
Di malam yang sama, Sekertaris Erik termenung sendirian di taman.
Ia menitipkan Delia pada Zaeni, lantas berpamitan untuk mencari angin.
Sekertaris Erik mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi seseorang namun tidak di angkat.
*S*epertinya mereka sedang menjalankan perintahku?
Erik menghela nafas, ia sudah terlanjur menyuruh bawahannya untuk melakukan sesuatu malam ini. Demi sebuah keinginan Liliana yang sejatinya Dia sendiri sudah lelah mengikutinya.
Lebih-lebih soal tadi siang, setelah Zaeni datang dengan seorang wanita yang membuatnya tercengang.
#Flashback on...
Pintu ruangan ICU di buka. Sekertaris Erik berdiri, siap menyambut siapapun yang telah mendonorkan darah untuk putri tercintanya.
Tubuhnya membeku, saat melihat wanita yang turut masuk di belakang Zaeni.
Wanita muda, itu?
Menatap tajam kearahnya, ia sendiri masih tidak bersuara. Ketika Kunia menunduk sopan sekali, menyapanya.
"Ayah... Kita sudah punya dua kantung darah untuk Delia. Ini bisa menjadi harapannya untuk tetap bertahan hidup."
Erik tak bergeming, ia diam saja. Hingga dua ora perawat masuk membawakan peralatan.
Untuk memasukkan darah itu kedalam tubuh Delia.
Kunia yang merasa canggung karena tatapan Erik hanya bisa menunduk. Jujur saja, wajah sangar Sekertaris Erik membuatnya takut.
Hingga beberapa menit, Kunia pun berpamitan untuk pulang. Karena baginya, tugasnya sudah selesai. Hanya tinggal berharap gadis itu akan baik-baik saja setelahnya.
"Saya permisi–" Kunia memutar tubuhnya.
"Tunggu!" Suara dingin Erik, mencegah laju kakinya. Perlahan, ia kembali menghadap belakang. "Terimakasih–"
Ucapan yang amat kaku itu di lontarkan langsung oleh Sekertaris Erik. Senyum hangat pun tersungging dari bibir Kunia.
"Sama-sama, Tuan. Saya harap Delia segera melewati masa kritisnya. Kalau begitu, saya permisi."
Erik masih tercenung, bahkan sampai Kunia keluar dari ruangan tersebut. Beliau menoleh kearah Zaeni yang lalu memalingkan wajahnya, menunduk.
# flashback off.
Beliau menyandarkan kepalanya, menatap langit di atas.
Benar... Waktu sudah berlalu cukup lama, dari semenjak dirinya memutuskan untuk mengiyakan kemauan gila Liliana walaupun sejatinya ia tidak mau.
Terlebih, ketika sampai pada hari dimana ia harus mengganti obat milik Tuan Hari, dengan obat lain yang bisa merangsang sel-sel tubuh Harison.
__ADS_1
Lengan kiri Sekertaris Erik terangkat, nampak sebuah jam lawas yang masih bagus, melingkar di pergelangan tangannya.
Ini untuk mu... Jam tangan yang ku pesan langsung. Aku tahu kau bisa membelinya sendiri dengan merek yang sama. Namun, aku hanya ingin kau menjaganya. Sebagai tanda terimakasih ku. Ketika kau sudah mengabdi dengan baik selama ini.
Ucapan Tuan Harison, di beberapa menit sebelum beliau meminum obatnya.
Aku sudah menganggapmu seperti saudara kandungku. Jadi, tetaplah bekerja dengan baik untuk keluar Atala, Erik.
Senyum terakhirnya dengan tulus. Membuat Sekertaris Erik merasa ingin menepis tangan yang tengah memasukkan obat yang sudah ia tukar sebelumnya.
Rasa bersalah itu seolah tidak pernah hilang, terus saja berkecamuk di dadanya.
Ketika ia terpaksa harus melenyapkan nyawa orang baik, seperti Harison.
Demi Liliana, demi bisa kembali dengannya, dan demi bisa bersatu lagi dengan Zaeni juga. Dia benar-benar harus menghilangkan akal sehat serta hati nuraninya.
Sekertaris Erik pun memilih untuk keluar lebih dulu dari ruangan tersebut.
Karena ia benar-benar tidak tega, walaupun dia harus melihat sendiri. Tuannya itu kesakitan sembari meremas dada sebelah kiri.
Bahkan saat di hari pemakaman beliau, Sekertaris Erik termenung di depan peti jenazah.
Ia menuturkan permintaan maafnya dalam hati. Walaupun mungkin semuanya tidaklah berarti apa-apa, tidak sebanding pula dengan apa yang ia perbuat.
Namun sudahlah... Berharap sang Pengusaha langit dan bumi tidak menghukumnya. Sebab yang ia lakukan, semuanya di dasari oleh rasa cintanya terhadap anaknya sendiri, yang ia harapkan bisa kembali lagi merebut kasih sayangnya untuk sang anak dan dirinya.
***
Di tempat lain...
Suara gemuruh di langit mulai terdengar.
Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan deras, pikir Andre yang tengah membawa laju mobilnya. Setelah mengantongi sebuah bukti rekaman CCTV, yang ia ambil setelah memutuskan untuk kembali ke rumah sakit khusus kejiwaan.
