minta untuk melayaninya.


Bahkan ketika hamil Delia pun, itu adalah sebuah kebetulan yang di sengaja olehnya. sehingga melahirkan murkanya Liliana pada dirinya. Beberapa kali ia berusaha menggugurkan anak itu, namun tak pernah berhasil.


Ya... Sebab Erik selalu menggagalkannya.


"Erik– serahkan padaku. Mana... mana stempel emas itu?" Tidak sabar, Liliana sudah amat senang.


"Aku ingin bertanya, apakah kau mencintaiku?" Tanyanya datar.


"A–apa?" memandang bingung, setelah itu terkekeh. "Erik kau ini bicara apa, tentu aku mencintaimu, sayang."


Sekertaris Erik masih terdiam, tak bergeming.


"Erik... Kau ini kenapa?"


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa."


Liliana tersenyum. "Kau membuat ku takut saja. Jadi mana sini? Serahkan stempel emas itu."


Erik sama sekali tak mengembangkan senyum, tatapannya pula tak terlepas dari wajah Lili, sementara tangannya mulai masuk kedalam saku celana. Menggenggam cincin yang ia ambil tadi di kamar Devano.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2