I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
makan malam


__ADS_3

Acara makan malam yang begitu hikmat. Di temani beberapa suguhan mewah yang sudah di siapkan keluarga Atala.


Nyonya Sandrina istri dari komisaris Hartono jaya tengah tertawa renyah menikmati hidangan pembuka di meja.


Tawa kedua wanita berkelas itu memberikan kehangatan di tengah-tengah dancingan pisau dan garpu mereka.


Sementara Gamalia hanya menghabiskan beberapa gelas minuman saja, matanya terus menoleh kearah pintu keluar. Yang ia nanti-nantikan tak kunjung nampak. Mungkinkah pria itu tidak datang?


Ya... Yang di tunggu tak lain adalah Devano. Ia bahkan mengabaikan celotehan gadis remaja di sebelahnya, yaitu Delia. Yang tak henti-hentinya bercerita kesana-kemari saking senangnya bisa berjumpa dengan Selebgram papan atas bernama Gamalia itu.


Nyonya Sandrina menengguk minumannya. "Maaf, apa Devan tidak datang?"


"Anak itu bilang akan datang, cuman mungkin agak telat. Karena cabang Diamond's yang ia pegang sedang mendapatkan banyak tender. Jadi untuk saat-saat ini anak ku yang satu itu memang agak sempit waktunya."


"Saya memahami, Nyonya Lili. Sepertinya anak itu benar-benar mengikuti jejak mendiang ayahnya. Cabang Diamond's di kota A penjualannya benar-benar meningkat. Bahkan sempat beberapa kali masuk majalah bisnis. Itu luar biasa."


"Hahaha... Terimakasih nyonya."


"Tapi, herannya. Kenapa Devan tidak sekolah di luar negeri? Dan malah, maaf... Di tempatkan di sekolah tinggi ilmu manajemen, milik Diamond's corporation?"


Grepp... Nyonya Lili menggenggam erat pisau makan di tangannya. sementara bibirnya mengulas senyum.


"Anak itu, menyukai pendidikan dalam negeri. Bukankah bisa menjadi contoh yang baik? Ketika anak yang orang tuanya memiliki ratusan yayasan, sementara Dia tetap di sekolahkan di sana juga. Itu bisa menjadi bukti bahwa yayasan kami sama saja peringkatnya dengan sekolah di luar negeri."


"Anda benar." Nyonya Sandrina menengguk lagi minumannya. Dimana nyonya Lili hanya tersenyum tipis.


Tak lama, seorang kepala pelayan mendekati Liliana. Beliau pun berbisik sesuatu, yang langsung membuat Liliana kembali mengembangkan senyum.


Ia pun menoleh kearah gadis cantik di sebelah Delia.


"Emm... Nona Gamalia. Apakah kau bosan, saat ini?"


Gamalia menoleh, ia pun tersenyum anggun.


"Tidak Nyonya Lili. Hanya saja, saya merasa ada yang kurang di sini."

__ADS_1


"Tenang saja. Tadi kepala pelayan berkata, jika Mobil Devan sudah memasuki gerbang utama."


Senyum Gamalia melebar. "Benarkah?"


"Iya. Di tunggu saja, ia akan langsung keruangan makan ini."


Gamalia pun mempersiapkan diri. Menunggu Pria yang sangat ia kagumi selama ini.


Walaupun mereka baru berdialog di club malam, cuman ia memang sudah memperhatikan Devan sejak beberapa tahun terakhir.


Sebuah langkah kaki membuat Gamalia menoleh dengan senyum secerah mentari. Namun seketika meredup saat Devan datang dengan seorang gadis. Lebih fokus tatapannya terarah pada tangan yang melingkar di lengan Devan.


"Selamat malam semua." Devan mengangguk sekali pada mereka yang sedang berada di meja makan.


Delia sedikit terperangah, memandang wanita di sebelah kakaknya.


Berbeda dengan nyonya Lili dan Sekertaris Erik yang hanya menatap tanpa ekspresi. Sementara itu Tuan Hartono dan Nyonya Sandrina hanya terdiam. Tengah menanti kejelasan tentang siapa wanita yang di bawa oleh Devano itu.


Dan, ya... Di tempat itu dokter Zaeni sedang tidak ada. karena saat ini beliau yang menjabat sebagai direktur utama di salah satu rumah sakit yang berada di bawah naungan Diamond's sedang melakukan rapat direksi.