Belum lagi dengan gelagat mencurigakan yang ia tangkap dari seorang pria yang tengah menanti di luar mobilnya, seperti tengah menunggu seseorang. Lantas berjalan santai, mencoba untuk menempelkan sesuatu di bodi belakang mobil tersebut. Berjaga-jaga saja, begitu pikirnya.
Andre bersemangat membawa laju mobilnya, tidak sabar untuk bertemu hari esok. Mencari tahu tempat lain menggunakan sinyal GPS yang terpasang di salah satu mobil yang di sinyalir akan membawa nyonya Briana, pergi.
Aku harus segera melaporkan ini pada Tuan Devano, setelah sampai apartemen nanti.
Di atas... Awan semakin menggelap, menelan bintang-bintang di langit. Bulan pun nampak bersembunyi, di balik mendung yang semakin pekat.
Sementara gemerisik dedaunan di pohon-pohon yang di usik angin, di tingkahi gelegar halilintar membawa kesan mencekam.
Sepertinya akan turun hujan badai.
Andre bergegas, ia harus segera sampai. Melewati jalan sepi yang di sisi kanan-kirinya terdapat pepohonan rindang.
Di sisi lain, seseorang sudah berjaga. Ia malaporkan jika posisi mobil Andre sudah hampir mendekati mereka.
__ADS_1
Orang itu pun bersiap. Berperan sebagai pria yang terjatuh di jalan, seseorang lainnya lagi mengamati mobil Andre yang mulai berhenti.
Cukup lama, pria di dalam mobil tidak kunjung keluar.
Sepertinya tengah berpikir sesuatu, menunggu hingga dua puluh menit. Sampai hujan deras mulai jatuh mengguyur atap Mobilnya, Andre belum juga keluar.
Namun, setelah merasa tidak ada respon, pintu itu pun terbuka. Andre keluar menggunakan payung di tangannya, memeriksa pria yang terkapar di aspal.
Saat itulah yang sedari tadi sudah berjaga lantas memberi kode, ketika Andre mulai berjongkok memeriksa seseorang yang di duganya adalah korban kecelakaan.
Pelan... yang di belakang mendekatinya lalu menjeratkan rantai ke leher Andre yang sigap melepaskan payung di tangan, lalu memegangi rantai tersebut, meronta.
Pria asing di belakang terus menyeretnya menuju mobil mereka, kini ia benar-benar hampir kehabisan nafas. Andre ingat sesuatu.
Lalu meraih alat kejut listrik milik Sarah, yang kebetulan tertinggal di mejanya.
Susah payah ia meraih alat tersebut yang berada cukup dalam di saku celananya. Sembari berusaha untuk tetap sadarkan diri, walau lehernya sudah benar-benar sakit. Sementara tubuhnya masih terus di seret semakin jauh.
Greeeppp... Tangan itu berhasil meraihnya, mengeluarkan dengan cepat dan dengan sisa tenaganya. Sekonyong-konyong ia menekankan tombol alat tersebut. Lantas menempelkannya ke kaki si penjerat. Reflek, jeratan itupun terlepas.
"Uhukkkk... Uhhuuuukkkk..." Andre terbatuk-batuk namun ancaman belum usai ia harus menghadapi tiga orang disana yang mulai memegangi kedua tangannya, dengan cepat ia menendang pria yang ada di depanya itu, dan sekuat tenaga ia membanting pria yang ada di belakangnya.
Lalu memberi setruman di lehernya sehingga ia pingsan.
Kini hanya tersisa dua orang. Andre benar-benar merasa lemas namun ia tidak bisa menyerah begitu saja. Karena lengah sedikit saja nyawanya akan melayang.
Seseorang di belakangnya berniat menghantam nya dengan balok kayu namun ia segera sadar dari bayangan seorang pria di belakang.
Buuaaaaccckkkkkkk...
Andre memberikan tendangan di bagian leher depan pria itu hingga tersungkur.
Melepaskan dasinya lalu menjerat leher pria tersebut hingga kehabisan nafas.
Satunya lagi hendak kabur, karena merasa sudah kalah telak. Andre tak tinggal diam, segera berlari dan menendangnya dari belakang. Meraih gespernya dan mengikat kedua tangannya.
Kini semuanya telah berhasil di lumpuhkan, dengan nafas yang tersengal-sengal dan leher yang masih sakit ia berusaha menelfon polisi agar menangkap tiga pria yang menyerangnya.
Tak lama polisi datang dan meringkus mereka bertiga.
Andre berjalan sedikit sempoyongan, menuju mobilnya meraih botol air mineral lalu menenggaknya. Nafasnya masih tersengal-sengal. Ia tidak menyangka, nyawanya hampir saja melayang malam ini juga. keyakinan pasti, mereka pasti orang-orang suruhan, dan bukan sekedar begal biasa.
"Syukurlah... Sang Maha Kuasa masih melindungi, ku." Lega bukan kepalang. Tubuhnya saja masih gemetaran mengingat kejadian mencekam yang baru saja ia alami.
ia menatap sejenak alat kejut listrik itu lalu tersenyum.
Aku akan mengembalikan ini langsung, tanpa menunggu besok.
Kembali ia masuk ke dalam mobil, setelah berbicara sedikit mengenai penyerangannya kepada pihak berwajib, setelah itu pergi dari tempat yang masih di guyur hujan deras ini.
__ADS_1