I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
menemani Omah


__ADS_3

Hari baru yang masih merujuk waktu dini hari, membawa Kunia pada kehangatan.


Tubuhnya yang tak sengaja tertidur di atas ranjang ekstra membuatnya terjaga.


Di remasnya selimut yang menutupi tubuhnya. Sementara kepalanya terangkat, melihat Devan tengah tidur sembari duduk menyandar, menjadikan pahanya sebagai bantalan untuk sang istri.


Ya ampun, Dia tidur sambil duduk? Ku pikir Dia hanya mengusap kepala ku saja.


Kuni beranjak, sembari menguap. Ia melihat kepala sang suami sudah terlihat miring ke kanan.


Segera ia memasang badan, sehingga kepala suaminya kini terjatuh di bahunya.


Devan– pasti dia lelah sekali.


Mengusap pipinya lembut. Kunia tersenyum memandangi wajah yang menurutnya jauh lebih tampan dan imut saat tengah tidur.


"Ckckck... tampan-nya suamiku, saat di lihat dari dekat."


Menyentuh pelan bibir Devano, membuatnya terkekeh.


Mengusap-usap lembut, hingga bibir itu sedikit terbuka lalu menggigit jari telunjuknya.


"Kyaaaa..." Lirih Kunia menjerit. Ia tercekat, reflek melepaskan jarinya dari gigitan Devano.


Sementara bibir pria itu mengulas senyum, ia membuka matanya pelan kemudian melirik sedikit.


"Baru sadar ya jika aku tampan?" jawab Devan tiba-tiba.


"Kau tidak tidur...?" Tanya Kunia, sembari mengusap jarinya.


"Tidur, cuman karena sambil duduk membuatku tak nyenyak," jawab Devan sembari melirik kearah ranjang, memastikan jika Omah masih tertidur. "Kau sendiri kenapa bangun? Pakai mengusap bibirku. Kenapa? Kau mau ku cium?"


Kunia mendorong wajah Devan. Membuat pria itu terkekeh tanpa suara.


"Siapa yang mau di cium?"


"Itu tadi, apa?"


"Apa salahnya, mengusap bibir suamiku... yang salah itu jika mengusap bibir suami orang," semburnya membuat Devano mendelik.

__ADS_1


"Dan aku tidak akan mungkin berani melakukan itu. Karena aku masih mau hidup tenang," sambung Kunia langsung, sebelum terjadi situasi meletusnya amarah Devano.


Cari aman... Cari aman... Gumamnya dalam hati.


Devan menghela nafas.


"Ya... kalau boleh jujur aku rindu karena kemarin malam tidak ada kau di sisiku."


Walaupun aku geli saat mengatakan ini, namun ... aku tidak ingin di bilang naif. Kalau itu memang benar, aku merindukannya.


Pria itu menarik separuh bibirnya, menepuk pelan dadanya.


"Sini tidur lagi... dan peluk aku sepuasnya, sebagai pengganti malam kemarin. Lagi pula... kata orang, seorang istri itu menyukai ketiak suaminya, kan?"


"istri yang mana? Aku tak menyukai ketiak mu tuh."


"Tapi kau betah di peluk oleh ku, kan? jadi kemarilah... Come to Dady." Menepuk lagi dadanya.


Dasar bocah satu ini ya... berasa dewasa sekali gitu. Walaupun tubuhmu lebih besar dariku. Kau tetap bocah imut.


Kunia mendengus.


"Aku sudah tidak mengantuk, tenang saja."


"Tapi kau tetap harus istirahat." Devan menarik paksa tubuh Kunia hingga masuk kedalam pelukannya. "Tetaplah seperti ini."


"Yaaaaang–" rengeknya manja.


"Apa sih? Kau jangan memasang suara seperti itu. Ini rumah sakit ya?"


"Hehehe..." Kunia menikmati pelukannya yang hangat dan nyaman itu. "Nanti kalau Omah lihat bagaimana? kan tidak enak."


"Omah tidak akan melihat kita. Bahkan kalau kita mau melakukan apapun di sini juga, Dia tidak akan melihatnya. Kita hanya tinggal tutup tirai itu."


"Ya ampun, jangan bicara seperti itu. Mendadak ngeri nih."


Devan tersenyum, semakin mempererat pelukannya. Hening sejenak hingga beberapa menit, menyisakan suara alat medis yang tersambung ke tubuh Omah.


"Sayang..." Panggil Devan, lirih.

__ADS_1


"Eemmm?"


"Besok kau ke rumah Utama, ya."


"Kenapa?"


"Kau harus menengok kondisi Delia. Besok pagi, pasti akan ada berita yang naik ke publik... aku khawatir Dia melihatnya."


"Emmm, baiklah." Menguap lagi.


"Masih mengantuk?"


"Sedikit."


"Baringkan tubuhmu, dan tidur lagi saja." Devan menepuk pahanya sendiri.


"Tidak mau, kau saja tidak tidur..." Kunia memeluk lingkar perutnya, erat.


"Aku pasti tidur."


"Kalau kau tidur sambil duduk aku juga sama."


"Menyusahkan, kalau seperti ini terus pengap juga dadaku."


"Hiiiisssshh ... baru saja aku menganggap mu romantis."


Devan tersenyum tipis, sembari memejamkan matanya. Sementara dua tangannya memeluk erat tubuh Kunia.


"Tidurlah, seperti ini. Sampai pagi pun tidak masalah. Asal kau bertanggung jawab, besok berikan aku nafas buatan."


"Apa?"


"Sudah... Sudah... Kau tidak akan paham karena masih di bawah umur–"


"Menghina sekali bocah ini, mentang-mentang tubuh ku kecil."


Devan menoleh cepat. "Siapa yang kau sebut bocah?"


"Hehehe... Mata Kunti ku menangkap tuyul tak kasat mata, yang baru saja lewat tadi. Sudah tidak usah di pedulikan kita tidur lagi saja, yuk...." Kunia mengusap-usap dada bidangnya lalu merebahkan lagi kepala itu. Sementara Devano hanya geleng-geleng kepala kembali menyandarkan kepalanya di ke tembok, dengan tangan yang bekerja mengusap bahu Kunia pelan.

__ADS_1


Dan sepertinya, tidur pada posisi itu tidaklah bertahan lama, karena baru beberapa menit Kunia sudah merubah posisinya tidur di pangkuan Devano, sedangkan Devan hanya bergerak sedikit membenahi posisinya agar lebih terasa nyaman.


__ADS_2