
Kunia menurunkan tangannya, ia lantas mengeluarkan dompet dari dalam tas.
"Ini KTP ku... Aku benar-benar memiliki golongan darah yang sama." Kuni menunjukkan kartu identitas miliknya itu, dengan tangannya yang gemetaran. Zaeni yang menyadarinya langsung terkekeh.
"Aku tidak mungkin bisa memaksa orang untuk mendonorkan darahnya. Kalau Dia sendiri saja takut."
"A– aku tidak takut... kok!"
"Kau tidak takut, sungguh?" Zaeni mendekati, lalu menyentuh keningnya. Mengusap lembut. "Keringat dingin ini apa?"
Wanita itu nyengir. "Sedikit, tapi tidak apa. Ayo periksa darahku. Demi Delia."
Zaeni terkekeh lagi, reflek ingin mengusap kepalanya namun tidak jadi. Kembali menurunkan tangannya lalu mengepal.
Harus tahu batasan... Dia itu istrinya Devano. (Zaeni)
"Pikir-pikir dulu, saja... Kalau kau pingsan bagaimana?"
"Aku tidak akan pingsan... Aku yakin seribu persen. Ayo cepat!! Aku mudah berubah pikiran soalnya." Kunia mengemas ketakutannya dengan nada ceria, namun itu malah justru membuatnya nampak semakin kaku.
Zaeni pun geleng-geleng kepala, sembari terkekeh.
"Baiklah... coba ku cek sebentar," berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya, mendorong troli berisi alat boks medis, setelah itu mendekati Kuni lagi.
"Duduklah dengan santai ya..." ajak Zaeni sembari duduk.
"Emm... ya." Kembali menghempaskan bokongnya. Memandangi pria di hadapannya tengah menggunakan, masker yang menutupi mulut dan hidungnya. Setelah itu sarung tangan lateks.
"Aku tanya sekali lagi... yakin, ya?"
"Iya–"
Mata Zaeni menyipit tanda ia tengah tersenyum, kepadanya.
Ia mengeluarkan bungkusan berisi jarum kecil yang masih baru, memasangnya ke sebuah alat seperti pena. Kemudian menengadahkan tangannya.
"Mana tanganmu."
*Gleeekk...
Aku bisa, pasti bisa... jangan pingsan Kunia. Semua pasti akan baik-baik saja. Demi jiwa kemanusiaan, demi nyawa seorang anak yang manis dan cantik itu. Walau sedikit songong*.
Ragu-ragu mengangkat tangannya, menyerahkan itu pada Zaeni.
"Ti... Tidak sakit kan?"
"Hahaha... Tadi katanya yakin? Sekarang tanya seperti itu."
"Ya, hanya memastikan."
"Tidak sakit kok," Zaeni menariknya agar lebih mendekat, setelah itu menekan sekali pucuk atas alat tersebut. hingga jarum di dalamnya menusuk cepat ke ujung jari tengah Kunia.
__ADS_1
"Ssssssshhh..." Meringis.
"Sakit?"
"Aku hanya terkejut, tapi tidak sakit kok."
"Memang sebenarnya tidak sakit." Tuturnya lembut, sebelum menempelkan itu pada media kaca khusus yang tipis, memeriksanya dengan cara mencampurkan lagi tetesan darah itu menggunakan cairan khusus. Ia pun tersenyum tipis. "Okay, sekarang aku akan mengambil sampel darah mu sedikit ya? Untuk di bawa ke laboratorium."
"Iya–" Kunia kembali tegang, saat pria itu mengeluarkan alat lainnya. Seperti sebuah sabuk kecil yang elastis, mengikatkannya di lengan bagian atas siku.
"Ini sedikit sakit... Jika kau tidak tahan, kau bisa menggigit lenganku."
"Heeeeeh... Anda ini bicara apa sih?"
"Aku hanya bercanda, supaya kau tidak tegang." Zaeni tergelak, ia sudah mempersiapkan alat injeksinya. Setelah memeriksa pembuluh darah Kunia, sebelum menusukan jarum itu ke sana.
"Aaaa..." Erangnya lirih.
"Tahan sebentar." Zaeni menarik batang suntikannya sedikit. Ia pun mengeluarkan jarum itu dari tangan Kunia, setelah selesai lalu menutupnya dengan plester kecil.
Matanya melirik sekilas ke arah Kunia yang masih memalingkan wajahnya akibat takut.
Kunia menoleh pelan, membuat Zaeni mengalihkan pandangannya.
"su– sudah kan?"
"Ya..." jawabnya. Menata lagi alat-alat itu, lalu menelfon seorang perawat untuk mengambil sampel darah milik Kunia. "Kau tunggu disini, dulu ya? Karena aku harus ke kamar ICU."
