I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
yang tak terduga


__ADS_3

Di sebuah food truck, yang biasa mangkal di salah satu gang yang terletak tak jauh dari kantor tempat Kuni bekerja.


Gadis itu duduk disalah satu kursi, sembari merebahkan kepalanya di atas meja dengan lemas.


"Aku tidak tahan lagi–" matanya nampak sayu, dengan rambut yang lebih berantakan dari biasanya. "Lebih baik aku di rumah saja mendengarkan nyanyian cantik ibu ku setiap hari. Dari pada harus berhadapan dengan si sinting itu. Dia benar-benar membuat ku gila."


Seharian ini, Kuni benar-benar dikerjai habis-habisan. Dari yang di suruh menyemprotkan pengharum ruangan, membukakan apapun seperti Snack dan lainnya. Serta yang paling membuatnya geram adalah, ketika Devan memanggilnya hanya untuk memintanya menyingkirkan wijen yang menempel di kue onde-onde. Pekerjaan yang sepele tapi cukup membuat otak Kuni mendidih saat itu juga.


Kenapa harus membeli onde-onde jika dia tidak suka wijennya. Mending jika hanya satu butir. Sementara ia harus memisahkan wijen tersebut dari sepuluh kue onde-onde yang ada di piringnya.


Sudah gitu yang ia makan hanyalah satu butir saja. Itu pun hanya satu gigitan. Rasanya ia ingin sekali menjejalkan semua kue itu ke mulutnya, tatkala melihat Devan mendorong piring tersebut sembari bicara santai.


"Untukmu saja, gara-gara kau terlalu lama aku jadi tidak berselera lagi."


Kuni kembali mengingat wajah tengilnya.


Bedebah itu benar-benar, ya? Sekarang Dia semakin gencar membuatku susah. Ditambah ia kini memiliki kekuatan lebih dari hasil visum itu, membuatku semakin tidak bisa berkutik.


"Aaaaarrrhhh... Aku ingin keluar dari pekerjaan sialan ini." Kunia menggaruk kasar kepalanya, merasa frustasi.


"Cantik, ini kue mu." Tutur seorang ibu paruh baya bertubuh gempal. Sembari meletakkan satu piring kecil berisi sepotong kue tart. Gadis itu pun mengangkat kepalanya.


"Kue? Saya tidak pesan, Bu."


"Ini free untuk mu yang sedang dilanda masalah."


"Free? Yang benar?" Menarik lebih mendekat kue tersebut sebelum sang pemilik food truck itu berubah pikiran.


"Ya... Kue ini terkhususkan untuk para pelanggan ku yang sedang galau, seperti gadis di belakang mu itu." tunjuk ibu paruh baya itu yang kita sebut saja dengan ibu Asmia. Kuni pun menoleh kebelakang, ia mendapati Bu Sarah tengah makan dengan lahapnya kue tart gratis itu.


Eh... Sejak kapan Bu Sarah di sana, Tunggu? Galau dari mananya, Dia terlihat menikmati sekali kue itu. Bahkan sampai senyum-senyum. Kuni yang kepergok tengah memandangi Sarah pun mengangguk sopan padanya.


"Kau disini?" Tanya Sarah.


"I–iya Bu. Bu Sarah sudah lama di sini?"


"Emmm..." Sarah menilik jam tangannya. "Sudah hampir satu jam." tuturnya.

__ADS_1


Bu Asmia tersenyum, hangat. "Kemari lah mbak Sarah. Jika kenal dengan Nona ini kenapa tidak bergabung saja?"


"Ahh... Tidak perlu Bu. Beliau ini atasan saya." Kuni merasa tidak enak hati.


Mendengar itu Sarah pun beranjak memboyong semua harta bendanya di atas meja, menuju meja Kunia. Seperti laptop dan yang lainnya.


"Di kantor aku itu memang atasan mu. Tapi di luar, aku hanya orang biasa." Sarah tersenyum, ia pun duduk di sebelah Kunia. "Bu As? Aku mau lagi kuenya."


"Hehe... Boleh, sebentar biar ibu ambilkan." Ibu Asmia berjalan menjauh menuju trucknya.


"Kau biasa kesini?"


"Tidak juga, baru hari ini. Tadinya mau ke kafe sebelah sana. Tapi tutup, akhirnya saya jalan terus sampai ke gang sini, eh... Ketemu lah dengan food truck Bu Asmia," jawab Kuni apa adanya. Sarah pun tersenyum.


