
Dunia luar sudah mulai beristirahat, tersisa beberapa anak manusia yang mungkin masih terjaga. Menghabiskan sisa hari ini, seolah enggan untuk berpisah.
Devan duduk di balkon kamar, yang jauh lebih kecil di banding kamarnya sendiri, di rumah utama.
Suasananya pun tak seramai di sana. Yang seapa-apanya hanya tinggal menjentikkan jari, pelayan sudah datang menghampiri. Siap melakukan apapun yang di titahkannya.
Di bawah, nampak kedamaian yang berbalut gelap berpendar lampu-lampu yang tak begitu terang.
Di tambah tanaman-tanaman hias yang tertata, dan hidup segar. Menandakan jelas, jika mereka di rawat sangat baik oleh pemiliknya.
Sementara di atas, langit biru terhampar cerah berhiaskan gemintang cantik yang bertebaran.
Devan menikmati suasana itu, jauh lebih menyukainya. Membuatnya betah, dan berpikiran untuk pindah rumah saja. Hidup di komplek sini juga sepertinya tidak buruk dan malah justru akan menyenangkan.
Sraaaaggg... Suara pintu dorong yang di lebarkan menggunakan kaki. Kunia keluar dengan nampan berisi dua cup mie instan. Serta minuman dingin yang mereka beli di toserba tadi sebelum pulang ke rumah.
Uap panas dari mie instan nampak ngemepul di keduanya. Menebar aroma gurih di sana.
"Yuuppp... Ini punya, mu." Kunia meletakkan satu di depan Devan. Pria itu mengambilnya, melihat sekilas lalu melirik punya Kunia.
"Kenapa punya ku lebih kecil? Aku kan laki-laki?"
"Ini favorit ku, mie instan pedas. Punya mu yang versi lokal. Sebab kau tak suka pedas."
"Tetap saja punya mu lebih besar dari ku."
"Ya ampun... sama saja. Kita bisa join nanti." Kunia menarik pipi Devan, gemas. Sementara sang suami hanya menghela nafas. Lalu mengambil minuman kaleng rasa buah persik.
Kraaakk... gluk.. gluk..
Kunia memandangi buah leher yang bergerak-gerak naik-turun, ketika Devan tengah menengguk minumannya.
Dia memang gagah sekali, jauh Anwar mah... jauh sekali.
Kunia senyum-senyum sendiri. Seperti sadar, jika di dunia ini rupanya masih banyak pria-pria keren yang jauh lebih baik dari pada Anwar.
Kunia mengangkat mie nya tinggi-tinggi sembari meniupnya. Sruuuupppp...
Mendengar itu, Devan menoleh dan langsung meraih mienya juga. Memakannya dengan gaya yang sama.
"Haaaah... Rupanya mie instan itu enak."
"Ucapan mu seperti seseorang yang baru makan mie instan saja," cibir Kunia dengan mulut yang masih penuh mengunyah.
"Memang aku tidak pernah makan mie instan. Kalaupun makan mie juga buatan tangan koki, bukan pabrikan."
Ya... ya... Aku memahami itu. Sultan mana paham nikmatnya mie instan.
–––
Kunia mengusap perutnya, setelah menghabiskan satu cup mie.
__ADS_1
Devan sendiri sudah habis lebih dulu, kini tinggal menghabiskan minumannya.
"Puasnya, lama tidak makan ini." Terkekeh, sembari menuang air mineral ke dalam gelas lalu meminumnya.
"Sulit tidak tinggal di sini?"
"Hemmm?" Kunia mengangkat satu alisnya, sementara bibirnya masih menempel dengan gelas. "Sulit bagaimana maksudnya?"
Devan menarik secarik tissue, mengusap bibir Kunia yang masih nampak sisa air di kedua ujung bibirnya.
"Aku sempat berpikir, ingin keluar dari rumah utama, dan tinggal di kawasan ini. Apakah kau setuju?"
Kunia meletakkan gelasnya menjauhkan nampan yang berada di hadapan mereka berdua lalu menggeser sedikit tubuhnya, agar lebih dekat dengan sang suami.
"Kau bilang, ingin mempertahankan hak mu?" Tanyanya hati-hati.
Devan menggeser pandangannya kelangit. Seolah hatinya sudah menyerah duluan, sejak cincin itu menghilang.
"Aku tidak ingin terlalu berambisi," gumamannya. "Sudah cukup, mereka membinasakan semuanya. Lagi pula, selama ini... apa yang di lakukan Mamih Liliana padaku? Secara tidak langsung adalah sebagai bekal pelajaran, ketika aku harus hidup tanpa cengkraman keluarga Atala, aku sudah siap."
