
Selesai menenangkan dirinya, ia segera bergegas ke tempat lain.
Sebuah rumah sakit swasta terbaik di kota itu. Seolah ia sudah lupa dengan hal yang tadi.
Saat ini fokusnya adalah wanita Tua yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Tengah mendapatkan penanganan secara intensif.
Perasaan bersalahnya mencuat, tatkala melihat kondisi omah yang memprihatinkan. ia tidak bisa membayangkan kehidupannya selama ini seperti apa?
Selama bertahun-tahun, apakah beliau hidup dalam kondisi yang tak baik? terlebih tubuh yang menjadi kurus kering itu, bahkan membuatnya sedikit tidak mengenali saat baru tiba tadi.
Bibirnya bergerak-gerak, sepertinya ia hendak menangis. Namun di tahan, selain tangannya yang terus menggenggam tangan Kunia semakin kuat.
Duduk bersebelahan di sofa sudut yang tak jauh dari ranjang omah-nya.
Bu Asmia dan Notaris Evans sudah pulang, atas keinginan beliau setengah jam yang lalu. Sementara Andre masih di luar, bersama Sarah yang izin untuk mencari makanan bersama beberapa saat yang lalu.
Kunia melihat adanya kristal-kristal bening yang sedari tadi bergelayut di sudut-sudut mata sang suami. Mulai mengambil secarik tissue lantas menyekanya. Sebelum benar-benar menitik membasahi pipinya.
Devan menoleh, "maaf, aku tak sempat menanyakan kondisimu. Sebab terlalu antusias saat mendengar Omah sudah di temukan, namun rupanya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jadi aku?"
"Ssssssttt...." Kunia menyunggingkan senyumnya. "Tidak apa-apa, aku mengerti."
"Tapi kau baik-baik saja kan? Adakah yang lecet?" Mulai memeriksa, pipi, tangan dan anggota tubuhnya yang lain. Kurnia lantas menggeleng pelan, sembari tertawa lirih.
"Tidak ada sayang,"
"Sungguh?"
"Iya tidak ada."
"Syukurlah." Devan langsung menarik pelan tubuh sang istri lebih dekat, lantas memeluknya, dan mencium pucuk kepalanya.
Kunia tersenyum. "Ya... aku beruntung. Karena kamar itu tak ada penjaga satupun. Sepertinya Omah di tinggalkan begitu saja oleh yang menjaganya."
Devan melepaskan pelukannya, dan menggenggam lagi tangan Kuni kuat, setelah itu menoleh kearah Omah. Ia benar-benar lega saat semuanya baik-baik saja, namun merasa bersalah juga saat mendengar posisi omah-nya ketika di temukan.
__ADS_1
"Dokter bilang, banyak bekas suntikan di lengannya. Sepertinya orang-orang yang bekerja pada Mamih Liliana sengaja menyuntikkan obat khusus untuk Omah. Saraf-sarafnya banyak yang rusak. Bahkan dokter bilang, kemungkinan untuk kembali normal itu sulit."
"mereka memang benar-benar keparat," runtuknya gusar.
Devan lantas menunduk, kemudian. kembali merasa bersalah. Andai saja ia bisa lebih cepat mengetahui situasi ini, mungkin omah-nya tidak akan menderita selama bertahun-tahun.
"Dev, sudah ku bilang jangan memikirkan hal yang membuatmu menjadi sedih."
"Aku hanya merasa tidak berguna," jawabnya.
"Siapa bilang kau tidak berguna. Kau sudah melakukan semuanya dengan baik."
"Tidak jika Sekertaris Erik tidak berbelok. Karena selama ini, yang menjadi benteng kokohnya adalah Dia. Sementara aku, hanya pria bodoh yang tidak pernah tahu kejahatan apa yang mereka lakukan. Lebih-lebih selama ini aku telah memandang wanita itu sebagai Dewi dalam hidupku. Aku benar-benar menyesal... sangat menyesal."
"Sayang– untuk apa menyesali semua yang sudah berakhir." Kunia meraih tangan satunya lagi, turut menggenggamnya erat. "Sekarang, lebih baik kau berjalan mengikuti arus yang baru. Kehidupan itu belum berakhir walaupun kau telah berhasil menerjang badai kehidupan mu. Yang perlu kau lakukan saat ini yaitu adalah bagaimana caranya membenahi semuanya yang telah porak poranda menjadi kembali tertata."
Devan tak berkedip, mendengarkan ucapan sang istri.
"Aku ada disini untukmu, kita Songsong hari baru yang lebih baik."
Devano tersenyum, "kau selalu bisa membuatku merasa tenang."
"terimakasih untuk semua yang telah kau lakukan demi aku. tapi Maaf, istriku..."
"Maaf untuk apa?"
"Untuk segala hal. Terutama tentang kebahagiaan yang belum bisa sepenuhnya ku berikan padamu."
"Hei– jangan berbicara seperti itu. Kau sudah cukup membuatku bahagia, amat bahagia malah."
"Memang apa yang membuatmu bahagia, sementara aku sibuk dengan segala urusanku selama ini."
Kunia melirik ke arah pintu sejenak, lalu mencium bibir suaminya cepat. membuat Devano bersemu.
ia ingin meminta lagi, namun kesadaran akal sehatnya mengalahkan keinginannya. Jika ia masih di area rumah sakit, lebih-lebih dalam suasana hati yang masih belum baik. walaupun tak memungkiri, berbicara dengan Kunia, mampu melepaskan beban kesedihannya yang tertumpuk itu.
"Tentu saja cinta mu, lah. Apalagi?"
__ADS_1
"Oh ya?" Devan tersenyum.
"Emmm," jawabnya. Membuat Devano kembali merengkuh tubuh itu, memeluknya erat.
"Aku tidak sabar," gumamannya sambil memeluk.
"Tidak sabar apa?"
"Membawamu keliling dunia untuk berbulan madu."
ada perasaan senang yang menghinggapi hati gadis itu, saat mendengar kata-kata Devano barusan.
"Tidak perlu keliling dunia, di rumah saja sudah seperti bulan madu kok. Kan hanya ada aku dan kau."
"Tetap tidak asik lah... Aku ingin membuatmu bahagia. Makanya apapun akan ku berikan padamu– kalaupun bisa aku mengajakmu ke bulan, aku pasti akan membawamu ke sana."
"Lebay sekali..." Kunia tertawa.
"Aku serius. Cuman aku khawatir–"
"Khawatir apa?" Tubuh mereka masih saling berpelukan.
"Khawatir kau tidak betah, karena tidak ada pohon besar."
"Apa hubungannya dengan pohon besar."
Devan tersenyum lagi. "Kau kan Mbak Kunti."
"Dev–" tukas Kunia bernada manja, sembari hendak melepaskan diri namun Devan menahannya.
"Aku hanya bercanda, Mbak Kunti." Cekikikan.
"Kau ini ya?" Kunia memukul bahu Devano, kesal.
"Hehehe... I love you, Mbak Kunti." Devano bergumam sembari memejamkan matanya.
Sementara Kunia hanya tersenyum tipis. masih merasakan kenyamanan dalam pelukan Devaino.
__ADS_1
*E*mmm... Terserahlah Dia mau memanggil ku apa? Yang jelas saat ini, aku bahagia ketika semuanya sudah mulai tenang. Hanya tinggal menunggu, kabar dari nasib Nyonya Liliana dan Sekertaris Erik.