
Siang harinya.
Dengan sedikit terburu-buru, Kunia Menaiki taksi online yang sudah ia pesan. Tergesa mengejar waktu, sebelum bank tutup. Itu yang ia pikirkan.
Sebelumnya ia sudah izin pada Bu Sarah, meminta waktu selama kurang lebih dua jam untuk mengunjungi bank pusat, yang berada cukup jauh dari tempatnya bekerja.
Hari yang tak begitu sibuk. Ia hanya mengerjakan pekerjaan inti saja. Mungkin karena Devan yang lebih sibuk, mempersiapkan diri untuk promosi jabatan. Itu yang ia dengar dari desas-desusnya.
Ada pula yang bertanya-tanya heran, seharusnya. Sebagai anak kandung dari Tuan Harison bukankah lebih mudah menduduki jabatan yang ia mau. Namun sepertinya tidak, Devan benar-benar harus bekerja sendiri dari nol. Berawal dari karyawan biasa, lalu menduduki kursi kepala personalia. Memang cukup aneh, tapi sudah lah. Membicarakan tentang pemikiran orang-orang kaya memang tidak akan pernah sampai pada otak kita.
Turun di depan Bank, Kunia melihat lahan parkirnya cukup ramai. Mungkin di sana sedang banyak nasabah yang ingin melakukan transaksinya.
"Kunia–" gadis itu menoleh.
Renita? (Kuni)
sedikit terkejut saat melihat Reni tengah berdiri tidak jauh dari lokasinya. Ia pun berjalan dengan payung yang menaunginya dari teriknya matahari.
"Benar, aku pikir salah lihat. Kau mau kemana?" Tanyanya santai. Dengan paper bag yang tergantung di lengan. Sudah pasti wanita itu habis belanja.
"Aku mau ke Bank. Kau disini sama siapa? Dan naik apa?"
"Tentu mobil Suamiku. Tadi itu dia sedang ada urusan saat mengantar ku belanja. Maklum saja, bisnisnya semakin berkembang pesat jadi ya? Dia semakin sibuk saat ini." Mengoceh dengan nada meremehkan.
"Oh..." Kunia melengos tidak peduli dengan apa yang ia katakan. Segera Dia melangkah pergi, namun seketika itu di cegah oleh Reni.
"Hei– buru-buru sekali? Ayo kita ke kafe itu dulu minum es, pasti nikmat."
"Aku buru-buru mau ke Bank. Karena aku harus kembali bekerja."
"Tunggu– memang ada urusan apa kau ke Bank pusat?"
"Transfer uang yang tidak sedikit."
"Untuk siapa?"
Ck... Apa semua yang ku lakukan harus ku beritahu pada mu?
__ADS_1
"Untuk?"
"Oh– itu mobil Suamiku." Reni berseru, sembari menunjuk kearah depan, posisi di belakang Kunia.
Ya... Ampun, kenapa harus ketemu mereka sih. Membuat waktu ku terbuang percuma saja. –kunia menggerutu malas, tanpa menoleh kebelakang.
"Sayang maaf aku terlambat." Anwar terkekeh, ia masih belum menyadari wanita yang membelakanginya adalah Kunia.
Reni pun berjalan melewati Kuni, lalu melingkari lengan pria tersebut.
"Tidak apa... Tapi aku jadi kepanasan, gara-gara menunggu mu. Untung ada Kunia."
"Apa? Kunia?" Anwar tercengang, dan yang namanya di sebut tadi, kini menoleh kebelakang.
"Hai–" sapanya kaku.
"Ku–kuni... Kau?" Anwar menoleh kearah kanan, –Dia mau transfer uang rupanya. Duh, kenapa malah bertemu Reni?
"Sayang, kita makan dulu yuk di kafe itu sama Kunia juga."
"Sa– Sayang... Kunia itu sibuk, kita berdua saja ya. Ka... Kau mau ke Bank kan? Mau transfer?" Anwar keceplosan, ia pun menutup mulutnya dengan cepat ketika Reni menoleh ke arahnya.
"Kok, kamu tahu? Dia mau ke Bank, mau transfer uang?"
"Hanya menebak. Ka–kan? Di depan Bank. Hahaha." Anwar terkekeh aneh, lalu mengusap keringatnya.
"Oo..." Reni manggut-manggut. Sementara Kunia pun hanya geleng-geleng kepala, ia kembali putar haluan untuk melanjutkan niatnya masuk ke dalam gedung Bank itu.
"Sayang– hari ini nenek membuat ku kesal."
Taaaak... Langkah Kunia terhenti. Saat mendengar kata nenek di ucapakan.
"Masa Dia minta aku untuk membukakan kulit kuaci. Kan lelah, untung aku bisa kabur."
Kuaci? Bukankah semalam kak Anwar bilang nenek kritis, ya? (Kunia)
"Hahaha... Sayang, sayang... Kita ngobrolnya di sana saja yuk. Tadi bilang mau makan, kan?" Anwar yang ketar-ketir mulai merangkul Reni, menjauh dari sana.
__ADS_1
"Tunggu...!" Seru Kunia. Menghentikan langkah sepasang suami-istri tersebut.
Duh... (Anwar)
"Ren, boleh ku tanya?" Kunia melipat kedua tangannya di depan dada. Saat gadis itu menoleh kearahnya lagi.
"Boleh."
"Apakah nenek Kasih, kondisinya sehat?" Tatapan Kuni masih tertuju pada pria yang memilih untuk membelakanginya.
"Sehat–"
"Tidak ada cidera kepala, pendarahan, apalagi kritis?"
Wanita di sebelah Anwar menggeleng dengan tampang bingung, sementara yang di sebelahnya sudah pias.
Kuni pun menyunggingkan separuh bibirnya.
Rupanya, dia masih mau memanfaatkan kebaikan ku? Dan bodohnya aku masih saja nurut. Dengan alasan iba? Bedebah BRENGSEK satu ini memang benar-benar, licik!!
"Memang ada apa kau bertanya seperti itu?" Tanya Reni.
"Tidak, hanya saja. Ada benalu yang masih saja ingin mencoba untuk menyedot lagi pohon yang pernah ia kuras habis sari makanannya."
Gleeek... Anwar masih tidak berani menoleh kebelakang.
"Nah, tadi kan kau menawarkan aku untuk makan? Bagaimana kalau sekarang kita makan? Aku yang traktir." Kretaaaakkk... Kreeetaaakkk... Kuni memetik kesepuluh jari-jarinya hingga berbunyi, seraya tersenyum.
"Loh, tadi katanya sibuk. Kau mau ke Bank kan?" Tanya Reni.
"Tidak jadi aku berubah pikiran, lebih baik kita makan saja." Ia pun melangkahkan kakinya lalu menepuk pundak Anwar keras. Membuat pria itu mengaduh akibat terkejut. "Bukan begitu, Kak Anwar?"
"A... Anu. I–itu?" Anwar gagap.
"Mari makan apapun yang kalian mau, aku yang traktir." Kunia melangkah lebih dulu, menarik nafas panjang sebelum menyebrang jalan lalu menghembuskannya. "Haaaaah.... Lima puluh juta ku aman. Hahahaha." Seru dia kemudian, sembari berjalan melewati zebra cross. Dengan kedua tangan yang direnggangkan, satu ia luruskan keatas, satunya lagi ia tekuk di belakang kepalanya.
"Lima puluh juta? maksudnya Kuni hendak pamer kalau Dia punya uang lima puluh juta, begitu?" Gerutu Reni sebal. Di sebelahnya, si Anwar malah semakin lemas akibat gadis itu yang tak jadi mentransfer uang kepadanya.
__ADS_1