Kunia mendengarkan dengan serius. Ia benar-benar tak menyangka, sampai sejauh itu...?
"Dan? Ketika Aku bisa duduk di bagian personalia pun, bukan karena aku anaknya Papih? Dulu aku juga sempat menjadi karyawan biasa. Lalu berusaha bekerja dengan baik, tapi setelah itu seperti mentok di sana." Devan tersenyum miris. Ia menunduk sembari menggoyangkan minuman kaleng yang sudah tinggal sedikit isinya.
Jadi ini jawaban, kenapa Dia hanya memiliki jabatan personalia? (Kunia)
Wanita itu menggenggam tangannya.
Devan tertawa, lalu menarik tubuh mungil Kunia, agar berpindah duduk di depannya.
Kunia menurutinya, malah justru merasa senang. Ketika Devan memeluknya dari belakang, menciumi pundaknya dua kali setelah itu memandang langit.
"Sayang?"
"Hemmm?"
"Jangan sedih lagi, jangan menangis seperti tadi lagi."
"Kenapa memangnya? Kau bilang tidak apa-apa. Dan aku tidak nampak lemah apabila menangis."
"Kau memang tidak nampak lemah, namun? Dari pada harus menangisi semua kejahatan mereka terhadapmu. Kenapa tidak mencoba membuka lembaran baru saja?"
"Kau benar– namun aku butuh waktu. saat ini saja? Aku masih bingung, mau memulainya dari mana? Hati ku masih hancur, ketika tahu wanita yang ku anggap ibu kandung selama ini, rupanya adalah musuhku yang bersembunyi di belakang."
Kunia mengusap pipi Devano lembut. "Aku tidak bisa berkata-kata lagi, maaf.."
"Maaf untuk apa?" Menciumi bahu itu lagi.
"Ya, sudah terburu-buru menyuruhmu untuk membuka lembaran baru."
Devan tersenyum... wangi tubuh Kunia membuat hasratnya naik lagi.
__ADS_1
Maklum saja, pria itu baru pertama kali menyentuh wanita.
Di tambah ia sudah menahan hasrat bercinta beberapa hari, dan baru tersalurkan kemarin malam. Seolah tubuhnya mengajak lagi dan lagi.
"Dev–"
"Hemmmm...?"
"Aku boleh bertanya?"
"Apa?"
"Emmm, saat ini kan kau sudah tahu siapa Mamih Liliana? Lalu bagaimana dengan Delia?"
Devan menghentikan tingkahnya di bahu Kunia.
Delia? – Devan mematung, ia baru ingat tentangnya.
"Apakah kau masih menyayanginya? Aku tahu sih, kau tidak pernah memperlihatkan ekspresi sayang mu terhadap adik mu itu. Namun aku paham, kau tetap memperhatikannya dengan caramu."
Devan tak menjawab, ia hanya diam saja menjatuhkan kepalanya di bahu Kunia.
"Kau sudah tahu kabarnya? Bahwa dua hari yang lalu, gadis itu mengalami kecelakaan tunggal di ruas tol?"
Deg...! Devano mengangkat kepalanya.
"Kecelakaan? Kenapa aku tidak tahu?"
"Aku pun baru tahu hari ini. Saat aku berpapasan dengan Mas Zaeni, lalu aku bertanya pada pelayan yang membawakan tas berisi pakaian ganti untuk Sekertaris Erik," jawab Kuni.
"Apakah kondisinya parah?" Tanya Devan.
"Dia koma..."
"Ya Tuhan–" gumam Devano merasa prihatin.
"Boleh jujur, tidak? Tapi kau jangan marah ya?" Kunia memutar sedikit tubuhnya. "Sebenarnya, tadi aku ke rumah sakit menjenguk Delia. Dan?"
"Dan apa?"
"Emmm... Aku mendonorkan darahku untuknya." Kunia menunjukkan lengannya. Devan pun meraih tangan itu, mengusap di bekas lukanya. "Kau jangan marah. Maaf, aku sudah pergi tanpa izin. Delia benar-benar butuh pendonor, sebab kondisinya semakin memburuk."
Devano tak bisa menjawab apa-apa. Karena apa yang di lakukan sang istri sejatinya tidak salah.
"Dev?" Sebuah kecupan di kening membuat Kunia tak melanjutkan, ucapannya.
"Terimakasih, aku tidak akan marah. Karena kau berniat menolongnya."
Dia mengucap... Terimakasih? Syukurlah, ku pikir ia akan marah.
Kunia mengangguk pelan, sembari memejamkan matanya. Saat bibir Devan masih menempel di keningnya, amat lembut.
__ADS_1