I Love You, Mbak Kunti

I Love You, Mbak Kunti
sebuah tawaran 2


__ADS_3

Masih dalam suasana yang canggung, Kuni berkedip sekali, lalu tergelak.


"Kau menertawakan apa?" Tanya Devano, datar.


"Tidak... hanya saja, Kau hampiri membuat jantung ku copot. Hahaha." Kuni berusaha menampik, jika Devan benar-benar akan menikahinya. Ya... Karena Dia tidak mungkin serius mengajaknya menikah. "Jangan lagi-lagi mengajak bercanda, dengan lelucon yang seperti itu. Sangat tidak baik untuk jantung seorang wanita, kau ini...Hahahaha."


"hentikan tawa mu itu. Kau pikir aku bercanda?" Tegas Devan, yang lantas membuat Kunia menghentikan tawanya. Ia pun berkacak pinggang.


"Tentu saja– dan itu tidak lucu!!"


sudah cukup aku di bohongi oleh Anwar. Jangan lagi, aku tidak akan terperdaya lagi oleh laki-laki. Apalagi bocah ingusan ini. (Kuni)


"Hei Mbak Kunti... Aku ini?"


"Stop...! Jangan lanjutkan lagi." Kuni menghentikan ucapan Dev dengan cara menunjukkan kelima jarinya, sembari mengambil satu langkah mundur.


"Aku?"


"Aaaa– ku bilang jangan bicara apapun. Hei sadarlah, aku ini lebih tua empat tahun dari mu? EMPAT TAHUN!!!" Ia bahkan sampai menunjukkan ke empat jarinya di hadapan Devan, untuk meyakinkan pria itu. Jika mereka memang tidak akan pernah cocok. "Bahkan kau saja memanggilku Mbak?" Sambungnya kemudian.


"Aku mengatakan ini justru dengan tingkat kesadaran tinggi." Devan menjawab santai tanpa beban.


"Jika kau sadar kenapa kau mau menikah dengan ku, banyak 'kan wanita di luar sana yang lebih muda dari pada aku? Lebih cantik pula."


Bagus Kuni, tolak Dia... Sudah cukup hatimu terkoyak karena si pria brengsek itu. Tidak lagi, aku tidak mau lagi memperparah luka di hatiku. (Kuni)


Devan menghela nafas, bagaimana caranya menjelaskan. Memang gadis ini tidak seperti gadis yang lain, yang kerap kali mendekatinya hanya karena dia tampan dan berduit. Itulah kenapa Dia butuh Kunia, untuk di jadikan pasangan. Karena warisan dari nenek akan turun apabila dia sudah menikah.


Dan pertemuan tak terduga dengan Kunia seolah memberi jalan baginya, menuju kursi komisaris Diamond's.


Ah... Aku jadi merindukan Omah. Sampai sekarang kasus hilangnya Omah saja belum bisa terungkap. Benarkah sekertaris Erik sudah melaporkan kasus kehilangan itu? Aku rasa tidak... –sejenak Devan mengingat neneknya.


"Sudah selesai kan? Sekarang lebih baik kita pulang saja." Kuni balik badan ia berjalan kaku bak robot meningggalakan Devan yang hanya membisu.


Kau pikir aku akan menyerah? Kita lihat nanti. (Devan)


kembali ia mengenakan kacamata hitamnya lalu melangkah menyusul Kunia yang semakin mempercepat langkahnya saat tahu pria itu sudah semakin mendekat.

__ADS_1


🍃


🍃


🍃


Perjalan pulang, yang semakin membuat gadis itu canggung. Ia bahkan tak berani melirik kearah Devan, dan lebih memilih memiringkan sedikit tubuhnya menghadap ke kaca samping. Kedua tangannya memegangi erat, seat belt yang menyilang di bagian dada hingga ke pinggang.


Sekilas, Kunia mengingat masa-masa awal Anwari menyatakan cinta di depan teman-temannya dulu. Sungguh kala itu, seperti semua persendian mati rasa. Tubuhnya lemas, bertambah dengan ritme jantung yang tak beraturan. Ketika kali pertama mendapatkan ungkapan perasaan dari seorang pria yang bahkan tak pernah sekalipun bertegur sapa dengannya. Lebih-lebih pria tersebut bisa di bilang lumayan tenar di kampus, membuat hampir semua mahasiswi yang melihatnya merasa iri.


Lalu sekarang? hal yang sama di ucapakan Devano. Pria yang tak pernah menyatakan perasaannya sama sekali, tak pernah menunjukkan sisi manisnya? Namun tiba-tiba mengajak menikah. Kunia menggeleng cepat.


Dia lebih gila daripada, Anwar... Ya, itu benar. Kalau dulu Anwar mengajakku pacaran tanpa basa-basi dikelas sebelum dosen masuk. Walaupun itu adalah pengakuan yang manis. Namun kenyataannya, ujung dari hubunganku dan dia sama sekali tidak manis. Yang ada malah menanamkan luka yang amat dalam dilubuk hatiku.