"Emmm, berapa lama hasilnya keluar."
"Ya."
Keduanya menoleh ke pintu saat mendengar suara ketukan pintu.
"Masuklah–"
Pintu di buka oleh seorang perawat pria. "Permisi Dokter, saya hendak mengambil sampel darahnya."
Zaeni beranjak. Meraih boks kecil berisi impuls yang ada darah milik Kunia.
"Periksa ini, apakah cocok dengan Delia. Lalu segera kasih tahu hasilnya," menyerahkannya.
"Baik, Dokter." Setelah menerimanya ia mengangguk sekali, dan keluar lagi.
Pria itu kembali menoleh kearah Kunia. "Ku tinggal dulu ya..."
"Iya, Mas." Kunia tersenyum, sama halnya Zaeni yang membalas itu sebelum keluar dari ruangannya.
Klaaapp... Pintu di tutup rapat. Kunia menghela nafas, mengusap lembut bekas suntikan tadi.
"Tidak sesakit yang ada di bayangan ku... Mudah-mudahan cocok. Delia, Kau harus keluar dari masa kritis mu, lalu setelah itu beradu argument lagi dengan ku." Tersenyum.
__ADS_1
***
Di tempat lain...
Devan, dan Andre sudah berdiri di depan rumah sakit khusus kejiwaan.
Ia melepaskan kacamata hitamnya. Menatap kearah atas, dinding-dinding kaca di gedung rumah sakit yang memantulkan cahaya matahari.
Sebelum ini, Devan kembali mengatur pertemuan dengan Bu Asmia. Beliau menjabarkan apa yang di dengar, sembari berkata; Jika Nyonya Lili dan Sekertaris Erik belum memindahkannya? Kemungkinan, Nyonya besar masih ada di sana.
Sebuah rekaman yang kurang begitu jelas, membuat tangan Devano terkepal. Ia benar-benar mengecam tindakan dua iblis itu.
Jika saja sampai terjadi hal buruk pada omah-nya. Devan tidak akan segan-segan, mencekik batang leher wanita yang selama ini ia kira adalah ibu kandungnya.
"Kita masuk sekarang, Tuan?" Tanya Andre.
Devan menghela nafas panjang. Takut, benar-benar takut. Bukan karena menghadapi orang-orang yang menjadi garda terdepan bagi Lilian dan Erik. Melainkan, takut melihat kondisi neneknya.
"Baiklah, aku siap."
"Mari Tuan..." Andre mempersilahkan Devan berjalan lebih dulu, memasuki kawasan rumah sakit yang menangani pasien dengan gangguan mental.
Di dalam...
Andre berbicara dengan seorang resepsionis yang berjaga. Bernegosiasi, karena wanita berpakaian suster itu tak memberi jawaban lain selain kata: Tidak bisa, Tuan.
Ketika Andre meminta izin untuk masuk ke salah satu ruangan khusus di atas.
Devan menunjukkan kartu identitasnya.
"Saya putra dari pemilik Diamond's corp. Apa Anda masih ingin menghalangi saya?"
Sang perawat menggeleng sopan, sembari menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Mohon maafkan saya Tuan Devano. Semua demi keselamatan Anda juga. Karena kamar sedang mengalami renovasi," jawabnya.
Andre menangkap ekspresi wajah yang cukup membuat Dia yakin bahwa wanita itu berbohong.
"Kalau begitu, kami ingin bertemu dengan direktur utamanya." Andre menimpali.
"Emmmm.. tunggu sebentar ya Tuan." Meraih telpon kantornya. Menekan satu tombol angka, setelah itu menempel gagang telepon tersebut ke dekat telinganya.
–––
Sementara itu, kembali ke rumah sakit tempat Delia dirawat.
Sekertaris Erik mendapatkan pesan masuk dari seseorang...
(Tuan Erik, maaf jika saya hanya mengirim pesan singkat... Saat ini, Tuan muda Devan sedang berada di rumah sakit ini. Beliau memaksa untuk memeriksa kamar yang di tempati Nyonya Briana. Apa yang harus saya lakukan? Apakah Nyonya besar harus saya pindahkan ke bangsal VVIP lain?)
Sekertaris Erik terdiam, belum ingin menjawab.
__ADS_1
Memandangi pesan tersebut dengan seksama. Setelah itu menoleh ke arah Delia. Garis wajah yang mengikuti hampir enam puluh persen dari Lili membuat ia teringat sang istri. Ia pun membalas pesan tersebut, mengetik sesuatu yang entah apa. Cukup panjang, lalu kembali meletakkan ponselnya ke atas meja setelah pesan itu terkirim.
Bersambung...