Deg...! Gamalia semakin tercengang mendengar kenyataan itu.


Devano, memiliki kekasih? Itu tidak mungkin. (Gamalia)


Devan dan Kunia kembali melangkah mendekati meja makan. Seorang pelayan yang hendak menarik kursi keluar pun di tahan oleh Devan, yang memilih untuk melakukan sendiri mengeluarkan kursi untuk Kunia.


"Duduklah dengan nyaman, mereka keluargaku." Devan memberikan senyuman terbaiknya untuk Kunia. Gadis itu pun hanya diam saja, dia sendiri masih bingung ingin berbicara apa. Karena Devan sama sekali tak memberinya instruksi jelas, tentang apa saja yang boleh ia katakan dan yang tak boleh ia katakan.


"Nona? Siapa nama mu?" Tanya Liliana, memecah keheningan di ruangan itu setelah Devan duduk di kursinya.


"Sa– saya... Saya?" Kuni melirik ke arah Devan, pria itu hanya diam saja. Mungkin maksudnya, tidak masalah jika dia menyebutkan nama aslinya. "Saya Kunia, Kunia Rahayu."


"Apa? Nama macam apa itu? Sungguh jeleknya." Cibir Delia.


"Menurut saya, itu tidak jelek sih. Karena Kunia itu memiliki makna yang sangat bagus."

__ADS_1


"Memang apa maknanya selain jelek dan udik?"


"Ya... Intinya ada makna yang kau itu tidak akan paham artinya." Kunia terus saja menjawab ucapan Delia di hadapannya.


"Paling juga artinya sama jeleknya dengan nama, dan tampang mu itu. Ya Tuhan benarkah gadis buruk rupa ini kekasih mu kak Dev? Lihatlah... Dia pakai gaun dari Butik Gloria. Yakinkah kau membelinya bukan menyewanya? Di lihat dari potongan mu, sepertinya kau hanya gadis rendah dari kalangan biasa, yang sedang menipu kakak ku." Cecar Delia tanpa henti.


*S*iapa sih ABG ini? Mulutnya benar-benar ingin ku ulek saking pedasnya. Kunia sudah tidak tahan mendengar ucapan dari mulut gadis remaja itu.


"Delia– bisakah kau tutup mulutmu itu. Dia itu calon kakak iparmu." Sontak semua mata menoleh kearah Devan, sama halnya Kunia yang langsung melebarkan bola matanya.


Kakak ipar? Apa maksud dari ucapannya itu? (kunia)


"Nyonya Lili, ini? Maksudnya bagaimana? Anda bilang, Devan belum ada calon, kan?" Nyonya Sandrina menatap bingung.


"Tenanglah nyonya Sandrina..." Liliana berdeham, dengan tatapan tak terputus terarah pada gadis di sebelah Devano.


"Apa pekerjaan ayah mu? Apakah, ayahmu memiliki bisnis? Atau mungkin memiliki satu perusahaan?"


"Ah... Tidak Nyonya. Beliau bekerja di salah satu kilang minyak terbesar di negara ini, sebagai pegawai biasa." Kuni masih menoleh kearah Devan, sebenarnya dia takut mungkinkah jawabnya itu akan membuat masalah. Tapi sepertinya Devan hanya santai saja, berati tidak apa jika dia harus berkata dengan jujur.


Setelah ini, Liliana hanya diam saja. Dia tidak lagi bertanya-tanya. Dan ruangan itu sepertinya semakin sunyi saja, belum lagi keluaga JK yang memutuskan langsung pulang setelah acara makan malam.


Kini hanya tertinggal Devan dan Kunia di meja itu, karena yang lain sudah keluar dari ruangan tersebut.


"Hei– aku tidak salah bicara kan?"


"Tidak, karena ini yang ku inginkan." Devan tersenyum tipis. Dan kembali menengguk minumannya. Entah apa yang di rencanakan pria itu, karena sepertinya dia nampak senang dengan semua kegemparan yang terjadi di ruangan itu.


Bersambung...


.


.


.

__ADS_1


# maaf ya teman-teman, aku up sedikit setelah kemarin nggak up... Aku sedang flu berat. Sedang banyak tidurnya, mudah2an besok bisa up lagi. 😘😘


__ADS_2