Kunia tertegun, ia tidak bisa semudah itu mempercayai ucapan Devan. Bagaimanapun juga, Devan bukan tipe pria yang mudah di tebak. Tak ada satupun sikap yang menunjukkan, bahwa pria itu sungguh-sungguh.


"Emmm... Sebaiknya, aku turun di sana saja." Kuni menunjuk arah gangnya. Namu Devan hanya diam saja. Memasuki gapura selamat datang untuk memasuki kompleks tersebut.


Dasar pemuda yang tidak patuh! Dia benar-benar mau mengantarku sampai rumah? Aaaa... bagaimana ini? (Kuni)


Rasa was-was dan tak enak hati ketika ia yang berada di dalam mobil sports milik Devan ini mulai memasuki kawasan yang lumayan padat penduduknya.


Kepala serta leher yang mengikuti arah mobil tersebut melaju. Sudah jelas mereka tengah bertanya-tanya, mobil mewah siapa kiranya yang masuk kawasan ini?


Dan sampailah mereka di depan rumah Kunia.


Bu Sukaesih yang sedang menyirami tanaman hias pun melebarkan senyumnya. Terlebih saat Kunia keluar dari dalam mobil tersebut. Beliau pun menghentikan kerjaannya untuk menyambut mereka berdua.


"Selamat sore ibu." Sapa Devan dengan sopan. Dimana bibir Kunia langsung maju kala mendengar itu. Mencibirnya.


Sudah faseh sekali kau memanggil ibuku dengan sebutan, ibu? (Kunia)


"Sore juga, Caman..."


"Caman?" Devan bingung.


"Calon mantu. Hehehe." Bu Sukaesih tertawa, sembari menepuk-nepuk bahu anak gadisnya yang sedang melotot kepadanya. "Woaaah... Ini yang ibu suka, jika Kuni pergi dengan dengan mu. Pasti nampak lain."

__ADS_1


"Lain, bagaimana maksud ibu?" Tanya Devan, bingung.


"Iya, Berangkat bak Upik abu. Pulang jadi Cinderella. Beda saat bersama si benalu, berangkat ceria? Pulangnya seperti benang kusut, sudah gitu kelaparan lagi."


"Ibu– sudah ku bilang jangan membicarakan itu lagi." Kuni sedikit menghentak dengan suaranya yang tertahan.


"Memang kenapa? Itu faktanya tuh." Bu Sukaesih menarik lengan Kunia, menyingkirkan gadis itu sejenak. "Bagaimana acaranya?" Tanya Bu Sukaesih pada Devan.


"Sedikit membosankan. Aku lebih betah berlama-lama disini."


Cih...! Pintar sekali menjilat. Dasar bocah tengil. (Kunia)


"Hahaha... Jelas lah lebih senang disini. Nanti malam mau ya, makan malam bersama kami di rumah ini?"


"Ibu Dia itu, harus?"


"Boleh. Jika aku tidak merepotkan." Potong Devan.


"Oh... Jelas saja tidak. Nanti ibu akan membuatkan makan malam spesial. Setelah selesai menyirami tanaman-tanaman kesayangan ibu ini ya."


Devan manggut-manggut. Ia lantas melihat-lihat sejenak. Ada banyak anggrek di salah satu gazebo yang terbuat dari bambu. Khusus untuk meletakkan para anggrek milik Bu Sukaesih.


"Ibu suka tanaman anggrek?" Devan menoleh kearah Bu Sukaesih.


"Sangat suka nak. Semua jenisnya, cuman ya itu. Karena harganya tidak murah jadi hanya punya beberapa jenis saja."


Devan manggut-manggut. "Omah ku pun juga amat menyukai tanaman jenis anggrek. Nanti akan ku berikan satu untuk ibu."


"Oh... Benarkah? Mau, ibu sangat mau. Memang anggrek yang berjenis apa?"


"Sebenarnya ada banyak, tapi karena tak terurus jadi pada mati. Dan kini hanya tertinggal satu atau dua. Yang paling murah. Yaitu anggrek hitam."


"Hit–Hit?" Bu Sukaesih tergagap. "A... ang... anggrek hitam? Kau bilang yang paling murah?" Bu Sukaesih menoleh kearah Kunia, dengan tampang piasnya. "Ser... Seratus juta itu loh, Kun, harganya? Murah kata Dia?" Bisik Bu Sukaesih pada Kunia. Sementara Kunia hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi tampang lemas ibunya.


"Iya... Rata-rata punya omah di atas dua sampai tiga milyar, sayangnya banyak yang mati. Mungkin hanya tersisa satu atau dua."


"Astaga... Uang segitu hanya untuk anggrek? Dan mati pula." Bu Sukaesih seperti ingin menangis saat mendengar itu.

__ADS_1


Mereka pun terus mengobrol hingga Bu Sukaesih selesai menyirami tanaman.


__ADS_2