
Di rumah.
Surat itu bisa jadi sebuah kode.
Devan yang tengah di dalam kamar mandi kembali menyalakan kran air. Membiarkan shower di atas menghujani kepala serta tubuhnya.
Sekilas, senyum Bu As yang melintas di kepala membuatnya tertegun. Devan yang tengah menggosok kepalanya langsung saja terhenti serta mematikan air dengan cepat.
"Bu Asmia? Benar, beliau pasti Bu Asmia yang itu." Devan keluar dari bilik kaca. Meraih handuk lantas mengeringkan rambutnya.
Cklaaak...
Pintu itu tiba-tiba terbuka, membuat Devan sedikit terkejut sekaligus menoleh.
Sama dengan Devan. wanita yang baru saja masuk pun terdiam, menjatuhkan handuk kecil yang ia tenteng.
Manik mata Kunia menjurus ke bawah, hal yang tak seharusnya ia lihat namun terpaksa Dia lihat saat itu juga.
Sontak matanya yang melebar itu seolah hendak keluar, membuatnya gemetaran hebat. Ia bahkan tidak bisa memalingkan wajahnya atau bahkan membalik badan, apalagi kabur.
Ya Tuhan! Mata suciku lihat apa? (Kuni)
"Kau masuk begitu saja, di saat aku tengah mandi?" Tanyanya santai, padahal dia sendiri belum menutup area bawahnya. Segera Devan menutup bagian terintimnya dengan handuk yang ia gunakan untuk mengeringkan rambutnya. Saat itulah Kunia baru tersadar. Lantas menjerit sekeras-kerasnya.
"Aaaaaaaaaaaaaa!!!!"
"Heeiii...!!!" Devan menutup kedua telinganya, ruangan kamar mandi yang tertutup itu membuat lengkingan suara Kunia semakin menggema. "Apakah kau mau memecahkan cermin di sini, dengan suara keras mu itu!"
"Ka– kau? Kau!!" Menunjuk kearah Devan dengan satu tangan, sementara tangan satunya menutupi matanya.
Telat Kuni, Ente udah liat si junior!! Hadeh (suara hati Author)
"Apa?"
"Kau sengaja sekali sih seperti itu– bisa-bisanya kau tak memakai sehelai benang pun. Ma... maksudnya apa? Ha... hah!!!" Tergagap, saking terkejutnya. Karena baru kali ini ia melihat barang antik tanpa tabir penutup, yang hanya di miliki sang gagah.
__ADS_1
"Apanya yang sengaja, kau yang tiba-tiba masuk. Seharusnya aku yang marah!!" Devan menepis jari telunjuk Kuni. "Ya ampun– aku tak tahu, rupanya kau se-cabul ini. Sudah tahu ada orang di dalam, kau main masuk saja."
"Ma... mana ku tahu, salah sendiri tidak dikunci!!" Apa yang ia lihat masih terbayang-bayang, membuatnya merinding sendiri sekaligus malu.
"Aku lupa untuk menguncinya. Karena kebiasaan, sebab selama ini kan tidak ada orang yang masuk ke kamar ini selain aku. Kau saja yang tak ketuk pintu dulu."
"Tetap saja ini salah mu–" Kunia mendorong tubuh kekar Devan. Menggesernya agar lebih menjauh dari cermin, "hiks, mata ku?"
Kunia menyalakan kran air, lalu membasuh wajahnya. Sementara Devan hanya geleng-geleng kepala, menyilakan kedua tangannya di depan dada. Menyandar di tepi wastafel, membelakangi cermin.
"Kau jangan merengek seperti itu, yang di rugikan disini itu aku," gumamannya. Kunia pun menoleh.
"Apa kata mu? Tentu saja aku yang di rugikan, bukan Kau...! kau pikir aku senang apa?"
"Nampak jelas kau senang melihatnya. Buktinya, mata mu saja sampai tak berkedip."
Kuni tak menjawab lagi, selain kembali membasuh mukanya berkali-kali lebih cepat.
"Ya ampun... kau sudah melihat dari atas sampai bawah. Seluruh kepemilikan ku. Itu tidak adil, sementara aku belum melihatnya."
"Sini tunjukkan pada ku, biar impas." Devan menarik lengan kaos yang di gunakan Kuni, sembari tersenyum jail. Membuatnya langsung menjauh, sembari menutupi dadanya.
"Kau jangan macam-macam, ya?"
"Macam-macam apa? Aku hanya minta satu macam, seperti sebuah keadilan."
"Cih, keadilan kata mu? Tidak usah ngawur."
"Ngawur bagaimana? Benarkan? Itu tidak adil namanya. Kalau hanya kau yang melihat."
"Hei– Devano!!!"
"Apa?" Devan menyibak rambutnya yang masih basah itu, kebelakang.
Gleeeekkk.... kenapa Dia mendadak tampan begini. Tidak, dia memang tampan sih... hanya aku yang baru menyadari. (Kuni)
__ADS_1
Devan mencengkeram dagunya, lembut. Semakin mendekati.
"Dua kali kau melakukan ini. Pertama di kantor, sekarang di kamar mandi. Kau pasti sengaja masuk kan?" Menyeringai.
Kunia menepis tangan itu. "Jangan bicara asal, ya!!!"
"Itu fakta, jangan-jangan kau sengaja masuk karena Ingin ku mandikan?"
"HEIIII....!!" Wajah Kunia memerah.
"Berhubung aku termasuk Tuan baik hati. Akan ku kasih kau, hadiah. sini peluk aku sepuasnya." Mendekati.
"Dev– kau jangan macam-macam ya." Melangkah mundur.
"Sudah ku bilang aku cuma butuh satu macam, Mbak Kunti." Tersenyum jail, ia sudah mencengkeram salah satu pundak Kuni. "Ayo kita mandi bersama, kita kan suami istri."
Gleeeeekkk..
Tidak...! Ini salah kan? Atau jangan-jangan, haaaaaaahh!!!
Kunia menutup mulutnya, berfikir hal yang tidak-tidak.
"apa yang ada di kepala mu itu benar– bagaimanapun juga aku itu pria normal loh."
Astaga!! Apakah Dia bisa membaca isi pikiran ku?
"De– Devan?"
"Apa? seperti yang ku bilang, ini hadiah. Waktu itu kan kau sudah telaten memandikan hewan peliharaan ku. sekarang aku akan melakukan hal yang sama. Dengan senang hati aku akan memandikan mu sampai bersih." Ledeknya, sembari memegangi handuknya. Seperti hendak melepaskan lagi.
"Heiii– jangan gila ya?" Kuni mendorong dada bidang itu, lalu memilih untuk kabur.
Braaaakkkk... Membanting pintu itu segera, setelah keluar dari bilik kamar mandi. Devan terkekeh, gemas.
"Dasar, Mbak Kunti," gumamannya lirih. Sembari bercermin mengacak-acak rambutnya sendiri. "Haaaah... Akal sehat ku hilang jika berduaan dengannya." Tertawa sendiri kemudian, sembari menyentuh dadanya yang berdebar.
__ADS_1