"Ini tempat favorit ku. Jika aku tengah dilanda kesepian. Dan yang membuat ku betah, ramahnya Bu As... Dia seperti ibu ku sendiri."


Kuni tersenyum. Ia menyeruput jusnya. Sementara Sarah memandangi bagian dada Kunia.


"Kalung aneh itu tidak kau pakai?"


Kuni menghela nafas, kembali ia merasa kesal. "Kalung itu hanya saya pakai saat jam kerja, di saat istirahat ataupun pulang saya tidak memakainya."


"Iya itu karena dendam kesumatnya terhadap saya." Kuni mengaduk jus alpukatnya dengan sedotan lalu menyeruput lagi.


"Dendam? Dendam apa?"


"Ceritanya panjang, Bu. Intinya, beliau dulunya adalah adik kelas ku yang pernah ku buli." Kunia menarik nafas sejenak lalu menghembuskannya lagi.


Sementara Sarah hanya manggut-manggut, sebenarnya dia penasaran namun lebih baik diam saja. Mau bagaimana pun juga sejatinya mereka tidaklah dekat sebelum ini. Jadi masih ada batasan antara dirinya dan bawahannya itu.


Hingga datang Bu Asmia, membawa satu dua piring kue tart baru.


***


Hari terus berjalan, hingga berminggu-minggu sudah di lewatinya. Mengerjakan tugas tidak wajar dari pria itu.


Di Minggu pagi ini, gadis itu sedang dalam perjalanan untuk pergi ke suatu tempat. Setelah kemarin sore menerima gaji pertamanya, nominal yang sesuai dengan yang ada di surat kontrak. Amatlah cukup dan bahkan lebih ketika ia hendak membelikan suatu barang spesial.

__ADS_1


Ya... Bertepatan dengan hari jadiannya dengan Anwar yang ke enam tahun, dua hari lagi. Ia harus sudah membelikan sesuatu untuknya sebagai kado tanda cinta dari wanita berambut pendek itu.


Siang ini, ia mengunjungi salah satu pusat perbelanjaan. Menghampiri toko yang menjual berbagai jenis Gadget ternama.


Dengan semangat, Kuni bertanya-tanya Tab mana yang bagus dengan harga yang masih di bawah dua puluh juta.


Sang pelayan toko pun membantu memilih salah satu merek S yang sedang terkenal dengan fiturnya yang lengkap.


Kunia masih mendengarkan dengan seksama dengan tatapan penuh ketertarikan pada Tab tersebut.


"Baiklah aku ambil yang ini. Tolong di bungkus ya."


"Baik, Nona. Pembayaran mau cash, atau kartu kredit?"


"Cash Mbak."


"Baiklah... Saya akan tulis notanya dulu."


"Ya..." Kuni semakin bersemangat. Ia menunggu sejenak lalu melakukan pembayaran. Setelah semua selesai ia pun membawa Tab tersebut.


–––


Di luar hujan turun dengan intensitas rendah.


Gadis yang sudah mengenakan payungnya itu berjalan pelan. Menuju stasiun MRT bawah tanah.


Ya... Dia memang punya sepeda motor, namun Kunia malah lebih suka menggunakan transportasi umum ketimbang transportasi pribadi. Entahlah nikmat saja, berjalan sembari menatap jalan tanpa harus bermacet-macetan.


Kakinya terus melangkah, melintasi trotoar, melewati beberapa toko yang berjejer di sisi kiri dan kanan. Bibirnya tersungging senang. Tidak sabar ingin menyerahkan Tab itu kepada sang pujaan hati.


Aku tidak sabar ingin melihat responnya. Kak Anwar pasti akan senang sekali.


Gadis itu memeluk paper bag berisi tab untuk Anwar, sembari membayangkan respon bahagia yang di tunjukkan Anwar saat menerima itu. Hingga sejenak langkanya terhenti di salah satu toko, ia pun menoleh pelan kearah sebuah butik.


Tidak mungkin– Aku pasti salah lihat.


Kunia berusaha menampik sesuatu yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


Ya seorang pria dan wanita yang ia kenal, sedang berada di dalam butik yang di khususkan untuk busana pengantin. Lebih fokus lagi saat tangan pria itu membelai lembut rambut panjang nan halus wanita di hadapannya.


Bersambung....


__ADS_2